NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Clara duduk diam di kursi plastik dekat jendela kontrakannya. Hujan gerimis di luar membuat udara terasa dingin. Di atas meja kecil sudah ada beberapa kotak makanan yang dibawakan Desti dan Doni. Aroma ayam goreng dan sup hangat memenuhi ruangan sempit itu. Perut Clara sebenarnya sudah lapar sejak siang, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.

Desti memperhatikan Clara yang masih diam sambil melipat tangan.

“Kak mau menatap makanannya sampai besok?” tanyanya pelan.

Clara mendengus kecil. “Aku cuma belum lapar.”

Doni yang berdiri dekat pintu langsung menatap Clara tanpa percaya. “Dari tadi perutmu bunyi tiga kali.”

Wajah Clara langsung berubah kesal.

“Kamu memperhatikan sampai begitu?”

“Sulit tidak memperhatikan. Suaranya hampir seperti alarm kebakaran.”

Desti langsung menahan tawa. Sedangkan Clara menatap Doni tajam sebelum akhirnya membuka kotak makanan dengan kesal. Namun begitu mulai makan, gerakannya justru sangat cepat. Beberapa menit kemudian nasi dan lauk di depannya hampir habis.

Desti tersenyum kecil melihat itu. “Tadi katanya tidak lapar.”

Clara langsung berhenti mengunyah sesaat lalu menjawab cepat, “Aku makan supaya tidak pingsan saja.”

“Tentu,” gumam Doni datar. “Manusia memang biasanya makan untuk olahraga mulut.”

Clara malas meladeni. Meski kesal pada Doni, dia harus mengakui makanan itu sangat membantunya. Sejak tinggal di kontrakan, dia mulai sadar harga makanan tidak semurah yang dia kira.

Setelah selesai makan, Clara menyender pelan di kursinya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, perutnya terasa nyaman.

Doni kemudian menarik kursi dan duduk tidak jauh darinya.

“Clara,” katanya serius.

Clara menatap malas. “Apa lagi?”

“Kamu butuh pekerjaan?”

Pertanyaan itu membuat Clara diam sesaat. Harga dirinya sebenarnya ingin langsung menolak. Namun keadaan memaksanya jujur. Dia tidak mungkin bertahan lama tanpa uang.

Akhirnya Clara mengangguk pelan.

Desti terlihat lega. “Nah, begitu lebih bagus. Dari kemarin aku bilang kamu harus mulai cari kerja.”

Clara mengabaikan ucapan itu. Tatapannya justru tertuju pada Doni.

“Kamu mau menertawakan aku sekarang?”

Doni mengernyit. “Untuk apa?”

“Karena aku akhirnya jadi miskin seperti ini.”

Doni bersandar santai. “Aku tidak punya waktu sebanyak itu untuk menikmati penderitaanmu.”

“Mulutmu tetap menyebalkan.”

“Dan kamu tetap keras kepala. Kamu ternyata sangat konsisten.”

Desti memijat pelipisnya sendiri. “Kalian kalau bicara selalu seperti orang mau duel.”

Clara mendengus pelan.

Doni kembali bicara dengan nada lebih serius. “Ayahmu tidak memberi uang lagi?”

Clara menunduk sesaat sebelum menjawab pelan, “Awalnya diberi.”

“Lalu?”

“Habis.”

Doni menatap Clara cukup lama. “Secepat itu?”

Clara langsung merasa malu sendiri.

“Aku tidak terbiasa hidup hemat,” katanya lirih. “Banyak uang habis untuk makan dan transportasi. Taksi online mahal.”

Doni menghela napas panjang sambil menggeleng pelan.

“Pak Agung benar,” gumamnya.

Clara langsung menatap tajam. “Benar soal apa?”

“Kalau kamu tidak pernah tahu susahnya cari uang.”

Clara ingin marah, tetapi tidak bisa membantah. Karena kenyataannya memang begitu. Selama ini dia tinggal memakai uang tanpa pernah memikirkan bagaimana ayahnya mendapatkannya.

Desti mencoba mengalihkan suasana.

“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang Kak Clara mau belajar.”

Doni mengangguk kecil lalu berkata, “Aku sebenarnya punya pekerjaan untukmu.”

Mata Clara langsung sedikit berbinar.

“Pekerjaan apa?”

“Penjaga toko baju.”

Ekspresi Clara langsung berubah datar.

Doni melanjutkan, “Pemiliknya teman ibu saya. Namanya Bu Ayu. Orangnya baik dan tokonya cukup ramai.”

Desti ikut menimpali dengan semangat.

“Iya, Bu Ayu baik sekali. Dulu aku pernah bantu jaga toko waktu liburan sekolah. Beliau tidak galak.”

Namun Clara terlihat ragu.

“Jadi penjaga toko?”

“Memangnya kenapa?” tanya Doni.

Clara menggigit bibir pelan sebelum menjawab, “Gajinya pasti kecil.”

“Lumayan untuk pemula.”

“Aku harus bayar kontrakan, makan, transportasi juga.”

Doni menatap Clara tanpa bicara beberapa detik.

“Kamu masih memilih pekerjaan?”

“Aku cuma realistis.”

“Tidak,” jawab Doni tenang. “Kamu masih belum terbiasa turun dari kehidupan nyamanmu.”

Kalimat itu membuat Clara terdiam lagi.

Ruangan menjadi sunyi beberapa saat. Suara gerimis di luar terdengar lebih jelas. Clara memandang lantai sambil memainkan jarinya sendiri.

Desti kemudian duduk di samping Clara.

“Kalau begitu kenapa tidak kerja di perusahaan ayah kakak saja?”

Clara langsung mengangkat kepala cepat.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

Clara tampak ragu menjawab. Namun akhirnya dia berbicara pelan.

“Ayah memang menyuruh aku kerja di perusahaan kalau mau dapat uang bulanan lagi.”

“Lalu masalahnya apa?”

Clara menarik napas panjang.

“Aku malu.”

Doni mengangkat alis. “Malu?”

“Kalau orang-orang tahu aku diusir hidup mandiri seperti ini bagaimana?”

Desti langsung menggeleng cepat.

“Itu bukan hal memalukan, Kak.”

“Buat kamu mungkin tidak.”

“Justru yang memalukan kalau Kakak terus minta uang tanpa mau bekerja.”

Ucapan Desti membuat Clara langsung diam.

Desti melanjutkan dengan lembut, “Banyak orang kerja keras untuk hidup. Tidak ada yang salah dengan itu.”

Clara menunduk pelan.

Seumur hidupnya dia selalu hidup nyaman. Semua kebutuhannya tersedia tanpa perlu meminta dua kali. Karena itu dia tidak pernah membayangkan dirinya akan duduk di kontrakan sempit sambil memikirkan biaya makan esok hari.

Doni kemudian ikut bicara, kali ini nadanya tidak setajam biasanya.

“Pak Agung juga tidak benar-benar membuangmu.”

Clara perlahan menatapnya.

“Maksudmu?”

“Beberapa hari ini beliau sering murung.”

Clara terlihat sedikit terkejut.

Doni melanjutkan, “Di kantor beliau lebih banyak diam. Bahkan beberapa kali saya lihat beliau termenung sendiri.”

Clara mulai merasa tidak nyaman mendengarnya.

“Ayah tidak mungkin memikirkan aku.”

Doni tersenyum tipis.

“Kamu terlalu buruk menilai ayahmu sendiri.”

Clara terdiam.

“Pak Agung pernah cerita,” lanjut Doni, “kalau beliau sangat menginginkan anak perempuan.”

Mata Clara perlahan berubah bingung.

“Dulu sebelum kamu lahir, katanya beliau selalu berharap punya putri yang bisa dimanja.”

Clara tidak bicara.

“Makanya beliau terlalu memanjakanmu,” tambah Doni. “Sampai akhirnya beliau sadar itu salah.”

Untuk pertama kalinya Clara tidak membalas dengan kemarahan. Dadanya justru terasa aneh. Dia teringat bagaimana ayahnya selalu membelikannya apa pun yang dia mau. Bahkan ketika Clara marah atau bersikap kasar, ayahnya tetap mengalah.

Selama ini Clara selalu menganggap itu hal biasa.

Namun sekarang, setelah hidup sendiri, dia mulai sadar tidak semua orang mendapatkan perhatian seperti itu.

Desti memegang tangan Clara pelan.

“Orang tua Kakak pasti sayang sama Kakak.”

Clara menggigit bibirnya sendiri.

“Tapi ayah mengusir aku.”

“Bukan mengusir,” kata Desti lembut. “Beliau ingin Kakak belajar.”

Doni mengangguk setuju.

“Kalau benar-benar tidak peduli, beliau tidak akan memberimu tempat tinggal, uang awal, dan kesempatan kembali kerja.”

Clara memejamkan mata sebentar.

Entah kenapa tenggorokannya terasa berat. Dia membenci kenyataan bahwa ucapan Doni masuk akal. Padahal biasanya dia selalu ingin membantah pria itu.

Desti tersenyum kecil.

“Lagipula kerja di perusahaan ayah Kakak tidak buruk.”

Clara masih diam.

“Kakak juga sudah pernah datang ke sana berkali-kali,” lanjut Desti. “Jadi tidak perlu terlalu takut.”

“Aku takut ditertawakan.”

“Semua orang terlalu sibuk memikirkan hidup mereka sendiri,” jawab Doni datar. “Tidak ada yang punya waktu khusus untuk menertawakanmu setiap hari.”

Clara melirik kesal. “Cara bicaramu benar-benar tidak bisa dibuat lembut?”

“Saya lahir bukan untuk menjadi pujangga.”

Desti kembali menahan tawa kecil.

Meski menyebalkan, Clara sadar Doni sebenarnya sedang berusaha membantunya. Dan itu membuat Clara semakin merasa bersalah mengingat semua perlakuannya dulu pada pria itu.

Dulu dia sering meremehkan Doni hanya karena statusnya sebagai bawahan ayahnya. Bahkan Clara pernah dengan sengaja mempermalukannya di depan orang lain.

Namun sekarang justru Doni yang datang membawakan makanan dan menawarkan pekerjaan.

Clara menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara pelan.

“Kalau aku kerja di perusahaan ayah…”

Clara terdiam sesaat lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Wajah Desti langsung cerah.

“Nah begitu dong.”

Doni juga terlihat sedikit lega meski ekspresinya tetap tenang.

“Itu keputusan yang lebih masuk akal.”

Clara menatap Doni pelan.

“Kamu senang sekali mengatur hidup orang lain.”

“Saya cuma tidak ingin Pak Agung makin stres memikirkan putrinya yang bisa bangkrut hanya karena terlalu sering pesan taksi online.”

Clara langsung memalingkan wajah karena malu.

Desti tertawa kecil melihat reaksi Clara.

“Besok kita beli kebutuhan dulu,” katanya semangat. “Lalu Clara bisa mulai kerja.”

Clara mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, dia merasa sedikit tenang. Masa depannya memang masih berantakan, tetapi setidaknya sekarang dia tidak sendirian.

Sedangkan Doni diam-diam memperhatikan Clara beberapa saat.

Wanita manja dan angkuh yang dulu selalu memandang rendah orang lain itu akhirnya mulai berubah. Meski masih keras kepala dan gengsinya setinggi gedung bertingkat, setidaknya Clara mulai belajar mengakui kesalahannya sendiri.

Dan anehnya, melihat perubahan itu membuat Doni merasa lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!