"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Kerja rodi dadakan di sore hari sukses membuat seorang Gavin Aditama—direktur utama bertangan dingin yang biasa memerintah ratusan karyawan—nyaris patah pinggang. Setelah hampir satu jam bolak-balik membongkar muatan dari mobil bak terbuka Lalamove, dibantu oleh sopir pikap dan seorang satpam apartemen yang ikut dikerahkan, seluruh gunungan belanjaan akhirnya berhasil berpindah ke dalam unit apartemen.
Gavin menyeka keringat yang bercucuran di dahinya. Ia merogoh dompet, lalu mengeluarkan empat lembar uang berwarna merah untuk diberikan kepada sopir pikap dan satpam tersebut sebagai upah lelah.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Gavin dengan napas sedikit terengah.
"Sama-sama, Pak Gavin. Mari," pamit keduanya dengan senyum semringah.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Gavin berjalan dengan langkah gontai laksana zombi menuju ruang tamu. Ia langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas sofa empuk, telentang pasrah sambil menatap langit-langit. Seluruh badannya terasa remuk, terutama bagian pinggang yang rasanya seperti mau copot setelah menggotong karung beras dan kardus - kardus yang entah isinya apa saja.
Saat Gavin sedang berleha-leha meratapi nasibnya yang malang, terdengar derit pintu kamar terbuka. Aruna keluar dari dalam kamar dengan langkah santai tanpa beban. Di tangannya, ia menjinjing sebuah paper bag eksklusif berlogo butik pakaian pria ternama yang sempat ia datangi di mal tadi.
Aruna berjalan mendekat, lalu tanpa aba-aba menyodorkan paper bag tersebut tepat di depan wajah Gavin yang masih terkapar lemas.
"Ini buat kamu," ucap Aruna singkat dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.
Gavin seketika menegakkan posisi duduknya. Matanya mengerjap kaget menatap paper bag mewah di hadapannya, lalu beralih menatap wajah jutek Aruna. Ada binar kebahagiaan yang mendadak memuncah hebat di dalam dada Gavin. Rasa lelah di sekujur tubuhnya seolah menguap begitu saja. Siapa yang menyangka jika di balik aksi balas dendam menguras isi kartu ATM-nya, Aruna ternyata masih memikirkan dirinya dan membelikannya hadiah?
"Buat aku, Ru?" tanya Gavin memastikan, seulas senyum mulai terbit di wajahnya yang kuyu.
"Iya. Tapi jangan dibuka di sini. Buka di kamarmu saja nanti malam," potong Aruna cepat sebelum Gavin sempat meraih robekan kertas pembungkusnya. "Dan satu lagi... besok wajib dipakai waktu kamu berangkat kerja ke kantor. Gak ada alasan untuk menolak."
Setelah menyampaikan titah tersebut, Aruna langsung berbalik arah menuju dapur untuk merapikan beberapa barang belanjaan, meninggalkan Gavin yang kini tersenyum pongah sambil memeluk paper bag barunya dengan perasaan luar biasa puas.
---
Keesokan Harinya, Pukul 06.30 WIB
Aroma gurih dari nasi goreng mentega yang sedang dimasak oleh Aruna menguar kuat, memenuhi seluruh sudut dapur apartemen yang kini penampilannya sudah jauh lebih hidup dengan peralatan masak baru. Aruna yang masih mengenakan celemek kain di atas kemeja longgar tampak cekatan membolak-balikkan sepatula di atas teflon anti-lengket barunya.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki berbalut sepatu pantofel mewah terdengar menuruni anak tangga koridor dalam. Aruna secara refleks membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang. Namun, begitu pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang berjalan ke arah meja makan, gerakan tangan Aruna yang sedang memegang sepatula seketika membeku.
Bibirnya bergetar kuat, menahan desakan tawa yang luar biasa hebat hingga dadanya naik-turun.
Di hadapannya kini, Gavin berdiri dengan canggung. Pria itu mengenakan setelan jas premium berwarna biru muda cerah dengan potongan yang membungkus sempurna tubuh tegapnya, dipadukan dengan dalaman kemeja putih slim fit yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka satu. Ini adalah sejarah baru semenjak mereka tinggal bersama; untuk pertama kalinya Aruna melihat seorang Gavin Aditama memakai pakaian kantor berwarna cerah, setelah berbulan-bulan selalu tampil dengan aura suram berbalut warna hitam, dongker, atau abu-abu gelap.
Sementara itu, Gavin yang menyadari perubahan ekspresi Aruna hanya bisa mendengus kesal dalam hati. Semalam, begitu membuka hadiah pemberian Aruna di dalam kamarnya, Gavin benar-benar dibuat tertegun sekaligus syok setengah mati. Alih-alih mendapatkan hadiah istimewa dari sang istri, ia justru disuguhi oleh tiga buah jas dan kemeja dengan warna-warna pastel yang sangat mencolok: baby pink, cream lembut, dan biru muda. Gavin bahkan sempat ingin mengumpat semalam karena merasa selera fashionnya dihina habis-habisan oleh sang istri.
Bagaimana dirinya tidak kesal? Menurut standar Gavin, seorang direktur utama tidak ada gagah-gagahnya sama sekali jika harus memakai jas atau kemeja berwarna cerah seperti ini. Namun, mengingat ancaman dingin Aruna kemarin yang melarangnya menolak, ia terpaksa mengalah dan mengenakan setelan biru muda ini demi kedamaian rumah tangga.
Gavin berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh. Ia merapikan kerah jasnya lalu menatap Aruna dengan pandangan menuntut.
"Bagaimana? Bagus, kan? Kamu sengaja ya membelikan warna-warna seperti ini?" gerutu Gavin dengan nada protes yang kentara. "Ini terlalu cerah, Aruna! Aku kelihatan kayak cowok feminim, bukan seperti pimpinan yang gagah."
Aruna mematikan kompor, lalu berjalan mendekati Gavin. Ia melipat kedua tangannya di dada, matanya meneliti penampilan Gavin dari ujung rambut hingga ujung sepatu pantofelnya dengan saksama. Secara objektif, penampilan Gavin sebenarnya sangat sempurna dan luar biasa tampan; warna biru muda itu justru membuat kulitnya terlihat lebih cerah dan segar, jauh dari kesan kaku.
Namun, karena gengsi dan rasa kesalnya yang belum sepenuhnya hilang, mulut Aruna justru mengeluarkan ucapan yang berbeda total dari penilaian batinnya.
"Ck... biasa saja ternyata," cemooh Aruna sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara dengan wajah meremehkan. "Tadinya waktu beli di butik, aku kira kalau kamu yang pakai bakal kelihatan ganteng kaya aktor Korea yang ada di televisi itu. Ternyata aslinya... yah, zonk. Masih jauh banget standarnya."
Deg.
Mendengar cemoohan yang keluar dari bibir tipis Aruna, seringai pongah Gavin langsung lenyap, digantikan oleh kedutan kesal di sudut bibir seksi Gavin. Ingin rasanya Gavin mengambil sepotong roti tawar di atas meja dan menyumpal mulut cerewet wanita di hadapannya ini sekarang juga agar berhenti menghancurkan harga dirinya.
"Zonk kamu bilang? Mata kamu perlu diperiksa ke dokter ya, Ru. Jelas-jelas setelan ini pas banget di badanku! Saya aja warnanya terlalu terang." balas Gavin tidak terima, suaranya meninggi satu oktav karena emosi yang mulai tersulut.
"Pas di badan sih iya, tapi auranya itu loh... gak dapet sama sekali. Kelihatan aneh," sahut Aruna memprovokasi, sengaja memutar bola matanya malas sembari menuangkan nasi goreng ke atas piring.
Daripada dirinya berakhir terkena serangan jantung di usia muda karena beradu argumen dengan Aruna yang berhati batu, Gavin memilih untuk menghiraukan wanita itu. Pandangannya beralih pada Kenzie yang sedang duduk anteng di high chair-nya, sibuk memainkan sendok plastik. Gavin tahu, ucapan anak kecil tidak pernah bisa berbohong.
"Kenzie, coba lihat Daddy," panggil Gavin sambil berputar pelan di depan keponakannya, memamerkan jas biru mudanya. "Daddy ganteng gak pakai baju baru dari Mami? Ganteng, kan?"
Kenzie menghentikan aktivitasnya. Bocah satu tahun lima bulan itu mendongak, menatap penampilan sang om yang hari ini tidak lagi terlihat seperti bayangan hitam besar yang menakutkan. Begitu melihat warna biru muda yang cerah, mata bulat Kenzie berbinar senang. Kedua tangan mungilnya langsung bertepuk tangan dengan sangat heboh.
"Wahhh! Didi ampaaan! Kaya uwooo (Superhero)!" puji Kenzie dengan suara cadelnya yang melengking riang. Bocah itu bahkan sampai menggoyang-goyangkan kakinya di udara karena gemas melihat penampilan baru omnya.
Mendapatkan pembelaan dan pujian setinggi langit dari sang keponakan, Gavin langsung menegakkan punggungnya. Ia menatap Aruna dengan senyum pongah yang mengembang lebar di wajahnya, seolah-olah baru saja memenangkan tender proyek bernilai triliunan rupiah.
"Dengar itu? Anak kecil gak pernah bohong, Aruna. Kenzie saja bilang aku tampan kayak superhero," ujar Gavin dengan nada sombong yang luar biasa, sengaja memamerkan senyum lebarnya di depan muka Aruna.
Aruna yang melihat tingkah laku pria di hadapannya itu langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Halah, palingan Kenzie cuma asal ceplos saja karena suka lihat warna biru," cibir Aruna sinis, matanya menatap Gavin dengan pandangan tajam yang menusuk.
Namun, belum sempat Gavin membalas ucapan Aruna untuk melanjutkan cekcok kecil mereka, Kenzie yang masih bertepuk tangan tiba-tiba kembali membuka mulutnya yang mungil dengan nada penuh harap.
"Didi ampan, Enji cuda memuju Didi. Cekalah Enji au di beyikan mamen (permen) yaaa? Cama beyi ainan ( mainan) bayu ya, Didi ? Hehe," lanjut Kenzie sambil menjulurkan tangannya ke arah Gavin, memberikan senyuman paling manis yang ia miliki.
Hening.
Senyum pongah di wajah Gavin seketika membeku di udara. Saking kagetnya, pria itu sampai hampir tersedak ludahnya sendiri. Ternyata, pembelaan dan pujian luar biasa dari sang keponakan barusan sama sekali tidak tulus dari lubuk hati, melainkan karena ada udang di balik bakwan, alias ada maunya!
Bwahaha!
Tawa yang sejak tadi ditahan oleh Aruna akhirnya pecah seketika. Gadis berjilbab itu tertawa kencang tanpa memedulikan imejnya lagi, memegangi perutnya yang mendadak kaku melihat wajah pias Gavin yang baru saja dijatuhkan dari langit ke bumi oleh bocah berusia satu tahun lebih.
"Aduh... makanya Gavin, jangan kesenangan dulu!" ujar Aruna di sela-sela tawanya yang renyah, menatap puas ke arah suaminya yang kini hanya bisa menghela napas pasrah, menyadari bahwa di apartemen ini, dirinya berada di kasta paling bawah dalam hal seperti ini.
"Ckk... Kalian ini!" Decak Gavin kesal.
Bersambung...
salah satu berpa ratus kah mantan nya ?
50/50 dong Thor babang udah pada nongol mantannya runa juga Dong biar seru
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor