NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Sementara itu, di bawah Jembatan Kapuas, Luo Cheng masih berlutut.

Malam semakin dingin.

Suara kendaraan dari atas jembatan sesekali melintas, tetapi bagi Luo Cheng, suara itu terasa jauh. Tubuhnya gemetar. Napasnya berat. Keringat dingin membasahi wajahnya.

Ia mencoba berdiri lagi.

Tidak bisa.

Tanda mahkota retak di dalam dadanya berdenyut setiap kali ia mencoba mengalirkan energi spiritual. Meridian yang biasanya mengalir lancar kini terasa seperti ditutup oleh rantai panas.

Rasa sakitnya tidak terus-menerus.

Namun setiap kali ia mencoba melawan, rasa sakit itu muncul.

Seolah segel di tubuhnya tidak melarangnya hidup, tetapi melarangnya sombong.

Itu lebih menyakitkan daripada luka.

Luo Cheng menatap serpihan pedangnya yang berserakan di tanah.

Pedang spiritual itu hadiah dari gurunya.

Senjata yang ia banggakan.

Bilah yang pernah membuat banyak murid lain iri.

Sekarang, pedang itu hancur seperti kaca murahan.

Dihancurkan oleh dua jari.

Dua jari manusia dunia fana.

Luo Cheng menggertakkan gigi. Matanya memerah, antara malu, marah, dan takut.

“Raka Pratama…”

Nama itu keluar dari mulutnya dengan napas gemetar.

Ia ingin membenci.

Ia ingin membalas.

Ia ingin membawa seluruh sekte turun dan menghancurkan pemuda itu.

Namun begitu niat itu muncul, tanda mahkota retak di dadanya berdenyut keras.

Dug!

Tubuh Luo Cheng tersungkur ke tanah.

Ia menjerit pendek.

Di dalam kesadarannya, bayangan takhta emas muncul.

Di depan takhta itu, Pedang Penghakiman Absolut tertancap diam.

Tidak bergerak.

Tidak mengayun.

Namun keberadaannya saja membuat jiwa Luo Cheng gemetar.

Sebuah suara samar terdengar di dalam pikirannya.

Bukan suara Raka.

Bukan suara sistem.

Tapi seperti hukum yang tertanam di tanda itu.

Kembali sebagai musuh, mati.

Luo Cheng menggigil.

Ia mencengkeram tanah dengan tangan gemetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memahami rasa tidak berdaya.

Bukan kalah dalam duel.

Bukan ditekan oleh tetua.

Bukan dimarahi leluhur.

Melainkan dihukum oleh seseorang yang bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk dibunuh.

Itu penghinaan yang jauh lebih kejam daripada kematian.

Di kejauhan, suara langkah terdengar.

Luo Cheng langsung mengangkat wajah dengan panik.

Namun yang datang bukan Raka.

Seorang lelaki tua berjalan perlahan dari balik kabut.

Tubuhnya kurus. Rambutnya putih kusut. Pakaiannya sederhana, seperti orang tua biasa yang mungkin tinggal di pinggiran kota. Di tangannya ada tongkat kayu tua. Matanya tenang, tetapi dalam.

Ki Sabrang.

Ia berhenti beberapa meter dari Luo Cheng, lalu menatap serpihan pedang di tanah.

“Pendatang dari Dunia Immortal.”

Luo Cheng menatapnya dengan curiga.

“Kau siapa?”

Ki Sabrang tidak menjawab langsung. Ia menatap tanda samar yang berdenyut di dada Luo Cheng, meski tanda itu tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Wajah tuanya berubah sedikit.

“Dia benar-benar menandaimu.”

Luo Cheng mengerutkan kening.

“Kau mengenal Raka?”

Ki Sabrang memandangnya lama.

“Belum.”

“Lalu kenapa kau tahu?”

Ki Sabrang menatap Sungai Kapuas.

“Karena sejak malam itu, sungai ini tidak lagi bernapas seperti dulu.”

Luo Cheng tidak mengerti.

Ia muak pada gaya bicara orang tua ini, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk marah.

Ki Sabrang berjalan mendekat.

Luo Cheng mencoba mundur, tetapi tubuhnya masih sulit digerakkan.

“Jangan sentuh aku,” geram Luo Cheng.

Ki Sabrang berhenti.

“Masih bisa sombong setelah dibuat berlutut. Murid Dunia Immortal memang keras kepala.”

Wajah Luo Cheng memerah.

“Kau hanya manusia fana.”

Ki Sabrang menatapnya datar.

“Dan manusia fana ini sedang berdiri, sementara kau masih berlutut.”

Kalimat itu menusuk tepat ke harga diri Luo Cheng.

Namun sebelum ia sempat membalas, tanda mahkota di dadanya kembali berdenyut.

Luo Cheng mengerang.

Ki Sabrang memperhatikan reaksinya, lalu menghela napas.

“Nasihatku sederhana. Jangan pikirkan balas dendam malam ini.”

Luo Cheng menggertakkan gigi.

“Kenapa? Karena kau takut pada Raka?”

Ki Sabrang menatapnya.

“Bukan.”

Ia menatap bekas retakan dunia yang sudah hancur.

“Aku takut pada apa yang akan bangun jika kalian terus memaksanya mengingat.”

Luo Cheng diam.

Ki Sabrang melanjutkan dengan suara pelan.

“Kau beruntung masih hidup.”

Luo Cheng tertawa pahit.

“Beruntung?”

“Ya.”

Ki Sabrang menatapnya lebih tajam.

“Karena kalau pemilik takhta lama benar-benar sudah bangun penuh, kau tidak akan diberi pesan. Namamu akan hilang sebelum tubuhmu menyentuh tanah.”

Luo Cheng merasakan tenggorokannya mengering.

Ia ingin berkata bahwa itu omong kosong.

Namun bayangan pedang di dalam pikirannya membuat mulutnya tertutup.

Ki Sabrang berbalik hendak pergi.

“Tunggu,” ucap Luo Cheng tiba-tiba.

Ki Sabrang berhenti.

Luo Cheng menatapnya dengan wajah pucat.

“Siapa Raka sebenarnya?”

Ki Sabrang diam cukup lama.

Angin dari Sungai Kapuas bergerak melewati mereka.

Lalu lelaki tua itu menjawab pelan.

“Kalau kau ingin hidup lebih lama, jangan terburu-buru mencari jawabannya.”

Setelah itu, Ki Sabrang berjalan pergi, menghilang ke balik kabut tipis.

Luo Cheng tetap berlutut sendirian di bawah Jembatan Kapuas.

Untuk pertama kalinya, dunia fana yang ia hina terasa jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.

Dan jauh lebih menakutkan.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!