NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Untuk Kembali

Sinar matahari sore yang mulai menguning masuk melalui jendela kaca raksasa di apartemen penthouse milik Sintia, memberikan nuansa keemasan yang hangat dan tenang. Ruangan yang selama ini terasa sunyi dan hanya berisi gema langkah kaki Sintia yang penuh beban, mendadak berubah suasananya.

Arka, dengan langkah-langkah kecilnya yang ragu namun penuh rasa ingin tahu, menyusuri lantai marmer yang mengkilap. Matanya yang bulat membelalak takjub melihat deretan mainan robot yang sengaja Sintia beli dalam perjalanan menuju apartemen tadi, serta pemandangan kota dari ketinggian yang tampak seperti deretan mainan di bawah sana.

"Wah... Tante, ini rumah Tante? Tinggi sekali! Seperti di atas awan!" seru Arka dengan suara cempreng khas anak-anak, wajahnya yang tadi kuyu kini berbinar-binar penuh semangat. Ia berlari kecil menuju balkon kaca, menempelkan hidungnya yang mungil ke permukaan kaca yang dingin.

Sintia berdiri di ambang pintu ruang tengah, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Melihat tawa polos Arka dan binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah bocah itu, hati Sintia yang selama bertahun-tahun ini membeku oleh rasa dikhianati, perlahan-lahan mulai mencair. Ada kehangatan yang merayap di rongga dadanya—sebuah perasaan yang asing namun sangat ia rindukan.

"Iya, Arka. Mulai sekarang, Arka tinggal di sini sama Tante Sintia, ya?" ucap Sintia lembut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun.

Arka berbalik, menatap Sintia dengan pandangan memuja. "Boleh, Tante? Arka tidak akan dimarahi kalau main di sini? Mama... Mama biasanya marah kalau Arka berisik," cicitnya, suaranya sedikit mengecil saat menyebut nama ibu kandungnya.

Dada Sintia berdenyut ngilu mendengarnya. Betapa kejamnya takdir yang harus dialami bocah ini. Arka sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang racun yang disebar oleh Suci, tentang pengkhianatan menjijikkan ayahnya, atau tentang bagaimana ia dilahirkan sebagai alat untuk menyakiti wanita di hadapannya. Di mata Arka, dunia ini masihlah tempat yang penuh dengan robot dan pemandangan awan, bukan medan pertempuran harta dan syahwat.

"Tidak akan, Arka. Tante tidak akan marah. Arka bisa main sepuasnya," bisik Sintia, berjalan mendekat dan mengusap rambut Arka dengan penuh kasih sayang. Dalam hatinya, ia bersumpah untuk menjadi perisai bagi kepolosan bocah ini.

****

Sementara itu, ketenangan di apartemen Sintia bertolak belakang dengan kekacauan yang terjadi di lobi Menara Hutama Group.

Suci Wahyuni melangkah keluar dari lift dengan tergesa-gesa. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, dan napasnya memburu akibat amarah dan kegagalan total di kamar mandi Kenzi. Rencananya untuk menjadi "Nyonya Hutama" dalam satu malam baru saja hancur berantakan karena keteguhan pria oriental itu.

"Sialan! Kenzi benar-benar keras kepala!" umpatnya di bawah napas.

Namun, baru saja ia hendak mencapai pintu keluar otomatis, dua orang petugas keamanan bertubuh tegap menghadang jalannya. Rupanya, sekretaris pribadi Kenzi telah menemukan petugas kebersihan yang pingsan dan segera menyebar peringatan ke seluruh gedung.

"Berhenti di sana! Anda tidak bisa pergi begitu saja!" bentak salah satu satpam sambil mencengkeram lengan Suci dengan kuat.

"Lepaskan saya! Kalian tidak tahu siapa saya?!" Suci berontak beringas, ia menjerit dan memukul-mukul dada satpam itu. "Lepaskan! Saya calon istri bos kalian!"

"Diam dan ikut kami ke ruang pengamanan!" Satpam kedua mencoba memiting tangan Suci.

Dalam posisi terdesak dan nyaris tertangkap, naluri bertahan hidup Suci yang liar kembali muncul. Ia merogoh saku seragam pembersihnya yang masih ia kenakan. Bukan uang atau ponsel yang ia ambil, melainkan sebuah botol kecil semprotan cabai yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga di lingkungan kumuh.

PSSSSSTTTT!

Dengan gerakan kilat, Suci menyemprotkan cairan pedas itu tepat ke arah mata kedua petugas keamanan tersebut.

"AAARRGGHH! Mataku!" Kedua satpam itu melepaskan cengkeraman mereka, mengerang kesakitan sambil menutupi wajah yang terasa terbakar.

Suci tidak membuang sedetik pun. Ia berlari secepat kilat menembus pintu kaca, mengabaikan teriakan orang-orang di lobi. Setelah berhasil mencapai pinggir jalan raya dan melompat ke dalam sebuah taksi yang sedang berhenti, Suci menoleh ke belakang, menatap gedung pencakar langit itu dengan pandangan benci yang mendarah daging.

"Kalian pikir ini sudah berakhir?" desis Suci, jemarinya mencengkeram jok mobil hingga kukunya nyaris merobek kulit sintetis itu. "Kenzi Hutama... aku bersumpah demi sisa napasku, aku akan kembali. Aku akan merebutmu dari tangan Sintia, dan aku akan membuat kalian berdua berlutut memohon ampun padaku!"

****

Di sebuah sudut kota yang kontras, di rumah kontrakan kumuh yang berbau lembap, Rian dan Anne masih terpaku di tengah ruangan. Mereka seolah baru saja dihantam badai besar yang membawa pergi satu-satunya aset berharga yang mereka miliki: Arka.

"Rian... bagaimana ini? Dia cuma bawa Arka!" ratap Anne, suaranya melengking pilu memenuhi ruangan sempit itu. "Kenapa dia tidak membawa kita juga? Padahal Ibu sudah bersujud sampai lutut Ibu sakit!"

Rian mengepalkan tangannya, memukul meja kayu yang reyot hingga berderit. "Sintia benar-benar sudah berubah, Bu. Dia bukan lagi Sintia yang lembut dan penurut dulu. Dia sekarang seperti es batu, dingin dan keras!"

Anne merangkak mendekati anaknya, matanya yang cekung berkilat dengan rencana baru. Ia mencengkeram lengan kemeja Rian yang lusuh.

"Dengarkan Ibu, Rian. Sintia itu lemah jika menyangkut perasaan. Dia membawa Arka karena dia mencintai anak itu, dan itu artinya dia masih memiliki secuil rasa untuk darah dagingmu!" bisik Anne dengan nada membujuk yang licik. "Jangan menyerah. Kamu harus terus mendekatinya. Datangi apartemennya setiap hari, bawa bunga, menangislah di depannya. Gunakan Arka sebagai jembatan!"

Rian menatap ibunya dengan ragu. "Tapi Bu, dia bahkan tidak mau menoleh padaku tadi..."

"Itu karena ada pengacaranya! Kalau kamu datang sendiri, saat dia sedang bersama Arka, hatinya pasti akan luluh," Anne meyakinkan dengan suara yang dipenuhi jilatan keserakahan. "Luluhkan hatinya, Rian. Buat dia merasa kasihan. Hanya dengan kembali pada Sintia, kita bisa keluar dari lubang cacing ini dan kembali menjadi orang kaya. Kamu mau selamanya makan nasi garam di sini?"

Rian terdiam sejenak, membayangkan kemewahan yang pernah ia sia-siakan. Ia mengangguk pelan, sebuah rencana busuk mulai tumbuh di kepalanya, dipupuk oleh hasutan sang ibu yang tak pernah tahu malu.

****

Matahari sore di atas langit ibu kota mulai meredup, menyisakan gembul awan berwarna jingga keunguan yang tampak kontras dengan kilau fasad kaca gedung Apartemen Casablanca Premier. Kompleks hunian vertikal super-eksekutif ini berdiri kokoh dengan sistem keamanan berlapis tiga, tempat di mana privasi para konglomerat dibeli dengan harga miliaran rupiah. Di sinilah Sintia Arunika mencoba merajut kembali serpihan hidupnya yang sempat porak-poranda, membangun sebuah benteng kedamaian kecil bersama Arka.

Namun, kedamaian itu bagai hamparan kaca tipis yang siap retak kapan saja.

Di depan gerbang marmer hitam pos penjagaan utama, sebuah taksi tua berhenti dengan suara derit rem yang memekakkan telinga. Pintu belakang terbuka kasar, memuntahkan sosok Alfandi Rian Mahesa yang melangkah keluar dengan raut wajah yang dipenuhi ketegangan dan ambisi yang dipicu oleh hasutan ibunya, Anne.

Penampilan Rian sore itu benar-benar menyedihkan. Jas kelabu yang ia kenakan adalah setelan lama yang belum sempat disita pengadilan, tampak longgar di tubuhnya yang kian kurus. Rambutnya yang biasa tersisir rapi dengan pomade mahal kini tampak mencuat kusut, mencerminkan kekacauan mental yang sedang dialaminya.

Dengan langkah lebar yang dipaksakan agar terlihat berwibawa, Rian menghampiri meja resepsionis dan tiga petugas keamanan bertubuh tegap yang berjaga di balik pembatas kaca.

"Buka gerbangnya. Saya mau naik ke penthouse lantai dua puluh empat, unit atas nama Sintia Arunika," titah Rian, suaranya sengaja dikeraskan, mencoba mengintimidasi dengan sisa-sisa otoritas masa lalunya sebagai seorang direktur utama.

1
Rani Saraswaty
kenzi loo kn sdh di cekoki obt gk jls itu, knp msh anteng aja sih...kyk dibiarin kliaran biar bs bls yaa🙄
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!