Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Janji untuk Paulus
Theo menyingkirkan pemikirannya tentang nomor tidak dikenal kemarin itu. Yang penting hari ini, Ia bisa menunjukkan janjinya pada ayahnya.
Di dalam hatinya, Theo merasa menang. Skenario terburuk yang sempat membayangi benaknya, sirna begitu saja.
Tepat di atas meja kerjanya, sebuah map berwarna coklat tergeletak dengan rapi. Di dalamnya terdapat lembar draf investasi dan bukti transfer dana talangan sebesar 15 miliar rupiah dari Avalanka Group.
Bagi Theo, berkas itu bukan sekadar kertas biasa, melainkan sebuah trofi kemenangan yang akan menyelamatkan hidupnya dari amarah sang ayah.
...Tok! Tok! Tok!...
Pintu ruangan kerja Theo diketuk, tanpa menunggu izin dari dalam, pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Paulus Falcon.
Pria paruh baya itu masuk dengan wajah yang dingin, sorot matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan putranya.
Hari ini adalah hari ketiga, hari penentuan dari ultimatum keras yang dia berikan kepada Theo untuk menstabilkan keuangan perusahaan.
"Bagaimana, Theo? Hari ini adalah batas waktumu," suara berat Paulus bergema, mengintimidasi ruangan yang seketika terasa senyap.
"Mana bukti kalau kamu bisa menyelamatkan Falcon Corp dan menyelesaikan masalah tagihan Bank Nasional?"
Theo tidak gentar. Sebaliknya, sebuah senyuman sombong terukir di sudut bibirnya. Dengan gerakan yang sengaja dibuat tenang dan elegan, Theo menggeser map di atas mejanya ke hadapan Paulus.
"Semuanya sudah beres, Ayah," ujar Theo dengan nada pamer yang sangat kentara, tidak bisa menyembunyikan rasa sombongnya.
"Dana talangan segar sebesar 15 miliar dari Avalanka Group sudah resmi masuk ke rekening utama Falcon Corp sejak siang kemarin. Semua cicilan di Bank Nasional juga sudah diselesaikan pagi ini. Rating kredit perusahaan kita kembali aman tanpa cela."
Paulus terdiam sejenak, dia meraih kacamata bacanya dari saku kemeja, lalu mulai memeriksa lembar demi lembar dokumen laporan keuangan dan bukti transfer resmi tersebut dengan sangat teliti.
Theo memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah ayahnya dengan jantung yang berdegup penuh antisipasi.
Perlahan tapi pasti, ketegangan di wajah tua Paulus memudar. Sepasang alisnya yang tadi bertaut kini melonggar, digantikan oleh binar kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
Paulus menurunkan dokumen itu, menatap Theo dengan pandangan yang jauh lebih baik dari biasanya. Dia melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Theo dengan cukup keras, sebuah gestur apresiasi yang sangat langka dan berharga bagi Theo.
"Bagus, Theo. Kamu membuktikan kalau kamu memang layak memimpin Falcon Corp," puji Paulus dengan nada suara yang terdengar bangga.
"Jujur, Ayah sempat ragu kamu bisa meluluhkan konglomerat sekelas Tristan Avalanka dalam waktu sesingkat ini. Kamu tidak memalukan nama keluarga Falcon."
Mendengar pujian itu, dada Theo seketika membusung penuh kebanggaan. Ego kelaki-lakiannya melambung tinggi ke langit.
Dia merasa telah berhasil membuktikan dirinya sebagai pebisnis jenius, sekaligus mengamankan posisinya sebagai CEO tertinggi di perusahaan ini tanpa ada yang bisa mengusiknya lagi.
Tepat saat Theo sedang berada di puncak rasa puas dan leganya, Paulus melepas kacamata bacanya. Dia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan lanskap kota, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Paulus menatap Theo kembali, kali ini dengan nada suara yang berubah santai, seolah hanya ingin berbincang ringan antar keluarga.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Zarlin? Akhir-akhir ini Ayah jarang sekali melihat dia berkunjung ke rumah atau menemuimu di kantor,"
tanya Paulus tiba-tiba.
...Jedar!...
Rasanya seperti ada sayatan di dalam dada Theo. Senyum sombong yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika beubah menjadi kaku.
Paulus, yang sama sekali tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah putranya, melanjutkan kalimatnya dengan nada yang dalam dan penuh penekanan.
"Ingat, Theo. Jaga Zarlin baik-baik. Dia itu berlian yang sebenarnya di hidupmu," tutur Paulus dengan serius.
"Masa depan dan kejayaan Falcon Corp ini sebenarnya ada di pundak istrimu. Jangan sampai kamu melakukan kebodohan yang membuat dia kecewa, atau sampai membuat istrimu itu pulang ke rumah orang tuanya karena kelakuanmu. Mengerti?"
Theo panik setengah mati hingga ke hulu hatinya. Kalimat ayahnya barusan terasa seperti sebilah pisau tajam yang siap menguliti seluruh rahasia besarnya.
Bagaimana mungkin dia bisa menjaga Zarlin, sedangkan kenyataannya wanita itu sudah dia usir dari rumah dengan tidak hormat?
Bagaimana mungkin dia menjamin Zarlin tidak kecewa, sementara akta perceraian mereka sudah sah dan terkunci rapat secara hukum?
Dia mati-matian menahan debaran jantungnya yang menggila agar tidak menimbulkan kecurigaan pada sang ayah. Sebuah senyuman kaku dan terpaksa dipaksakan muncul di wajahnya demi menyelamatkan nyawanya sendiri hari ini.
"Z-Zarlin baik, Ayah... Dia sehat," jawab Theo dengan suara yang sedikit bergetar di awal, sebelum dia berusaha menstabilkannya kembali.
"Dia akhir-akhir ini memang sedang agak sibuk mengurus beberapa keperluan pribadi di rumah, makanya dia jarang keluar atau ikut bersamaku ke kantor."
Paulus hanya mengangguk-angguk percaya, menerima alasan itu tanpa curiga sedikit pun. Dia mengira menantunya yang anggun itu memang sedang ingin menikmati waktu luangnya.
"Bagus. Ibumu tidak macam-macam dengan Zarlin, kan? Ayah tahu ibu sering ke rumah mu untuk berkunjung, terkadang ayah merasa kesepian dirumah. Tapi tidak masalah, setidaknya kalian bahagia."
...Deg! Deg! Deg!...
Theo langsung memikirkan kata-kata untuk menyelamatkan dirinya. Jika ayahnya tau kalai ibunya juga membenci dan mengusir Zarlin, bisa-bisanya nanti hidup mereka langsung hancur saat ini juga.
"I-Iya ayah, ibu baik-baik saja dengan Zarlin." ujar Theo
"Ya sudah, kalau begitu Ayah pergi dulu ke ruang rapat bawah. Sampaikan salam Ayah pada Zarlin nanti malam."
"Baik, Ayah. Akan kusampaikan," jawab Theo lirih.
Begitu Paulus melangkah keluar dari ruangan, kakinya terasa lemas tak bertulang, hingga tubuhnya jatuh terduduk dengan kasar di atas kursi kerjanya.
"Sial... sial! Kalau sampai Ayah tahu aku dan Zarlin sudah bercerai, habislah aku. Perusahaan ini pasti akan diambil alih lagi oleh Ayah," bisik Theo penuh ketakutan dengan mata yang melebar panik.
Ia menyadari bahwa uang 15 miliar yang dia banggakan hari ini hanyalah awal dari waktu yang jauh lebih mengerikan jika status Zarlin terbongkar.
...****************...
Di waktu yang bersamaan, situasi di dalam ruangan kantor Aricia International justru terasa begitu menenangkan, kontras dengan kepanikan yang terjadi di Falcon Corp.
Zarlin Rahesa duduk dengan sangat anggun di kursi kerjanya yang mewah. Dia mengenakan pakaian formal yang elegan, memancarkan aura seorang wanita karier kelas atas yang berwibawa.
Zarlin menyesap teh hangat dari cangkir mahalnya, menikmati setiap aroma yang menguar di ruangan sejuk itu.
Di hadapannya, Tristan Avalanka sedang berdiri tegak dengan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan kerja. Pria itu baru saja menutup tablet digitalnya setelah memastikan sebuah laporan.
"Dana talangan sebesar 15 miliar itu sudah dicairkan ke rekening utama Falcon Corp sejak kemarin siang, Nona Zarlin," lapor Tristan secara formal, dengan nada suara yang penuh rasa hormat.
"Dan sesuai dengan semua dugaan serta perhitunganmu yang akurat, Theo langsung menggunakan uang itu untuk melunasi utang bank hari ini. Dia juga baru saja memamerkan dokumen itu di depan ayahnya untuk mengamankan posisinya sebagai CEO."
Zarlin menurunkan cangkir tehnya perlahan, membiarkan bunyi dentingan halus bergema di ruangan yang sunyi itu.
Sebuah senyuman sinis, dingin, sekaligus menawan terukir sempurna di bibir manisnya. Matanya yang jernih namun tajam menatap lurus ke depan, seolah-olah dia bisa melihat langsung bagaimana wajah panik Theo saat ini.
"Kerja bagus, Tristan," ujar Zarlin dengan nada suara yang begitu tenang, namun menyimpan ketegasan yang mematikan.
Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada.
"Biarkan saja pria bodoh itu menikmati uangnya hari ini. Biarkan dia merasa berada di atas angin untuk sesaat."
Zarlin menjeda kalimatnya, kilat balas dendam berkilat indah di matanya.
"Theo tidak pernah tahu... kalau gedung tempat dia berpijak dan menyombongkan diri sekarang, perlahan-lahan sudah mulai runtuh dari bawah akibat kebodohan tangannya sendiri. Dan saat waktunya tiba nanti, aku sendiri yang akan memastikan dia jatuh dari tempat tertingginya tanpa ada satu orang pun yang bisa menolongnya." ujar Zarlin.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!
dah nikmati aja karmamu 🤪