"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Rimba Beton dan Hantu Masa Lalu
Hutan beton Jakarta menyambut mereka dengan angkuh.
Dari balik kaca jendela helikopter yang bergetar, Gani menatap ke bawah. Hamparan gedung pencakar langit yang berlomba-lomba menusuk awan tampak seperti pedang-pedang kaca yang siap mencabik siapa saja yang lengah. Asap polusi membentuk tudung kelabu di atas kota, sangat kontras dengan udara fajar Karangbanyu yang bersih dan menyejukkan.
Sebulan yang lalu, Gani Raditya adalah salah satu raja di rimba beton ini. Ia merancang pilar-pilarnya, ia menguasai rapat-rapat di ruang penthouse-nya, dan ia ditendang jatuh dari singgasananya ke dasar jurang yang paling hina.
Gani menoleh, menatap Kirana yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Wajah gadis itu tertutup sebagian oleh selang endotrakeal yang terhubung ke mesin ventilator. Napasnya naik turun secara mekanis, diatur oleh mesin, bukan oleh kehendaknya sendiri.
"Kita sudah sampai, Tiran Kecil," bisik Gani, mengeratkan genggamannya pada jemari Kirana yang dingin. "Bertahanlah sedikit lagi."
Helikopter Eurocopter putih itu bermanuver anggun, membelah angin di antara gedung-gedung tinggi, sebelum akhirnya mendarat dengan mulus di atas helipad Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional (RSPJN) Harapan Mulia—salah satu fasilitas medis paling elite dan canggih di Asia Tenggara.
Begitu pintu helikopter digeser terbuka, aroma tajam bahan bakar avtur langsung menyerbu indra penciuman. Udara panas khas ibu kota seketika menampar wajah Gani. Namun, ia tidak punya waktu untuk bernostalgia dengan cuaca Jakarta.
Tim medis rumah sakit, yang sudah bersiap dengan pakaian pelindung dan peralatan resusitasi lengkap, langsung mengambil alih. Brankar Kirana diturunkan dengan kecepatan kilat yang sangat terkoordinasi.
"Pasien VIP, deposit telah dikonfirmasi! Langsung ke ruang ICCU Sayap Timur, siapkan tim bedah toraks dr. Aryo Wibowo!" teriak salah satu dokter jaga melalui radio komunikasinya.
Roda-roda brankar berderit nyaring di atas lantai epoksi helipad. Gani berlari mengikuti mereka dari belakang, menerobos pintu kaca otomatis yang langsung terhubung ke lorong VVIP rumah sakit tersebut.
Berbeda dengan RSUD di kabupaten yang berbau karbol menyengat dan berlantai ubin kusam, lorong rumah sakit ini dilapisi marmer yang memantulkan cahaya lampu. Udaranya sejuk, difilter dengan teknologi HEPA, dan sunyi dari hiruk-pikuk pasien umum. Ini adalah tempat di mana uang dikonversi menjadi perpanjangan nyawa.
Saat brankar Kirana didorong masuk ke balik pintu ganda ruang tindakan ICCU, Gani kembali dihentikan oleh dua orang petugas keamanan berpakaian safari rapi.
"Bapak pendamping pasien? Mohon tunggu di ruang tunggu VVIP. Dokter Aryo akan segera menemui Bapak setelah melakukan asesmen awal," ucap petugas itu dengan sopan namun sangat tegas.
Gani menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia memaksa dirinya untuk mengangguk. Ia tidak bisa mengganggu pekerjaan para dokter ini. Di Karangbanyu, ia bisa memimpin warga untuk membangun paviliun, tapi di sini, ia harus menyerahkan nyawa Kirana ke tangan sains.
Gani melangkah mundur, lalu berjalan menuju ruang tunggu VVIP yang ditunjuk. Ruangan itu lebih terlihat seperti lounge hotel bintang lima. Ada sofa kulit Italia, mesin pembuat kopi otomatis, dan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki.
Gani menjatuhkan dirinya di atas salah satu sofa. Ia menunduk, menatap penampilannya sendiri.
Kaus oblongnya kotor oleh debu kapur Bukit Wadas dan noda lumpur sisa badai Rawa Hitam. Celana jinnya kusut, dan tangannya dibalut perban yang sedikit bernoda darah kering. Ia terlihat sangat kontras, nyaris seperti gembel yang tersesat di tengah kemewahan ibu kota. Namun, tidak ada satu pun resepsionis atau petugas keamanan yang berani mengusirnya. Tatapan mata Gani, yang tajam dan memancarkan aura dominasi absolut, membungkam siapa pun yang berniat merendahkannya.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, seorang pria paruh baya mengenakan jas dokter putih bersih berjalan menghampirinya. Pria itu memiliki rambut yang mulai memutih di bagian pelipis, kacamata baca berbingkai perak, dan papan nama bertuliskan: Dr. Aryo Wibowo, Sp.BTKV (Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular).
Gani segera berdiri.
"Keluarga pasien Kirana Larasati?" tanya dr. Aryo, mengulurkan tangannya.
"Saya Gani Raditya. Penanggung jawab penuh atas segala tindakan dan biaya," Gani menjabat tangan dokter itu dengan erat. "Bagaimana keadaannya, Dok?"
Dr. Aryo menghela napas pelan. Ia mempersilakan Gani untuk duduk kembali, lalu ia ikut duduk di sofa seberang. Ekspresi dokter senior itu profesional, tidak menjanjikan harapan kosong, namun tidak juga menyebarkan kepanikan.
"Pak Gani, saya telah meninjau rekam medis masa lalu pasien dari puskesmas daerah, dan menggabungkannya dengan hasil ekokardiografi yang baru saja kami lakukan," dr. Aryo memulai, menautkan jemarinya di atas lutut. "Kondisinya sangat kritis, tapi kami telah berhasil menstabilkan hemodinamik-nya (aliran darah) menggunakan mesin pompa sementara."
Gani sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa langkah selanjutnya?"
"Otot ventrikel kirinya sudah mengalami kerusakan parah akibat gagal jantung yang tidak tertangani dengan baik selama bertahun-tahun. Obat-obatan tidak akan lagi mempan," jelas dr. Aryo. "Deposit lima miliar yang Anda bayarkan malam tadi memberi kami ruang gerak tak terbatas untuk tindakan penyelamatan. Rencana kami adalah memasang LVAD (Left Ventricular Assist Device)."
"Pompa jantung mekanis?" tanya Gani, mengingat sekilas artikel medis yang pernah ia baca.
"Tepat sekali. Itu adalah alat yang ditanamkan ke dalam dada untuk membantu memompa darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh. LVAD bukanlah penyembuhan permanen, Pak Gani. Ini adalah Bridge to Transplant—sebuah jembatan waktu untuk mempertahankan nyawanya sampai kita bisa mendapatkan donor jantung yang cocok."
Dokter itu menatap Gani dengan tatapan penuh simpati. "Operasi pemasangan LVAD ini sangat berisiko, mengingat tubuhnya sangat lemah. Tapi jika tidak dilakukan dalam waktu dua kali dua puluh empat jam, organnya yang lain, seperti ginjal dan hati, akan ikut gagal karena kekurangan pasokan oksigen."
Gani mengatupkan rahangnya. Di kepalanya, ia sudah melakukan kalkulasi probabilitas. "Berapa persen tingkat keberhasilan operasinya, Dok?"
"Enam puluh persen," jawab dr. Aryo jujur. "Dan masalah tersulitnya bukan di biaya, Pak Gani. LVAD seharga dua miliar rupiah sudah kami siapkan. Tapi antrean untuk donor jantung di Indonesia sangatlah panjang. Bahkan dengan uang yang Anda miliki, kita tidak bisa membeli organ secara legal. Kita harus menunggu ada pendonor yang meninggal dunia dengan brain death (mati batang otak), memiliki golongan darah yang sama, dan keluarganya bersedia mendonorkan jantungnya. Menunggu donor bisa memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun."
"Lakukan operasi LVAD itu secepat mungkin," Gani memberikan keputusan tanpa jeda seperseribu detik pun. Sorot matanya setajam obsidian. "Soal donor jantung, biar itu menjadi urusan Tuhan. Tugas Dokter adalah memastikannya tetap hidup sampai donor itu datang. Gunakan mesin terbaik, obat terbaik. Uang bukan masalah."
Dr. Aryo mengangguk kagum melihat ketegasan pria di hadapannya. Ia sering bertemu keluarga pasien yang menangis histeris atau ragu-ragu saat mengambil keputusan kritis, namun pria ini memiliki mentalitas baja seorang pengambil keputusan tingkat atas.
"Kami akan menjadwalkan operasi besok pagi, setelah memastikan paru-parunya cukup kuat untuk menerima pembiusan total," dr. Aryo berdiri. "Saya akan meminta suster membawakan lembar persetujuan medis ( Informed Consent ) untuk Anda tandatangani. Anda bisa melihatnya dari balik kaca ruang ICCU dalam lima belas menit lagi."
"Terima kasih, Dokter."
Setelah dr. Aryo pergi, Gani menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke sandaran sofa. Enam puluh persen. Angka itu jauh dari kata aman, tapi itu jauh lebih baik daripada nol persen di puskesmas desa kemarin.
Gani memejamkan matanya, menghela napas panjang. Ia ingin kembali ke ketenangan Karangbanyu. Ia merindukan wangi tanah setelah hujan di sana. Namun saat ia membuka matanya kembali, realitas ibu kota langsung menghantamnya dengan cara yang paling tidak ia duga.
Dari arah pintu masuk utama lounge VVIP, terdengar suara ketukan heels (sepatu hak tinggi) yang berirama konstan dan angkuh.
Gani tidak berniat menoleh, hingga suara itu berhenti tepat di sebelah sofanya. Udara di sekitarnya seketika dipenuhi oleh aroma parfum Chanel No. 5—aroma mahal yang dulu sangat akrab di indra penciumannya, namun kini terasa begitu memuakkan.
"Gani?"
Sebuah suara wanita yang lembut, bergetar oleh keraguan dan keterkejutan, memecah keheningan lounge.
Gani menoleh secara perlahan.
Berdiri tidak lebih dari dua meter di hadapannya, adalah Sania. Mantan tunangannya. Wanita yang melepaskan cincin berliannya di ruang sidang kebangkrutan satu bulan yang lalu dan meninggalkannya untuk dihakimi oleh para kreditur yang marah.
Sania mengenakan gaun desainer berwarna hitam yang elegan, dipadukan dengan tas Hermès Birkin di lengannya. Ia jelas sedang menjenguk kerabat atau kenalan sosialitanya di bangsal VVIP rumah sakit ini. Penampilannya tanpa cela, rambutnya di-blow sempurna, dan riasannya menonjolkan kecantikannya yang aristokrat.
Namun, saat mata Sania memindai penampilan Gani dari ujung kepala hingga ujung kaki, mata wanita itu membelalak lebar.
"Ya Tuhan, Gani... apa yang terjadi padamu?" Sania memekik tertahan, refleks menutup mulutnya dengan tangan yang dihiasi perhiasan berlian. Ia menatap kaus kotor Gani, tangannya yang terbalut perban, dan kulitnya yang menggelap terbakar matahari.
Sania melangkah maju, mendekati Gani. "Berita di televisi sejak tadi malam... mereka bilang kau tidak bersalah. Mereka bilang Raka yang menipu kita semua, dan kau telah membuktikan bahwa desainmu aman. Aku... aku mencoba menghubungimu ke nomor lamamu, tapi tidak aktif."
Gani tetap duduk. Ekspresi wajahnya tidak berubah satu milimeter pun. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, dan yang paling penting: tidak ada sisa-sisa cinta di sana. Hanya ada kehampaan absolut, seolah wanita di depannya ini hanyalah manekin kaca di etalase toko yang kebetulan ia lewati.
Melihat Gani terdiam, Sania menafsirkan kebisuan itu sebagai bentuk kesedihan. Ia dengan berani duduk di sofa yang sama, memberikan jarak satu jengkal dari Gani.
"Gani, maafkan aku," suara Sania mulai bergetar, mencoba meraih simpati. Matanya berkaca-kaca dengan sangat meyakinkan. "Waktu itu... di ruang sidang... pikiranku sangat kacau. Raka dan pengacara Bratasena memanipulasi bukti sedemikian rupa hingga ayahku memaksaku untuk memutuskan pertunangan kita demi menyelamatkan nama keluarga kami. Kau tahu ayahku, kan? Aku tidak punya pilihan, Gani."
Sania perlahan mengulurkan tangannya yang halus terawat, berniat menyentuh tangan Gani yang kasar dan penuh luka.
"Tapi sekarang semuanya sudah jelas," lanjut Sania, tersenyum dengan raut wajah penuh harap. "Kau kembali menjadi Gani yang dulu. Kau jenius, kau membongkarnya. Firma ayahku bersedia membantumu menuntut balik konsorsium itu. Kita... kita bisa memperbaiki semuanya, Gani. Kita bisa kembali seperti dulu."
Tangan Sania tinggal satu sentimeter lagi menyentuh perban di telapak tangan Gani.
Dengan gerakan yang sangat santai, tidak terburu-buru namun sangat telak, Gani menarik tangannya dan menyilangkannya di depan dada, membiarkan tangan Sania memeluk udara kosong.
Sania terkesiap, wajahnya seketika merona karena rasa malu.
Gani memutar wajahnya, menatap Sania tepat di bola matanya. Sorot mata pria itu sedingin nitrogen cair.
"Kau benar-benar tidak berubah, Sania," suara Gani memecah kesunyian, nadanya begitu rendah dan stabil. "Kau masih orang yang sama yang menghitung untung rugi bahkan dalam urusan meminta maaf."
"Gani, aku serius! Aku dipaksa ayahku waktu itu—"
"Jangan berlindung di balik nama ayahmu untuk menutupi sifat pengecutmu," potong Gani telak, artikulasinya tajam menyayat. "Saat perusahaan Raka sedang meledak dan aku diserang dari segala arah, aku tidak butuh pengacara dari keluargamu. Aku cuma butuh pasanganku percaya padaku. Tapi kau memilih menyelamatkan gaun desainer dan tas mahalmu daripada menemaniku di ruang sidang."
"Itu tidak adil! Aku wanita, Gani! Bagaimana aku bisa bertahan dengan pria yang memiliki utang miliaran?!" Sania membela diri, nada suaranya mulai meninggi, merasa tersinggung.
"Tepat sekali," Gani menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat arogan dan merendahkan. "Dan itulah bedanya kau dengan gadis yang saat ini sedang berbaring di ruang ICCU di seberang sana."
Sania mengerutkan dahi, tampak kebingungan. "Gadis? Siapa? Kau... kau sudah punya wanita lain dalam satu bulan?!"
Gani mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wajah cantik nan kosong di hadapannya.
"Saat aku kehilangan seluruh uangku, kau membuang cincinku ke lantai marmer," bisik Gani, kata-katanya menghunjam dalam. "Tapi gadis itu... saat ia melihatku berniat menggantung diri di atas pohon dengan pakaian gembel, ia justru menarikku turun. Saat seluruh dunia memakiku sebagai penjahat, ia justru mencium tanganku yang berdebu ini."
Mata Sania membelalak, ia seolah baru saja ditampar secara fisik.
Gani berdiri. Posturnya menjulang tinggi, menaungi Sania yang kini terlihat kerdil di atas sofa mewahnya.
"Aku tidak kembali ke Jakarta untukmu, Sania. Aku juga tidak kembali untuk perusahaan lamaku," Gani merapikan kerah kaus kotornya dengan gerakan berkelas yang tidak bisa disembunyikan oleh pakaian lusuhnya. "Aku tidak mempedulikanmu lagi, apalagi mencintaimu. Keberadaanmu sekarang bahkan tidak masuk dalam radius sepuluh kilometer dari prioritas hidupku."
Gani memasukkan tangannya ke dalam saku celana jinnya. "Jadi, silakan bawa permintaan maaf palsumu dan air mata buayamu kembali ke arisan sosialitamu. Jangan menghalangi jalanku lagi."
Sania duduk mematung. Bibirnya bergetar, wajahnya memucat karena penghinaan yang begitu absolut dan tanpa ampun. Ia berharap Gani akan membentaknya, atau marah-marah, karena kemarahan setidaknya berarti pria itu masih peduli. Tapi ketidakpedulian yang ditunjukkan Gani—kedinginan yang luar biasa hampa ini—jauh lebih menyakitkan daripada tamparan.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Gani membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Sania yang masih mematung di sofa VVIP.
Gani berjalan menyusuri lorong panjang itu kembali menuju pintu kaca ganda ruang ICCU. Suster jaga baru saja membukakan tirai jendela kaca observasi untuknya.
Gani berdiri di depan kaca tersebut, meletakkan kedua telapak tangannya ke permukaan kaca yang dingin. Di dalam sana, Kirana tampak begitu kecil di tengah kepungan mesin penopang kehidupan yang berbunyi dengan ritme monoton.
Masa lalunya baru saja mencoba merangkaknya kembali, menawarkan kemewahan dan reputasi yang pernah ia dambakan. Namun Gani tidak merasakan penyesalan sedikit pun karena telah mengusirnya.
Gani menatap wajah pucat Kirana di balik masker ventilator.
"Aku sudah membuang sisa-sisa sampah di kota ini, Tiran Kecil," bisik Gani pelan, dahinya bersandar di kaca jendela. "Sekarang, hanya ada kau dan aku. Operasinya besok pagi. Kumohon... berjuanglah lebih keras. Buktikan pada dunia bahwa jantungmu masih sanggup menahan keras kepalaku."
Di dalam ruangan yang steril itu, monitor jantung Kirana berkedip. Beep... beep... beep. Lemah, namun stabil. Seolah menjawab sumpah pria yang sedang berjaga di balik kaca, menolak untuk menyerah pada malam yang panjang.