NovelToon NovelToon
Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.

diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru

sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

...****************...

Sejak menerima pesan dari Arseno pagi tadi, Evelyn tidak bisa benar-benar berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Bukan karena ada masalah bisnis.

Bukan pula karena laporan perusahaan yang menumpuk.

Masalahnya hanya satu.

Satu pesan pendek dari pria yang selama beberapa bulan terakhir selalu berhasil membuat emosinya naik turun.

Aku ingin mengajakmu berkencan.

Evelyn sudah membaca pesan itu entah berapa kali.

Bahkan sampai Naomi beberapa kali memergokinya tersenyum sendiri.

"Nona."

"Hm?"

"Anda membaca pesan yang sama lagi?"

Evelyn langsung mematikan layar ponselnya.

"Tidak."

Naomi menahan tawa.

"Saya belum mengatakan pesan dari siapa."

Evelyn terdiam.

Naomi tersenyum semakin lebar.

"Berarti benar dari Tuan Arseno."

"Naomi."

"Ya?"

"Kerjakan pekerjaanmu."

"Saya sedang mengerjakan."

"Kalau begitu jangan menggodaku."

"Saya hanya mengamati."

Evelyn memutar mata.

"Semua orang akhir-akhir ini terlalu banyak mengamati."

Naomi tertawa kecil.

"Karena Nona akhir-akhir ini memang lebih mudah tersenyum."

Evelyn hendak membalas, tetapi ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Arseno:

Jemput pukul tujuh.

Evelyn langsung mengetik.

Evelyn:

Aku bisa datang sendiri.

Balasan datang cepat.

Arseno:

Aku tahu.

Evelyn:

Lalu?

Arseno:

Aku tetap ingin menjemputmu.

Evelyn terdiam.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi layar.

Kemudian tanpa sadar tersenyum.

Pukul tujuh malam...

Sebuah mobil hitam berhenti di depan mansion keluarga Hills.

Arseno turun dari mobil.

Ia mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih tanpa dasi.

Sederhana.

Namun tetap membuatnya terlihat sangat elegan.

Pintu mansion terbuka.

Evelyn keluar.

Arseno langsung terdiam.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna biru gelap dengan potongan sederhana.

Rambutnya dibiarkan terurai.

Tidak berlebihan.

Namun justru membuat Evelyn terlihat semakin anggun.

Arseno tanpa sadar menatapnya beberapa detik terlalu lama.

Evelyn mengangkat alis.

"Kenapa?"

Arseno tersadar.

"Kenapa apa?"

"Kau melihatku."

"Aku hanya..."

Ia berhenti.

Kemudian berkata jujur,

"Kau cantik."

Evelyn langsung terdiam.

Pujian itu terdengar berbeda.

Tidak seperti ketika wartawan bertanya.

Tidak seperti ketika mereka harus berakting.

Kali ini...

Arseno mengatakannya tanpa kamera.

Tanpa penonton.

Hanya mereka berdua.

Evelyn tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Arseno membuka pintu mobil.

"Silakan."

Evelyn masuk.

Sebelum Arseno menutup pintu, Evelyn berkata,

"Jangan bilang kau membawa aku ke restoran bisnis lagi."

Arseno tersenyum.

"Tenang."

"Malam ini tidak ada pembicaraan bisnis."

"Serius?"

"Serius."

Evelyn tersenyum.

"Bagus."

Restoran yang mereka datangi berada di lantai atas sebuah hotel mewah.

Ruangan itu tidak terlalu ramai.

Sebuah meja khusus sudah disiapkan di dekat jendela.

Dari sana, seluruh pemandangan kota terlihat indah.

Lampu-lampu gedung berkilauan seperti bintang.

Evelyn memandang keluar jendela.

"Tempatnya bagus."

"Aku tahu kau menyukainya."

Evelyn menoleh.

"Kau tahu?"

Arseno menarik kursi untuknya.

"Kau selalu suka pemandangan malam."

Evelyn duduk.

"Sejak kapan kau memperhatikan?"

Arseno duduk di hadapannya.

"Entahlah."

Ia tersenyum kecil.

"Mungkin sejak aku mulai memperhatikanmu."

Evelyn langsung terdiam.

"Arseno."

"Hm?"

"Kau hari ini aneh."

"Kenapa?"

"Kau terlalu pandai berbicara."

Arseno tertawa.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Pelayan datang memberikan menu.

Evelyn langsung membukanya.

"Sepertinya aku mau pasta."

Arseno tersenyum.

"Tentu saja."

"Apa?"

"Aku sudah bisa menebaknya."

Evelyn menunjuk menu.

"Jangan komentar."

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Wajahmu sudah mengatakan semuanya."

Arseno tertawa kecil.

"Aku pesan steak."

"Sudah kuduga."

"Dan wine."

"Sudah kuduga."

"Kau hafal pesananku?"

Evelyn terdiam.

"Aku..."

Arseno tersenyum puas.

"Berarti kau memperhatikanku."

Evelyn langsung mengalihkan pandangan.

"Aku hanya sering melihatmu makan."

"Itu namanya memperhatikan."

"Jangan terlalu percaya diri."

Makanan datang.

Mereka mulai makan sambil berbicara.

Anehnya...

Tidak ada kecanggungan.

Mereka membicarakan pekerjaan, keluarga, hobi, bahkan hal-hal kecil yang tidak memiliki hubungan dengan bisnis.

Evelyn menceritakan tentang Max, anjing kesayangannya.

"Dia pernah merusak sofa nenekku."

Arseno tertawa.

"Dan kau tidak dimarahi?"

"Tentu saja."

"Berapa lama?"

"Sepuluh menit."

"Lalu?"

"Eyang akhirnya memaafkannya."

Arseno menggeleng.

"Berarti Max lebih beruntung daripada aku."

Evelyn tertawa.

"Kau membandingkan dirimu dengan anjingku?"

"Setidaknya dia tidak pernah menendangku."

Evelyn langsung menatapnya.

"Kau tidak akan pernah melupakan itu, ya?"

"Tidak."

Mereka tertawa bersama.

Setelah makan malam hampir selesai...

Evelyn bersandar santai di kursinya.

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Kita ternyata lebih banyak tertawa kalau tidak membicarakan bisnis."

Arseno mengangguk.

"Karena pekerjaan membuatmu terlalu serius."

"Kau juga."

"Benar."

Evelyn tersenyum.

Kemudian ia bertanya,

"Kenapa kau mengajakku malam ini?"

Arseno terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun jawabannya tidak mudah.

Ia menatap Evelyn cukup lama.

"Karena aku ingin."

"Itu saja?"

"Ya."

Evelyn tersenyum.

"Aneh."

"Apa?"

"Biasanya kau selalu punya alasan."

Arseno mengangguk.

"Kali ini tidak."

Ia menarik napas.

"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."

Evelyn terdiam.

Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Setelah mereka meninggalkan restoran...

Arseno tidak langsung mengantar Evelyn pulang.

Ia mengajaknya berjalan sebentar di taman hotel.

Udara malam terasa sejuk.

Lampu taman menerangi jalan setapak.

Evelyn berjalan di samping Arseno.

"Kau tahu..."

"Hm?"

"Aku dulu tidak pernah membayangkan akan berjalan seperti ini denganmu."

Arseno tersenyum.

"Aku juga."

"Awalnya aku benar-benar mengira kau menyebalkan."

"Awalnya?"

Evelyn tertawa.

"Baiklah."

"Masih."

Arseno tertawa.

"Jujur sekali."

"Kau juga."

Mereka berhenti di dekat kolam kecil.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya memandang air yang memantulkan cahaya lampu.

Arseno kemudian berkata,

"Evelyn."

"Ya?"

"Terima kasih."

Evelyn menoleh.

"Untuk apa?"

"Sudah menjadi bagian dari hidupku beberapa bulan terakhir."

Evelyn tidak langsung menjawab.

Kemudian tersenyum.

"Terima kasih juga."

"Untuk?"

"Sudah membuat hidupku tidak membosankan."

Arseno tertawa kecil.

"Jadi aku hanya penghibur?"

"Mungkin."

"Aku CEO."

"CEO penghibur."

"Baiklah."

Arseno menggeleng sambil tersenyum.

Namun di balik senyum itu...

Ada perasaan yang semakin sulit disembunyikan.

Malam semakin larut.

Saat mobil berhenti di depan mansion Hills, Evelyn hendak turun.

Namun Arseno memanggilnya.

"Evelyn."

"Hm?"

"Besok..."

"Apa?"

"Jangan terlalu sibuk."

Evelyn tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena aku mungkin akan mengajakmu makan siang."

Evelyn menahan tawa.

"Ini kencan kedua?"

Arseno mengangguk.

"Kalau kau mau."

Evelyn membuka pintu mobil.

Sebelum turun, ia menoleh.

"Baik."

Arseno tersenyum.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Evelyn berjalan masuk.

Namun beberapa langkah kemudian...

Ia berhenti dan menoleh.

Mobil Arseno masih berada di sana.

Pria itu masih melihat ke arahnya.

Mereka saling tersenyum.

Baru setelah Evelyn masuk ke mansion, Arseno menjalankan mobilnya.

Di dalam kamar...

Evelyn berdiri di depan cermin.

Ia mengingat percakapan malam itu.

Kemudian tanpa sadar menyentuh dadanya.

"Kenapa jantungku begini?"

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

Sementara itu...

Di dalam mobil...

Arseno juga tersenyum sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Sebuah dinner terasa jauh lebih penting daripada rapat bisnis apa pun.

Dan kini ia benar-benar yakin.

Perasaannya terhadap Evelyn bukan lagi sekadar rasa nyaman.

Ia jatuh cinta.

...****************...

1
Nanda Sa
oke 👍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!