NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Pagi Setelah Badai

Matahari pagi baru saja menyembul di balik ufuk timur, memisahkan sisa-sisa kegelapan malam yang mencekam di kawasan elit perumahan Latief. Di dalam ruang makan mewah mansionnya, Chelsea—atau yang kini sepenuhnya digerakkan oleh jiwa tangguh Nadia Kirana—duduk dengan tenang sembari mengoleskan selai pada selembar roti gandum.

Meskipun baru saja melewati malam taruhan nyawa di jalan lingkar luar, tidak ada sedikit pun guratan trauma di wajah cantiknya. Gaun hijau semalam telah berganti dengan blus kasual berwarna biru langit yang dipadukan dengan celana jin hitam, memberikan kesan santai namun tetap memancarkan ketegasan yang mutlak.

Di hadapannya, Adrian duduk dengan laptop yang menyala, menampilkan ratusan baris data enkripsi dan dokumen internal. Wajah analis data muda itu tampak sangat pucat, seolah ia tidak tidur semenit pun sejak menerima kabar penyerangan semalam.

"Nona Chelsea," Adrian membuka suara, suaranya sedikit parau. "Berita tentang kecelakaan beruntun dua SUV misterius di jalan lingkar luar semalam sudah menyebar luas di kalangan intelijen siber. Baskoro telah memutus semua jalur komunikasi dengan nomor perantara yang ia gunakan untuk menyewa para eksekutor tersebut. Dia benar-benar mencoba menghilangkan jejak kaki besarnya."

Nadia menggigit rotinya perlahan, mengunyahnya dengan ekspresi yang terlampau tenang hingga membuat Adrian merinding. "Biarkan saja dia memotong jalurnya, Adrian. Menyeret Baskoro ke polisi atas kasus percobaan pembunuhan hanya akan membuang waktu jika dia memiliki tim pengacara yang licik. Aku tidak ingin dia membusuk di sel penjara dengan status sebagai CEO terkaya. Aku ingin dia merangkak di jalanan terlebih dahulu tanpa sepeser pun uang tersisa di kantongnya."

Nadia menaruh sisa rotinya, lalu menatap tajam ke arah layar laptop Adrian. "Bagaimana dengan berkas yang kuminta kemarin?"

Adrian membetulkan posisi kacamatanya, lalu memutar layar laptop agar menghadap langsung ke arah Nadia. "Ini dia, Nona. Ini adalah cetak biru dan dokumen legalisasi rahasia terkait proyek mega-pelabuhan logistik peninggalan Anda... maksud saya, peninggalan mendiang Nadia Kirana."

Adrian berdeham sejenak, mengoreksi kalimatnya dengan gugup. "Baskoro diam-diam telah mengagunkan sertifikat hak pengelolaan lahan pelabuhan tersebut kepada Bank Central Capital untuk mendapatkan pinjaman segar sebesar lima ratus miliar rupiah. Jika dalam tiga hari ke depan dia tidak bisa membayar bunga pertama yang membengkak akibat penurunan rating sahamnya, pihak bank memiliki hak penuh untuk menyita lahan tersebut dan melelangnya secara secepatnya."

Mendengar informasi itu, sepasang mata bulat milik Nadia berkilat penuh kemenangan yang kejam. "Lima ratus miliar... jumlah yang sangat pas untuk menghancurkan seluruh sisa harga dirinya. Baskoro mengira dia bisa menimbun kekayaan di atas darahku."

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel di atas meja makan bergetar. Layarnya menampilkan nama yang seketika membuat sudut bibir Nadia terangkat: Reynald.

Nadia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Selamat pagi, Tuan Penyelamat. Apakah Anda menelepon hanya untuk memastikan perisai hidup Anda semalam masih bernapas?"

"Aku tidak sedang bercanda, Chelsea," suara bariton Reynald terdengar dari seberang telepon. Suaranya begitu berat, dalam, dan dipenuhi oleh aura kemarahan tirani yang terpendam sejak semalam. "Mobil pribandiku sudah berada di depan gerbang mansionmu. Ikutlah denganku ke Gedung Kejaksaan Tinggi sekarang juga. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk musuhmu."

Nadia menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kecepatan pergerakan pria itu. "Kejaksaan Tinggi? Tuan Reynald, apa yang sebenarnya Anda lakukan di belakang saya?"

"Aku hanya sedang mempercepat tanggal kematian bisnis Baskoro," jawab Reynald dingin sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

Nadia menatap layar ponselnya yang menggelap dengan helaan napas pendek, namun ada seulas senyuman tipis yang sarat akan rasa hangat di bibirnya. Reynald benar-benar tipe pria yang tidak akan pernah membiarkan orang yang diakuinya disentuh oleh siapa pun.

Nadia bangkit dari kursi, menyambar tas tangan kulitnya, lalu menoleh ke arah Adrian. "Adrian, tetap di sini dan awasi terus pergerakan bursa saham Baskoro Corp. Begitu aku memberi sinyal, eksekusi pembelian sisa saham kosong mereka di pasar sekunder menggunakan dana talangan dari Reynald."

"Dimengerti, Nona Muda," jawab Adrian patuh.

Nadia melangkah keluar dari mansion Latief dengan langkah kaki yang mantap dan beritme tegas. Di pelataran, mobil sedan hitam milik Reynald telah bersiap dengan Barra yang membukakan pintu belakang secara hormat. Begitu Nadia masuk ke dalam kabin mobil yang senyap, ia mendapati Reynald sudah duduk di sana dengan setelan jas abu-abu gelap, penampilannya yang sempurna kontras dengan hawa membunuh yang pekat di sekitarnya.

Reynald tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengulurkan tangan kokohnya, meraih jemari lentik Nadia, lalu menggenggamnya erat dengan kehangatan posesif yang mutlak.

Nadia menatap profil samping wajah tampan Reynald yang berahang tegas. "Tuan Reynald, jika Anda terus bergerak secepat ini, saya khawatir panggung pembantaian Baskoro akan selesai sebelum saya sempat menikmatinya."

Reynald menoleh lambat-lambat, menatap langsung ke dalam manik mata Chelsea dengan sorot mata elang yang melunak namun tetap berwibawa. "Aku hanya memastikan bahwa tidak akan ada lagi peluru atau mobil asing yang berani mendekatimu, Chelsea. Mulai hari ini, setiap orang yang mencoba mencelakaimu harus melompati mayatku terlebih dahulu."

Mendengar pernyataan absolut dari sang penguasa bisnis kota tersebut, jantung Nadia memberikan letupan debaran halus yang semakin intens. Ia tidak menarik tangannya kali ini, melainkan membalas genggaman erat Reynald sembari menatap lurus ke arah jalanan yang menuju ke pusat kota.

Badai baru saja dimulai, dan kali ini, petir pertamanya akan langsung menghantam jantung pertahanan Baskoro Corp dari arah yang paling tidak terduga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!