Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jebakan Whiskey Peak dan Teh Sore
Lautan Grand Line menyambut mereka dengan cuaca yang tidak masuk akal. Hujan salju turun di pagi hari, digantikan oleh panas terik di siang hari, dan badai petir menyambar di sore harinya. Bagi para pelaut biasa, ini adalah neraka navigasi. Namun bagi Kapal Bajak Laut Mugen, semua itu hanyalah gangguan kecil.
Menjelang senja, langit kembali cerah. Angin laut bertiup tenang membawa aroma kaktus dan tanah kering.
Sebuah pulau mulai terlihat di ujung cakrawala. Bentuknya sangat unik. Beberapa gunung batu menjulang tinggi dengan bentuk menyerupai pohon kaktus raksasa. Duri-duri berukuran masif menancap di permukaan gunung tersebut.
Nico Robin berdiri di ruang kemudi. Matanya menatap tajam ke arah pulau itu. Dia mengenali tempat ini dari informasi jaringan bawah tanah yang pernah dia baca di masa lalu.
“Itu adalah Pulau Kaktus. Kota yang ada di sana bernama Whiskey Peak,” ucap Robin memberikan laporan. Suaranya terdengar jernih hingga ke geladak belakang.
Mantan kapten bajak laut yang berdiri di geladak bawah langsung bersorak kegirangan.
“Akhirnya kita melihat daratan! Kita bisa beristirahat dan minum sepuasnya!” teriak mantan kapten itu dengan mata berbinar. Para kru lainnya ikut menyorakkan persetujuan. Mereka sangat merindukan tanah padat setelah dihantam cuaca gila Grand Line.
Kapal kayu dengan bendera tengkorak bermata Sharingan itu perlahan merapat ke pelabuhan dermaga kayu yang terlihat sangat terawat.
Kejadian aneh langsung menyambut mereka.
Puluhan penduduk kota berbaris di sepanjang dermaga. Mereka memainkan alat musik, menaburkan konfeti bunga, dan menyorakkan kata-kata sambutan yang meriah. Spanduk besar bertuliskan selamat datang pahlawan lautan dibentangkan di antara dua bangunan pelabuhan.
Mantan kapten bajak laut tertegun. Mulutnya terbuka lebar.
“Mereka... menyambut kita? Seorang bajak laut?” tanyanya tidak percaya.
Di atas haluan kapal, Uchiha Madara berdiri dengan tenang. Dia menatap kerumunan manusia yang sedang bersorak kegirangan itu dengan pandangan sedingin es abadi.
Madara tidak perlu menggunakan mata Sharingan untuk melihat kebusukan di balik senyuman mereka. Kenbunshoku Haki tingkat dasarnya telah menyebar menutupi seluruh area pelabuhan sejak kapal mereka berjarak lima ratus meter dari daratan.
Di mata spiritual Madara, pelabuhan itu tidak dipenuhi oleh penduduk kota yang ramah.
Pelabuhan itu dipenuhi oleh ratusan aura pembunuh yang disembunyikan dengan sangat amatir. Emosi keserakahan, kelicikan, dan niat mematikan menguar pekat dari setiap pria dan wanita yang sedang menaburkan bunga di bawah sana.
'Mereka menyembunyikan pisau di balik punggung dan racun di dalam cangkir,' batin Madara mengevaluasi dengan sangat bosan. 'Jebakan level rendahan yang bahkan tidak pantas digunakan untuk menangkap babi hutan.'
Madara melangkah menuruni papan titian. Dia mengabaikan sepenuhnya walikota palsu yang mencoba mengalungkan karangan bunga ke lehernya. Hawa dingin dari tubuh Madara membuat pria berpakaian rapi itu tanpa sadar mundur dua langkah, membiarkan sang dewa perang lewat tanpa tersentuh.
Pesta pora segera diadakan di alun-alun kota Whiskey Peak.
Penduduk kota mengeluarkan tong-tong berisi bir murah, potongan daging panggang berukuran raksasa, dan makanan berlimpah ruah. Para kru bajak laut Mugen yang bodoh langsung menelan umpan itu tanpa ragu. Mereka makan dengan rakus dan meminum alkohol hingga kesadaran mereka memudar.
Vinsmoke Reiju duduk di sudut meja panjang. Gadis berambut merah muda itu memegang sebuah gelas kayu berisi anggur merah.
Dia mendekatkan gelas itu ke hidungnya. Indera penciumannya yang telah dimodifikasi secara genetik langsung mendeteksi senyawa kimia asing di dalam cairan tersebut.
Obat tidur dosis tinggi yang dicampur dengan racun pelemah otot.
Reiju tersenyum tipis. Sebuah senyuman mematikan. Dia mengangkat gelas itu dan meminum seluruh isinya dalam satu tegukan panjang. Racun murahan seperti ini bahkan tidak bisa membuat perutnya terasa gatal. Tubuh biologisnya menelan racun itu dan mengubahnya menjadi energi tambahan.
Di seberang meja, Robin sedang membaca buku sambil menyesap kopi hitamnya. Dia telah menolak semua minuman yang ditawarkan penduduk kota. Dia tahu persis siapa orang-orang ini. Ini adalah sarang dari agen Baroque Works, sebuah organisasi pemburu hadiah rahasia. Jutaan Berries dari kepala bajak laut pemula adalah sumber pendapatan utama mereka.
Robin menoleh ke arah sebuah bangunan tinggi beratap datar di ujung alun-alun.
Uchiha Madara tidak ikut campur dalam pesta konyol tersebut. Pemuda berarmor merah itu telah meninggalkan keramaian sejak jam pertama. Dia memilih untuk duduk bersila di atas atap bangunan tertinggi itu, menjauhkan diri dari kebisingan manusia yang merusak ketenangannya.
“Tuan Madara tidak menyukai keramaian,” ucap Robin pelan.
Reiju meletakkan gelas kosongnya. Dia berdiri dari kursi kayunya.
“Aku akan menyeduhkan teh untuknya. Udara malam ini cukup dingin,” kata Reiju sambil melangkah menuju dapur umum yang ditinggalkan penduduk. Dia mengambil daun teh kering dari tas medisnya, tidak sudi menggunakan bahan makanan dari kota penuh jebakan ini.
Malam semakin larut. Bulan purnama bersinar terang di langit Whiskey Peak, memantulkan cahaya pucat ke atas duri-duri raksasa di gunung kaktus.
Suara musik dan tawa telah lama mati.
Alun-alun kota kini dipenuhi oleh dengkuran keras. Mantan kapten bajak laut dan seluruh krunya telah pingsan. Mereka tertidur pulas akibat obat penenang di dalam alkohol dan makanan mereka. Tubuh mereka bergelimpangan di atas meja, di tanah, dan di beranda bangunan.
Kesunyian malam yang mencekam mulai merayap mengambil alih.
Pintu-pintu rumah yang sebelumnya tertutup rapat perlahan terbuka tanpa suara.
Penduduk kota yang sebelumnya tersenyum ramah kini keluar dengan wajah yang berbeda. Senyum palsu mereka telah digantikan oleh seringai buas seorang pembunuh bayaran. Mereka membawa pedang panjang, kapak berkarat, dan senapan api.
Sekitar dua ratus orang berkumpul mengepung alun-alun kota dan pelabuhan.
Seorang pria berambut keriting dengan pakaian aneh dan seorang wanita berotot besar memimpin kerumunan tersebut. Mereka adalah pemimpin operasi di kota ini.
Pria berambut keriting itu memberikan isyarat tangan. Ratusan pemburu hadiah mulai merayap mendekati tubuh para kru yang sedang tertidur lelap. Mereka bersiap untuk memenggal kepala korban mereka tanpa perlawanan, sebuah prosedur standar yang selalu berhasil mereka lakukan selama bertahun-tahun.
Namun, operasi malam ini akan menjadi yang terakhir bagi mereka.
Di atas atap gedung tertinggi, Madara duduk dengan mata tertutup.
Angin malam meniup rambut hitam panjangnya. Sebuah cangkir porselen putih berada di tangan kanannya. Asap tipis mengepul dari permukaan teh panas di dalam cangkir tersebut. Aromanya cukup menenangkan. Reiju baru saja membawakan teh ini beberapa menit yang lalu sebelum kembali ke bawah.
Madara tidak membuka matanya, namun Kenbunshoku Haki miliknya menangkap setiap pergerakan di bawah sana.
Dua ratus nyawa bergerak mendekati krunya. Ratusan niat membunuh yang lemah, tumpul, dan sangat menyedihkan.
Madara membawa cangkir teh ke depan bibirnya. Dia menghirup aroma daun teh itu perlahan.
Dia membuka kelopak matanya. Iris hitamnya menatap lurus ke bawah, menembus bayangan malam.
Di alun-alun, Robin dan Reiju adalah satu-satunya anggota bajak laut Mugen yang tidak tertidur. Keduanya berdiri saling membelakangi di tengah tumpukan kru yang mendengkur. Mereka telah menyadari pergerakan para pemburu hadiah sejak langkah pertama.
Madara menatap mata Robin dari ketinggian.
Tidak ada kata yang terucap. Tidak ada perintah verbal yang memecah kesunyian malam.
Madara hanya memberikan satu tatapan datar. Sebuah isyarat mata yang sangat sederhana namun mengandung otoritas absolut.
Bersihkan sampah-sampah itu dari pandanganku.
Robin menerima pesan itu dengan sangat jelas. Gadis arkeolog itu tersenyum dingin. Dia menyukai cara kaptennya bekerja. Tidak perlu buang waktu berbicara dengan musuh rendahan.
Robin menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Postur andalannya.
“Ojos Fleurs,” bisik Robin dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Di atap-atap bangunan rendah di sekitar alun-alun, puluhan penembak jitu Baroque Works sedang membidikkan senapan mereka ke arah Robin dan Reiju. Jari mereka sudah bersiap menarik pelatuk.
Namun, sebuah fenomena anomali yang indah sekaligus mematikan terjadi.
Kelopak bunga berwarna merah muda bermekaran di udara dari ketiadaan. Kelopak bunga itu menempel di punggung puluhan penembak jitu tersebut.
Dari kelopak bunga itu, sepasang tangan manusia tumbuh menyembul keluar. Tangan-tangan ilusi yang diciptakan dari kekuatan Buah Iblis Hana Hana no Mi.
Tangan-tangan itu bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan tersebut melingkar erat di leher para penembak jitu, mengunci rahang dan pangkal tengkorak mereka.
Para penembak jitu melebarkan mata karena terkejut. Mereka tidak bisa berteriak karena pita suara mereka tercekik secara paksa.
Robin memejamkan matanya, memfokuskan kekuatan fisiknya ke dalam tangan-tangan ilusi tersebut.
“Clutch.”
Krak. Krak. Krak.
Suara derak tulang leher yang patah terdengar serentak di seluruh penjuru kota. Suaranya kering dan tajam, membelah kesunyian malam layaknya ranting kering yang diinjak secara bersamaan.
Puluhan penembak jitu itu mati dalam hitungan detik. Kepala mereka terkulai tidak wajar. Tubuh mereka merosot jatuh dari atap bangunan tanpa suara, menabrak jalanan berdebu seperti boneka kain yang putus talinya.
Kengerian langsung menyergap pasukan Baroque Works di bawah.
Pria berambut keriting itu menoleh dengan panik melihat anak buahnya berjatuhan dari atap.
“A-Apa yang terjadi?! Siapa yang menyerang kita?!” teriaknya histeris, kehilangan seluruh ketenangannya.
Dia memutar kepalanya kembali ke tengah alun-alun.
Nico Robin masih berdiri di tempatnya dengan tangan menyilang. Namun, gadis berambut merah muda yang tadinya berdiri di sebelah Robin kini telah menghilang.
Angin malam berdesir membawa hawa mematikan.
Vinsmoke Reiju melesat bagaikan bayangan hantu. Kecepatan fisik aslinya yang telah dimodifikasi jauh melampaui kemampuan mata manusia biasa untuk menangkapnya. Dia bergerak menyusuri celah di antara kerumunan pemburu hadiah.
Seorang pria besar dengan pedang ganda mencoba menebas kepala mantan kapten bajak laut yang sedang tidur.
Sebelum pedang itu turun, Reiju muncul tepat di hadapannya.
Kaki ramping Reiju melesat dalam sebuah tendangan menyamping. Kaki itu diselimuti oleh kabut tipis berwarna merah muda cerah.
Tendangan itu menghantam pedang baja milik pemburu hadiah.
Sshhh.
Suara besi mendesis terdengar nyaring. Kabut merah muda itu bukanlah sekadar aura visual. Itu adalah racun pelebur logam dan jaringan otot tingkat tinggi.
Pedang baja itu meleleh seketika saat bersentuhan dengan sepatu Reiju. Lelehan logam panas dan racun memercik mengenai tangan pria besar tersebut.
Pria itu menjerit histeris. Daging di tangannya melepuh dan berubah warna menjadi ungu pekat. Racun mematikan itu meresap langsung ke dalam aliran darahnya melalui pori-pori kulit. Pria itu jatuh ke tanah, tubuhnya kejang-kejang dengan busa keluar dari mulutnya. Dia lumpuh total dalam waktu kurang dari dua detik.
Reiju tidak berhenti di sana.
Dia menari di tengah ratusan pemburu hadiah bersenjata. Gerakannya sangat elegan, memadukan Taijutsu pembunuh khas Germa dengan racun mematikan miliknya.
Setiap kali kakinya menyentuh senjata, senjata itu meleleh. Setiap kali kabut beracunnya mengenai kulit musuh, musuh itu langsung tumbang dengan otot yang melebur.
Ini bukan lagi penyergapan. Ini adalah pembantaian sepihak.
Para pemburu hadiah yang tadinya tertawa arogan kini menangis ketakutan. Mereka membuang senjata mereka dan mencoba berlari menjauh. Mereka menyadari bahwa mereka tidak sedang menyergap sekelompok bajak laut pemula. Mereka baru saja membangunkan dua iblis wanita dari kedalaman neraka.
“Lari! Mereka monster!” teriak salah satu pemburu hadiah sambil berlari ke arah pelabuhan.
Robin tidak membiarkan satu pun musuh melarikan diri.
Dia menumbuhkan tangan-tangannya di atas tanah. Tangan-tangan ilusi itu meraih pergelangan kaki para pemburu hadiah yang berlari, membuat mereka jatuh tersungkur hingga wajah mereka menghantam batu jalanan hingga hancur.
Reiju melompat ke udara. Dia melakukan putaran vertikal, menyebarkan kabut beracunnya ke area yang lebih luas.
Puluhan pemburu hadiah yang mencoba mengepungnya dari belakang langsung terbatuk keras. Mata mereka memerah, tenggorokan mereka terasa terbakar. Mereka merosot ke tanah satu per satu, kehilangan kemampuan untuk bernapas karena paru-paru mereka dilumpuhkan oleh racun neurotoksin.
Jeritan kesakitan, suara tulang patah, dan dentingan logam yang jatuh memenuhi malam di Whiskey Peak.
Darah mengalir membasahi alun-alun kota, bercampur dengan sisa-sisa minuman keras dan makanan pesta yang tumpah. Ratusan pemburu hadiah elit dari Baroque Works dihancurkan hingga tidak tersisa dalam waktu kurang dari lima menit.
Di atas atap gedung tertinggi, Uchiha Madara masih duduk bersila.
Dia tidak beranjak sedikit pun dari posisinya sejak awal pembantaian itu dimulai. Pelindung dada merahnya sama sekali tidak tersentuh oleh debu pertarungan.
Dia memandang ke bawah dengan tatapan datar.
Mata hitamnya tidak menunjukkan rasa puas, tidak juga rasa kasihan. Dia melihat gerakan Robin dan Reiju dengan penilaian objektif. Keduanya melakukan tugas membersihkan sampah dengan cukup rapi. Tidak ada tenaga yang terbuang percuma. Tidak ada keraguan dalam membunuh. Sesuai dengan standar bawahan yang bisa dia toleransi.
Madara mengangkat cangkir porselen di tangannya.
Dia meniup pelan permukaan teh tersebut, menyingkirkan uap panasnya. Hawa dingin malam membuat teh itu berada pada suhu yang sempurna untuk diminum.
Dia mendekatkan tepi cangkir ke bibirnya, lalu mengambil satu tegukan panjang.
Madara menelan cairan hangat itu perlahan.
Dia memutar teh itu di lidahnya, menilai rasanya.
Alis Madara berkerut sedikit. Ekspresi wajahnya yang selalu datar kini menunjukkan sedikit ketidakpuasan.
“Teh ini terlalu manis,” keluh Madara dengan suara pelan. Nada suaranya dipenuhi oleh kekecewaan yang sangat nyata terhadap takaran gula yang diberikan oleh Reiju.
Kata-kata itu diucapkan dengan sangat pelan, namun suasana malam yang kini kembali sunyi membuat suara baritonnya terbawa oleh angin.
Di alun-alun kota, beberapa pemburu hadiah yang masih sekarat mencoba mengangkat kepala mereka dengan susah payah. Tubuh mereka tidak bisa digerakkan karena racun dan patah tulang. Mata mereka menatap dengan ngeri ke arah sumber suara tersebut.
Mereka melihat siluet pemuda berarmor merah yang duduk di bawah cahaya bulan purnama.
Pemuda itu memegang cangkir teh. Dia sedang bersantai.
Fakta mengerikan menghantam sisa-sisa kewarasan para pemburu hadiah itu seperti palu godam.
Dua wanita iblis yang baru saja membantai ratusan rekan mereka dalam hitungan menit, ternyata hanyalah bawahan. Mereka hanyalah ujung tombak yang dikendalikan oleh pria yang sedang duduk minum teh di atas atap tersebut.
Pria itu bahkan tidak repot-repot berdiri atau mencabut senjatanya. Dia memberikan perintah pembantaian massal seolah-olah dia sedang menyuruh pelayan menyapu debu di teras rumahnya.
Rasa takut yang jauh lebih dalam dari rasa sakit fisik mencengkeram jiwa para pemburu hadiah yang sekarat.
Mereka menyadari jurang perbedaan kekuatan yang sangat absolut. Mereka menyergap iblis yang sedang beristirahat, dan iblis itu bahkan tidak menganggap mereka cukup layak untuk mengganggu waktu minum tehnya.
“M-Monster,” rintih seorang pemburu hadiah dengan darah keluar dari mulutnya. “B-Bos Besar yang Santai. Dia memerintahkan kematian hanya dengan tatapan mata.”
Julukan itu terucap dari keputusasaan seorang pria yang mendekati ajalnya. Bos Besar yang Santai. Sebuah gelar yang mencerminkan dominasi mutlak dan arogansi absolut dari Uchiha Madara di mata musuh-musuhnya.
Di bawah sana, Robin dan Reiju telah menyelesaikan tugas mereka.
Alun-alun Whiskey Peak kini menjadi kuburan terbuka. Tidak ada lagi ancaman yang tersisa. Keduanya mengatur napas dan merapikan pakaian mereka, memastikan tidak ada noda darah yang menempel di baju mereka.
Reiju menatap ke arah atap tempat Madara duduk. Dia mendengar keluhan kaptennya tentang teh yang terlalu manis.
Gadis berambut merah muda itu tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang tulus. Dia membuat catatan mental untuk mengurangi takaran madu alami pada seduhan teh berikutnya. Melayani pria yang sangat menuntut ini ternyata memberikan kepuasan tersendiri bagi insting pengabdiannya.
Tiba-tiba, suara mekanis tanpa emosi berdenting di dalam ruang kesadaran Madara.
Sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya.
[Pemberitahuan Sistem.]
[Faksi Baroque Works cabang Whiskey Peak telah dihancurkan sepenuhnya.]
[Level ancaman Bajak Laut Mugen di jalur awal Grand Line mengalami peningkatan.]
[Poin Reputasi +10.000.]
Madara menatap layar notifikasi itu dengan bosan.
Angka sepuluh ribu poin reputasi terlalu kecil untuk membuatnya tertarik. Menghancurkan kelompok pemburu hadiah amatir seperti ini tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap akumulasi kekuatannya. Dia membutuhkan target yang jauh lebih besar. Sesuatu yang akan memaksa lautan ini untuk mengingat kembali teror dari namanya.
Madara meletakkan cangkir tehnya yang masih setengah penuh di atas genteng tanah liat di sebelahnya.
Dia tidak tertarik menghabiskan teh yang tidak sesuai dengan seleranya.
Dia berdiri secara perlahan. Jubah merahnya berkibar tertiup angin malam. Dia menatap ke arah lautan Grand Line yang gelap gulita di kejauhan.
'Ini hanya pemanasan kecil,' batin Madara. 'Dunia ini masih menyembunyikan monster-monster sejatinya. Aku akan mendatangi mereka satu per satu, dan menghancurkan semua kebanggaan mereka.'
Madara memutar tubuhnya. Dia melangkah menuju tepi atap, lalu menjatuhkan dirinya ke bawah dengan gerakan yang sangat anggun. Pendaratannya di alun-alun kota tidak menghasilkan suara sedikit pun, seolah-olah hukum gravitasi tidak berlaku pada tubuhnya.
Dia berjalan melewati lautan mayat dan pemburu hadiah yang sekarat tanpa menoleh ke bawah. Sandal kayunya melangkah dengan pasti menuju kapalnya yang berlabuh di dermaga.
“Bersihkan senjata kalian dan kembali ke kapal,” perintah Madara kepada Robin dan Reiju yang sudah bersiap menyambutnya.
“Kita berangkat saat matahari terbit. Aku tidak ingin mencium bau darah busuk di tempat ini lebih lama lagi.”
Robin dan Reiju mengangguk serentak. Keduanya mengikuti di belakang Madara dengan penuh kepatuhan.
Sementara itu, mantan kapten bajak laut dan para krunya masih tertidur mendengkur dengan nyenyak di tengah alun-alun, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka nyaris mati, dan tidak tahu bahwa kapten mereka baru saja menorehkan teror pertama Bajak Laut Mugen di buku sejarah Grand Line.