NovelToon NovelToon
Dinikahi Jenderal PTSD

Dinikahi Jenderal PTSD

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syfaanca

Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.

Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.

Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Kabar Baik

Wanqing pagi itu bertekad untuk melanjutkan pemburuannya terhadap beberapa ilmu yang ingin sekali ia pelajari dari Perpustakaan Militer itu. Setelah ia memastikan seluruh kebutuhan Jenderal Lu terpenuhi pagi itu, Wanqing pamit ditemani Ajudan Han yang memang sudah berjanji akan menemani dirinya lagi dari kemarin.

"Aku izin jalan Jenderal." Ujarnya pada Sang Suami yang tengah bersandar dan memejamkan matanya di atas kasur mereka. Pria itu hanya menggunakan jawabannya tanda setuju.

"Kenapa Kau selalu bersikeras ingin sekali mempelajari sesuatu dari perpustakaan tua itu Wan'er?" Tanya Ajudan Han padanya.

Setelah beberapa lama bekerja sama dalam perbaikan perpustakaan dan kegiatan sehari-hari, Ajudan Han dan dirinya terasa jauh lebih dekat layaknya sahabat sendiri. Bahkan ia berani memanggil dirinya dengan sebutan Wan'er yang tergolong sangat intimate atau biasa untuk keluarga.

"Ada beberapa hal yang tidak bisa Aku pelajari ketika di rumah sebelumnya." Jawabnya tepat saat mereka menampakkan kedua kakinya di halaman perpustakaan.

"Maksudnya?? Kau kan tuan putri muda keluarga yang akan dinikahkan dengan anak pebisnis atau petinggi lainnya, bagaimana bisa--"

"Sudahlah. Keluargaku, memang sedikit aneh dan tidak perlu dipusingkan." Jawab Wanqing memotong spekulasi ajudan Han.

"Nah, Han'zi. Boleh tidak kalau Aku tanya dimana wanita busuk itu berada? Dia menginap di sini apa sudah pergi bertugas ke pos-pos penjagaan?" Tanya Wanqing sembari menatap intens pria di hadapannya.

Han'zi adalah panggilan meledek Wanqing terhadap ajudan Han, menurut pria itu, panggilan itu terdengar terlalu perempuan untuk dirinya yang merupakan Han dari militer yang gagah. Ajudan Han mengernyit, wajahnya yang tampan itu tampak sangat lucu ketika tidak menyukai sesuatu.

"Wan'er..."

"Dimana.."

"Huft.. Baiklah, Wanita itu belum pergi juga, dia tidur di kantor Jenderal." Jawab ajudan Han.

Wanqing mengangguk tanda mengerti. "Baiklah kalau memang dia meminta perang."

Wanqing berjalan masuk ke perpustakaan diikuti Ajudan Han yang berjalan cepat mengejarnya. Beberapa rak ia lewati tanpa pedulikan isinya, hanya di rak paling ujung saja ia berhenti dan meraih beberapa buku lalu membawanya ke halaman depan perpustakaan untuk mulai dibaca.

"Buku Medis Kuno? Medis Masa Kini? Medis Militer? Kenapa Kau mencoba mempelajari banyak hal tentang medis Wan'er?" Tanya Ajudan Han sambil mencoba membuka salah satu buku itu.

"Suamiku itu Jenderal tentara Han'zi! Tentu saja Aku harus mengerti setidaknya sedikit saja tentang medis agar bisa membantu dan berguna baginya kelak. Nah, daripada asyik mengoceh, bantu Aku menyalin beberapa hal."

Ajudan Han baru ingin protes namun bungkam ketika melihat tatapan membunuh Wanqing yang memaksanya untuk patuh. Beberapa saat setelahnya, mereka pun mulai sibuk dengan catatan yang menumpuk dari buku-buku medis yang Wanqing ambil tadi.

Matahari siang sudah ada di atas kepala ketika mereka selesai. Wanqing mengambil banyaknya catatan di lengan Ajudan Han dan memintanya mengantar dirinya pulang dengan buku-buku lainnya yang dia telah ambil dari perpustakaan itu. Semua buku tersebut mengenai medis dan pertolongan pertama serta ilmu kedokteran kompleks yang Wanqing sendiri tidak yakin bisa menguasainya.

"Tekad itu setidaknya harus sekuat tulang belakangmu anak muda! Dasar pemalas." Ujar Wanqing sambil memukul punggung Ajudan Han yang sedari mengoceh mengenai betapa pegal-pegalnya dirinya.

Mereka pun tiba di kediaman dinas Wanqing dengan suaminya. Mengambil serta menyusun beberapa file tersebut di atas ruang tamu, Wanqing meminta Ajudan Han untuk pulang dan istirahat.

"Huft, bahkan Kau tidak memasakkan Aku sesuatu untuk makan siang?!" Tanyanya merajuk.

Wanqing menggeleng, "Sana anak manja, masak sendiri buncis serta kol di halaman perpustakaan sana!" Ujarnya lagi sambil menutup pintu depan.

Wanqing yang menyadari kondisi rumah sudah sangat dipenuhi dengan wewangian makan itu langsung menuju dapur. Sosok tinggi besar milik suaminya itu kini tengah memasak sesuatu dan sibuk mengaduk-aduk panci besar. "Berapa lama biasanya waktu yang Kau habiskan dengan ajudanku dalam sehari?" Tanya suara itu.

Wanqing tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena pria itu membelakanginya, tapi entah kenapa hawanya jadi sangat tidak enak. "Er... Siang kadang sampai Sore." Jawabnya sambil menarik bangku meja makan.

Pria itu tidak membalas jawabannya dan masih terus mengaduk panci di hadapannya. "Jenderal masak apa?" Tanya Wanqing sedikit kikuk. Dia masih belum terbiasa dengan kehadiran suaminya yang terkesan sangat mendominasi dan dengan sifatnya yang misterius membuat Wanqing hampir gila mencoba mengertinya.

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Wanqing akhirnya memutuskan untuk kembali mempelajari buku-buku medis yang ia pinjam dari perpustakaan dan mulai menyalin beberapa hal penting.

"Buku-buku itu sudah lama dan ketinggalan zaman. Jika ingin belajar banyak tentang medis, kenapa Kau tidak bersekolah kedokteran saja? Bukannya Ayahmu adalah pebisnis terkenal nomor satu di Kota Kita, Kota Guangzhou?"

Jenderal Lu menuangkan sedikit sup panas di dua mangkuk dan menyajikan satunya untuk Wanqing. Ia duduk di atas sofa tepat di samping Wanqing.

"Memangnya ada sekolah semacam itu?" Tanya Wanqing polos.

Jenderal Lu menatapnya setengah terkejut. "Jangan bilang Kau tidak pernah bersekolah?"

Wanqing menatap kedua mata indah Jenderal dengan gugup. Ia tidak ingin kebobrokan keluarganya terdengar atau diketahui oleh sang Jenderal.

'Bukan.. Bukan itu maksudku, hanya saja--"

Deru mobil terparkir di depan halaman mereka dan keributan suara membuka serta menutup pintu pagar terdengar. Jenderal Lu bangkit dari tempat duduknya dan mengintip melalui jendela itu.

Ia lalu membuka pintu lebar-lebar. "WAN-WAN ANAKKU!!!"

Wanqing yang merasa sudah hampir seminggu hampa tanpa Ibu Mei langsung bangkit dan berlari menemuinya. Ia memeluk erat sosok Ibunya itu dan tersenyum sumringah. "Ibu jauh-jauh kesini?!" Ibu Mei mengangguk terus. "Malam ini Ibu menginap ya di sini, Jenderal Lu Tua mau mengurus beberapa administrasi katanya, Ibu sekalian saja ikut."

Wanqing memperhatikan bagaimana Jenderal Lu Jingyuan menyambut sosok ayahnya dan memberikan hormat yang tegas pada sang Ayah. Mereka pun berbincang hangat sembari melihat pemandangan markas militer sore itu.

"APA?! JINGYUAN MASAK?!!" Ibu Mei seolah sangat syok terhadap fakta itu dan berjalan cepat menghampiri panci tempat Jingyuan baru saja selesai memasak sup.

"Anak itu bisa masak juga? Keren sekali!! Kenapa di rumah dia bahkan tidak pernah sudi tinggal terlalu lama di ruang tamu ataupun dapur ya?" Ibu Mei menatap Wanqing yang juga menaikkan kedua bahunya bingung.

"Oiya Wanqing ku sayangg, ada beberapa fakta mengejutkan yang juga turut kubawa ke sini." Ibu Mei duduk dan merampas mangkuk milik Wanqing lalu menyicipi masakan putranya itu.

"Enak juga, pas dan dagingnya sangat empuk." Komentarnya.

Wanqing masih menatap Ibu Mei serius. "Kabar apa yang Ibu maksud?"

Jenderal Lu Jingyuan masuk bersama sang Ayah tepat saat Ibu Mei berkata, "Ibumu, Kami tau dia dimana."

*BERSAMBUNG*

Like, Komen, Subscribe, dan Vote yah!! Thanks. Update setiap hari dan setiap weekend selalu akan double update.

1
arya
modus
Lamycut
Suka geremm banget baca si Bai Bai itu ish sebalnya, buang ajah dia 🤭
Syfaansa: harusss🤣🤣🤣
total 1 replies
Lamycut
keren kakak, itu si dingin jendral malu-malu yah, lanjut dan semangat ya kak
arya
ini terbaik sih, author bisa buat karya se megah ini, mau dong tips nya.. hehe
Syfaansa: menghayal dan menonton drachin lah tipsnya KWKWKW
total 1 replies
Syfaook
Lanjut Thor!! jangan lupa update banyak banyak yan
Xxzyeyi
WOII KEREN BANGET MBA AKUNTAN HAHAHA, diem diem idenya nulis beginian, bagus lanjutkan saudarakuh!! semangatt /Curse/
Eat Reactwithmee
Slow burn ya ini Thor hahaha, temen kerjaku karyanya bagus banget, bikin greget banget sama perilaku saling malunya mereka berdua, si Jingyuan juga sok bener nahan nahan padahal mah udh demen kan, ngaku hayu /Scream/
Fei Lord
Ceritanya sangat unik dan menarik sekali yaa, jadi penasaran kelanjutan hubungan kaku bgtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!