Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
Saat jam istirahat makan siang tiba, kantin kantor kembali ramai dengan suara tawa dan obrolan. Rima duduk bersama teman-teman sesama anak magang di meja pojok yang biasa mereka tempati. Di hadapannya terhidang nasi bungkus sederhana dan segelas teh manis hangat. Namun hari ini Rima makan dengan lebih pelan, matanya sesekali menatap jendela kaca yang memandang ke arah langit biru.
Dika yang duduk di sebelahnya menyadari perubahan sikap Rima. "Rim, kamu kok diam saja? Biasanya kamu yang paling heboh kalau jam istirahat begini."
Rima tersenyum tipis, lalu meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap teman-temannya satu per satu. Sani, Eka, dan Dika. Teman-teman yang selalu membantunya saat bingung, tertawa bersamanya saat melakukan kesalahan konyol, dan menghiburnya saat ia rindu orang tua.
"Aku sebenarnya mau bilang sesuatu pada kalian," ujar Rima dengan suara lembut namun jelas. "Masa magangku selesai. Hari Jumat ini adalah hari terakhirku di sini. Minggu depan aku harus berangkat kembali ke Jogja untuk melanjutkan kuliahku di UGM."
Suasana di meja itu seketika hening. Sari yang sedang menyuap nasi langsung berhenti, matanya membelalak kaget. "Loh? Kok kamu bilangnya dadakan sih Rim. Rasanya baru kemarin kita bareng-bareng orientasi ya."
"Iya, tiga bulan berlalu begitu cepat sekali," jawab Rima sambil mengangguk pelan. "Aku juga belum siap berpisah dari kalian semua."
"Terus nanti di Jogja kamu langsung pulang ke rumah?" tanya Eka.
Rima menggeleng sambil tersenyum mengenang kampung halamannya. "Belum bisa langsung ke rumah. Aku tetap akan tinggal di kost dekat kampus. Soalnya rumahku letaknya sangat jauh dari kota Jogja. Desa kami terletak di pinggir pantai selatan, di balik perbukitan hijau yang jalannya berkelok-kelok. Kalau dari kota Jogja saja butuh waktu naik bus hampir empat jam perjalanan, apalagi kalau musim hujan jalannya jadi lebih lambat."
"Wah, jauh sekali ya sampai butuh berjam-jam perjalanan," gumam Dika takjub. "Pasti desanya sangat asri dan tenang ya?"
"Sangat indah sekali," mata Rima berbinar. "Di depan rumahku langsung terlihat hamparan laut biru, ombaknya bergulung pelan sepanjang hari. Saat sore hari, matahari terbenam warnanya berubah menjadi jingga keunguan yang sangat cantik, seolah menyelimuti seluruh pantai. Udara di sana juga sejuk, banyak pohon kelapa, dan pasir pantainya berwarna putih bersih. Aku paling rindu mendengar suara deburan ombak setiap kali aku terlelap."
"Pasti Abah dan Ibu sangat merindukanmu ya," ucap Sari lembut. "Padahal kamu sudah terbiasa tinggal kost di Jakarta, tapi di Yogyakarta pun tetap tidak bisa sering pulang."
"Iya," jawab Rima pelan. "Aku hanya bisa pulang saat hari libur panjang atau libur semester saja. Tapi Abah dan Ibu mengerti, mereka menyuruhku fokus dulu menyelesaikan kuliahku dengan baik di UGM."
Selesai makan siang, Rima berjalan menuju ruangan Bu Tia untuk melapor secara resmi.
"Silakan duduk Rima," sapa Bu Tia ramah. "Ibu sudah duga kamu akan segera menyerahkan laporanmu."
"Benar Bu," jawab Rima sopan. "Hari Jumat ini masa magang saya selesai. Besok minggu pagi saya berangkat ke Jogja."
Bu Tia mengangguk paham. "Ibu sudah tahu kamu akan kembali ke UGM. Kamu tetap tinggal di kost dekat kampus kan? Karena rumahmu di pantai itu jauh sekali."
"Betul sekali Bu," Rima tersenyum. "Jaraknya memang sangat jauh, jadi saya tidak mungkin bolak-balik setiap hari. Saya hanya akan pulang ke desa saat ada waktu luang yang cukup panjang. Nanti kalau ada waktu, Bu Tia dan teman-teman sekalian silakan berkunjung ke rumah saya. Pemandangannya sangat indah sekali di pinggir pantai."
"Terima kasih Rima," ucap Bu Tia tulus. "Tentu saja Ibu ingin sekali melihat keindahan desa asalmu itu. Kamu gadis yang rajin dan rendah hati, Ibu yakin kamu akan sukses besar di UGM nanti. Jangan lupa jaga kesehatan dan kabari kami kalau sudah sampai."
"Terima kasih banyak Bu Tia," mata Rima berkaca-kaca haru. "Terima kasih sudah membimbing saya selama ini."
Berita telah selesainya masa magang Rima perlahan menyebar ke seluruh bagian kantor. Semua orang yang pernah mengenalnya merasa sedih akan berpisah, namun mereka juga membayangkan betapa indahnya desa tempat tinggal Rima di tepi pantai itu.
Semua mendoakan agar perjalanannya lancar dan Rima bisa segera melanjutkan kuliahnya dengan lancar dan meraih nilai yang gemilang.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏