Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyampaikan isi hati
Hari‑hari berlalu begitu saja, Farhan tidak menyadari bahwa apa yang ada di rumahnya kini telah hilang. Dia terlalu sibuk dengan masa lalunya, bahkan Farhan tidak pernah menduga bahwa Amira telah mengetahui sesuatu, bahkan mengetahui semuanya. Amira sudah bekerja di toko kue tetangganya sebagai pegawai harian kalau kinerjanya baik, maka akan diangkat menjadi karyawan.
Amira sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan, catatan yang waktu itu dia kirim ternyata langsung diproses tanpa sepengetahuan Farhan. Kini Amira harus menemui Farhan dan menyelesaikan semuanya agar dia bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa bayang‑bayang Farhan.
Amira memutuskan menghubungi Farhan setelah pertimbangan yang cukup panjang.
“Mas, apa kita bisa bertemu hari ini?” tanya Amira lewat sambungan telpon.
“Kita ketemu di rumah, hari ini aku masih kerja dan baru pulang dinas tadi pagi,” ucap Farhan bohong.
“Kalau bisa hari ini, Mas, mungkin ini terakhir kalinya aku ganggu kamu dan insyaa Allah aku nggak repotin kamu ke depannya,” Amira berharap Farhan akan menyetujuinya agar urusan pernikahan dengan Farhan cepat selesai.
Di seberang sana, Farhan sedang mencerna ucapan Amira meskipun bingung, Farhan mengiyakan keinginan Amira.
“Baiklah.”
Pukul 1 siang, Amira sudah mengirim pesan pada Farhan, kalau tempat pertemuan mereka di sebuah kafe bernuansa alam. Amira sudah datang lebih awal sejak semalam dia berlatih menyampaikan isi pikirannya pada Farhan, bahkan dia berjanji untuk tidak menangis di hadapan Farhan atas segala kebohongan yang diciptakan suaminya, Amira sudah belajar ikhlas.
Setengah jam kemudian, Farhan datang dengan kemeja digulung dan celana bahan hitam laki‑laki itu memang tampan dan gagah. Amira yang melihatnya begitu terpesona, namun kenyataan mengingatkan Amira kalau Farhan bukan miliknya. Amira tersenyum menyambut kedatangan Farhan, sedangkan Farhan merasa bersalah pada istrinya.
“Kamu sudah lama?” tanya Farhan menyambut Amira yang mencium tangannya, lebih tepatnya bersalaman seperti seorang istri shalihah, momen terakhir bagi Amira sebelum benar‑benar melepas suaminya.
“Belum lama, Mas, paling baru 30 menit saja. Duduk, Mas, aku udah pesan minuman kesukaan kamu. Kamu udah makan siang?” Amira masih bersikap seperti seorang istri, lagi‑lagi dia ingin melakukan tugas terakhirnya.
“Aku sudah makan, kamu mau bicara apa? Maaf akhir‑akhir ini aku sibuk jadi jarang ketemu kamu, aku harus bolak‑balik ke luar kota untuk urusan kantor. Kamu nggak keberatan, kan?” ucap Farhan yang masih menutupi kebohongannya.
Amira hanya tersenyum, “Aku tidak apa‑apa, Mas, lagi pula aku tidur di rumah orangtuaku bersama kedua adikku. Oh iya, aku nggak mau mengganggu waktu kamu terlalu banyak, jadi aku langsung terus terang aja.” Amira mengambil undangan dari pengadilan dan menyerahkan pada Farhan, hal itu membuat Farhan bingung sekaligus terkejut.
“Ini apa? Pengadilan, maksud kamu apa?” tanya Farhan dengan segala tanda tanyanya.
Amira masih tersenyum mendengar pertanyaan Farhan, “Ini undangan dari pengadilan, Mas.”
“Iya, aku tahu, maksudnya undangan siapa?” tanya Farhan lagi.
“Ini undangan untuk sidang perceraian kita,” ucap Amira membuat detak jantung Farhan berdetak cukup kencang, matanya terbelalak apa yang dia dengar saat ini benar‑benar membuatnya terkejut.
“Maa… maksud kamu apa?” tanya Farhan terbata, namun Amira masih santai dengan senyumnya.
“Mas, ayo kita hidup masing‑masing seperti sebelumnya.” Amira mulai berterus terang menyampaikan tujuan sebenarnya. Farhan masih terbengong, bukankah ini yang sejak awal dia inginkan, tapi kenapa dia sekarang tidak menerimanya?
“Amira, kamu kenapa sebenarnya, apa aku ada salah?” Pertanyaan Farhan cukup bodoh, bukankah semua kesalahan ada pada dirinya?
Amira menggelengkan kepalanya, “Kamu yang menggugat, bukan aku!” ucap Amira lagi‑lagi membuat Farhan bingung, kapan dia melakukannya?
“Kamu jangan mengada‑ada, kapan aku melakukannya?”
“Sejak awal kamu sudah melakukannya, Mas, cuma kamu terlalu lama menunda. Aku nggak sengaja melihatnya, berkas milikmu terbuka di ruang kerja, maaf aku lancang masuk ke sana, Tuhan seperti sedang menunjukkan sesuatu dan ternyata benar, aku mengetahui banyak hal di sana, sesuatu yang mungkin tersimpan rapat sejak lama,” kata‑kata Amira keluar begitu saja, tanpa rasa sakit dan kecewa yang diperlihatkan, justru Amira berkali‑kali tersenyum seolah mengatakan ‘aku baik‑baik saja’.
“Munkin kalau itu sudah termasuk talak. Aku berusaha menerima semuanya, aku berusaha untuk tidak terkejut untuk setiap kenyataan yang aku terima. Tapi surat perceraian ini adalah keputusan akhirnya.”
Farhan tertampar untuk setiap kata‑kata yang keluar dari mulut istrinya, dadanya seperti dihantam benda keras menyesakkan. Dia bahkan terdiam tak bisa membalas setiap apa yang keluar dari mulut istrinya. Farhan teledor, kalau Amira melihat surat itu pasti dia melihat foto‑fotonya bersama Clarisa.
“Aaa… Mira, aku bisa jelaskan,” Farhan terbata, namun Amira menggeleng.
“Mas, biarkan aku bicara untuk yang terakhir kalinya. Kamu menikahiku karena kasihan, bukan cinta, dan aku pikir sudah saatnya aku menghentikan belas kasihanmu terhadap aku dan kedua adikku. Jika sejak awal kamu jujur pun aku tidak bisa menerima ini, dikasihani oleh orang terdekat itu seperti diinjak tepat pada harga diri yang selama ini dijaga utuh….”
“Aku tahu kamu berniat baik dan aku sangat berterima kasih, tapi tujuanku menikah bukan untuk dikasihani. Kamu juga berhak hidup dengan wanita yang kamu cintai, tapi itu bukan aku. Mulai sekarang aku lepaskan beban ini dari pundak juga hatimu, hiduplah seperti apa yang kamu rencanakan sejak awal, aku dan kedua adikku masih cukup mampu untuk bertahan hidup meskipun tanpa uluran tangan Mas.” Kata demi kata yang Amira ucapkan bagai tamparan, Farhan sudah kalah bahkan sebelum persidangan.
“Amira… ma‑af,” ucap Farhan penuh penyesalan.
“Mas tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf, karena kesusahanku begitu terlihat sampai‑sampai membuat kamu menikahiku. Aku juga minta maaf karena mengirim gugatan perceraian yang Mas buat ke kantor pengacara yang Mas tunjuk, karena kalau ditunda lagi kamu akan terus membohongi diri sendiri….”
“Untuk harta gono‑gini yang kamu sebutkan di perjanjian cerai itu aku menolaknya, aku hanya minta kamu mengikhlaskan apapun yang aku dan kedua adikku makan, biaya penebusan rumah dan renovasi rumah dan fasilitas yang kamu berikan selama kita menikah. Itu sudah lebih dari cukup.”
Farhan benar‑benar merasa bersalah pada Amira, dia terlalu kejam.
Tak lama muncul kedua adik Amira, Amara yang menggunakan tongkat pun datang untuk berterima kasih secara langsung pada Farhan.
“Kalian sudah datang?” tanya Amira, keduanya mengangguk dan Farhan dengan wajah lesunya terkejut melihat kondisi Amara.
“Amara, kamu kenapa?” tanya Farhan.
“Jatuh, Mas, di sekolah, alhamdulillah sudah lebih baik.”
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Sudah, Mas, aku menerima perawatan di rumah sakit lebih dari 3 malam.”
Farhan kali ini benar‑benar sudah tidak lagi menghitung kebodohannya.
*