Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pertemuan Dua Saudara
Matahari sudah berada di puncak langit ketika Derek akhirnya tiba di pinggiran lembah. Ia menunggang kudanya dengan kecepatan tinggi, debu beterbangan di belakangnya. Dua hari telah berlalu sejak ia meninggalkan Viona, dan setiap menit yang ia lewati terasa seperti tahun. Namun, saat ia mendekati area kabinnya, ia merasakan ada yang tidak beres.
Ia menghentikan kudanya di sebuah bukit kecil yang menghadap ke lembah. Dari sana, ia bisa melihat kabinnya. Pintunya terbuka lebar, dan tidak ada asap yang mengepul dari cerobong. Beberapa barang terlihat berserakan di halaman depan.
Jantung Derek berhenti berdetak. Ia memacu kudanya turun ke lembah dengan sangat cepat, melompati batu-batu dan akar pohon tanpa peduli keselamatan. Saat ia tiba di depan kabin, ia langsung turun dan berlari masuk.
"Viona! Viona, di mana kau?" teriaknya.
Tidak ada jawaban. Kabin itu kosong. Meja kayu terbalik, dan kursi-kursi berantakan. Ada bekas perkelahian—atau setidaknya, ada tanda bahwa seseorang telah masuk dan mencari sesuatu. Derek melihat ke arah perapian. Di sana, ia melihat batu di sisi perapian yang sedikit bergeser.
Lorong rahasia!
Derek berlari ke perapian, membuka panel rahasia. Ia merangkak masuk ke dalam lorong gelap, berharap Viona masih ada di dalam. Namun, saat ia mencapai ujung lorong di tepi sungai, ia hanya menemukan jejak kaki yang sudah memudar. Jejak kaki itu menuju ke timur.
Derek berhenti, menatap jejak kaki yang samar. Viona pergi sendirian. Dan jejak ini... terlihat dikejar oleh seseorang.
Ia kembali ke kabin, mencoba mencari petunjuk lain. Di atas meja yang berserakan, ia menemukan sehelai kain kecil—kain dari selendang Viona. Ia menggenggamnya erat.
"Viona, aku akan menemukanmu. Aku janji."
Derek keluar dari kabin dan melompat ke atas kudanya. Ia mengikuti jejak yang tertinggal—jejak kaki Viona, dan jejak kaki beberapa orang lain yang tampaknya mengikutinya. Namun, di satu titik, jejak itu bercabang. Jejak Viona berbelok ke timur, sementara jejak para pengejarnya berbelok ke utara.
Derek memilih untuk mengikuti jejak Viona.
Dua jam kemudian, ia tiba di sebuah desa kecil—Desa Embun. Ia memasuki desa dengan hati-hati, menanyakan apakah ada yang melihat seorang wanita muda berambut pendek dengan selendang cokelat. Seorang pedagang tua mengingatnya.
"Wanita itu? Ya, aku melihatnya. Dia berjalan ke arah timur, menuju hutan. Tapi ada seorang wanita tua yang mengikutinya. Wanita tua dengan keranjang rotan."
Derek mengernyit. Wanita tua dengan keranjang rotan? Hanya satu orang yang cocok dengan deskripsi itu—Nenek Gita.
Derek mengubah arahnya. Ia meninggalkan desa dan menuju ke arah timur, menyusuri tepi hutan. Tak lama kemudian, ia melihat sosok Nenek Gita sedang duduk di atas batu besar di pinggir jalan, seolah sedang menunggu seseorang.
"Nenek Gita!" seru Derek, melompat dari kudanya. "Viona di mana? Apa yang terjadi di kabin?"
Nenek Gita menatap Derek dengan tatapan tenang. "Kau terlambat, Nak. Dewan Raja sudah datang. Mereka mencari Viona, dan mereka hampir menangkapnya."
"Tapi dia lolos?"
"Ya. Aku membantunya keluar melalui lorong rahasia." Nenek Gita tersenyum. "Dia gadis yang tangguh, Nak. Kau tidak perlu khawatir—dia aman."
"Di mana dia sekarang?" tanya Derek, suaranya mendesak.
"Dia pergi mencari Neil." Nenek Gita menghela napas. "Ada sebuah pondok tua di hutan, sekitar satu jam berjalan dari sini. Dia menemukan petunjuk yang membawanya ke sana. Aku tidak bisa menghentikannya, karena dia sangat ingin membantu kau."
Derek menghela napas panjang. "Neil... dia ada di sana?"
"Nampaknya begitu. Dan ada seorang wanita bersamanya. Wanita bernama Sera."
Derek mengangguk. Ia sudah sering mendengar nama itu dari laporan Renold. Sera adalah mantan mata-mata Dewan Raja.
"Terima kasih, Nenek Gita. Kau telah menyelamatkannya." Derek memeluk Nenek Gita dengan erat.
"Pergilah, Nak. Temukan istrimu." Nenek Gita menepuk punggung Derek. "Dan jangan lupa, kekuatan sejati bukan berasal dari takhta, tapi dari hati."
Derek mengangguk, lalu menaiki kudanya dan melaju ke arah hutan timur.
Satu jam kemudian, ia melihat pondok tua di balik pepohonan. Ia mendekat dengan hati-hati, mengikat kudanya di dekat sungai kecil, lalu berjalan menuju pondok. Ia melihat Viona duduk di dekat pintu, dan di dalamnya, ia bisa melihat Neil dan Sera.
Derek menghela napas, menenangkan diri, lalu melangkah maju. Saat ia mendekat, Viona menoleh, dan mata mereka bertemu.
" Derek!" Viona berlari dan memeluk Derek dengan erat. "Kau kembali! Aku sangat khawatir."
Derek memeluknya balik, merasakan hangatnya tubuh Viona. "Maaf, aku terlambat. Aku menemukan kabinmu kosong dan aku panik."
"Aku baik-baik saja. Nenek Gita membantuku." Viona menatap Derek. "Dan kau... kau harus tahu, Neil ada di dalam."
Derek menatap pondok. Pintunya setengah terbuka, dan di dalam, Neil berdiri dengan tatapan canggung. Sera berdiri di sampingnya, dengan waspada.
Derek melangkah masuk, dan kedua saudara itu saling menatap. Suasana menjadi sangat tegang.
Neil memecah keheningan. "Derek... aku minta maaf. Untuk semua yang telah aku lakukan."
Derek menghela napas. "Kau tahu, Neil? Aku datang ke sini dengan marah. Aku ingin bertanya mengapa kau mengumumkan kematian Viona. Mengapa kau meninggalkan istana. Dan mengapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa kau tahu aku masih hidup."
Neil menunduk. "Aku takut, Derek. Dewan Raja mengancamku. Mereka bilang jika aku berbicara, mereka akan membunuh Sera. Dan aku juga takut... jika kau kembali, semua yang aku perjuangkan akan hilang. Aku tidak ingin menjadi raja, tapi aku tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki."
Derek menatap Neil lama. Ia melihat ketakutan dan penyesalan di mata adiknya. Ia juga melihat cinta—cinta yang selama ini ia sembunyikan karena takut terluka.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Neil," bisik Derek akhirnya. "Kau adalah adikku. Dan kau selalu menjadi bagian dari keluarganya."
Neil mengangkat kepalanya, air mata menggenang di matanya. "Benarkah? Kau tidak marah padaku?"
"Aku marah," kata Derek, suaranya lebih lembut. "Tapi aku lebih mencintaimu daripada kemarahanku."
Mereka berpelukan. Viona dan Sera saling memandang, tersenyum lega. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, dua saudara itu akhirnya bertemu kembali, tanpa rahasia, tanpa ketakutan.
Malam itu, mereka makan bersama di pondok kecil itu. Neil menceritakan rencananya untuk pergi ke perbatasan dan bertemu dengan ayah Viona. Derek mendengarkan dengan seksama, lalu mengangguk.
"Rencana itu bagus, Neil. Tapi aku juga akan pergi. Aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi pasukan ayahnya sendirian."
"Kau yakin?" tanya Neil.
"Yakin." Derek menatap Viona. "Karena aku sudah cukup lama melarikan diri. Sudah saatnya aku kembali."
Viona menggenggam tangan Derek. "Aku akan ikut."
Derek tersenyum. "Aku tahu. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."
Malam itu, mereka membuat rencana untuk perjalanan ke perbatasan. Dan untuk pertama kalinya, masa depan mulai terlihat cerah—dengan harapan, keluarga, dan cinta yang telah menyatukan mereka.