Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Maman
Malam yang semakin larut tidak membawa ketenangan bagi Adrian. Di tengah badai emosi setelah membaca buku harian Dinda, keheningan malam mendadak pecah oleh suara sayup-sayup yang sangat dia kenal dari kejauhan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Suara pengumuman dari pengeras suara masjid desa terdengar membelah kesunyian malam, disusul oleh ketukan kentongan dengan nada lambat tanda ada warga yang meninggal dunia.
"Telah berpulang ke rahmatullah, saudara kita, Maman bin Sarif, pada malam ini."
Dada Adrian berdesir hebat. Nama itu langsung memicu ingatan yang membuatnya merinding. Selama beberapa minggu tinggal di desa ini untuk KKN, Adrian sering mendengar obrolan miring para warga di warung kopi tentang pemuda bernama Maman.
Maman adalah pemuda kampung yang bernasib malang. Beberapa bulan lalu, dia nekat pulang larut malam memotong jalan melewati pinggiran Jarian setelah berburu di hutan. Sejak malam itu, Maman jatuh sakit. Penyakitnya tidak masuk akal, tubuhnya yang semula kekar perlahan-lahan menyusut hingga tinggal kulit membungkus tulang, kulitnya menghitam bersisik, dan dia sering mengigau histeris ketakutan seperti melihat sosok tak kasat mata di sudut kamarnya. Dokter puskesmas pun angkat tangan karena tidak menemukan penyakit medis apa pun. Warga berbisik bahwa jiwanya telah dikikis oleh penunggu Jarian.
Dan malam ini, setelah Bagas menghilang, Maman mengembuskan napas terakhirnya.
Kematian Maman menjadi tamparan keras yang membangkitkan kengerian luar biasa di dalam benak Adrian. Rasa khawatir dan panik kini mencengkeram jantunnya seketika.
"Bagaimana dengan Dinda dan Bagas?!" Adrian dengan bibir bergetar, membayangkan nasib tragis pemuda kampung tersebut.
Dinda telah menyerahkan jiwanya lewat perjanjian gaib terkutuk, dan Bagas diseret hidup-hidup ke dalam jantung dimensi hitam itu oleh sang makhluk berbulu. Jika Maman yang berada di dunia nyata saja tidak bisa selamat dari kutukan Jarian, Adrian tidak bisa membayangkan siksaan seperti apa yang sedang dialami oleh jiwa kedua sahabatnya di dalam dimensi gaib sana saat ini. Apakah tubuh mereka juga sedang digerogoti? Apakah jiwa mereka sedang perlahan-lahan dilebur menjadi budak hutan larangan?
Adrian berjalan mondar-mandir di dalam rumah kolonial yang gelap, memegangi dadanya yang masih terasa nyeri akibat hantaman sang penunggu hutan. Rasa takut yang sempat reda kini kembali menyerang, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang mendalam. Dia menatap jam dinding tua di ruang tengah yang berdetak lambat. Menunggu hingga esok malam terasa seperti menunggu satu keabadian yang menyiksa.
"Kalian harus bertahan, tolong bertahan sampai besok malam,". Doa Adrian dalam hati, matanya menatap nanar ke arah kegelapan hutan larangan di balik jendela.
Kematian Maman mempertegas satu hal bagi Adrian, ritual penyeberangan dimensi besok malam bersama Aki Sukra adalah taruhan mati atau hidup. Jika dia gagal menarik mereka kembali, dia tahu persis nasib mengerikan apa yang akan menimpanya, Bagas, dan Dinda, mereka akan berakhir tragis, atau bahkan lebih buruk dari apa yang dialami oleh Maman.
Dorongan rasa bersalah dan kecemasan yang membakar dada membuat Adrian tidak bisa berdiam diri di rumah kolonial itu. Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, dia memaksakan diri berjalan menembus kabut malam menuju rumah duka keluarga Maman. Rumah panggung sederhana itu kini mulai didatangi beberapa warga yang memasang kain jarik batik di jendela.
Saat Adrian melangkah masuk ke dalam ruang tengah, langkahnya mendadak terhenti, terkunci oleh pemandangan mengerikan di atas kasur tipis di lantai.
Kondisi jenazah Maman jauh lebih buruk dari cerita-cerita yang pernah Adrian dengar.
Pemuda yang dulunya dikenal kekar itu kini menyusut drastis, menyisakan kerangka tubuh yang dibalut kulit yang menghitam legam, persis seperti korban yang terpanggang api dari dalam. Yang paling membuat bulu kuduk Adrian berdiri adalah kedua mata Maman. Mata itu melotot sempurna, putih matanya memerah penuh urat darah, menatap lurus ke langit-langit rumah, seolah-olah di detik-detik terakhirnya, dia melihat iblis Jarian datang menjemput nyawanya.
Adrian mundur satu langkah, menutup mulutnya karena mual dan ngeri. Jantungnya bertalu-talu. Seperti inikah wujud Bagas dan Dinda jika aku terlambat? pikirnya dengan lutut yang mendadak lemas.
"Nak Adrian?" Sebuah tepukan lembut di pundaknya membuat Adrian tersentak.
Adrian berbalik dan mendapati Pak RT dan Aki Sukra sudah berdiri di belakangnya. Keduanya mengenakan pakaian serba hitam, wajah mereka tampak letih namun tegang melihat kedatangan Adrian.
"Kenapa kamu malah ke sini dan tidak beristirahat, Nak? Tubuhmu itu belum pulih, besok malam kamu butuh tenaga besar.". Tanya Pak RT dengan nada khawatir sekaligus heran. "
Aki Sukra menatap wajah Adrian yang pucat pasi, lalu beralih memandangi jenazah Maman dan menghela napas berat.
"Aki tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Melihat kondisi Maman membuatmu makin ketakutan, bukan? Tapi ketahuilah, Nak. Jika kamu tidak mengistirahatkan fisik dan mentalmu malam ini, kamu tidak akan punya cukup energi untuk melawan tarikan dimensi hitam itu besok,". Ujar Aki Sukra dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh keluarga duka.
"Pulanglah, Adrian. Kunci kamarmu, beristirahatlah. Biarkan Aki, Pak RT, dan Kang Kosim yang mengurus jenazah Maman malam ini sekaligus menyiapkan sarana ritual untuk esok. Simpan lepaskan rasa lelahmu malam ini, jadikan itu bahan bakar untuk keberanianmu besok malam." Aki Sukra menuntun Adrian keluar dari rumah duka, menjauh dari kerumunan warga. Di bawah temaram cahaya bulan.