Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Ia terdiam sejenak saat pintu lift terbuka. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer.
Sudah sejak lama sekali ia tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke perusahaan miliknya sendiri.
Sejak mengenal Antonio, demi menyembunyikan identitas aslinya agar dicintai oleh Antonio sebagai wanita biasa tanpa embel-embel harta, ia rela mundur ke belakang layar. Ia bahkan menyerahkan seluruh operasional dan pengawasan harian perusahaan itu sepenuhnya kepada Siska.
"Apakah selama ini Antonio benar-benar percaya kalau kamu adalah pemilik asli perusahaan ini, Siska?" tanya Grizla saat mereka melangkah menuju basemen tempat mobil mewah mereka terparkir.
"Benar, Nyonya," jawab Siska sembari membukakan pintu belakang mobil untuk Grizla. "Selama ini Pak Antonio hanya tahu bahwa saya adalah direktur utama sekaligus pemilik saham mayoritas."
Grizla terkekeh hambar sebelum masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk. "Baguslah. Dia terlalu bodoh dan terlalu sibuk dengan egonya sendiri sampai tidak pernah memeriksa detail dokumen legal perusahaan."
Siska segera memutari mobil dan duduk di kursi samping kemudi, sementara sopir pribadi mereka mulai menyalakan mesin.
"Lalu, apa rencana Anda sesampainya di sana nanti, Nyonya?" tanya Siska lagi, menoleh ke belakang dengan tatapan serius. "Apakah Anda ingin saya mengumumkan posisi Anda yang sebenarnya kepada seluruh jajaran direksi?"
"Tidak perlu terburu-buru, Siska," sahut Grizla santai, menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk.
"Hari ini, aku hanya ingin kembali ke perusahaan untuk melihat kondisi asetku yang sudah lama kutinggalkan. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana kelakuan suamiku yang terhormat itu saat bekerja di bawah ketiak perusahaanku," ucapnya dingin.
Grizla menjeda kalimatnya, mengetuk-ngetukan jarinya yang dihiasi cincin berlian ke lututnya. "Aku ingin tahu, seberapa besar nyalinya bertingkah di belakangku saat dia mengira istrinya hanyalah wanita lemah yang tidak punya apa-apa."
"Baik, Nyonya. Saya akan mengatur agar Anda bisa memantau semuanya tanpa menarik perhatian karyawan lain terlebih dahulu," ucap Siska patuh.
Mereka pun menutup pembicaraan saat mobil perlahan-lahan mulai melaju membelah jalanan kota yang padat, membawa Grizla kembali menuju takhta yang sempat ia tinggalkan demi cinta yang ternyata sia-sia.
*****
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di perusahaan. Siska, yang biasanya berjalan dengan kepala tegak sebagai CEO yang disegani, kini sengaja mengambil dua langkah di belakang.
Di depan Siska, seorang wanita asing melangkah dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Suasana lobi yang tadinya sibuk mendadak senyap, sebelum akhirnya berubah menjadi riuh rendah yang tertahan.
Para karyawan mulai berbisik-bisik, penasaran sekaligus bingung dengan sosok asing yang baru saja masuk.
"Eh, siapa itu? Kenapa wanita itu berjalan di depan Bu Siska?" tanya seorang staf magang, matanya melekat pada punggung wanita asing tersebut.
"Nggak tahu. Tapi lihat deh, Bu Siska bahkan nggak berani menyalip jalurnya," sahut Rian, divisi pemasaran, sambil berpura-pura memeriksa berkas di mejanya. "Biasanya kan Bu Siska paling anti berjalan di belakang orang lain."
"Apa dia klien VIP dari luar negeri?" bisik yang lain, ikut merapatkan kepala. "Tapi kok gayanya santai banget, kayak lagi menginspeksi rumah sendiri."
Mendengar bisikan-bisikan yang mulai liar, Siska berdeham pelan, mencoba memberi kode agar para stafnya kembali bekerja.
Namun, wanita di depannya justru menghentikan langkah tepat di depan lift eksekutif.
Dia berbalik, menatap kerumunan karyawan dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Siska," panggil wanita itu. Suaranya tidak keras, namun memiliki penekanan yang mutlak.
"Iya, Nyonya?" Siska maju satu langkah, menundukkan kepalanya sedikit.
Sikap tunduk Siska langsung membuat para karyawan yang menyaksikan terbelalak.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..