Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Permainan Catur
Ruang Peta di sayap barat istana biasanya digunakan untuk perencanaan strategi militer. Meja raksasa di tengahnya, yang terbuat dari kayu ebony hitam mengkilap, malam ini tidak dihiasi oleh peta wilayah atau patung pasukan miniatur. Sebaliknya, di atasnya berdiri sebuah papan catur kuno, ukiran bidaknya halus dan dingin saat disentuh.
Floren duduk di satu sisi, mengenakan jubah sutra berwarna biru tua yang sederhana. Di hadapannya, Kael duduk tegak, masih dengan pakaian formalnya, meski lengan bajunya telah digulung hingga siku. Di antara mereka, lilin-lilin tinggi menyala, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding batu.
Tidak ada pelayan. Tidak ada penjaga. Hanya Kaelia yang berdiri di sudut ruangan yang gelap, seperti patung vigilan, memastikan privasi mutlak.
"Putih atau hitam?" tanya Floren, suaranya tenang.
Kael menatap papan itu. "Hitam. Saya lebih nyaman bereaksi daripada memulai."
Floren tersenyum tipis. Dia memindahkan pion putih pertamanya ke e4. Langkah klasik. Terbuka. Agresif.
Kael membalas dengan pion hitam ke 5. Pertahanan solid.
Permainan berlangsung dalam keheningan yang berat. Setiap langkah bidak berbunyi klak tajam, gema kecil di ruangan luas itu.
"Mengapa kau menerima tantangan ini?" tanya Floren tiba-tiba, matanya tetap tertuju pada papan, bukan pada Kael. "Kau bisa saja menolak. Kau bisa berpura-pura sakit. Atau kabur."
"Kabur ke mana?" balas Kael datar. Dia memindahkan ksatrianya. "Zenthoria memiliki mata di mana-mana. Dan di sini... setidaknya saya punya atap di atas kepala."
"Apakah itu satu-satunya alasanmu tinggal? Atap?" Floren mengangkat alis. Dia memajukan uskupnya, mengancam posisi tengah Kael.
Kael diam sejenak. Tangannya melayang di atas ratunya, lalu mundur, memilih untuk melindungi pionnya dengan benteng. "Ada juga... tehnya. Dan buku-buku di perpustakaan. Dan..." Dia berhenti.
"Dan apa?" desak Floren lembut.
Kael menatap Floren. Matanya gelap, sulit dibaca. "Dan karena Anda tidak memperlakukan saya seperti barang pecah belah. Atau seperti senjata. Anda memperlakukan saya seperti... lawan bicara."
Floren tertawa kecil, suara yang renyah dan mengejutkan di tengah ketegangan. "Hati-hati, Kael. Pujian bisa menjadi distraksi dalam catur."
Dia melakukan langkah tak terduga. Mengorbankan uskupnya untuk membuka jalur serangan langsung ke raja Kael.
Kael terpaku. Dia menatap papan, alisnya berkerut. Langkah itu ceroboh jika dilihat sekilas, tapi brilian jika dilihat dari tiga langkah ke depan. Floren sedang memancingnya.
"Anda mengambil risiko besar," kata Kael pelan. "Jika saya menangkap uskup itu, pertahanan sayap kiri Anda runtuh."
"Tapi jika kamu menangkapnya," kata Floren, menatap mata Kael lurus-lurus, "kamu akan kehilangan fokus pada ratumu. Dan ratu... adalah kekuatan terbesar di papan ini."
Kael merasakan dingin merambat di punggungnya. Metafora itu terlalu jelas. Floren tahu. Dia tahu bahwa Kael sedang dipecah belah antara loyalitas palsu pada Zenthoria dan ketertarikan baru yang berbahaya pada Mobelle.
Dengan tangan gemetar halus, Kael menangkap uskup Floren.
Srek.
Seketika, Floren menggerakkan kudanya. Skak.
Raja Kael terjebak. Terpojok di sudut papan, dikelilingi oleh bidak-bidak Floren yang kini menyerang dari segala arah.
Kael menatap papan itu. Dia kalah. Dalam sepuluh langkah.
"Dia mati," bisik Kael.
"Belum tentu," kata Floren. Dia tidak tersenyum kemenangan. Wajahnya serius. "Dalam catur, skak belum berarti mati. Masih ada jalan keluar. Tapi kamu harus berani mengorbankan sesuatu yang berharga untuk menyelamatkan diri."
Kael menatap Floren. "Apa yang harus dikorbankan?"
"Identitas lamamu," jawab Floren tegas. "Siapa pun yang dikirim Zenthoria untuk menjadi 'Kael' harus mati agar 'Kael' yang sebenarnya bisa hidup. Selama kamu memainkan peran sebagai mata-mata, kamu akan selalu terjebak. Kamu akan selalu takut. Kamu akan selalu sendirian."
Kael menelan ludah. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik.
"Saya tidak tahu siapa diri saya yang sebenarnya," aku Kael, suaranya serak. "Ingatan saya kosong. Yang saya miliki hanya pelatihan mereka. Hanya perintah mereka."
"Maka buatlah ingatan baru," kata Floren. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di samping Kael. Jarak di antara mereka dekat bahkan melebihi batas 2 meter, intim, namun Floren menjaga batas hormat.
"Mulailah dari sini. Dari permainan ini. Dari fakta bahwa kamu memilih untuk duduk di sini, bukan melapor pada Seraphina. Itu adalah pilihanmu. Itu adalah benih kebebasanmu."
Kael menatap tangan Floren yang bertumpu di tepi meja. Tangan yang memegang kekuasaan atas seluruh kerajaan, tapi sekarang menawarkan dukungan padanya, seorang pria tanpa nama.
"Apa yang Anda inginkan dari saya, Yang Mulia?" tanya Kael, suaranya hampir tak terdengar. "Jujur. Bukan sebagai Ratu. Tapi sebagai Floren."
Floren menatapnya. Matanya abu-abu, dalam seperti lautan badai.
"Aku ingin kamu menjadi mataku di Zenthoria," kata Floren pelan. "Bukan untuk menghancurkan mereka. Tapi untuk memahami mereka. Aku ingin kamu menggunakan aksesmu, koneksimu, untuk mencegah perang. Bukan untuk memulai satu."
Kael terkejut. "Anda... Anda mempercayai saya?"
"Aku mempercayai instingku," koreksi Floren. "Dan instingku berkata bahwa pria yang menangis saat mendengarkan lagu sedih tentang kehilangan bukanlah monster. Dia adalah korban yang mencari jalan pulang."
Kael merasa dadanya sesak. Air mata menggenang di matanya, tapi dia menahannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang melihat dia, bukan alatnya.
"Saya..." Kael memulai, suaranya pecah. "Saya akan mencoba. Tapi saya tidak bisa menjanjikan kesetiaan buta. Saya masih takut."
"Cukup," kata Floren. Dia tersenyum, kali ini senyum yang hangat dan tulus. "Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah bertindak meskipun takut. Dan kamu sudah berada di sini. Itu sudah cukup untuk permulaan."
Dia kembali ke kursinya.
"Lanjutkan permainan," perintah Floren. "Keluarkan rajamu dari pojok. Temukan jalannya."
Kael menghirup napas dalam. Dia menatap papan catur. Raja hitamnya masih terjebak, tapi ada celah kecil. Sebuah jalur sempit menuju kebebasan, jika dia berani mengorbankan bentengnya.
Dengan tangan yang lebih stabil, Kael memindahkan bentengnya. Mengorbankan perlindungan demi pergerakan.
Floren mengangguk, puas.
Di sudut ruangan, Kaelia mengamati adegan itu. Wajahnya tetap datar, tapi tinjunya yang sebelumnya mengepal longgar sedikit. Dia melihat perubahan di mata Kael. Perubahan dari kekosongan menjadi tujuan.
Permainan catur berlanjut, tapi suasananya telah berubah. Bukan lagi pertarungan antara musuh, tapi kolaborasi antara dua jiwa yang tersesat, mencoba menemukan arah di tengah kegelapan politik.
Dan di luar jendela, fajar mulai menyingsing, membawa harapan baru yang rapuh namun nyata.