NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Bunga yang Memicu Jarak

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika mobil Diara akhirnya berhenti di depan rumah.

Ia turun dengan langkah pelan, satu tangannya memegang sebuket bunga yang tadi ia beli di Baila Florist. Bunga itu ia genggam cukup erat, bukan karena takut jatuh, tapi seperti sedang membawa sesuatu yang mewakili perasaannya sendiri.

Diara menarik napas sebentar sebelum masuk.

Di dalam rumah, Jifan sudah berada di ruang tamu.

Ia tidak duduk santai seperti biasanya. Laptopnya tertutup, tas kerjanya sudah diletakkan, namun matanya terus sesekali melirik jam di dinding.

“Jam sembilan…” gumamnya pelan.

Biasanya Diara sudah di rumah jauh lebih awal.

Hari ini tidak.

Dan itu mengganggunya lebih dari yang ia akui.

Klik.

Suara pintu utama terbuka.

Diara masuk.

Belum sempat ia melepas sepatu, suara Jifan langsung terdengar.

“Dari mana kamu, Diara?”

Nada suaranya datar, tapi ada tekanan di dalamnya.

Diara mendongak.

“Keluar sebentar,” jawabnya santai.

Jifan berdiri.

“Keluar sebentar sampai jam segini?”

Matanya lalu jatuh pada bunga di tangan Diara.

“Itu bunga dari siapa?”

Diara menatap bunga itu, lalu kembali menatap Jifan.

Sebuah jeda kecil muncul di antara mereka.

Lalu, dengan sengaja, Diara menjawab pelan:

“Dari seseorang.”

Jifan mengernyit.

“Siapa?”

Diara mengangkat bahu ringan.

“Cowok.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tapi efeknya langsung terasa.

Wajah Jifan mengeras.

“Cowok?” ulangnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Kamu pulang malam, bawa bunga dari cowok?”

Diara menatapnya, kali ini tanpa ekspresi panik atau takut.

Justru tenang.

“Ternyata kamu masih bisa bereaksi seperti ini,” ucapnya pelan.

Jifan melangkah lebih dekat.

“Jangan main-main, Diara.”

Diara tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat.

“Main-main?” ulangnya. “Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali aku dianggap penting di rumah ini.”

Jifan terdiam sepersekian detik.

Namun emosinya sudah terlanjur naik.

“Ini bukan soal penting atau tidak!” suara Jifan mulai tegas. “Ini soal kamu sebagai istri. Kamu pulang malam, bawa bunga dari laki-laki lain, dan bilang seolah itu hal biasa?”

Diara menatapnya lurus.

“Lalu apa bedanya dengan kamu?”

Jifan terdiam.

Alisnya mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Diara menarik napas pelan.

“Kamu sibuk. Kamu pulang malam. Kamu tidak ada di rumah. Kamu makan atau tidak pun aku tidak selalu tahu.”

Suasana mulai mengeras.

“Aku di sini juga sendirian, Mas.”

Jifan menatapnya, seolah tidak percaya dengan arah percakapan ini.

“Itu tidak sama.”

“Kenapa tidak sama?” potong Diara cepat.

Suara Diara kali ini lebih tajam, tapi tetap tertahan.

“Kamu punya pekerjaan. Aku juga punya hidup. Tapi di rumah ini… aku seperti hanya menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar hadir.”

Jifan terdiam.

Dadanya naik turun pelan.

Namun matanya masih tertuju pada bunga di tangan Diara.

“Dan itu alasan kamu bawa bunga dari laki-laki lain?” suaranya kembali keras.

Diara menghela napas.

“Bukan.”

Ia menatap bunga itu sejenak, lalu kembali ke Jifan.

“Ini alasan aku masih mencoba merasa hidup.”

Hening.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada langkah kaki.

Hanya dua orang yang berdiri dalam jarak yang sama, tapi tidak lagi berada di tempat yang sama secara emosional.

Jifan mengepalkan tangannya.

“Jadi kamu tidak menghargai aku sebagai suami?” ucapnya pelan, tapi tajam.

Diara diam beberapa detik.

Lalu menjawab jujur, tanpa meninggikan suara:

“Untuk apa aku menghargai sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku rasakan keberadaannya di rumah ini?”

Bab 27 — Bunga yang Memicu Jarak (Lanjutan)

Setelah kalimat terakhir itu jatuh di antara mereka, Diara tidak lagi menunggu respons.

Ia menarik napas singkat, lalu melangkah melewati Jifan tanpa menoleh.

Langkahnya stabil, tapi ada sesuatu yang patah di dalamnya—bukan suara, melainkan rasa yang sudah terlalu lama ia tahan.

“Diara, tunggu dulu,” suara Jifan terdengar mengejar dari belakang.

Diara tidak berhenti.

“Jangan pergi begitu saja. Kita belum selesai bicara.”

Langkah Diara tetap berlanjut menuju tangga.

Jifan mengikuti dari belakang.

“Ini bukan hal sepele. Kamu tidak bisa pulang malam, lalu bilang semua ini wajar!”

Diara masih diam.

Setiap kata yang keluar dari Jifan hanya terdengar seperti gema jauh, bukan sesuatu yang benar-benar ia respon lagi.

“Diara!” suara Jifan mulai naik sedikit, menahan emosi yang semakin sulit dikendalikan.

Ia mempercepat langkah, mencoba menyusul.

Namun Diara sudah sampai di depan kamar.

Tanpa menoleh, ia membuka pintu.

“Diara, berhenti dulu. Kita bicara baik-baik.”

Jifan berdiri di belakangnya, jaraknya hanya beberapa langkah.

Untuk sesaat, Diara berhenti di ambang pintu.

Jifan mengira ia akan berbalik.

Namun tidak.

Diara justru masuk ke dalam kamar.

Brak.

Pintu tertutup.

“Diara!” Jifan langsung mengetuk pintu.

Tok… tok… tok…

“Buka pintunya. Kita belum selesai bicara.”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan dari dalam kamar.

Jifan menghela napas, lalu mengetuk lagi, kali ini lebih kuat.

“Jangan seperti ini. Kita selesaikan sekarang.”

Masih tidak ada respon.

Beberapa detik berlalu dalam diam yang menekan.

Jifan menempelkan tangannya ke pintu, lalu mengusap wajahnya pelan, mencoba menahan emosi yang masih tersisa.

“Diara, aku suami kamu,” ucapnya lebih pelan, tapi terdengar berat.

Dari dalam kamar, tetap tidak ada suara.

Di dalam kamar, Diara bersandar di pintu yang baru saja ia kunci.

Matanya terpejam sebentar.

Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena terlalu penuh.

“Cukup…” gumamnya pelan.

Ia berjalan perlahan menuju tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang tanpa membuka lampu utama.

Di luar, suara Jifan masih terdengar samar memanggil namanya.

Namun Diara tidak lagi bergerak ke arah pintu.

Sementara itu di luar kamar, Jifan akhirnya berhenti mengetuk.

Ia berdiri diam, menatap pintu yang tertutup rapat.

Wajahnya masih tegang, tapi kini ada sesuatu yang lain di balik itu—kebingungan yang tidak bisa ia jelaskan.

“Kenapa semuanya jadi seperti ini…” gumamnya pelan.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya pintu tertutup.

Dan jarak yang malam itu terasa semakin nyata, meski mereka hanya dipisahkan oleh satu dinding tipis.

🪻🪻🪻🪻

Pagi datang seperti biasa, tapi suasana rumah terasa berbeda.

Tidak ada percakapan ringan di dapur, tidak ada suara Diara yang biasanya terdengar sejak pagi. Hanya aroma masakan yang sudah siap di meja makan.

Meski hatinya masih dipenuhi sisa kemarahan dan luka dari malam sebelumnya, Diara tetap melakukan seperti yang selalu ia lakukan—menyiapkan sarapan.

Ia berdiri di dapur, mengaduk masakan dengan gerakan tenang, seolah mencoba menjaga dirinya tetap stabil di tengah sesuatu yang berantakan di dalam dada.

“Setidaknya ini tidak berubah,” gumamnya pelan, tanpa ekspresi jelas.

 

Beberapa menit kemudian, sarapan sudah tersaji rapi di meja makan.

Namun Diara tidak duduk.

Ia hanya memandangi hasil masakannya sebentar, lalu melepas apron dan berjalan menuju kamar.

Di depan cermin, ia merapikan jilbabnya, mengambil tas kerja, dan bersiap seperti biasa.

Tidak ada niat menunggu.

Tidak ada niat sarapan bersama.

 

Saat ia melangkah keluar kamar, langkahnya pelan namun pasti.

Ia menuruni tangga tanpa suara.

Di dapur, ia sempat melirik meja makan sekali lagi.

Kosong di satu sisi.

Seperti biasa.

Tapi kali ini, ia tidak berhenti.

 

Beberapa menit kemudian, Diara sudah keluar rumah.

Pintu tertutup.

 

Di dalam rumah, suasana masih hening.

Hingga suara langkah Jifan terdengar dari lantai atas.

Tok… tok… tok…

Ia turun dengan pakaian kerja, dasi belum sepenuhnya rapi, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan dari malam sebelumnya.

“Diara?” panggilnya saat sampai di ruang tamu.

Tidak ada jawaban.

Ia menoleh ke dapur.

Sarapan sudah siap.

Rapi.

Tapi kosong.

“Dia sudah sarapan?” gumamnya pelan.

Ia melangkah mendekat ke meja makan.

Tidak ada jejak makan dua orang.

Hanya satu sisi yang tersentuh.

Jifan menarik kursi, duduk perlahan.

Namun ia tidak makan.

Tangannya justru terdiam di atas meja.

Pikirannya mulai berputar.

 

“Dia marah…” ucapnya pelan.

Ia mengingat kembali percakapan malam sebelumnya.

Bunga.

Cowok.

Kalimat Diara.

Dan pintu yang dikunci.

Jifan mengusap wajahnya pelan.

“Aku salah di bagian mana…” gumamnya.

Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, bukan marah—lebih seperti bingung yang mulai mengganggu.

Ia berdiri lagi.

Memandang dapur.

“Dia tetap masak… tapi tidak mau ketemu aku.”

Kalimat itu membuatnya diam lebih lama.

 

Diara tidak di rumah.

Dan untuk pertama kalinya, Jifan menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu ia perhatikan:

biasanya Diara selalu ada.

Di dapur.

Di ruang makan.

Di sekitar rumah.

Tapi pagi ini, rumah terasa terlalu sunyi.

 

Jifan meraih ponselnya, membuka layar percakapan dengan Diara.

Tidak ada pesan baru selain kemarin.

Ia mengetik sebentar.

Lalu menghapusnya lagi.

“Harus bilang apa…” gumamnya.

Ia menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, bukan pekerjaan yang memenuhi pikirannya di pagi hari.

Tapi Diara.

🪻🪻🪻🪻

Di kantor, Jifan duduk di depan meja kerjanya, namun layar laptop di hadapannya tidak benar-benar ia fokuskan.

Tangannya sesekali mengetuk meja, sementara pikirannya justru berada di tempat lain.

Diara.

Satu nama itu terus berulang di kepalanya sejak pagi.

“Kenapa jadi serumit ini…” gumamnya pelan.

Ia menarik napas panjang, lalu mencoba kembali membuka file kerja. Tapi hanya beberapa detik kemudian, ia menutupnya lagi.

Tidak bisa fokus.

 

Jifan meraih ponselnya.

Layar percakapan dengan Diara masih sama: sunyi.

Jarinya berhenti sejenak.

Lalu ia mulai mengetik.

Jifan:

"Sayang, kamu masih marah?"

Ia menatap pesan itu beberapa detik.

Tidak terkirim.

Lalu terkirim.

Namun tidak ada tanda dibaca.

Jifan menghela napas.

Beberapa menit kemudian, ia mengetik lagi.

Jifan:

"Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Kemarin pekerjaanku sangat banyak."

Kali ini pun tidak ada respon.

Tangannya mulai sedikit gelisah.

Ia mengetik lagi, tanpa berpikir terlalu lama.

Jifan:

"Nanti malam aku ada acara pesta. Kamu mau menemaniku?"

 

Di sisi lain kota, Diara sedang berada di ruang kerja kantornya.

Laptopnya terbuka, tapi pikirannya sedikit buyar saat ponselnya bergetar.

Notifikasi masuk.

Nama yang muncul membuat jantungnya sedikit berhenti lebih cepat dari biasanya.

Jifan.

Diara membuka pesan pertama.

Matanya langsung berhenti di kata itu.

"Sayang."

Pipi Diara langsung terasa hangat.

“Apa-apaan…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Ia menarik napas, lalu membaca pesan kedua.

Ekspresinya sedikit berubah, lebih tenang.

Namun saat melihat pesan ketiga, ia terdiam lebih lama.

 

Nanti malam aku ada acara pesta. Kamu mau menemaniku?

 

Diara menatap layar cukup lama.

Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya—antara ingin pergi, ingin menolak, dan masih menyimpan sisa kesal yang belum sepenuhnya hilang.

Ia menggigit bibir pelan.

Lalu mengetik jawaban.

Diara:

"Maaf, aku ada acara sendiri."

Pesan itu dikirim.

 

Di kantor Jifan.

Notifikasi masuk.

Jifan langsung membuka pesan itu.

Matanya membaca cepat.

Lalu berhenti.

Hening.

Tangannya yang memegang ponsel perlahan turun.

Ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Tapi seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pegang kembali.

“Ditolak…” gumamnya pelan.

Ia bersandar di kursi, menatap langit-langit kantor.

Mood-nya runtuh begitu saja.

Pesta malam itu mendadak terasa tidak penting.

Yang tersisa hanya satu hal di pikirannya—

Diara benar-benar menjauh.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!