NovelToon NovelToon
Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: leona athena

menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 : jawaban yang di nantikan dan janji untuk bersama

Langkah demi langkah, Xavier dan rombongannya melangkah mendekati pintu utama kastil yang megah. Jantung Xavier berdebar kencang, perasaan campur aduk antara harapan, kegembiraan, dan sedikit kegelisahan memenuhi hatinya. Selama berbulan-bulan lamanya ia berusaha, melewati berbagai tantangan dan ujian, dan kini saat yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.

Saat mereka sampai tepat di depan pintu besar yang terbuat dari batu obsidian berkilau itu, kedua daun pintu itu perlahan terbuka dengan sendirinya, tanpa ada yang mendorongnya. Suara gesekan yang halus terdengar, dan cahaya yang hangat dan terang memancar keluar dari dalam, menyinari mereka yang berdiri di luar.

Dan di sana, tepat di tengah ambang pintu, berdiri sosok yang selalu ada dalam pikiran dan hatinya.

Elara terlihat begitu cantik dan menawan. Ia mengenakan gaun berwarna hitam pekat, namun gaun itu sama sekali tidak terlihat gelap atau suram. Sebaliknya, di seluruh permukaannya tersulam pola-pola yang berkilauan, seolah-olah bintang-bintang dan bulan purnama tersebar dan menghiasi dirinya. Setiap gerakan kecil yang ia buat membuat cahaya itu bergerak dan bersinar, menjadikannya terlihat seperti makhluk yang turun dari langit malam, indah dan mempesona di luar dugaan. Wajahnya dipenuhi senyum yang tulus dan lebar, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selama ribuan tahun, dan senyum itu membuat seluruh wajahnya terlihat bersinar dan penuh kehidupan.

Di belakangnya, Gargoyle berdiri tegak dengan gagah. Sayapnya yang lebar terentang sepenuhnya, membentuk semacam payung pelindung di atas dan di sekitar Elara. Dan yang membuat semua orang yang melihatnya tertegun—dari bentuk mulut dan matanya, terlihat jelas bahwa naga itu pun sedang tersenyum, seolah ia merasakan kebahagiaan yang sama dengan tuannya. Kehadirannya terasa kuat dan damai sekaligus, menunjukkan bahwa ia sepenuhnya menyetujui apa yang akan terjadi.

"Selamat datang, Raja Xavier, dan para tamu terhormat," sapa Elara dengan suara yang lembut dan merdu, terdengar jelas dan menenangkan di telinga semua orang. "Silakan masuk. Semuanya sudah kami persiapkan dengan baik."

Mereka pun dipersilakan masuk ke dalam. Begitu melangkah masuk, kekaguman mereka semakin bertambah besar. Seluruh bagian dalam kastil yang dulunya gelap dan dingin, kini berubah menjadi tempat yang sangat terang, megah, dan indah. Di setiap sudut ruangan, di dinding, tiang, dan langit-langit, terpasang kristal-kristal berbagai ukuran dan warna yang memancarkan cahaya lembut namun terang, menciptakan suasana yang hangat dan menyejukkan hati.

Di meja panjang yang terhampar di sepanjang ruangan, tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang terlihat lezat dan menawan, disiapkan dengan rapi dan indah. Semuanya dibuat dan diatur oleh para koki bayangan milik Elara, yang meski terbuat dari bayangan, mampu menciptakan hasil kerja yang sempurna dan luar biasa.

Di sisi meja, sudah ada dua orang yang juga menunggu kedatangan mereka.

Yang pertama adalah Enos, Jenderal kepercayaan Elara. Ia berdiri tegak dengan wibawa, mengenakan baju perang yang terbuat dari logam dan batu yang langka, menunjukkan kekuatan dan kesetiaan yang telah ia berikan selama ribuan tahun lamanya. Ia menatap Xavier dengan pandangan yang penuh rasa hormat dan persetujuan, bukti bahwa ia pun mengakui kesungguhan hati sang raja.

Dan di sampingnya berdiri Estes, penasihat kerajaan yang juga bertugas memeriksa dan menjaga kesehatan seluruh penghuni di Kekaisaran Obsidian. Wajahnya terlihat tenang dan bijaksana, dengan tatapan yang dalam dan penuh pengertian. Sebagai orang yang paling memahami kondisi dan perasaan Elara, ia pun memberikan senyum ramah, menandakan bahwa ia juga mendukung hubungan ini.

Setelah semua orang duduk di tempat yang telah disediakan, suasana menjadi hening sejenak. Semua mata tertuju pada Elara, menunggu apa yang akan ia sampaikan.

Elara menatap Xavier dengan pandangan yang dalam dan penuh perasaan, lalu menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh keberanian dan perasaannya yang selama ini ia simpan. Ia berbicara dengan suara yang jelas dan tegas, namun juga lembut dan hangat.

"Xavier..." panggilnya, dan nama itu terasa begitu indah saat diucapkan dari bibirnya. "Selama ini, aku telah memberikan berbagai macam tantangan dan ujian kepadamu. Aku berusaha membuatnya sulit, berusaha menguji kesabaran, ketulusan, dan kesetiaanmu, karena aku takut untuk terluka lagi, dan aku takut untuk salah memilih."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan senyum yang makin melebar.

"Tapi kau berhasil melewati semuanya. Kau tidak pernah mengeluh, tidak pernah berubah sikap, dan selalu bersikap tulus dan baik kepadaku dan kepada semua orang dan makhluk yang ada di sini. Kau telah membuktikan bahwa dirimu berbeda dari semua orang yang pernah aku kenal. Kau telah membuktikan bahwa cintamu itu nyata, bukan sekadar kata-kata belaka."

Hati Xavier berdebar semakin kencang. Ia menatap Elara dengan harapan yang tak terhingga, menunggu kata-kata selanjutnya.

"Karena itu..." lanjut Elara, "aku menerima hatimu. Aku bersedia menjadi pasangan hidupmu, dan aku bersedia untuk menikahimu, sesuai dengan perjanjian yang telah kita buat bersama."

Mendengar kata-kata itu, rasa bahagia yang luar biasa meledak di dalam hati Xavier. Senyum yang sangat lebar dan bahagia tergambar di wajahnya, dan matanya bahkan mulai berkaca-kaca karena haru. Para tamu yang ikut hadir pun merasa sangat gembira, dan Enos serta Estes pun mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum bahagia.

Namun, Elara kembali berbicara, dan nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius, menunjukkan bahwa ada hal penting yang juga ingin ia sampaikan.

"Tapi ada satu syarat yang harus kau mengerti dan terima, Xavier," ucapnya. "Kerajaan ini, seluruh wilayah dan semua makhluk yang ada di sini, adalah tanggung jawabku. Mereka adalah keluargaku, orang-orang yang selalu ada untukku, yang menjagaku dan mencintaiku sejak aku lahir. Aku tidak bisa meninggalkan mereka sepenuhnya, dan aku tidak bisa membiarkan kerajaan ini tanpa penguasa."

Ia menatap Xavier dengan pandangan yang memohon pengertian.

"Jadi syaratku adalah: aku tidak akan pindah dan tinggal secara tetap di kerajaannya. Aku akan tetap memimpin dan menjaga kerajaanku ini. Namun, aku akan sesekali datang dan tinggal bersamamu di kerajaanmu, dan kita akan saling mengunjungi satu sama lain. Dengan begitu, aku bisa tetap menjalankan tugasku di sini, dan juga bisa hidup bersamamu seperti yang kita inginkan."

Elara berhenti berbicara, dan menunggu jawaban dari Xavier. Ia khawatir syarat ini akan membuat Xavier tidak setuju, namun di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama ribuan tahun ini.

Namun, apa yang ia takutkan itu tidak terjadi sama sekali.

Xavier tersenyum dengan lembut dan penuh pengertian. Ia mengangguk dengan cepat, dan menjawab dengan suara yang tulus dan tegas.

"Aku terima syarat itu, Elara," ucapnya. "Aku mengerti betapa pentingnya kerajaan dan orang-orang di sini bagimu, dan aku tidak akan pernah memintamu untuk meninggalkan hal-hal yang menjadi bagian dari dirimu. Cintaku padamu bukan berarti aku ingin mengambil dirimu dari tempat asalmu, tapi aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, dan membiarkan dirimu menjadi bagian dari hidupku. Aku akan selalu menghormati tugas dan tanggung jawabmu, dan aku pun akan sering datang ke sini untuk menemuimu, sama seperti kau akan datang ke tempat tinggalku. Kita akan membangun hubungan kita dengan cara yang terbaik untuk kita berdua."

Kata-kata itu membuat rasa khawatir dan keraguan yang tersisa di hati Elara hilang begitu saja. Ia merasa sangat bersyukur dan bahagia, karena orang yang ia cintai itu benar-benar memahami dan menghargai dirinya sepenuhnya.

"Terima kasih, Xavier..." bisik Elara dengan suara yang penuh haru, dan air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Terima kasih telah menerimaku apa adanya."

"Terima kasih juga padamu, Elara," jawab Xavier dengan lembut. "Terima kasih telah memberiku kesempatan, dan terima kasih telah bersedia membuka hatimu untukku."

Suasana di ruangan itu dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian. Semua orang yang hadir merasakan keindahan momen ini, momen di mana dua orang yang berbeda, yang datang dari dunia yang bertolak belakang, akhirnya bersatu dalam cinta dan pengertian. Jamuan makan malam itu pun berlangsung dengan penuh kegembiraan, sebagai perayaan atas persatuan mereka, dan sebagai awal dari babak baru dalam hidup mereka yang akan dijalani bersama, selamanya.

 

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya diterima juga😊
𝐀⃝🥀Weny
pembukaan ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran😊
leona: hihihihi/Hey/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!