Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : AKAD YANG DINANTI, DOA YANG MENYEMPURNAKAN
...BAB 31...
...AKAD YANG DINANTI, DOA YANG MENYEMPURNAKAN...
Rumah Bu Kirana kembali dipenuhi kesibukan. Namun kali ini, kesibukan itu terasa berbeda. Tidak lagi dibayangi rasa cemas, sidang yang melelahkan, ataupun kabar buruk yang sewaktu-waktu datang menghantam. Setelah semua badai berlalu, keluarga itu akhirnya bisa kembali menata langkah menuju hari yang sempat tertunda.
Undangan sudah disebarkan kembali. Dekorasi yang sempat dibatalkan kini mulai dipasang satu per satu. Aroma bunga melati memenuhi setiap sudut rumah. Tenda putih berdiri anggun di halaman, dihiasi rangkaian bunga bernuansa putih dan hijau yang sederhana namun elegan.
Bu Kirana berjalan ke sana kemari sambil sesekali mengusap air mata. "Akhirnya...," gumamnya lirih.
Pak Aditya yang melihat istrinya hanya tersenyum kecil. "Kamu jangan menangis terus. Nanti pengantinnya ikut menangis sebelum akad."
Bu Kirana tertawa pelan. "Ini air mata bahagia."
Pak Aditya menggenggam tangan istrinya.
"Allah baik sama kita ya Bu."
"Iya... sangat baik."
****
Di kamar, Alina duduk di depan cermin.
Gaun akad berwarna putih gading membalut tubuhnya dengan anggun. Riasan wajahnya sederhana, justru membuat kecantikannya semakin terpancar. Ia menatap pantulan dirinya cukup lama. Masih sulit dipercaya.
Beberapa minggu lalu ia hampir kehilangan semuanya.
Pernikahannya. Kepercayaannya. Bahkan ketenangan hidupnya. Tetapi hari ini...
Ia duduk sebagai seorang perempuan yang siap memulai kehidupan baru.
Bu Kirana masuk perlahan. "Kamu cantik sekali."
Alina langsung berdiri. "Bu..."
Tanpa berkata apa pun, Bu Kirana memeluk putrinya erat. "Kamu sudah melewati banyak hal."
Alina mengangguk sambil menahan air mata. "Terima kasih sudah selalu percaya sama Alina ya Bu..."
"Ibu memang sempat takut. Tapi hati ibu selalu bilang... anak ibu tidak mungkin bersalah."
Air mata Alina akhirnya jatuh. "Maaf sudah membuat Ibu banyak menangis."
Bu Kirana mengusap pipinya.
"Hari ini tidak ada lagi tangisan sedih. Tapi hari ini hanya ada doa."
Di ruang tamu, Farhan telah duduk rapi mengenakan beskap putih. Wajahnya terlihat tenang, tetapi kedua tangannya sesekali saling menggenggam, gemetar dan dingin yang merayap.
Dimas yang duduk di sampingnya tersenyum geli. "Gugup?"
Farhan menghela napas. "Sedikit."
"Sedikit?" Memincingkan mata.
"Ya... mungkin banyak."
Dimas tertawa pelan. "Tenang saja, Mas. Setelah ijab kabul selesai, semuanya akan terasa ringan."
Farhan menoleh. "Terima kasih sudah bersedia menjadi saksi."
Dimas mengangguk. "Ini sebuah kehormatan buatku."
Farhan menatap sahabatnya itu beberapa saat.
"Aku pernah hampir kehilangan semua ini. Tapi Allah telah mengembalikannya." Farhan tersenyum penuh syukur. Dimas mengangguk ikut bahagia.
Para tamu mulai memenuhi halaman rumah.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an mengalun lembut melalui pengeras suara. Suasana terasa begitu khusyuk. Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Hanya kehangatan keluarga, sahabat, dan doa-doa tulus yang memenuhi udara. Penghulu mempersilakan semua orang mengambil tempat.
Pak Aditya duduk di hadapan Farhan.
Wajah pria paruh baya itu tampak tenang, meski matanya berkaca-kaca.
Ia menatap calon menantunya.
"Lina adalah putri kami satu-satunya."
Farhan mengangguk hormat.
"Saya akan menjaganya, Om." Pak Aditya tersenyum.
"Saya percaya."
Dimas duduk di sisi penghulu sebagai saksi.
Tatapannya sesekali mengarah kepada Farhan. Ia ikut merasakan ketegangan sahabatnya.
Akad nikah pun dimulai. Semua tamu mendadak hening. Penghulu membacakan nasihat pernikahan dengan suara tenang.
Tentang amanah. Tentang tanggung jawab.
Tentang cinta yang bukan hanya rasa, tetapi juga ibadah.
Farhan mendengarkan setiap kalimat dengan sungguh-sungguh. Kemudian tibalah saat yang paling dinanti. Pak Aditya menggenggam tangan Farhan.
Suasana mendadak terasa begitu sunyi.
Seolah seluruh dunia ikut menahan napas.
Dengan suara mantap, Pak Aditya mengucapkan ijab. Farhan menjawab tanpa ragu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alina binti Aditya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Lancar... sah!"
Suara saksi terdengar hampir bersamaan.
"Sah!"
Kalimat itu disusul gema takbir dari para tamu.
"Allahu Akbar..."
"Allahu Akbar..."
Air mata langsung memenuhi mata Bu Kirana.
Tangannya menutup wajah sambil terus mengucap syukur.
"Alhamdulillah..."
Pak Aditya memejamkan mata beberapa detik. Beban panjang yang selama ini dipikulnya seolah luruh begitu saja.
Farhan menghela napas panjang. Matanya ikut memerah.
Dimas menepuk bahunya pelan. "Selamat."
Farhan tersenyum. "Alhamdulillah."
Beberapa saat kemudian Alina dipersilakan memasuki ruangan.
Langkahnya perlahan.
Anggun.
Tenang.
Tatapan matanya langsung bertemu dengan Farhan.
Tidak ada kata-kata. Hanya senyum yang menyimpan begitu banyak cerita. Cerita tentang penantian.
Tentang luka.
Tentang perjuangan.
Dan tentang takdir yang akhirnya mempertemukan mereka kembali di titik ini.
Farhan mengulurkan tangan. Alina menyambutnya.
Tatapan keduanya seolah berkata bahwa semua air mata yang pernah jatuh tidak pernah sia-sia.
Prosesi doa dipimpin oleh penghulu.
Semua menundukkan kepala.
Bu Kirana menggenggam tangan suaminya erat. Air matanya kembali mengalir.
"Ya Allah..."
"Jadikan rumah tangga anak kami rumah tangga yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan warahmah."
"Lindungi mereka dari segala fitnah."
"Satukan hati mereka dalam kebaikan."
"Jadikan mereka pasangan yang saling menguatkan hingga akhir hayat."
Suara isak kecil mulai terdengar dari beberapa tamu. Doa itu terasa begitu tulus.
Begitu dekat dengan langit. Pak Aditya ikut mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah... aku titipkan putriku kepada lelaki yang Engkau pilihkan."
"Jika selama ini aku menjaganya dengan segala keterbatasanku, maka mulai hari ini jagalah mereka dengan kasih sayang-Mu yang tak berbatas."
"Berikan keberkahan pada setiap langkah mereka."
"Lapangkan rezekinya."
"Jadikan rumah tangga mereka tempat pulang yang penuh ketenangan."
"Dan bila suatu hari nanti ujian kembali datang, kuatkanlah mereka agar selalu mengingat-Mu sebelum saling menyalahkan."
Tangis Bu Kirana pecah. Alina ikut menangis.
Farhan menggenggam tangan istrinya semakin erat.
Dimas yang mendengar doa itu ikut menundukkan kepala lebih dalam. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Di dalam diam, ia pun memanjatkan doa.
"Ya Allah, sebagaimana Engkau bahagiakan mereka hari ini, semoga suatu saat nanti Engkau juga mempertemukanku dengan jodoh terbaik yang mampu menuntunku semakin dekat kepada-Mu."
Ia tersenyum kecil setelah mengaminkan doanya sendiri.
Usai prosesi, keluarga bergantian memberikan pelukan dan ucapan selamat.
Tawa mulai terdengar di berbagai sudut rumah. Anak-anak berlarian mengejar balon.
Para kerabat menikmati hidangan sambil saling berbincang.
Musibah yang pernah menghampiri seolah telah berubah menjadi pelajaran yang mendewasakan semua orang.
Farhan menoleh kepada Alina. "Akhirnya."
Alina mengangguk sambil tersenyum. "Iya... akhirnya."
"Terima kasih sudah tidak menyerah."
Alina menggeleng pelan.
"Bukan aku yang kuat."
"Lalu?"
"Allah yang terus menguatkan kita."
Farhan mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Kalau begitu... mari kita mulai perjalanan ini bersama. Bukan perjalanan yang selalu mudah. Tapi perjalanan yang selalu kita tempuh berdua."
Alina mengangguk mantap. "Insya Allah."
Di luar rumah, langit tampak begitu cerah.
Angin berembus lembut, menggoyangkan untaian melati yang menghiasi pelaminan.
Seakan alam pun ikut menjadi saksi bahwa setelah hujan panjang, selalu ada langit yang kembali biru.
Dan hari itu bukan hanya tentang bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan suci.
Hari itu adalah bukti bahwa kesabaran tidak pernah mengkhianati hasilnya.
Bahwa setiap air mata yang dipersembahkan kepada Allah akan menemukan waktunya untuk berubah menjadi senyum.
Karena takdir terbaik tidak selalu datang paling cepat. Namun selalu datang pada waktu yang paling tepat.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏