Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL16
Pertemuan itu seketika membawa ingatan Romi kembali pada percakapan terakhir mereka beberapa bulan lalu.
FLASHBACK
“Kenapa, Rom? Apa aku ada salah sama kamu?”
Seorang wanita dan pria terlihat pembicaraan serius di salah satu kafe dekat dengan gedung perkantoran.
“Kita bicara setelah ini. Aku nggak enak sama Gunawan.”
Jelita menurut, walau bagaimanapun juga ia masih ingin mendengar alasan dibalik keputusan pria yang ada di depannya saat ini.
“Baik, aku tunggu penjelasanmu. Aku harap itu alasan yang logis.”
“Sorry, sorry tadi kelepasan. Sakit banget perut gue. Gak lama ‘kan kalian nunggunya?”
“Memang tadi lo makan apa? Kok bisa sakit perut begitu?” kata Romi, menimpali ucapan Gunawan.
“Gak apa-apa, Mas Gunawan.”
“Eh lupa kalau Mbak Jelita masih ada disini juga, maaf ya Mbak Jelita.”
“Jelita aja, Mas Gunawan. Its okey. Lagipula meeting kita sudah selesai kok. Jadi ini waktu bebas.”
“Iya sih, tapi jarang-jarang juga gue eh maksudnya jarang saya ketemu partner kerja yang asyik diajak ngobrol kayak Mbak Jelita ini.”
“Kaku banget, Mas ngomongnya. Lo—Gue juga nggak apa-apa kok. Santai, Mas.”
“Harus banget pergi sekarang?” tanya Romi ketika Gunawan mengatakan harus kembali lebih dulu ke kantor.
“Iya nih, pak Didit nge-chat kalau ada berkas yang mau dia kasih. Nggak apa-apa kan Jelita gue balik duluan? Berkas yang tadi kasih ke Romi saja.”
“Iya, Mas nggak apa-apa kok.”
“Ya udah gue duluan ya. Bill nya biar gue yang bayar, habisin aja dulu makanan kalian. Gue cabut sekarang ya. Bye!”
Kepergian Gunawan yang mendadak seolah semesta memang mendukung dan memberikan Romi dan Jelita waktu untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
“Mas Gunawan sudah pergi, sekarang aku mau kamu memberikanku alasan yang logis kenapa kamu mau kita sampai disini!”
“Kita? Tidak ada kata kita pada hubungan kita Jelita… hanya ada Jelita dan Romi sebagai rekan kerja.”
“Apa?”
“Aku rasa kita memang harus memperjelas semuanya.”
Romi menghela napas berat.
“Maksud kamu?”
“Mari bekerja profesional, Jelita. Mulai sekarang hubungan kita cukup sebatas urusan pekerjaan.”
“Apa istrimu tahu kita—”
Belum sempat Jelita menyelesaikan ucapannya, Romi lebih dulu memotong dan memberikan jawaban. Jawaban yang sebenarnya tidak ingin didengar wanita itu.
“Tidak ada "kita" dalam hubungan ini. Apa pun alasannya, itu tetap saja salah, Jelita! Ini salah karena kita nyaman bukan pada pasangan kita masing-masing."
“Kita bukan sedang berselingkuh, Rom, kita hanya saling sharing, saling bertukar cerita. Hanya curhat. Kamu butuh seseorang yang mendengar masalahmu begitu pula denganku yang membutuhkan seseorang sepertimu yang bisa memahamiku.”
Mata Jelita sudah berkaca-kaca. Wanita itu tak akan sanggup jika Romi menjauhinya. Selama beberapa bulan ini ia bisa kembali bersemangat setelah vonis dokter padanya. Disaat semua orang menghakiminya, bahkan yang notabene adalah suaminya pun tak bisa membuatnya nyaman berkeluh kesah seperti saat ia berkeluh kesah pada Romi.
"Apa pun itu alasannya, harusnya kita bisa lebih terbuka pada pasangan kita. Aku yakin jika kamu melakukan itu pasti lambat laun suamimu pasti akan mengerti keadaan kamu juga. Percaya sama aku.”
“Kamu sudah mencobanya? Kamu sudah mencoba bicara dengan istrimu?”
Romi mengangguk pelan. “Tentu, aku sudah mencobanya.”
“Dan… hasilnya?” tanya Jelita lagi penasaran.
“Diluar prediksiku. Aku kira Hannah akan menghakimi tentang kekuranganku, tapi ternyata justru dia yang membesarkan hatiku. Dia menerimaku apa adanya. Dia menerima pria yang tidak sempurna ini, Jelita. Dan aku yakin, kalau suamimu juga pasti akan menerima kamu apa adanya kamu. Kamu harus yakini itu dulu.” Jelas Romi panjang lebar.
Jelita menggeleng kepala.
“Tidak, Rom. Istrimu tidak seperti suamiku. Mungkin istrimu bisa berpikiran terbuka, tapi suamiku? Suamiku tidak, Rom, dia masih kaku. Dia sama seperti keluargaku dan keluarganya. Mereka masih memandang sebelah mata pada orang-orang yang memiliki kekurangan seperti kita.” Tekannya. Wanita itu terus menampik semua energi positif yang coba Romi berikan padanya.
“Jika sudah seperti ini, maka tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, Jelita. Semua sudah aku katakan padamu jadi…”
“Aku nggak tahu harus bergantung sama siapa lagi, Rom. Tolong jangan paksa aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengerti aku.”
Romi menggeleng pelan.
“Kamu tidak butuh aku, Jelita... yang kamu butuhkan adalah suami dan dukungan keluargamu. Coba lakukan apa yang aku lakukan juga.”
“Aku tidak pergi, Jelita, hanya saja kita harus tahu batasan.”
“Apakah selama ini kita melanggar batasan? Tidak bukan?”
Terlihat kepala batu wanita ini.
“Memang tidak, tapi mungkin akan jika kita teruskan hubungan ini.”
“Kamu lebih nyaman berkeluh kesah denganku, begitu pula denganku, aku lebih nyaman berada di dekatmu ketimbang istriku. Awalnya kukira itu wajar karena kita sama-sama memiliki kekurangan itu, namun semakin aku berpikir aku semakin merasa apa yang dikatakan Hannah sepenuhnya benar.”
“Apa yang dia katakan? Apakah dia kecewa padamu?”
“Saat itu Hannah mengatakan jika seharusnya pasanganlah yang harus tahu pertama kali apapun yang dirasakan pasangannya. Dan aku rasa itu yang seharusnya memang kita lakukan sebagai pasangan. Kita berdua sepakat berjanji membangun rumah tangga yang artinya harus kita bangun secara bersama-sama pula, apapun itu cobaannya. Dan jika ditanya apakah dia kecewa? Tentu jawabannya dia teramat sangat kecewa atas sikapku, terlepas apapun pembenaran yang aku berikan padanya.”
Jelita tercekat. Memang benar yang dikatakan Romi, ia kini lebih nyaman ketika saat bersama pria itu dibandingkan dengan suaminya sendiri. Terlebih kini hubungannya dengan suaminya tidak lagi harmonis.
“Dia sangat bijak ya.”
“Ya, dan aku tak mau kehilangan wanita sepertinya,” ungkap Romi lugas, tanpa melihat perubahan ekspresi wanita di depannya. Hati nyeri tentu saja.
“Apakah dengan tidak berhubungan denganku kamu jadi lebih bahagia?”
“Maksud kamu?”
“Jawab saja, aku mau kamu jujur pada dirimu sendiri juga terlepas dari ucapan istrimu. Apakah hatimu sendiri juga menginginkan itu? Mau aku pergi dari hidupmu?”
Pertanyaan yang baru ia katakan apakah bisa ditarik? Tiba-tiba kerongkongannya kering setelah mengatakan itu. Sejujurnya ia tak sanggup jika pria itu mengatakan ‘iya’.”
“Kenapa diam?”
Ada tarikan senyum di wajah Jelita. Ya dia yakin jika apa yang ia rasakan juga dirasakan pria itu walau tipis.
“Tapi itu salah, Jelita, perasaan itu salah. Kita harus lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan.”
“Cinta tidak pernah salah, Romi. Itu anugerah yang Tuhan berikan kepada setiap makhluknya.”
“Cinta?”
Romi menggeleng cepat. Bukan, bukan, yang ia rasakan bukan lah cinta, ia tidak cinta pada Jelita tapi pada Hannah, istrinya. “Ini bukan cinta Jelita, ini hanya sebatas rasa kenyamanan. Tidak lebih.” Elak Romi. Yang ia tahu, seluruh cintanya hanya untuk Hannah—istrinya.
“Ini cinta Romi! Aku tahu kamu juga sadari itu, tapi kamu terlalu pengecut dengan menyangkal perasaanmu sendiri.”
“Kita sudahi saja sampai disini, Jelita. Rasanya pembicaraan ini tidak akan cukup.”
“Kamu mau menyerah pada perasaan kita itu?”
“Jelita, apa maksudmu? Dengarkan aku, kita sama-sama sudah menikah dan memiliki impian pernikahan yang sudah kita rancang dan ingin kita rangkai. Jangan lupakan itu.”
“Aku cinta sama kamu, Rom. Aku cinta kamu!” ucapnya gamblang.
Romi diam seketika mendengar pernyataan cinta Jelita. Badannya tiba-tiba lemas. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku anggap tidak pernah mendengar ini. Kita selesaikan hubungan tanpa nama ini sampai disini. Aku harap kamu bisa mengerti posisiku, Jelita. Aku tak mau menghianati istriku. Aku mencintai istriku.”
“Tapi, Rom—”
Sebelum Jelita menyelesaikan perkataannya, Romi lebih dulu mengangkat tangannya seolah mengatakan sudah cukup Jelita.
Wanita itu menundukkan wajah, ada rasa sesak yang tak bisa ia lampiaskan.
Dia marah, tapi sama siapa? Romi tidak salah, pria itu tak pernah memberikan harapan padanya sedari awal. Hubungan mereka mengalir seperti air mengalir tanpa adanya komitmen satu sama lain. Jadi apa yang harus ia marah kan?
Hari itu mereka berpisah tanpa saling menoleh lagi. Romi mengira semuanya telah selesai. Ia tidak pernah membayangkan, beberapa bulan kemudian takdir justru mempertemukan mereka kembali di saat rumah tangganya dengan Hannah sedang berada di titik paling rapuh.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐