NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Malam di Ibukota Alexandrite terasa jauh lebih dingin bagi Krystal. Kota menara yang angkuh ini bukan hanya sekadar tempat persembunyian Kin Zircone; kota ini adalah pusat kekuasaan Menara Sihir Barat—tempat di mana sang kakak, Hyal, bertakhta sebagai kepala menara.

'*Aku harus menemui Hyal*,' gumam Krystal dalam hati. Rasa kecewa dan kemarahan emosional akibat penolakan Eros di kamar menara tadi justru memicu nekat yang berbahaya di dalam dadanya. Jiwanya yang terluka mendambakan pembuktian atas rasa sakit yang selama ini mengikat takdirnya.

Di tengah keheningan jalan distrik bawah, Krystal tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ia menggenggam batu teleportasi, bonus dari pembelian batu Alexandrite.

"Apa aku sanggup menemui Hyal?" gumam Krystal pada diri sendiri, suaranya terdengar datar.

Krystal menelan ludah, dengan binar mata yang tampak tidak stabil. "Baiklah, jika memang takdirku untuk mati... Apa boleh buat."

*Wuuuush*!

Tubuh Krystal seketika menguap dalam pusaran sihir pelindung yang tipis. Memanfaatkan keramaian melewati deretan toko di distrik sihir.

*Seeessshhh*!

Udara di lobi utama Menara Sihir Barat mendadak bergolak ketika tubuh Krystal termaterialisasi sempurna di atas lambang magis lantai dasar. Dengan langkah anggun yang mengeluarkan aura dingin, ia berjalan mendekati meja resepsionis di mana seorang penyihir penjaga sedang mendata dokumen.

"Tunjukkan jalan ke tempat kepala menara berada," perintah Krystal ketus, menatap sang penjaga dengan pandangan meremehkan.

Penyihir itu mendongak, mengernyitkan dahi melihat seorang gadis asing yang berani memerintah di wilayah suci menara. "Apakah Anda sudah membuat janji dengan Tuan Hyal?"

Krystal menyandarkan sebelah tangannya di atas meja, senyum sinis terukir di bibirnya. "Katakan padanya bahwa adik kesayangannya datang."

Mendengar kata 'adik', penyihir itu seketika pucat pasi. Tanpa berani membuang waktu satu detik pun, ia segera mengaktifkan lingkaran sihir teleportasi khusus internal menara.

*Wush*!

Dalam sekejap mata, pandangan Krystal berubah. Ia kini sudah berdiri di koridor tertinggi puncak menara, tepat di hadapan sebuah pintu kayu ek besar berselimut segel sihir yang menjadi ruang kerja pribadi Hyal.

Krystal berdiri mematung di depan pintu tersebut, merasakan debaran jantungnya yang kian bergemuruh. '*Aku akan mencoba... apakah Astraia benar-benar sudah mencabut racun itu atas ancaman Eros kemarin. Jika aku masih merasakan sakit membakar saat berada di dekat Hyal, aku akan memohon pada semesta untuk melenyapkan Dewi Harapan itu sepenuhnya*!' desisnya dalam batin.

*Tok! Tok*!

Penyihir pengantar mengetuk pintu dengan tangan gemetar. "Tuan, adik Anda sudah datang. Katanya... beliau sudah membuat janji dengan Anda."

Di dalam ruangan, suara goresan pena di atas kertas seketika terhenti. Hyal yang sedang memeriksa dokumen menara sihir kekaisaran membeku sempurna di atas kursi kebesarannya. Energi naga air di dalam tubuhnya langsung bergolak liar, mengenali esensi jiwa yang teramat ia rindukan sekaligus ia takuti.

Krystal yang sudah kehilangan seluruh kesabarannya tidak sudi menunggu jawaban. Ia memundurkan langkahnya satu tapak, memusatkan setitik energi murninya ke ujung kakinya, lalu menendang pintu kayu tersebut dengan kekuatan penuh.

*BRAAAK*!

Sebuah pintu kayu besar berlapis segel sihir pertahanan tingkat tinggi hancur berkeping-keping, hancur menjadi serpihan debu di bawah hentakan kaki seorang gadis mungil yang sedang murka.

Hyal sentak berdiri dari kursinya, matanya membelalak ngeri melihat Krystal melangkah masuk membelah kepulan debu. "Tidak, Rys! Jangan mendekat! Keluar dari ruangan ini sekarang... Aku tak ingin kau menderita jika berada di dekatku!" seru Hyal dengan suara bergetar, wajahnya seketika memucat.

Melihat situasi yang teramat berbahaya dan bertekanan tinggi tersebut, penyihir pengantar yang ketakutan langsung merentangkan sihirnya dan menghilang seketika. *Wushhh*! Meninggalkan sepasang kakak beradik itu beradu dalam keheningan yang mencekam.

Hyal melangkah mundur hingga punggungnya membentur rak buku besar di belakang kursi kerjanya. "Kumohon, Rys... menjauhlah..."

Krystal justru menyeringai, sebuah senyuman penuh luka dan kegilaan yang mematikan. Langkah kakinya kian mendekat, mengabaikan rasa panas yang mulai menjalar aneh di dalam dadanya. "Itu artinya... Astraia belum menarik racun berkat sialan itu dari jiwaku, kan?" desis Krystal.

Dengan satu gerakan kilat, Krystal menerjang maju. Ia mencengkeram kuat jubah penyihir agung milik Hyal, lalu menarik tubuh kakaknya itu dan memeluknya dengan erat—memaksa dua esensi naga yang saling bertolak belakang karena kutukan para dewa untuk berbenturan secara langsung.

"*Uhuk*!"

Efeknya instan dan mengerikan. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat, bagai ribuan jarum yang dibakar api, langsung menghantam jantung Krystal. Tubuhnya bergetar hebat, dan seteguk darah segar berwarna merah pekat langsung menyembur keluar dari mulutnya, mengotori jubah biru milik Hyal.

"RYS?!" Hyal berteriak histeris, tatapan mata kecemasan langsung merebak di sudut matanya saat merasakan tubuh adiknya mendadak lemas dalam dekapannya. Ia ingin mendorong Krystal demi keselamatan adiknya itu, namun cengkeraman tangan Krystal di jubahnya terlampau kuat.

Di tengah rasa sakit yang mengoyak kesadarannya, Krystal mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata Hyal dengan pandangan yang teramat pekat dan mengunci.

"Jika kau benar-benar menyayangiku... tinggalkan Astraia setelah dia mencabut racunnya padaku," bisik Krystal dengan sisa tenaga yang ia miliki, darah mengalir di sudut bibirnya yang tersenyum dingin. "Namun jika kau tidak menyayangiku dan memilih Dewi itu... aku bersumpah, kau akan melihatku mati sekarang juga dalam dekapanmu, Hyal."

Hyal tidak lagi memedulikan dokumen kekaisaran yang berserakan atau statusnya sebagai Kepala Menara Sihir yang agung. Menyaksikan darah segar Krystal mengotori jubahnya adalah mimpi buruk terbesar yang menjadi nyata. Dengan gerakan secepat kilat, ia mendekap tubuh mungil adiknya yang mulai mendingin, lalu mengangkatnya dalam gendongan.

"Bertahanlah, Rys! Kumohon, bertahanlah!" suara Hyal bergetar hebat, dipenuhi kepanikan dan ketakutan.

Ia melangkah lebar menuju sudut terdalam ruang kerjanya, mendekati sebuah objek setinggi pintu utama yang selama ini disembunyikan di balik kain beludru hitam pekat. Dengan satu sentakan kasar, Hyal menyibak kain tersebut, memperlihatkan sebuah Cermin Dimensi kuno yang bingkainya terukir dari berbagai jenis permata. Cermin itu adalah artefak terlarang yang menghubungkan koordinat ruang pribadinya langsung dengan sanctuary tempat Dewi Astraia berada.

Permukaan cermin yang semula sedalam lautan malam mendadak bergolak, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan saat Hyal menerobos masuk ke dalam jalinan dimensi tersebut, membawa Krystal dalam dekapannya.

*Syuuuuut*!

Mereka mendarat di sebuah aula megah bertabur kelopak bunga abadi dan pilar-pilar cahaya. Di ujung aula, Dewi Astraia yang sedang duduk di singgasananya langsung tersentak berdiri. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan keagungan dewi harapan seketika memucat saat melihat Hyal yang menggendong Krystal dengan keadaan bersimbah darah menembus teritorinya.

Hyal melangkah maju dengan mata menyala penuh amarah. "Kau membohongiku, Astraia!" bentak Hyal, suaranya menggelegar menghancurkan keheningan sanctuary sang dewi. "Kau bilang berkat sialan itu sudah kau jinakkan setelah ancaman Eros kemarin! Tapi lihat apa yang terjadi pada adikku!"

Astraia melangkah mundur, tangannya gemetar melihat kemurkaan Hyal yang belum pernah ia saksikan selama ribuan tahun mereka terikat. "H-Hyal... aku bisa jelaskan... efek berkat itu terlalu mengakar di jiwanya, aku—"

"Cukup!" potong Hyal, auranya meledak, menekan atmosfer di sekitar mereka hingga pilar-pilar cahaya sang dewi retak. "Jika kau tidak mencabut racun itu sekarang juga, aku sendiri yang akan menghancurkanmu dan seluruh tempat sialan ini!"

Mendengar ancaman itu, Astraia dirundung rasa panik, takut, dan cemas yang luar biasa berkecamuk di dalam dadanya. Ia tahu Hyal tidak pernah main-main dengan ucapannya, dan kehilangan pemuda naga air ini adalah ketakutan terbesarnya.

"Kumohon jangan tinggalkan aku, Hyal! Jangan!" ratap Astraia dengan mata berkaca-kaca, membuang segala harga dirinya sebagai seorang dewi agar Hyal tidak meninggalkannya. "Baiklah! Aku akan mencabutnya sekarang juga. Tapi berjanjilah... kau tidak akan meninggalkanku setelah ini, ya? Berjanjilah, Hyal!"

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!