Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Ada hal-hal yang tidak pernah selesai diucapkan.
Bukan karena tidak sempat.
Bukan juga karena tidak tahu harus bagaimana.
Tapi karena… waktu sudah lewat duluan.
Dan ketika semuanya sudah benar-benar berakhir,
kata-kata itu justru datang.
Terlambat.
Arka tidak pernah benar-benar menulis.
Bukan tipe orang yang menuangkan perasaan ke dalam kalimat panjang.
Dia lebih sering memilih diam.
Menganggap semuanya akan baik-baik saja.
Sampai akhirnya…
dia tidak punya pilihan lain.
Malam itu, hujan turun cukup deras.
Suara air jatuh di jendela terdengar berulang.
Seperti sesuatu yang ingin mengingatkan
bahwa ada hal yang belum selesai.
Arka duduk di meja kecil di kamarnya.
Laptop terbuka.
Layar kosong.
Kursor berkedip.
Menunggu.
Sudah hampir sepuluh menit…
tidak ada satu kata pun yang dia tulis.
Karena ternyata
memulai itu sulit.
Terlebih ketika semuanya sudah tidak bisa diperbaiki.
Akhirnya, Arka menarik napas panjang.
Jari-jarinya mulai bergerak.
Nara,
Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Dia berhenti.
Menghapus kalimat itu.
Terlalu klise.
Dia mencoba lagi.
Nara,
Aku baru sadar banyak hal… setelah semuanya selesai.
Dia membaca ulang.
Tidak sempurna.
Tapi jujur.
Dan kali ini… dia tidak menghapusnya.
Kata-kata mulai mengalir.
Pelan.
Tidak rapi.
Tapi nyata.
Aku sering berpikir, kalau saja waktu itu aku tidak diam…
mungkin kita tidak akan sampai di titik ini.
Tapi sekarang aku mengerti, masalahnya bukan hanya satu momen.
Masalahnya adalah aku terlalu sering mengira kamu akan tetap ada…
tanpa benar-benar berusaha menjaganya.
Arka berhenti.
Menatap layar.
Kalimat itu… berat.
Tapi benar.
Kamu tidak pernah menuntut banyak.
Kamu hanya ingin aku hadir, benar-benar hadir.
Tapi aku sibuk dengan dunia sendiri,
dan menganggap kamu akan selalu mengerti.
Tangannya berhenti lagi.
Untuk pertama kalinya…
dia benar-benar merasakan apa yang dulu tidak dia pahami.
Kesabaran.
Yang dimiliki Nara.
Dan bagaimana dia… menyia-nyiakannya.
Aku ingat hari di kafe itu.
Hari yang sekarang terasa seperti awal dari semuanya berakhir.
Kamu bilang kamu tidak apa-apa.
Dan aku… memilih percaya.
Padahal aku tahu, kamu tidak pernah sesederhana itu.
Arka menutup matanya sejenak.
Bayangan itu kembali.
Cara Nara tersenyum tipis.
Cara dia tidak lagi banyak bicara.
Semua tanda itu ada.
Tapi Arka memilih tidak melihat.
Aku tidak tahu kenapa aku memilih diam waktu itu.
Mungkin karena aku pikir semuanya akan tetap sama.
Mungkin karena aku takut mendengar sesuatu yang tidak ingin aku hadapi.
Atau mungkin… aku memang belum cukup dewasa untuk mengerti kamu.
Hening.
Hujan masih turun.
Arka melanjutkan.
Sekarang, semuanya sudah berbeda.
Kita sudah berjalan ke arah masing-masing.
Dan aku tidak menulis ini untuk mengubah apa pun.
Aku hanya ingin… jujur.
Untuk pertama kalinya.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena ragu.
Tapi karena ini seharusnya dilakukan sejak dulu.
Aku minta maaf.
Bukan karena kita berakhir.
Tapi karena cara kita berakhir.
Karena aku tidak berjuang cukup.
Karena aku membiarkan kamu merasa sendirian… padahal aku masih ada.
Air hujan semakin deras.
Seperti sesuatu yang ikut jatuh bersama kalimat itu.
Kamu pernah bilang, kamu tidak butuh seseorang yang sempurna.
Kamu hanya butuh seseorang yang tidak membuatmu menebak.
Dan aku… justru melakukan itu.
Arka tersenyum kecil.
Pahit.
Karena sekarang dia mengingat semuanya.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa.
Sekarang menjadi… berarti.
Aku tidak tahu kamu sekarang seperti apa.
Tapi aku harap kamu baik-baik saja.
Dan aku harap… kamu menemukan seseorang yang bisa melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa aku lakukan.
Dia berhenti.
Kalimat itu terasa berat untuk ditulis.
Tapi dia tetap melanjutkan.
Seseorang yang tidak diam saat kamu butuh jawaban.
Seseorang yang tidak membuatmu merasa sendiri.
Seseorang yang benar-benar melihat kamu… tanpa harus kamu jelaskan berkali-kali.
Hening.
Arka menatap layar.
Matanya mulai terasa panas.
Dan kalau suatu hari kamu mengingat aku…
aku harap bukan sebagai seseorang yang mengecewakan.
Tapi sebagai seseorang yang… pernah mencoba, meskipun terlambat.
Dia menghela napas panjang.
Bagian terakhir.
Yang paling sulit.
Terima kasih… sudah pernah ada.
Karena dari kamu, aku belajar banyak hal.
Termasuk… bagaimana seharusnya mencintai seseorang.
Kursor berhenti.
Tidak ada lagi kata yang ingin dia tambahkan.
Semuanya sudah keluar.
Semua yang dulu tidak pernah dia katakan.
Arka membaca ulang dari awal sampai akhir.
Tidak sempurna.
Tapi jujur.
Dan mungkin…
itu cukup.
Tangannya bergerak ke bawah layar.
Ada satu pilihan di sana
Arka diam.
Beberapa detik.
Lalu…
dia menutup laptopnya.
Tanpa mengirim apa pun.
Karena dia tahu
surat itu tidak ditulis untuk dikirim.
Tapi untuk… dilepaskan.
Dan untuk pertama kalinya
Arka merasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena semuanya selesai.
Tapi karena dia akhirnya jujur.
Meski terlambat.
Hujan perlahan berhenti.
Malam menjadi lebih tenang.
Arka berdiri.
Berjalan ke jendela.
Melihat ke luar.
Kota masih sama.
Tapi di dalam dirinya
ada sesuatu yang berubah.
Bukan lagi penyesalan yang terus berputar.
Tapi… penerimaan.
Bahwa tidak semua hal harus diperbaiki.
Beberapa hanya perlu dipahami.
Dan mungkin…
itu cukup.