Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Membatalkan perjanjian.
Saat pesawat mulai mengudara, Jilly menatap keluar jendela, namun pikirannya sama sekali tak tenang. Hatinya masih berdebar kencang, bukan hanya karena takut ketinggian, tapi juga pertanyaan yang melayang di kepala.
'Dari mana Om Reigar punya uang sebanyak itu??'
Jilly menyadari, sebagai pewaris tunggal perusahaan tambang milik ibunya, harta yang seharusnya menjadi haknya memiliki nilai yang tak terbayangkan. Tapi yang ia rasakan selama ini adalah sebaliknya, ia hidup serba kekurangan, makan seadanya, seolah perusahaan itu tak pernah ada. Selama ini ia berpikir mungkin usaha itu tak seberapa besar. Karena sekolahnya pun bukan sekolah besar di awal hingga ada perdebatan dewan perusahaan yang membuatnya bersekolah di internasional school dan melompati banyak tahun.
Kali ini ia melihat betapa mudahnya Bang Reigar mengeluarkan uang ratusan juta untuk mahar, lalu belasan juta hanya untuk satu kali perjalanan udara.
'Apa Om Reigar berhutang? Kalau uangku memang banyak, kenapa tidak pakai uangku daripada setelahnya tidak bisa makan.'
Jilly mengabaikan dulu tentang harta milik Bang Reigar, Keningnya kini berkerut. Ternyata selama ini dirinya bukan hanya diabaikan, tapi juga dipermainkan. Rasa marah bercampur sakit hati perlahan membelenggu perasaannya. Kemiskinan yang ia jalani selama ini bukan karena nasib buruknya, tapi karena ada permainan dari pihak keluarga.
'Selama ini aku tidak tau seberapa banyak hartaku, tapi beberapa hari yang lalu aku tau kalau hartaku tidaklah sedikit. Kenapa, Ma?? Kenapa nasib Mama harus bertemu dengan pria seperti Papa???'
Bang Reigar melirik Jilly tapi ia tidak bertanya apapun.
"Om.. Soal perusahaan, bisakah Om bantu aku??" tanya Jilly.
"Saya tidak berhak ikut campur urusan keuanganmu sesuai dengan perjanjian kita, apalagi pelanggarannya berat. Saya mana ada uang untuk membayar Ibu Presdir sepertimu." Jawab Bang Reigar.
"Kalau Om jadi bodyguard dan karyawan saya, bagaimana?? Saya bayar.. Double." Kata Jilly.
"Saya sibuk."
"Ooomm..!!!!!" Kata Jilly setengah merengek.
"Nggak, saya nggak ada waktu." Bang Reigar memejamkan mata sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Jilly menggigit kecil bibirnya, ia mulai gelisah tentang kelanjutan hidupnya. Nafasnya mulai berat dan sesak mengingat sejak awal dirinya terus melanggar perjanjian tapi ia sama sekali tidak tau bagaimana cara menggunakan uangnya. Poin delapan juga begitu mengganggunya.
"Kita punya anak."
deg...
Bang Reigar membuka matanya, sungguh dirinya kaget dengan keputusan sang istri yang begitu 'gegabah' dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah. Sungguh ia kesal dengan kepolosan Jilly tapi juga kasihan dan tidak tega dengan kesendirian sang istri yang pasti membutuhkan pertolongan.
"Kamu bilang apa?" suaranya rendah, berat, matanya tak lepas menatap wajah Jilly yang kini tampak tegang namun tak berniat mundur. "Kau kira punya anak itu hal yang mudah? Kau pikir dengan punya anak, semua urusan keuangan perusahaan, dan keluargamu yang licik itu akan langsung beres begitu saja?"
Jilly menelan ludah dengan kasar, jemarinya meremas ujung pakaiannya. "Aku.... aku hanya berpikir… kalau Om punya anak dari aku, Om pasti tidak akan bisa lepas dari aku. Om pasti mau bantu aku karena ada anak di perut aku dan itu tanggung jawab Om Reigar. Aku takut kalau nanti harus berhadapan sendirian dengan mereka, aku pasti kalah, di tipu dan di injak lagi seperti dulu."
Kini Bang Reigar yang menelan ludah dengan kasar, bisa-bisanya ada orang yang mengungkapkan rasa takutnya secara terang-terangan apalagi pada 'orang baru'. Kepolosan istri kecilnya dua kali membuatnya cemas.
"Kedunguan mu sudah mengakar, tidak bisa di selamatkan lagi. Bisa-bisanya kau membuka kelemahanmu di depan orang lain. Hamil itu adalah hal yang besar atas kesepakatan bersama. Bukan asal saja karena ingin perutmu besar apalagi menjadi alat penawaran untuk selesaikan masalah. Saya mau tapi kamu tidak ikhlas, itu sama saja pemaksaan. Apa kau lupa hasil dari tidak ikhlasnya sebuah pernikahan??? Kau, Jilly.. Kau hasilnya." Terpaksa Bang Reigar berbicara sedikit keras dan mungkin terasa menyakitkan agar istri kecilnya bisa memahami ucapannya.
Jilly terhenyak, kaget mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Semua penuh penekanan tapi tidak ada satu pun yang salah.
Bang Reigar menarik nafas, ia marah tapi kemarahan tidak akan membuat istri polosnya mengerti.
"Mudah saja untuk saya membuatmu hamil, sekarang juga bisa. Tapi bukan itu solusinya. Saya ingin kamu juga mau dan menerima saya dengan ikhlas. Asal kamu tau, tidak semua suami waras, saya pun terkadang salah arah. Setidaknya saya berusaha menjalani porsi sebagai sebaik-baiknya manusia, bukan iblis."
"Tapi.. Aku tidak tau harus berbuat apa?? Kuliahku saja salah jurusan, mereka mengarahkan kuliahku masuk kesehatan, bukan ekonomi. Om juga tentara, bagaimana aku bisa dapat bantuan??" Kata Jilly.
Lagi-lagi Bang Reigar menarik nafas panjang. "Kamu harus belajar dengan keras. Tidak boleh hanya diam dan pasrah. Kamu harus tau bagaimana cara memegang kendali, bagaimana cara membaca laporan dan tegas menyelesaikan masalah. Saya ajari kamu… tapi ingat, kamu harus mau belajar keras."
Jilly mengangguk mantap, wajahnya sudah sangat yakin mampu untuk melewati semua masalah yang ada. "Jadi, kapan hamilnya? Sekarang bisa??"
Seketika Bang Reigar mengurut pangkal hidungnya. " Kamu 'orang kesehatan', kan?? Harusnya kamu paham proses, kehamilan manusia bukan membelah diri."
"Tau."
"Mau saya kerjakan dimana??? Di loteng pesawat??? Lagipula, saya nggak mungkin menembus satuan pengamanan, kan?? Bisa kena penalti, saya." Jawab Bang Reigar.
Jilly baru ingat kalau dirinya memang sedang datang bulan.
Tak lama Bang Reigar berdehem pelan. "Kapan selesainya?"
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭