NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Pukul sepuluh malam akhirnya suasana kantor mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa ruangan sudah dimatikan. Hanya tersisa cahaya dari divisi marketing yang masih menyala redup seperti menolak tidur bersama kota yang perlahan sunyi. Mesin pendingin ruangan berdengung pelan, bercampur suara ketikan terakhir dari keyboard milik Shinta.

Gadis itu mengembuskan napas panjang sambil meregangkan bahunya yang pegal. Matanya terasa panas sejak dua jam lalu terus menatap layar komputer. Berkali-kali ia harus memperbaiki data yang salah, mengubah format laporan, sampai memastikan angka penjualan tidak tertukar lagi. Rasanya kepalanya hampir pecah hanya karena satu kesalahan kecil. Beginilah dunia kerja. Sedikit salah, langsung dikejar revisi seperti penjahat buronan.

“Sudah selesai?” tanya Andika dari meja seberang.

Shinta mengangguk lelah.

“Sudah. Akhirnya selesai juga.”

Andika menatap jam di layar ponselnya lalu bersiul kecil.

“Hebat juga. Bisa bertahan sampai jam segini.”

“Kalau tidak selesai, besok Bu Sari bisa menguliti saya hidup-hidup.”

Andika tertawa kecil sambil mematikan komputernya.

“Masih untung cuma dimarahi. Dulu waktu saya salah laporan stok, Bu Sari sampai melempar map.”

Shinta menoleh cepat.

“Serius?”

“Tidak kena muka sih. Cuma lewat depan mata.” Andika tersenyum santai. “Itu cara beliau menunjukkan kasih sayang.”

Shinta mendecakkan lidah pelan. “Lingkungan kerja yang sangat sehat.”

Andika berdiri lalu mengambil jaket hitamnya.

“Ayo pulang.”

“Saya pesan ojek online saja.”

Andika langsung mengernyit.

“Jam segini?”

“Memangnya kenapa?”

“Cari ojek online malam begini lama. Belum lagi kalau dapat driver yang muter-muter dulu ambil penumpang lain.”

“Saya biasa pulang sendiri.”

“Biasa bukan berarti aman.”

Shinta mulai memasukkan laptop ke dalam tas tanpa memandang Andika.

“Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri.”

Andika menghela napas panjang. Kadang ia heran bagaimana Shinta bisa keras kepala sejak dulu sampai sekarang tidak berubah sedikit pun. Manusia lain berubah karena usia, pengalaman, atau cicilan hidup. Shinta tidak. Kepalanya tetap sama kerasnya seperti batu bata yang tersiram matahari Surabaya.

“Shin,” panggil Andika pelan. “Saya antar saja.”

“Tidak perlu.”

“Saya serius.”

“Saya juga serius.”

Shinta langsung berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan. Namun baru beberapa langkah, Andika tiba-tiba berbicara dengan nada rendah.

“Tadi waktu ke toilet saya lihat ada bayangan putih di lorong belakang.”

Langkah Shinta langsung berhenti.

Perlahan ia menoleh.

“Jangan bercanda.”

“Saya tidak bercanda.”

Ekspresi Andika tampak serius. Terlalu serius malah. Padahal di dalam kepalanya ia sedang menahan tawa. Cara ini memang licik, tapi efektif. Sejak dulu Shinta memang penakut kalau sudah berhubungan dengan hal-hal mistis. Ironis sekali. Berani melawan manager galak, tapi kalah oleh cerita pocong di lorong kantor.

“Bayangan apa?” tanya Shinta hati-hati.

“Tidak tahu. Putih panjang. Berdiri dekat gudang arsip.”

Wajah Shinta langsung berubah pucat.

“Andika.”

“Saya cuma bilang apa yang saya lihat.”

“Jangan aneh-aneh malam begini.”

Andika berjalan melewati Shinta menuju pintu keluar.

“Makanya. Daripada tunggu ojek sendirian di depan kantor, lebih baik saya antar.”

Shinta menggigit bibir kesal. Ia tahu pria itu mungkin sedang menakut-nakutinya. Namun masalahnya, otaknya tetap membayangkan sosok putih menyeramkan di lorong belakang. Manusia memang luar biasa aneh. Sudah tahu mungkin dibohongi, tetap saja takut. Evolusi milyaran tahun menghasilkan spesies yang kalah oleh imajinasi sendiri.

Akhirnya Shinta mendengus pelan.

“Kalau macam-macam di jalan, saya turun.”

Andika tersenyum tipis.

“Siap, Bu Bos.”

Mereka keluar dari gedung kantor bersama. Udara malam terasa dingin dibanding siang tadi yang panas menyengat. Area parkiran sudah hampir kosong. Hanya beberapa motor dan mobil karyawan lembur yang masih tersisa.

Shinta berdiri dekat pos satpam sambil memeluk tasnya. Sedangkan Andika berjalan mengambil motor miliknya di parkiran belakang.

Beberapa menit kemudian Andika datang membawa motor sport hitamnya dan berhenti tepat di depan Shinta.

“Naik.”

Shinta menaiki motor itu perlahan. Ada rasa aneh ketika duduk di belakang Andika lagi setelah sekian lama. Dulu posisi itu terasa sangat biasa. Bahkan terlalu biasa sampai ia tidak pernah memikirkannya. Sekarang justru terasa canggung.

Andika menyalakan mesin motor.

“Pegangan kalau takut jatuh.”

“Saya bukan anak kecil.”

Motor langsung melaju keluar dari area kantor menuju jalan raya yang mulai lengang. Lampu kota berjejer memanjang di kanan kiri jalan. Angin malam menerpa wajah Shinta cukup kencang hingga rambut kecil di dekat pelipisnya bergerak berantakan.

Awalnya Shinta masih menjaga jarak. Tangannya hanya memegang ujung jok belakang. Namun ketika Andika mulai memacu motornya lebih cepat melewati jalan kosong, Shinta refleks memegang jaket pria itu.

“Pelan sedikit!” protes Shinta.

“Sepi begini enak buat jalan cepat.”

“Kalau jatuh bagaimana?”

“Tenang saja.”

Motor melesat membelah jalan malam Surabaya. Sesekali Andika sengaja mempercepat laju motornya saat lampu lalu lintas kosong. Membuat Shinta akhirnya benar-benar memeluk pinggangnya karena takut terjatuh.

Dan saat itulah keduanya sama-sama diam.

Momen itu terasa seperti menarik mereka kembali ke masa lalu.

Dulu hampir setiap malam Andika mengantar Shinta pulang kuliah. Mereka sering berkeliling kota tanpa tujuan jelas. Kadang hanya membeli es teh pinggir jalan lalu tertawa membicarakan hal-hal tidak penting. Masa muda memang lucu. Belum punya uang, belum punya masa depan jelas, tapi bisa tertawa sangat lepas hanya karena duduk berdua di atas motor.

Andika tersenyum kecil mengingat itu.

“Apa?” tanya Shinta curiga.

“Tidak apa-apa.”

“Andika.”

“Saya cuma ingat dulu kamu selalu marah kalau saya ngebut.”

“Sampai sekarang juga.”

“Tapi tetap peluk saya.”

Shinta langsung melepaskan tangannya cepat-cepat.

“Fokus nyetir saja.”

Andika tertawa kecil. Tawa yang membuat suasana canggung perlahan mencair.

Tak lama kemudian mereka mulai saling bercerita ringan tentang kantor. Tentang Rara yang terlalu cerewet, tentang Pak Radit yang suka memberi revisi mendadak, sampai kebiasaan Bu Sari memarahi orang sambil tetap makan kerupuk.

Tanpa sadar mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan.

Namun setiap kali tawa itu berhenti, kesunyian langsung datang lagi.

Seolah mereka sadar ada sesuatu yang tidak bisa kembali seperti dulu.

Sekitar tiga puluh menit kemudian motor Andika berhenti di depan rumah sederhana milik Shinta. Lampu teras masih menyala terang. Rupanya ibunya memang belum tidur menunggu putrinya pulang.

Begitu mendengar suara motor, pintu rumah langsung terbuka.

Ibunya Shinta keluar sambil mengenakan cardigan tipis.

“Shinta?”

Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Andika turun dari motor.

“Andika?”

Pria itu langsung tersenyum sopan lalu menyalami tangan Ibunya Shinta.

“Malam, Bu.”

Wajah Ibunya Shinta tampak benar-benar terkejut.

“Ya ampun... sudah lama sekali tidak datang.”

“Iya, Bu.”

“Kamu yang antar Shinta?”

Andika mengangguk.

“Kebetulan sekarang kami kerja di kantor yang sama.”

“Serius?”

Shinta hanya berdiri diam sambil mengalihkan pandangan. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ibunya. Para ibu memang punya kemampuan alami menciptakan harapan romantis hanya dari satu adegan antar pulang. Evolusi lain yang cukup mengerikan.

Ibunya Shinta tampak lega mendengar penjelasan itu.

“Baguslah kalau ada orang yang dikenal Shinta di kantor.”

Andika tersenyum kecil.

“Tadi Shinta harus revisi laporan, Bu. Jadi pulangnya malam.”

“Kasihan juga.”

“Saya juga minta maaf karena jadi pulang terlalu malam.”

Ibunya Shinta menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa. Malah Ibu senang ada yang bantu Shinta.”

Shinta langsung memotong cepat.

“Bu, saya sudah bilang bisa pulang sendiri.”

“Andika benar. Jam segini bahaya kalau sendiri,” jawab ibunya.

Andika menatap Shinta sebentar lalu menahan senyum tipis.

“Kebetulan saya masih hidup dan punya motor, jadi sekalian.”

“Syukurlah.” Ibunya Shinta tersenyum hangat. “Walaupun kalian sudah tidak bersama lagi, paling tidak masih bisa jadi teman baik.”

Suasana langsung terasa sedikit canggung.

Shinta menunduk pelan.

Sedangkan Andika tetap mempertahankan senyum santainya.

“Saya tidak masalah, Bu.”

Ibunya Shinta mengangguk puas.

“Kalian kan dulu dekat sekali.”

“Bu...” tegur Shinta pelan.

Andika segera mundur selangkah.

“Kalau begitu saya pulang dulu, Bu. Sudah malam.”

“Hati-hati di jalan.”

“Iya, Bu.”

Andika kembali menyalami tangan Ibunya Shinta lalu menatap Shinta sebentar.

“Besok jangan telat.”

Shinta mendengus kecil.

“Iya.”

Setelah itu Andika memakai helmnya lalu pergi meninggalkan rumah tersebut. Suara motornya perlahan menjauh hingga akhirnya hilang di ujung jalan.

Shinta masih berdiri diam beberapa detik.

Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat punggung pria itu menjauh.

Padahal dulu dialah yang memilih mengakhiri hubungan mereka.

“Masuk dulu,” ucap Ibunya Shinta pelan.

Shinta mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah.

Begitu duduk di ruang tamu, Ibunya Shinta langsung menatap putrinya penuh arti.

“Andika masih perhatian.”

“Bu, jangan mulai.”

“Ibu cuma bilang kenyataan.”

“Dia antar karena kebetulan saja.”

“Kalau tidak peduli, laki-laki tidak akan mau menunggu sampai jam sepuluh malam.”

“Kami cuma rekan kerja sekarang.”

Ibunya Shinta tersenyum tipis.

“Tidak ada salahnya berteman baik.”

Shinta terdiam.

“Hubungan boleh selesai,” lanjut ibunya pelan. “Tapi bukan berarti harus bermusuhan.”

Shinta menghela napas panjang.

“Andika itu anak baik.”

Ucapan itu membuat Shinta semakin tidak nyaman.

Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu ibunya benar.

Andika memang baik.

Terlalu baik malah.

Dan justru itu yang membuatnya sulit tenang ketika berada dekat pria itu lagi.

Tanpa menjawab apa pun, Shinta langsung berdiri dan masuk ke kamarnya.

Ia menutup pintu pelan lalu merebahkan tubuh di atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

Bayangan perjalanan tadi terus muncul di kepalanya. Tawa mereka di atas motor. Cara Andika masih mengingat kebiasaannya. Cara pria itu diam-diam tetap menjaganya seperti dulu.

Shinta memejamkan mata pelan.

Ia ingin membenci Andika.

Ingin bersikap biasa saja.

Namun semakin dekat dengan pria itu, semakin sulit ia membohongi dirinya sendiri.

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada bayangan putih di lorong kantor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!