"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kipas Maut dan Jari Sakti
Ketegangan di persimpangan jalan itu mendadak naik drastis sampai ke titik didih. Angin kencang yang dihasilkan dari aura Qi Yan Mu mulai berputar gila-gilaan, menerbangkan debu dan daun-daun kering di sekitar granit jalanan. Beberapa pedagang kaki lima yang telat beres-beres terpaksa pasrah melihat tenda jualan mereka roboh diterjang angin puyuh mini tersebut.
Yan Mu beneran sudah kehilangan muka. Di Benua Tengah, dia adalah salah satu murid jenius yang selalu dipuja-puja sama juniornya, tapi di benua fana yang miskin energi spiritual ini, dia malah diledek habis-habisan sama seorang pemuda yang jubahnya bahkan nggak ada hiasan klan sama sekali.
"Bocah kampung gak tahu diri! Biar aku tunjukkan seberapa jauhnya jarak antara langit dan bumi!" raung Yan Mu sambil menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah.
BOOM!
Batu granit di bawah kaki Yan Mu langsung amblas sedalam sepuluh senti. Tubuhnya melesat maju kayak anak panah yang lepas dari busurnya, meninggalkan jejak angin hijau yang tajam. Kipas lipat giok di tangan kanannya terbuka kembali dengan bunyi berdesing, siap menyayat leher Ling Chen dengan bilah angin yang bisa memotong besi setebal baja.
Mu Rong'er yang berdiri agak jauh di belakang langsung refleks menutup matanya pakai satu tangan. Meskipun dia sudah sering lihat kekuatan gila Ling Chen, tetap saja aura dari seorang ahli Alam Inti Emas tahap menengah dari Benua Tengah itu punya tekanan psikologis yang beda banget. Rasanya kayak ada batu raksasa yang mendadak ditaruh di atas dadanya sampai bikin dia agak sesak napas.
"Tuan Muda Ling, awas! Serangan dia punya efek ilusi!" teriak Mu Rong'er memperingatkan, instingnya sebagai anak pedagang informasi mendadak menangkap ada riak energi yang aneh dari gerakan kipas tersebut.
Kuro yang ada di pelukannya cuma mengeluarkan suara "Kyuu~" malas, seolah-olah lagi menonton pertunjukan sirkus murahan yang sama sekali nggak menarik perhatiannya.
Bener aja apa kata Mu Rong'er. Pas Yan Mu tinggal berjarak dua meter dari Ling Chen, tubuhnya mendadak terpecah jadi tiga bayangan yang sama persis. Ketiga bayangan itu maju dari arah depan, kiri, dan kanan secara bersamaan dengan posisi kipas yang semuanya siap menebas. Ini adalah Teknik Tiga Bayangan Angin, salah satu jurus andalan Yan Mu yang sering bikin musuh-musuhnya mati penasaran karena salah menebak tubuh asli.
"Mampus kau! Tebak mana yang asli, Hahaha!" Tawa sombong Yan Mu menggema dari tiga arah berbeda, bikin orang awam pasti langsung pusing tujuh keliling.
Ling Chen tetap diam di tempat, bahkan tangannya yang tadinya mau memegang gagang pedang hitam karatan di pinggangnya malah diturunkan kembali. Dia cuma berdiri tegak sambil menutup matanya perlahan, mengandalkan indra spiritual Tulang Dewa miliknya yang bisa membaca aliran energi murni di dunia ini, sekecil apa pun itu.
Di mata batin Ling Chen, dua bayangan di samping kiri dan kanannya cuma tumpukan angin kosong tanpa adanya fluktuasi darah. Sementara itu, sosok yang maju lurus dari depan memiliki pusaran energi Qi yang berpusat di dadanya.
"Trik anak kecil begini... mending nggak usah dipamerkan," ucap Ling Chen pelan.
Tepat saat ujung kipas giok Yan Mu tinggal berjarak satu senti dari tenggorokannya, Ling Chen membuka mata biru safirnya secara mendadak. Gerakan tangan kanannya melesat secepat kilat, bukan buat memukul, melainkan cuma mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya untuk menjepit ujung kipas giok tersebut.
TING!
Sebuah suara dentingan logam yang sangat nyaring terdengar memekakkan telinga. Dua bayangan ilusi Yan Mu di samping kiri dan kanan langsung hancur berantakan jadi asap hijau, sementara tubuh asli Yan Mu yang maju dari depan mendadak berhenti total di udara. Mukanya yang tadi penuh tawa gila langsung membeku seketika pas melihat kipas giok pusaka klannya ditangkap dengan sangat mudah oleh dua jari tangan kiri Ling Chen.
"Bag-bagaimana mungkin?! Kau bisa melihat tubuh asliku?!" Yan Mu melotot gila, tangannya berusaha keras menarik kembali kipas gioknya, tapi benda itu seolah-olah sudah tertanam di dalam bongkahan batu legendaris yang nggak bakal bisa digerakkan sama tenaga manusia fana.
"Melihatmu? Aku bahkan nggak perlu pakai mata buat tahu di mana posisi semut sepertimu," jawab Ling Chen dengan nada suara yang kelewat datar.
Dengan satu sentakan kecil dari pergelangan tangannya, Ling Chen memutar dua jari yang menjepit kipas tersebut. Kekuatan fisik dari Tulang Dewa tingkat tinggi langsung tersalurkan lewat bilah giok, menciptakan getaran frekuensi tinggi yang merusak struktur internal senjata tersebut.
KRETEK... PYAAAARRR!
Kipas giok tingkat tinggi milik Yan Mu langsung hancur berkeping-keping jadi serpihan bubuk hijau yang berhamburan di udara. Serangan balik dari hancurnya senjata itu bikin energi Qi di dalam tubuh Yan Mu berbalik arah, menghantam meridian dadanya sendiri sampai dia memuntahkan seteguk darah segar dan terlempar mundur sejauh lima meter sebelum akhirnya jatuh bergulingan di atas tanah.
"Uhuk... Uhuk..." Yan Mu berlutut sambil memegang dadanya yang terasa panas kayak terbakar, matanya menatap Ling Chen dengan kombinasi rasa tidak percaya dan ketakutan yang teramat sangat. Hanya dengan dua jari, pemuda di depannya ini bisa menghancurkan senjata pusaka dan bikin dia terluka dalam tanpa mengeluarkan satu jurus pun! malam di persimpangan kota itu beneran berubah jadi mimpi buruk paling horor buat sang jenius dari Benua Tengah.