NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Sepuluh Menit yang Terasa Setahun

Pesan terkirim.

Tanda centang pertama muncul.

Lalu tanda centang kedua.

Vivi menatap layar sampai kedua tanda itu berubah biru.

Sebastian sudah melihatnya.

“Dia baca,” bisiknya.

Jocelyn duduk di sebelahnya sambil memegang dua kotak pakaian renang. “Bagus.”

“Kenapa belum membalas?”

“Baru lima detik.”

“Lima detik cukup untuk mengetik satu, dua, atau tiga.”

“Mungkin dia sedang membandingkan.”

Vivi membuka foto pertama, lalu kedua, lalu ketiga. Semua tiba-tiba terlihat lebih terbuka daripada lima menit lalu. Pada foto putih, rok pendeknya tampak terlalu pendek. Pada foto biru, bahunya terlihat seolah ia sengaja memamerkannya. Foto hijau paling parah. Potongan di pinggang yang tadi disebut kecil sekarang tampak sebesar jendela.

“Hapus,” katanya.

“Tidak bisa. Sudah dibaca.”

“Aku bisa memilih hapus untuk semua orang.”

Jocelyn mengambil ponsel dari tangannya. “Lalu suamimu akan melihat tulisan ‘pesan ini telah dihapus’ dan membayangkan sesuatu yang seratus kali lebih liar. Duduk.”

Vivi tetap duduk, meski kakinya ingin membawanya keluar dari mall dan menghilang ke kota lain.

Satu menit berlalu.

Sebastian tidak membalas.

Pramuniaga mendekat membawa tiga set pakaian renang baru dalam ukuran Vivi. “Apakah semuanya akan diambil, Bu?”

“Yang biru saja,” jawab Vivi cepat.

“Semuanya,” kata Jocelyn pada saat yang sama.

Pramuniaga memandang mereka bergantian.

“Dua,” putus Vivi. “Putih dan biru.”

“Tiga.”

“Joce.”

“Kalau dia memilih hijau, kamu mau kembali lagi?”

Vivi terdiam. Fakta bahwa pertanyaan itu berhasil membungkamnya terasa seperti pengkhianatan dari otaknya sendiri.

“Tolong siapkan ketiganya,” kata Jocelyn dengan senyum kemenangan.

Pramuniaga membawa kotak-kotak tersebut ke meja kasir. Vivi masih menunggu gelembung pengetikan muncul di percakapan WA.

Tidak ada.

Lima menit.

Ia menekan profil Sebastian untuk memastikan koneksi terakhir. Online.

“Dia sedang online,” gumamnya.

“Berarti hidup.”

“Tapi diam.”

“Vivi, laki-laki itu baru saja menerima tiga foto istrinya memakai pakaian renang. Beri otaknya waktu untuk kembali bekerja.”

Vivi menggigit bagian dalam pipi. “Bagaimana kalau dia menganggapku aneh?”

“Kalian sudah menikah hampir setahun.”

“Kami bukan pasangan biasa.”

“Itu masalahnya. Kamu sedang mencoba mengubahnya.”

“Bagaimana kalau dia merasa aku murahan?”

Jocelyn langsung berhenti bercanda. Ia meletakkan ponsel Vivi di atas telapak tangan sahabatnya.

“Dengar. Kamu mengirim foto tubuhmu sendiri kepada suamimu karena kamu mau. Itu bukan murahan. Kamu sudah memastikan privasi, memilih potongan yang membuatmu nyaman, dan berhak menarik batas kapan saja.”

Vivi menatap layar yang masih sunyi.

“Kalau dia mempermalukanmu karena itu,” lanjut Jocelyn, “masalahnya ada pada dia, bukan kamu.”

Vivi mengangguk pelan. Kata-kata itu membantu, tetapi tidak menghentikan rasa malu yang merayap sampai ke telinga.

Sepuluh menit.

Waktu selama itu biasanya cukup bagi Sebastian untuk melintasi setengah kota saat penyakit Vivi kambuh.

Hari ini, sepuluh menit terasa seperti setahun.

***

Di lantai teratas Gunawan Group, pintu ruang istirahat pribadi Sebastian terkunci.

Lampu utama mati. Hanya cahaya ponsel yang memotong gelap, memantulkan garis rahang pria yang duduk membelakangi pintu.

Tiga foto masih terbuka di layar.

Pesan suara Vivi diputar lagi.

Lalu sekali lagi.

Tidak ada jawaban yang diketik.

Di luar, sekretaris mengetuk dua kali. “Pak Sebastian, tim audit sudah siap. Rapat berikutnya dimulai lima menit lagi.”

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk sekali lagi, lebih pelan. “Pak?”

Suara Sebastian akhirnya terdengar dari balik pintu. Lebih berat daripada biasanya.

“Tunda tiga puluh menit.”

“Tapi seluruh direksi sudah berada di ruang rapat.”

“Kalau mereka tidak bisa menunggu, batalkan.”

Sekretaris menatap pintu tertutup. Selama empat tahun bekerja, ia belum pernah melihat Sebastian menunda rapat karena urusan pribadi. Bahkan demam tinggi hanya membuat rapat dipindahkan ke video call.

Hari ini, satu pesan dari Bu Vivian menutup pintu yang tak pernah tertutup pada jam kerja.

Di dalam, layar ponsel kembali menyala.

***

“Lima belas menit,” kata Vivi.

“Berhenti menghitung.”

“Aku tidak menghitung.”

“Kamu baru menyebut angkanya.”

Vivi mematikan layar dan memasukkan ponsel ke tas. Lima detik kemudian, ia mengambilnya lagi.

Jocelyn menghela napas. “Serahkan kepadaku sampai kita selesai membayar.”

“Kalau dia membalas?”

“Aku akan langsung memberitahu.”

“Jangan buka pesannya.”

“Aku tidak pernah membuka pesan pribadi orang.”

“Tadi kamu mengintip pesan makanku.”

“Itu berbeda. Tidak ada potensi konten dewasa.”

Vivi hampir tersedak udara.

Jocelyn merendahkan suara dengan ekspresi sangat serius. “Tenang. Laki-laki seperti Sebastian mungkin sedang menangani perasaannya.”

“Menangani bagaimana?”

“Kamu sudah dewasa. Pakai imajinasi.”

Wajah Vivi terbakar. “Dia tidak mungkin...”

“Benar. Pria dewasa yang mengunci diri setelah melihat foto istrinya pasti sedang berdoa.”

Vivi meraih ponselnya, tetapi Jocelyn mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil tertawa.

Dua puluh menit.

Mereka keluar dari ruang ganti menuju kasir. Pramuniaga menyebut jumlah pembayaran dan menawarkan pengiriman langsung ke rumah Gunawan. Vivi menolak. Ia memilih membawa sendiri tiga kotak itu, seolah barang-barang tersebut adalah bukti kejahatan yang tak boleh dilihat staf rumah.

“Kami juga punya luaran pantai,” kata pramuniaga sambil menunjukkan kain putih panjang yang ringan. “Bisa dipakai jika Ibu ingin lebih tertutup saat berjalan di area umum.”

Vivi menyentuh kainnya. Benda itu tidak mengubah pakaian renang yang sudah dipilih, tetapi memberinya kendali kapan ingin terbuka dan kapan ingin menutup tubuh.

“Aku ambil satu,” putusnya.

Jocelyn tidak menggoda kali ini. “Bagus. Rencana ini harus tetap membuatmu nyaman, bukan cuma membuat Sebastian kehilangan akal.”

Vivi menambahkan luaran itu ke belanjaannya. Kalimat sahabatnya mengingatkan bahwa ia tidak sedang mengikuti ujian untuk memenangkan perhatian pria. Ia boleh menggoda, berubah pikiran, atau berhenti kapan saja.

“Kirim saja,” saran Jocelyn.

“Tidak. Pak Yanto akan bertanya.”

“Pak Yanto sudah mengurus rumah konglomerat bertahun-tahun. Aku yakin pakaian renang bukan krisis terbesarnya.”

“Tetap tidak.”

Vivi membayar dengan kartu pribadinya. Ia tidak ingin transaksi ini muncul pada laporan kartu rumah tangga yang mungkin dilihat Sebastian sebelum ia siap.

Ia juga meminta struk digital dikirim ke surelnya sendiri, bukan akun keluarga Gunawan yang biasa dipakai staf rumah. Untuk pertama kalinya, godaan kecil ini sepenuhnya milik Vivi: pilihannya, uangnya, dan batas yang ia tentukan sendiri.

Tiga puluh menit.

Tak ada balasan.

Harapan kecil yang tadi berputar di dada Vivi turun perlahan. Mungkin ia salah membaca semua tanda. Mungkin pesan makan siang, genggaman tangan, dan tatapan pada bibirnya tak berarti seperti yang ia bayangkan.

Sebastian sejak awal sudah mengatakan tidak ingin menyentuhnya selain untuk pengobatan.

Vivi memasukkan ponsel ke dasar tas, lalu menaruh tiga kotak pakaian renang di atasnya.

“Sudahlah,” katanya dengan senyum tipis. “Anggap saja aku tidak pernah mengirim apa-apa.”

Tas itu tetap sunyi ketika ia berjalan menuju kasir keluar.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!