NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Suara Anak

...

Suasana pagi di ruang makan kediaman Arkatama kembali diselimuti oleh keheningan yang kaku. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar setinggi langit-langit seolah tidak mampu mengusir atmosfer dingin dan pekat yang mengunci rumah mewah itu.

Di atas meja marmer panjang, dua mangkuk bubur ayam hangat yang disiapkan oleh pelayan rumah tampak hampir mendingin tanpa disentuh. Ryan dan Riana duduk berdampingan di kursi kayu berukir mereka. Kedua anak kembar itu hanya menunduk, memainkan sendok perak di tangan mereka dengan gerakan malas. Sepasang mata bulat mereka tampak redup, menyiratkan kerinduan yang teramat dalam dan kepiluan batin yang belum juga reda sejak kepergian sang ibu.

Zidan duduk di kepala meja, masih mengenakan jubah mandi satin hitamnya sebelum bersiap ke kantor. Wajah tampannya tampak kuyu, dengan guratan lelah yang semakin tegas di sekitar matanya yang memerah. Sifat keangkuhan narsis yang dulu selalu mendominasi setiap sudut ruangan ini seolah menguap, digantikan oleh kecemasan seorang ayah yang mulai kehabisan cara untuk menenangkan buah hatinya.

"Ryan, Riana, ayo dimakan sedikit buburnya. Nanti dingin tidak enak," bujuk Zidan, mencoba melembutkan suaranya yang biasa terdengar bariton dan tegas. Dia memajukan tubuhnya, meraih mangkuk milik Riana untuk mendekatkannya pada sang putri.

Riana tidak menyahut. Dia justru meletakkan sendoknya dengan denting pelan, lalu mendongak menatap Zidan. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai mengambang, membasahi pipi mungilnya yang sembap.

"Papa... Riana gak mau bubur. Riana mau Mama," cicit Riana, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis. "Riana kangen Mama... Mau ketemu Mama..."

Hantaman kalimat sederhana itu seketika membuat dada Zidan terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruang makan itu mendadak lenyap. Rasa perih menjalar di ulu hatinya, memicu penyesalannya yang kian menguliti batinnya tanpa ampun.

Ryan yang biasanya lebih pendiam kini ikut meletakkan sendoknya. Dia menatap Zidan dengan pandangan mata yang sarat akan tuntutan dan trauma emosional dari masa lalu. "Papa bohong. Kata Papa kemarin, kalau kita pintar di sekolah, Papa mau bawa kita ketemu Mama lagi. Tapi sampai sekarang Mama gak pulang-pulang."

"Papa tidak bohong, Sayang," jawab Zidan cepat, suaranya tercekat di tenggorokan. Dia mencoba meraih tangan mungil Ryan, namun anak laki-lakinya itu dengan cepat menarik tangannya kembali, menolak sentuhan sang ayah. Penolakan halus dari darah dagingnya sendiri terasa seperti kekerasan psikologis yang meremukkan seluruh harga diri Zidan.

"Kalau Papa gak bohong, telpon Mama sekarang! Ryan mau dengar suara Mama!" tuntut Ryan, suaranya mulai meninggi, dipenuhi emosi sad yang begitu pekat untuk anak seusianya.

Di tengah ketegangan itu, langkah kaki yang berisik terdengar mendekat dari arah koridor tengah. Keysha melangkah masuk ke ruang makan dengan pakaian santainya yang bermerek, disusul oleh Mama yang berjalan dengan keangkuhan lamanya yang belum luntur.

"Aduh, pagi-pagi sudah berisik sekali sih? Ryan, Riana, jangan cengeng begitu kenapa? Bikin pusing saja!" cemooh Keysha sambil menarik kursi di seberang anak-anak, mengabaikan raut wajah Zidan yang langsung menggelap. "Lagian ngapain sih nyari-nyari perempuan egois yang sudah ninggalin kalian demi tinggal di kampung? Di sini kan segala kebutuhan kalian sudah dipenuhi sama Papa."

"Keysha! Jaga mulutmu!" bentak Zidan dengan sentakan kasar, matanya membelalak kaku menatap adiknya dengan aura dingin yang begitu menakutkan. Amarahnya yang sudah di ujung tanduk seketika tersulut oleh racun gengsi yang terus-menerus disemburkan oleh keluarganya.

"Kenapa Kak Zidan jadi sering bentak aku sih?! Memang kenyataannya begitu kan? Perempuan miskin itu sengaja—"

Brak!

Zidan menggebrak meja marmer dengan telapak tangannya hingga mangkuk-mangkuk di atasnya bergetar hebat. Pria itu berdiri tegak, napasnya naik-turun menahan emosi pekat yang bergolak di dadanya. "Sekali lagi kamu sebut Pamela dengan kata-kata merendahkan seperti itu, aku sendiri yang akan menyeret semua barang-barangmu keluar dari rumah ini, Keysha! Dan Mama," Zidan menoleh ke arah ibunya dengan tatapan mata yang teramat kecewa, "jangan pernah coba-coba memengaruhi anak-anakku lagi dengan kesombongan kalian. Penyesalan keluarga ini sudah cukup menghancurkan hidupku, jangan buat aku kehilangan anak-anakku juga!"

Mendengar bentakan berjiwa ketegasan mutlak dari Zidan, Keysha seketika bungkam dengan wajah pucat pasi, sementara Mama hanya bisa mendengkus kesal, tidak berani membantah anak laki-lakinya yang kini tampak seperti singa yang terluka.

Zidan tidak memedulikan mereka lagi. Dia kembali menunduk, menatap kedua anaknya yang kini menangis histeris karena ketakutan melihat pertengkaran orang dewasa di depan mereka. Rasa bersalah yang teramat dalam meremas batin Zidan. Dia berlutut di lantai ruang makan, menyamakan tingginya dengan kursi anak-anaknya, lalu merengkuh tubuh mungil Ryan dan Riana ke dalam pelukannya yang hangat sebuah dekapan erat yang sarat akan permohonan maaf yang terlambat.

"Maafkan Papa... Maafkan Papa membuat kalian takut," bisik Zidan parau, setitik air mata penyesalan kembali lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi seragam sekolah anak-anaknya. "Nanti sore... setelah Papa pulang kantor, Papa janji kita akan telepon Mama. Papa akan usahakan agar kita bisa mendengar suara Mama. Sekarang, ayo berangkat sekolah dulu ya?"

Mendengar janji itu, tangisan Riana perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil, sementara Ryan hanya mengangguk pelan dengan sisa-sisa ketidakpercayaan di matanya.

...

Sementara itu, ratusan kilometer dari hiruk-pikuk pusat kota, alur lambat kehidupan Pamela di pesisir pantai berjalan dengan ritme yang teramat tenang namun asri.

Di lantai bawah Kedai "Selasih", jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun beberapa meja di sudut teras dekat dahan pohon ketapang sudah mulai diisi oleh pelanggan. Pamela berdiri di balik konter dengan celemek cokelatnya, tangannya bergerak lincah meracik adonan kue talam pandan tradisional yang menjadi menu baru hari ini.

Meskipun tangannya sibuk bekerja, pikiran Pamela tidak pernah benar-benar berada di tempat itu. Jiwanya merona pilu, didera kerinduan yang teramat pekat pada sepasang anak kembarnya. Setiap kali dia melihat sendok kecil atau mangkuk plastik di dapur kedai, memorinya selalu berputar pada cara Ryan dan Riana berebut makanan dari tangannya di kantin rumah sakit kemarin.

Drrtt... Drrtt...

Ponsel murah milik Pamela yang tergeletak di atas rak kayu di belakang konter mendadak bergetar, memecah lamunannya. Pamela menghentikan gerakan tangannya, mengelap jemarinya dengan kain lap bersih, lalu mengambil ponsel tersebut.

Sebuah nomor asing dari pusat kota tertera di layar penunjuk. Jantung Pamela mendadak berdesir agak cepat, memicu aliran emosi dingin yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Dia tahu betul, hanya ada satu orang yang memiliki akses dan alasan untuk menghubunginya menggunakan nomor baru di jam seperti ini.

Pamela menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantung dan emosinya sebelum menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo," ucap Pamela, suaranya terdengar sangat datar, renyah, namun begitu dingin tanpa ada sedikit pun intonasi kehangatan masa lalu.

"Mama... Mama... Ini Riana..."

Suara cicitan manja yang serak dan bergetar di seberang sana seketika meruntuhkan seluruh tembok pertahanan es yang sejak pagi tadi Pamela bangun di dalam jiwanya. Perasaan seorang ibu yang rindu setengah mati langsung bergolak, membuat pertahanan dinginnya mencair dalam sekejap, menyisakan kelembutan yang teramat tulus dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.

...

1
Himna Mohamad
notif yg ditunggu
kikyoooo: siap... bakal doublee up.. .
total 1 replies
adam Ridho
d bab ini aku meleleh thor😥 riana kangen mama pamela😭
Adam Markelov izaan
,
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Adam Markelov izaan
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Adam Markelov izaan
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
adam Ridho
semangat thor💪💪💪😍 lanjut dobel up ceritanya seeeruuu 🤩
Adam Markelov izaan
lanjutkn thorrr💪💪💪

⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Lili Inggrid
lanjut..endingnya happy 😊
Adam Markelov izaan
ngarepp dboom update-an
🤭🤭🤭🤭🤭

 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
adam Ridho
seruuu🤩 semangat d tunggu dobel upnya otor😍💪💪
Adam Markelov izaan
gregetttttt seruuuu
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
adam Ridho
d tunggu up kelanjutan cerita nya lagi otor💪💪💪💪💪🤩
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!