Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Bayang-Bayang Kompetisi
Atmosfer di SMA Wijaya memasuki fase yang jauh lebih padat begitu kalender menunjukkan pertengahan semester. Bagi Callista, hari-harinya kini berputar di dalam lingkaran ritme yang nyaris tanpa jeda. Pagi hingga siang diisi dengan materi pelajaran reguler dan ulangan harian yang menumpuk, sementara sore harinya dihabiskan untuk bimbingan intensif persiapan Young Asian Leaders Exchange Program.
Di ruang multi-media yang kini menjadi tempat bimbingan tetap mereka, papan tulis putih di depan ruangan sudah dipenuhi dengan corat-coret diagram aliran, poin-poin statistik demografi, dan draf analisis kelayakan proyek sosial.
"Kritik utama dari tim penilai provinsi biasanya ada pada aspek sustainability—keberlanjutan proyek setelah program selesai," ujar Kenzo sambil menggeser spidol hitam di papan tulis. Suaranya terdengar lugas dan penuh wawasan. "Kalau proyek sosial kita ke panti jompo ini cuma berhenti di kegiatan kunjungan rutin, nilainya bakal tergerus sama usulan dari sekolah-sekolah pesaing."
Callista menatap layar laptopnya yang menampilkan berkas pembanding dari sekolah-sekolah favorit lain di wilayah kota. "Gue setuju. SMA Garuda bawa proyek digitalisasi UMKM lokal, sedangkan SMA Nusantara fokus di pengolahan limbah mandiri. Persaingan di level kota ini bener-bener gak bisa dianggap remeh."
Kenzo memutar badannya, menyandarkan punggungnya pada tepi meja penceramah. "Makanya, kita perlu bikin skema kemitraan yang konkrit. Kita gak cuma datang sebagai sukarelawan, tapi bikin sistem buddying antara siswa SMA dan para lansia yang terhubung langsung sama platform komunitas."
Callista manggut-manggut. Jemarinya dengan cepat mencatat poin-poin gagasan Kenzo ke dalam draf proposal. Di dalam benaknya, ia mengagumi pemikiran Kenzo yang selalu sistematis dan berjangka panjang. Bekerja sama dengan Kenzo memberikan akselerasi intelektual yang luar biasa bagi Callista. Tidak ada persaingan ego di antara mereka; keduanya bergerak sebagai satu kesatuan tim yang saling melengkapi.
"Gue udah bikin draf skema kerjasamanya," kata Callista seraya memutar layar laptopnya ke arah Kenzo. "Lo bisa cek bagian anggaran dan alokasi SDM-nya."
Kenzo menunduk, membaca barisan kalimat dan tabel angka yang disusun Callista dengan sangat rapi dan teliti. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Presisi banget, Cal. Ketelitian lo di bagian administratif selalu bikin proposal ini kelihatan sangat profesional."
"Terima kasih atas pujiannya, Pak Ketua," gurau Callista tipis, mencairkan kekakuan ruangan.
Namun, di tengah kesibukan yang makin memuncak itu, Callista tetap merasakan letih yang menghampiri tubuhnya. Bahunya terasa kaku, dan matanya mulai memerah karena terlalu lama menatap paparan radiasi layar komputer.
Tepat saat jam menunjukkan pukul lima sore, ketukan ringan terdengar di pintu kaca ruang multi-media.
Pintu terdorong terbuka, dan Sean melangkah masuk. Seperti biasa, cowok itu membawa aura segar dan tenang yang seketika menghapus ketegangan di dalam ruangan. Kali ini, Sean tidak membawa makanan manis, melainkan sebuah thermos kecil berisi teh krisan hangat yang ia siapkan sendiri dari rumah.
"Permisi, para pejuang akademis," sapa Sean ramah sambil berjalan mendekati meja mereka.
"Sore, Sean," balas Kenzo singkat namun hangat, menyambut kehadiran kawan seangkatan itu dengan rasa hormat yang kian erat.
Sean meletakkan thermos kecil di depan Callista. "Nih, teh krisan hangat buatan Mama. Katanya bagus buat meredakan mata lelah sama tenggorokan kering."
Callista menatap thermos itu dengan mata berbinar. "Wah... Tante Yuli ingat aja gue lagi gampang lelah belakangan ini. Bilang makasih ya ke Mama lo, Sean."
"Pasti disampaikan," jawab Sean seraya menarik kursi kayu di tepi ruangan dan duduk santai. Ia memperhatikan tumpukan berkas dan papan tulis yang penuh dengan grafik rumit. "Gimana progress proyek kalian? Ada kendala?"
"Tinggal penyelarasan akhir di bagian kemitraan komunitas," jelas Kenzo seraya membereskan spidolnya. "Besok sore draf lengkap ini sudah harus kita presentasikan di depan Pak Hartawan dan tim verifikasi sekolah sebelum dikirim ke dinas pendidikan."
"Baguslah kalau gitu," tutur Sean mantap. "Gue tahu kalian berdua pasti bisa lewati tahap ini dengan nilai terbaik."
Kenzo menatap jam tangannya, lalu mengemas laptop dan tasnya dengan cekatan. "Gue pamit duluan ya. Ada pertemuan rutin dengan pembina OSIS di ruang sekretariat sebelum pulang."
"Sip, Nzo. Hati-hati," sahut Sean.
Kenzo mengangguk pelan pada Callista. "Sampai ketemu besok pagi di kelas, Callista. Jangan terlalu malam pulangnya."
"Iya, Kenzo. Makasih buat diskusi hari ini," balas Callista tulus.
Setelah langkah kaki Kenzo menjauh di sepanjang koridor luar, Callista meminum teh krisan hangat dari cangkir plastik kecil thermos tersebut. Rasa hangat dan aroma bunga yang menenangkan langsung menjalar hingga ke dadanya, mengurai rasa letih yang menumpuk sepanjang hari.
Sean memperhatikan wajah Callista dari samping. Wajah cewek itu tampak agak pucat dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya—bukti betapa besarnya energi yang ia curahkan untuk seleksi ini.
"Capek banget ya, Cal?" tanya Sean lembut, intonasi suaranya dipenuhi rasa empati yang mendalam.
Callista menyandarkan kepalanya di atas meja, berbantalkan kedua tangannya yang terlipat, menatap Sean yang duduk di sampingnya. "Lumayan, Sean. Kadang gue ngerasa cemas... gimana kalau proposal kita kalah saing sama sekolah lain? Semua wakil dari sekolah luar juga pinter-pinter banget."
Sean tersenyum hangat. Tangannya terulur, mengusap lembut helai rambut Callista yang terurai di keningnya dengan gerakan yang amat pelan dan menenangkan.
"Cal, listen to me," panggil Sean tegas namun penuh kelembutan. "Gue kenal lo dari kita kecil. Gue tahu seberapa keras perjuangan lo kalau udah punya impian. Hasil akhir itu urusan Yang Maha Kuasa, tapi proses dan kerja keras lo hari ini udah luar biasa banget."
Callista memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat jemari Sean di rambutnya.
"Lagian," lanjut Sean dengan terkekeh pelan, "kalau lo nanti lolos sampai ke luar negeri, yang paling bangga itu gue. Gue bisa pamer ke semua orang kalau cewek pinter yang mewakili provinsi itu adalah sahabat dan orang yang paling gue sayangi."
Callista membuka matanya, menatap manik mata Sean yang jernih dan tulus. Senyuman perlahan terbit di bibirnya, menghapus seluruh rasa cemas dan keraguan yang sempat membayanginya.
"Makasih ya, Sean... karena selalu jadi tempat gue pulang dan dapet ketenangan," bisik Callista pelan.
"Selalu, Callista. Selalu," balas Sean mantap.
Di bawah remang sinar senja yang membias lewat jendela ruang multi-media, Callista tahu bahwa kompetisi di depan memang akan sangat berat. Namun, selama ada Sean yang selalu setia berdiri di sampingnya dan memberikan kekuatan, ia siap menghadapi babak apa pun yang menantinya di esok hari.