NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Anak Grand Duke yang Gagal

Keheningan yang mencekam menyelimuti setiap sudut aula utama saat Sander Duster melangkah mantap mendekati altar pengujian. Ribuan pasang mata murid baru terpaku pada sosok pemuda empat belas tahun yang berjalan dengan pembawaan tenang tersebut. Di atas bahu kirinya, Behemoth tetap bertengger diam, sepasang mata emasnya menyipit tajam menatap podium instruktur atas seolah-olah sedang mengawasi pergerakan energi para profesor.

Sander berhenti tepat di depan instrumen pertama, yaitu pilar besi hitam pengukur kekuatan fisik murni. Ia mengembuskan napas perlahan, merasakan kepadatan sel tubuh dan struktur tulangnya yang telah berevolusi secara rahasia berkat saringan energi murni Behemoth. Tanpa berniat memicu kegemparan yang berlebihan, Sander memilih untuk menahan sebagian besar tenaga murninya dan hanya mengayunkan tinju kanannya dalam sebuah pukulan lurus yang terkontrol ke arah pilar besi.

Benturan keras tanpa pendaran warna aura terdengar saat tinju Sander mengenai target. Di bagian atas pilar hitam, angka sihir berkedip lambat sebelum akhirnya memunculkan angka tujuh ratus lima puluh poin. Hasil itu tergolong tinggi untuk ukuran fisik manusia biasa, namun di mata para anak bangsawan ksatria yang terbiasa melihat ledakan energi aura, angka tersebut dianggap biasa saja dan tidak terlalu mengesankan bagi seorang putra Grand Duke.

Damian von Drake yang mengawasi dari barisan kursi faksi selatan langsung menyunggingkan seringai lebar penuh kepuasan, merasa bahwa reputasi fisiknya jauh berada di atas Sander.

Sander tidak memedulikan riak reaksi di tribun. Ia melangkah ke alat kedua dan menempelkan telapak tangannya ke atas permukaan bola kristal bakat elemental. Sesuai dengan apa yang telah terjadi ribuan kali di Kastil Aethelgard, bagian dalam bola kristal bening itu tetap diam, jernih, dan tidak memancarkan setitik pun pendaran warna elemen dasar seperti api, air, angin, ataupun es abadi klan Duster. Bola kristal tersebut tetap mati, menandakan bahwa Sander secara resmi dikategorikan sebagai manusia tanpa elemen.

Bisik-bisik miring yang sejak tadi tertahan mulai merayap naik di antara barisan kursi tribun murid baru.

Terakhir, Sander melangkah menuju instrumen paling krusial, yaitu batu penguji obsidian raksasa untuk mengukur ranah Life Energy. Sander berdiri tegak, lalu menempelkan seluruh permukaan telapak tangan kanannya ke atas permukaan batu yang dingin tersebut. Ia mencoba mendorong sirkulasi internal tubuhnya, memicu getaran energinya seperti yang biasa diajarkan di klan ksatria Utara.

Namun, pusaran energinya tetap terasa luas dan kosong, menolak mentah-mentah segala bentuk resonansi dengan sistem manipulasi aura tradisional dunia fana. Satu detik berlalu, hingga setengah menit berlalu, batu penguji obsidian raksasa itu tetap diam, gelap gulita, dan sama sekali tidak memancarkan seulas pendaran cahaya ranah apa pun. Alat tersebut menyatakan bahwa kapasitas Life Energy Sander Duster berada di titik kosong, di luar hierarki ksatria tradisional.

Seketika itu juga, keheningan di dalam aula besar pecah oleh gelombang bisik-bisik miring dan tawa tertahan yang mulai menggema lantang dari arah faksi murid bangsawan tengah dan selatan.

"Astaga, jadi rumor miring itu ternyata benar? Putra ketiga dari Grand Duke Gabriel Duster sama sekali tidak memiliki setetes pun Life Energy elemental?"

"Bagaimana mungkin klan militer terkuat yang memimpin perbatasan Utara memiliki keturunan yang bahkan tidak bisa mencapai ranah Pawn Rank terendah? Ini benar-benar sebuah aib bagi nama besar Frost Wolf!"

"Dia benar-benar anak Grand Duke yang gagal. Tanpa nama besar ayahnya, dia tidak lebih dari sekadar manusia biasa yang lemah di tempat ini."

Suara-suara cemoohan dan penilaian merendahkan tersebut laksana desiran angin badai yang berisik, menciptakan tekanan mental yang luar biasa berat di tengah altar bagi seorang pemuda baru. Damian von Drake tertawa kecil dengan nada mengejek yang sangat kentara dari arah tribun, sementara beberapa profesor di podium atas tampak menggelengkan kepala mereka dengan raut kekecewaan yang tidak ditutupi.

Di tengah badai hantaman kata-kata miring tersebut, Sander tetap berdiri tegak di depan batu penguji. Ekspresi wajahnya tetap datar, tenang, dan matanya memancarkan kilatan jernih yang sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, rasa rendah diri, ataupun fluktuasi emosi sedikit pun. Beban nama besar Duster yang melekat pada lencananya memang terasa berat, namun doktrin dari ayahnya tentang kekuatan sejati serta pelukan hangat ibunya di malam upacara Utara telah mengunci fondasi mentalnya agar tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh penilaian manusia fana di tempat ini.

Namun, jika Sander bisa menahan emosinya, tidak demikian dengan makhluk purba yang berada di atas bahunya.

Behemoth mendadak membuka sepasang mata emasnya yang menyala redup. Seluruh bulu hitam di tubuh kecilnya berdiri tegak secara tidak sadar, dan pupil matanya menyusut drastis menjadi sepasang garis vertikal yang sangat tipis akibat menahan amarah yang luar biasa besar karena partner manusianya direndahkan oleh makhluk-makhluk rendah di sekeliling mereka. Sebuah raungan batin yang dipenuhi oleh keangkuhan absolut dan hawa pembunuhan yang pekat langsung menggelegar hebat di dalam kepala Sander.

(Sander! Manusia-manusia cacing di tempat ini benar-benar telah bosan hidup! Berani-beraninya mereka mengeluarkan suara-suara menjijikkan itu untuk menghina pemilik tubuh fisik murni yang telah kusaring sepanjang malam? Kumpulan makhluk fana bodoh yang hanya mengandalkan energi batuan murahan ini tidak tahu apa-apa tentang evolusi sejati! Izinkan aku melepaskan Predator Suppression sekarang juga! Aku bersumpah akan melahap sisa jiwa mereka sampai aula ini runtuh menjadi debu kosmik!)

Sander secara perlahan menarik tangan kanannya dari batu obsidian, lalu mengulurkannya untuk menyentuh punggung kepala Behemoth. Dengan gerakan yang sangat telaten dan lembut, ia mengelus bagian belakang telinga kucing hitamnya, menyalurkan ketenangan fisiknya melalui ikatan Resonansi Jiwa mereka untuk meredakan gejolak amarah sang penguasa Hukum Devouring.

(Tahan dirimu, Behemoth. Jangan lakukan hal yang tidak perlu. Biarkan mereka berbicara apa pun yang mereka inginkan saat ini. Warna cahaya dari sebuah batu penguji fana tidak akan pernah menentukan jalan yang akan kita tempuh di bawah langit ini.)

Mendengar tanggapan batin Sander yang begitu kokoh dan bebas dari rasa goyah, Behemoth perlahan menurunkan ketegangannya. Kucing hitam itu mendengus pelan di dalam benak Sander, kembali melipat sepasang kaki depannya dan berpura-pura memejamkan mata di atas bahu pemuda Duster tersebut, meskipun sepasang telinganya tetap berdiri tegak memantau perimeter.

Di barisan kursi tribun, Elena Aurelius menatap sosok Sander dengan sepasang mata biru langitnya yang memancarkan rasa khawatir sekaligus kekaguman atas ketenangan batin yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Di sampingnya, Sylvia Frost meremas saputangannya dengan erat, merasa ikut terluka mendengarkan bisikan miring para murid bangsawan mengenai klan pelindung Utara mereka. Sementara itu, Gideon Valentine menyipitkan mata hijau zamrudnya, mengamati bagaimana cara Sander berjalan kembali menuju tribun dengan punggung yang tetap tegak lurus tanpa menunjukkan setitik pun rasa malu, sebuah bukti mentalitas ksatria sejati yang sangat langka.

Asisten profesor di bawah altar berdehem keras untuk menenangkan keriuhan aula, lalu mencatat hasil minimal tersebut di atas lembaran dokumen administrasi sihir akademi. Nama Sander Duster kini resmi menjadi bahan pembicaraan hangat di seluruh penjuru Elegrand Royal Academy sebagai anak Grand Duke yang gagal memicu energi dasar dunia fana, mengawali babak baru penuh tantangan yang harus ia hadapi dengan kekuatannya sendiri di masa depan.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!