NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^16

Tanpa sadar akan sikap liar menarik pandangan napsu para makhluk bejat yang terus berpikir berulang kali untuk berjalan mendekat.

Terus menggerakan tubuh mengikuti irama musik yang menggema memenuhi ruang pendengaran. Menelantarkan benda persegi yang terus saja berdering di sudut ruangan bersama barang berharga lainnya seperti dompet dan tas kecilnya. Tidak membuat sang empu merasa cemas jika itu semua akan hilang. Apalagi identitasnya terbongkar di tempat seperti ini. Karena niat awalnya hanya ingin mencari hiburan semata untuk meredakan stress di kepala.

Yang kini di buyarkan oleh sentakan kecil di tubuh akan tangan kekar begitu berani mengusap lembut punggungnya, perlahan melingkar dengan hembusan napas yang menerpa tengkuk jenjang milik sang gadis. Spontan menghentikan gerakannya dengan pandanan liar, sembari terseyum miris.

Memutar tumit dengan kedua tangan mengalung pada leher sang pelaku yang kini berhadapan langsung. Tanpa peduli jika jarak itu semakin menipis.

"Tidak seharusnya kau melakukan pelecehan pada gadis di bawah umur, itu akan membuat mu mendapat hukuman gang sangat berat." Cetus gadis itu sembari mengusap pelan tengkuk sang pria sang terlihat jauh lebih dewasa dari, Austyn.

"Tidak seharusnya juga kau membalasnya dengan sikap liar mu seperti ini. Bukankah, kau juga menginginkannya gadis manis?" Penuh kelembutan pria itu memberi balasan.

Sekilas menaikan alis tebalnya, sebelum membisikan sesuatu yang menggelikan tepat di daun telinga milik Austyn. "Aku akan memberikan apapun yang kau mau. Asalkan, kau menemani ku malam ini." Senyum penuh makna, dan hanya pria muda itu saja yang tahu. Arti di balik senyumannya.

Saat itu juga kedua mata Austyn tidak sengaja melihat sosok familiar di ujung sana dengan seorang wanita yang di kenal sebagai queensal di tempat gelap itu.

"Apa yang wanita itu lakukan di sini?" Batin Austyn, mengabaikan setiap kata yang pria muda itu keluarkan.

"Bagaimana, kau mau?" Terus saja memberi tawaran. Pria itu terlihat tidak akan melepaskan Austyn malam ini.

"Menjauhlah dariku." Geram Austyn sembari mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga. Sebelum berjalan kearah di mana handphone dan tasnya berada. Akan tetapi, pria itu begitu cepat menahan tangan Austyn yang mau tidak mau mengurungkan niatnya, dan kembali menatap pria di depan matanya.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja, karena kau telah membangunkan hasratku." Tajam sang pria.

Sebentar melihat kearah di mana sosok familiar itu berada. "Kau akan menyesalinya karena menghalangiku seperti ini." Tak kalah tajamnya, Austyn melontarkan perkataannya.

"Jadi jauhkan tanganmu." Pinta Austyn yang berusaha menjauhkan tangannya dari cengkeraman pria itu.

"Tidak semudah itu, karena kau milikku malam ini."

"Ku bilang lepaskan!!" Seru Austyn, yang mungkin sudah kehilangan akal. Karena menendang kaki kanan sang pria yang refleks mengaduh kesakitan, tanpa melepas cengkeramannya.

"Kau_" geram sang pria, yang telah hilang kendali. Hingga satu layangan keras mendarat begitu saja pada pipi mulus Austyn.

Dan hal itu ternyata membuat dua insan yang baru saja tiba. Melihat pemandangan tidak menyenangkan langsung berlari ke arah Austyn.

"Siapa dirimu berani menyakitinya" Satu pukulan mengenai wajah tampan rupawan milik sang pria yang tumbang ke lantai, hingga membuat semua pasang mata di sana fokus akan hal itu, dengan pandangan berbeda.

"Berhentilah mengklaim jika dia milikmu malam ini." Imbuh pemuda itu, kini menoleh ke belakang. Di mana Austyn yang tengah di tenangkan oleh temannya.

"Carilah wanita lain yang jauh lebih berpengalaman. Karena bermain dengan gadis di bawah umur itu sangat menjauhkan harga diri sebagi laki-laki. Bukankah seperti itu?" Sambungnya, tanpa adanya rasa aku sama sekali. Terus melihat pria itu, yang kini mulai menegakkan punggungnya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya sang gadis pada Austyn.

"Emm, aku baik-baik saja." Jawab Austyn, melihat pria itu berada dengan telapak tangan kanan berada di pipinya. menahan rasa perih yang sangat luar biasa. Jika pun, tamparan itu bukan kali pertamanya Austyn dapatkan.

Jika bukan karena teman Aldi yang mengirimnya sebuah video berdurasi 7 detik, di mana Austyn yang tengah bersenang-senang mengikuti alunan musik uang di putar. mungkin saja Aldi tidak akan datang ke tempat seperti itu.

Meniup udara sembari memelankan langkah kakinya, yang membuat dua gadis di belakangnya pun juga menghentikan kedua kaki mereka. Menatap Alvin dengan sorot mata yang berbeda.

"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Seharusnya kau berada di ruang belajar." Kesal Aldi yang melayangkan tatapan tajam pada Austyn.

"Sekeras apapun usahaku di dalam ruangan itu. Nilai ku juga tidak akan naik. Semenjak kedatangan gadis bengis itu di sekolah nilai ku_"

"Berhentilah menyalahkan orang lain, jika dirimu tidak konsisten." Potong Aldi yang benar-benar merasa lelah saat berhadapan dengan gadis seperti Austyn.

"Berhentilah memarahinya itu akan membuatnya semakin frustasi." Relai Yuna yang entah kenapa merasa prihatin pada Austyn semenjak mendengar obrolan singkat gadis itu bersama sang ibu.

"Kau selalu memihaknya." Rendah Aldi, melihat ke sembarang arah dengan meniup udara.

"Karena kau tidak tahu apa-apa." Tidak begitu cepat Yuna memberi sahutan.

Diam sejenak, melihat dua gadis itu. "Aku akan mengantarkan kalian pulang." Akhir Aldi yang sadar, jika berdebat pun ia tidak akan menang. Apalagi Yuna sebagai lawannya.

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Toh, aku bukan anak kecil berusia 7 tahun yang harus di antar dan di jemput." Tolak Austyn yang tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalah hidupnya. Karena itu akan mengorbakan mereka hanya untuk kesenangannya sendiri.

"Terima kasih sudah datang dan membantu ku. Lain kali, kalian tidak perlu berlari menemuiku karena seseorang memberi pesan pada kalian." Diam sejenak, melihat dua temannya itu. Sebelum berjalan pergi tanpa menunggu tanggapan dari mereka.

"Kau lihat sendiri bukan? seharusnya kau tidak memihaknya." Dumel Aldi.

"Jika aku berada di posisi Austyn, mungkin saja aku akan melakukan hal yang jauh lebih gila dari gadis itu." Balas Tessa yang tidak memalingkan pandangannya dari pungung Austyn yang mulai menghilang dari pupil matanya.

"Terserah apa yang kau katakan." Final Aldi. Batinnya benar-benar merasa lelah, sebelum kedua bola mata hitam pekatnya tidak sengaja melihat ke arah wanita dewasa yang sangat familiar di penglihatannya saat ini.

"Bukankah itu ibu Desan?" Cetus Aldi yang membuat Tessa mengikuti arah pandang pemuda itu.

"Kau tahu?" Ragu Yuna. Karena selama menjalin hubungan dengan Anrey, ia tidak pernah tahu siapa wanita yang melahirkan Anrey.

Anrey pun juga sering sekali mengalihkan topik pembicaraan saat Yuna bertanya, 'siapa ibunya'

"Emm, aku pernah bertemu dengannya sekali. Saat aku datang kerumah Anrey untuk mengambil buku catatanku." nyakin Aldi, sebentar melihat wajah Yuna yang menyimpan sejuta pertanyaan.

"Dia bersama ibumu. Apa mereka saling kenal?" Tanya Yuna kini menatap Aldi.

"Aku akan mengakui dia ibuku jika dia tidak ada di tempat seperti itu." Jelas Aldi.

"Tapi mau bagaimana pun dia wanita yang melahirkan mu. Dan kau juga tidak bisa menyalahkan takdir jika dia ibundamu. Hargailah, sebelum kau menyesalinya." Ucap Yuna yang sedikit memberi nasihat.

"Omong-omong, apa kau tidak pernah penasaran? Kenapa ibumu ada di tempat itu? Kenapa ibumu memilih meniggalkan mu ketimbang merelakan pekerjaannya gang sedikit terlihat buruk itu? Pasti ada sesuatu yang sang sangat besar, bukan? Mungkin, ibumu menyimpan rahasia yang akan membuat dunia hancur."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Contohnya seperti itu." Cepat Yuna, yang harus mengakhiri argumennya bersama Aldi. Karena raut wajah pemuda itu sangat tidak enak di pandang.

Melangkah pergi, membiarkan Aldi yang melihat di mana dua wanita itu berada.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!