Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^12
Ketidak sengajaan pasti akan terjadi pada siapapun, dan hal itu kini tengah hadir di antara para wali murid yang bertamu di dalam satu ruangan karena sebuah undangan dari pihak sekolah. Terutama kepala sekolah, yang tidak biasa mengumpulkan wali murid untuk berdiskusi.
Tapi di balik pertemuan tidak diduga itu malah membuat satu di antara banyak wali murid merasa bersyukur. Karena semesta begitu baik memberinya takdir, yang selama ini ia inginkan. Menatap langsung, melihat langsung, sosok wanita yang sudah 15 tahun ini tidak bertemu dengannya.
Betapa senangnya saat bertatapan langsung seperti ini. Walau, menghindar selalu wanita itu tunjukkan saat kontak mata itu bertemu.
"Aku menemukan mu." Ucapnya dalam hati, pandangan mata tak luput dari seorang wanita yang sangat terlihat dengan jelas. Berusaha menghindar dari kontak mata milik Diandra.
Saat itu juga seorang wanita setengah baya masuk kedalam ruangan dengan napas yang memburu, ampuh membuat semua pasang mata di sana kompak menoleh kearah wanita itu.
"Maaf saya terlambat." Cetusnya sembari mengontrol napas. Pandangan melihat sekitar, di mana para wanita anggun yang tengah berkumpul untuk membahas suatu hal yang seharusnya tidak mereka bahas.
Akan tetapi, satu peraturan tidak tertulis mengharuskan mereka hadir di dalam ruangan yang memang khusus untuk para wali murid tertentu.
Seperti saat ini, hanya ada 20 wali murid di angkatan tahun ajaran kedua. Bisa di bilang, mereka para wali dari kelas 2.
Para wanita setengah baya yang terus mendidik anak-anak mereka, agar berada di posisi pertama. Karena bagi mereka, nilai begitu penting. Sangat membantu anak-anak mereka melanjutkan pendidikan anak-anak mereka setelah lulus dari sekolah menengah atas. Tanpa peduli, jika tekanan yang mereka berikan akan sangat merusak mental anak-anak mereka.
"Untuk apa dia ada di sini?" Rendah seorang wanita yang mencepol setengah rambutnya.
"Putriku pernah bilang padaku, jika anak dari wanita itu sanggup mengalahkan 195 murid seangkatannya." Sahut wanita yang duduk disebelah kananya.
"Putrinya masuk ke 5 besar?" Sedikit terkejut wanita itu memberi balasan.
Wanita rambut sebahu mengangguk sembari bergumam, sebelum memberi tanggapan. "Bukankah anak itu bisa di katakan sebagai salah satu murid berpengaruh di sekolah ini?"
Diam tidak memberi respon, karena rasa mendidih terus mengusai benaknya. Hanya sebuah rasa iri yang berakhir tidak suka. Akan peringkat yang di dapatkan anak dari wanita tidak memiliki posisi itu.
Tidak butuh lama, seorang wanita yang terlihat sudah memasuki kepala 5 kini baru saja masuk ke dalam ruangan, yang membuat seluruh wali murid berdiri dan mengangguk sekilas untuk memberi salam. Sama halnya dengan kepala sekolah. Tersenyum, mengangguk sekilas.
"Jika saya terlambat tolong di maafkan. Karena tidak butuh waktu sedikit untuk mengatur jadwal para guru." Ujar kepala sekolah, setelah tiba di depan meja.
Kembali menganggukkan sekilas kepalanya untuk memina maaf, sebelum duduk di kursinya yang di mana diikuti para wali murid.
Sebentar melihat para wali murid dengan lengkungan sempurna yang menghiasi wajah keriputnya. "Kita akan langsung mulai ke intinya, karena itu tidak akan membuang banyak waktu."
Saat itu salah seorang guru wanita membagikan lembar kertas kepada para wali murid yang menerimanya dengan lapang dada.
"Kalian bisa membacanya terlebih dahulu." Imbuh sang kepala sekolah.
"Study wisata?" Sangat rendah, hingga siapapun tidak dapat mendengar gumamannya. Vanda. wanita yang sempat menjadi bahan pembicaraan karena anaknya masuk ke dalam 5 besar.
"Bukankan tiga bulan yang lalu anak-anak sudah melakukan study wisata? Dan saat ini anak-anak harus melakukannya lagi?" Sangat hati-hati, wanita yang tidak begitu menonjol berani membuka suara untuk bertanya. Dan itu membuat beberapa orang di sana mengangguk, menunggu tanggapan dari kepala sekolah.
"Memang benar." Diam sejenak, kepala sekolah membenarkan posisi duduknya sebenar sebelum membuka suaranya kembali. "Itu hanya saran dari pihak sekolah. Jika keputusan akhir nanti banyak yang tidak setuju, pihak sekolah tidak akan melanjutkannya lagi. Karena pihak sekolah hanya ingin memanfaatkan waktu anak-anak."
"Dari pada mereka libur sekolah, dan berlajar di rumah. Bukankah lebih baik mereka melakukan study wisata? Dan belum tentu, anak-anak meluangkan waktu mereka untuk belajar saat libur sekolah?" Sambung kepala sekolah. Melihat beberapa wali murid di hadapanya.
"Pihak sekolah hanya ingin anak-anak memanfaakan waktu mereka dengan melakukan hal yang positif dan bermanfaat. Apalagi saat ini, kelas tiga tengah menghadapi ujian akhir sekolah. Jadi kelas dua dengan kelas satu pasti akan banyak liburnya." Tambah kepala sekolah yang berusaha meyakinkan para wali murid.
Karena jika mereka setuju, keuntungan itu tidak hanya pihak sekolah yang dapat, mereka pun juga akan menikmati keuntungan itu. Terutama anak-anak mereka.
"Bagaimana dengan kelas satu? Apa mereka juga mengadakan study wisata?" Tanya salah satu di antara mereka, di mana seorang wanita yang duduk sebelah kanan wanita bercepol setengah.
Tidak langsung memberi jawaban, kepala sekolah melempar senyum terlebih dahulu. "Iya, mereka juga melakukannya."
"Bukankah kita harus mendiskusikannya bersama para wali murid yang lain?kenapa hanya ada 20 wali murid saja di sini? Bukankah hal seperti ini tidak adil bagi orang lain?" Cetus Diandra yang baru bisa mengalihkan pandangan matanya dari sosok wanita di depan sana.
"Mungkin itu terlihat memang tidak adil, tapi itu akan sangat menguntungkan bagi kita. Terutama anak-anak." Respon dari wanita yang mencepol setengah rambutnya. Dia wanita yang telah melahirkan Austyn.
"Bukankah seperti itu kepala sekolah?" Sambungnya dengan pandangannya beralih menatap kepala sekolah sembari menampilkan lengkungan tidak sempurna.
Dan hal itu sangat ampuh merubah ekspresi Diandra, yang sulit untuk di artikan saat ini. Wanita itupun juga harus menahan diri agar tetap tenang, tidak mengelurkan kalimat tidak baik. Karena itu mungkin akan berdampak buruk bagi putrinya. Yuna.
...ʚɞ...
Satu-persatu para wali murid mulai keluar dari ruangan dengan raut wajah yang berbeda.
Sedangkan Diandra sendiri kini bernar-benar menampilkan senyum menawannya untuk kepala sekolah. Berhenti di depan ruangan dengan raut wajah yang berseri. "Jika keputusannya seperti itu, saya akan sangat setuju. Karena posisi seperti itu akan mudah jika mendapat sekutu seperti anda. Apalagi putri saya benar-benar berada di peringkat pertama di sekolah ini. Dan saya sangat harap anda membantunya."
"Anda tidak perlu khawatir, pihak sekolah akan merawat putri anda. Karena Yuna benar-benar sangat pandai. Dan berkat Anna juga nama sekolah semakin bersinar." Akhir kepala sekolah tanpa melunturkan senyumannya. Sebelum melangkah pergi dari hadapan Diandra.
Dan hal itu ternyata ampuh membuat sesorang tersenyum kecut.
"Ternyata kau tidak berubah sama sekali, Diandra." Heran orang itu. Vanda. Kini berdiri berhadapan dengan Diandra.
"Jika itu menyangkut masa depan putriku, aku akan melakukan segalanya. Apapun itu caranya." Begitu santai tanpa memiliki beban, Diandra memberi balasan.
"Tapi, tidak bisakah kau memikirkan yang lain juga? Bagaimana dengan para wali murid yang tidak ada di dalam ruangan itu? Apa yang akan mereka pikirkan tentang sekolah ini? Apa kau_"
"Kenapa?" Cepat Diandra, menyela perkataan dari Tere. "Kau tidak memiliki banyak uang untuk hal itu?"
"Ini bukan masalah banyak uang atau tidak. Anak-anak sudah melakukan study wisata tiga bulan yang lalu. Apa mereka harus melakukannya lagi. Bukannkah lebih baik belajar di rumah? Dan, study wisata saat ini akan membantu mereka masuk universitas? Apa kalian ingin bermain curang?" Sungut Diandra yang merasa sedikit kesal, dengan keputusan akhir dari diskusi hari ini. Dan sayangnya, Vanda juga tidak bisa menaruh kesalahan itu pada Diandra. Karena keputusan final telah disetujui oleh 19 dari 20 wali murid yang hadir di sana. Hanya Vanda yang tidak setuju dengan hal itu. Dan berakhir, Vanda menanggung kekalahan itu.
Tersenyum kecil seraya mengikis jarak. Diandra melupakan niat awalnya yang ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Karena ini untuk masa depan putrinya. "Memperluas relasi itu sangat penting. Karena kesuraman itu bisa datang kapan pun. Jadi, ikutilah jika ingin hidup anak itu lebih baik darimu."
Singkatnya senyum, Diandra memundurkan langkah untuk memberi jarak. "Dan kau tahu bukan, jika wanita itu sudah berani muncul dengan wajahnya. Seharusnya kau menemuinya, bukanya menghalangiku seperti ini. Karena kesempatan itu sangat sulit datang untuk kedua kalinya."
Diam, melihat Diandra. Sebelum melangkah pergi dengan tampang wajah yang benar-benar angkuh, tanpa lengkungan kecil yang menghiasi wajah cantiknya.