Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^24
Sebenarnya bukan pilihan akhir yang selalu mendapat pengalihan untuk diri ini tetap diam dan terus mengabaikan apa yang ia tahu. Hanya saja, waktunya benar-benar belum tepat. Dan menelan keputusan yang tidak ada rencana akan semakin membuat diri terancam. Apalagi, pengakuan sulit tuk di utarakan. Karena melontarkan kalimat palsu itu sangat mudah sekali bagi sosok yang berdusta pada jiwanya sendiri.
Tetapi, jika melihat sekitarnya kembali, mungkin melangkah sedikit untuk memberi ancaman akan diri lakukan. Karena, entah kenapa, ketakutan terus saja menyelinap memenuhi sukma. Akan keraguan yang begitu senang mengusik kehidupan.
Berjalan beriringan dengan beberapa orang yang sedikit akrab tidak membuat mulut membuka suara, akan kepala di penuhi oleh beberapa pertanyaan yang tercetus begitu saja dalam hati.
"Sepertinya handphone ku tertinggal, kalian bisa pulang lebih dulu tanpa menungguku." Ucapnya, yang membuat beberapa pasang mata di dekatnya menoleh secara bersama untuk membalas tatapannya dengan sorot yang berbeda.
"Kau yakin?" Tanya salah-satu pemuda di sana. Aldi melihat sebentar arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Dan kembali menatap gadis di hadapannya.
"Emm," mengangguk kecil Austyn meyakinkan teman-temannya. "Aku bisa pulang sendiri."
"Kau bisa meminta pertolongan tanpa harus memikirkan balas budi." Begitu rendah, tapi kalimat itu sangat jelas menyapa pendengaran Austyn-- beralih menatap Yuna.
"Itu akan jauh lebih menyulitkan hidupku, jadi kalian pulanglah." Akhir Austyn. Sebentar melihat empat insan di depan matanya, sebelum memutar tumit dan melangkah pergi dari hadapan mereka. Tanpa menunggu balasan.
"Kalian yakin dia tidak melakukan hal buruk?" Tanya Aldi yang tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Austyn.
"Percayalah apa yang dia katakan, karena itu salah-satu kunci dari persaudaraan." Ucap Anrey yang tersenyum kecil sebelum melangkah ke arah di mana halte bus berada.
"Persaudaraan?" Gumam Aldi dengan kening mengerut samar.
"Sedikit bersikap baiklah padanya. Agar kau tahu, bagaimana kehidupannya." Pinta Yuna, mengangguk kecil menatap Aldi. Sebelum berjalan pergi mengikuti kemana arahnya Anrey. Dan bukan berarti Yuna ingin menyusul pemuda itu. Karena mereka berada di arah yang sama.
"Apa aku harus mengunjunginya?" Tanya Aldi, kini menatap Anna. Karena hanya gadis itu yang tersisa.
"Kau, dengan Austyn memiliki hubungan sebagai saudara?" Sangat ragu dan seharusnya tidak Aldi cetuskan. Tetapi, rasa ingin tahunya jauh lebih tinggi dari pada menutup mulutnya.
Diam sejenak, mengangguk sebentar. "Ada beberapa hal yang tidak harus kau ketahui, karena itu akan membuat hidupmu aman."
"Jadi, kau_" seketika diam, tidak melanjutkan perkataannya saat mendapat balasan dari Aldi .. walau itu hanya sebuah gumaman.
"Garden's company, itu perusahaan yang tengah ku incar." Bukan sebuah pengakuan, Aldi hanya ingin memberitahu. Agar Anna tidak melangkah lebih jauh lagi untuk membuat dirinya beratahan akan perjuangannya tuk mendapatkan gadis itu.
Kepala Anna mengangguk paham. "Bersainglah dengan sehat, karena pertumpahan darah itu sangat mengerikan."
"Kau ingin tahu satu hal?" Diam sejenak menelan ludahnya sendiri, sembari merubah sedikit posisi berdirinya menghadap Anna. "Bagi kita, tidak ada persaingan secara sehat. Walaupun aku sering mengatakan, jika menghargai, menghormati itu jauh lebih penting dari apapun. Tetapi, semua itu tidak nyata sama sekali."
"Jangan pernah kau menilai diriku sebagai orang baik, karena kau akan menyesal saat mengetahui keburukanku." Sambung Aldi yang entah kenapa harus mengikuti egonya saat ini. Karena tujuan utamanya hanya ingin membuat keluarganya utuh seperti dulu.
"Aku akan mengantarkan mu pulang untuk kali terakhirnya. dan, buanglah perasaanmu pada Anrey, karena dia tidak menyukaimu sama sekali." Final Aldi, yang mampu membuat Anna diam seribu bahasa. Kecuali dengan kedua kakinya yang perlahan melangkah mengikuti Aldi dari belakang.
Sedangkan Austyn yang kini tengah bersandar pada dinding samping pintu perpustakaan, untuk menemui seseorang di dalam sana. Dengan cara menunggu, agar tidak mengganggu aktivitas orang itu.
Hingga sebuah bayangan di lantai membuat ujung bibir Austyn sekilas tersungging, dan tetap tidak merubah raut wajahnya yang sangat terlihat tengah ingin mengintrogasi seseorang. Serius penuh arti.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Spontan seorang wanita dewasa yang baru saja keluar dari dalam perpustakaan dengan ekspresi terkejut melihat kehadiran Austyn.
Menegakkan punggungnya dan merubah posisi berdirinya tepat di hadapan sang wanita. Dia penjaga perpustakaan.
"Kau ingin mengikuti perintah ku, jika tidak ingin aku mengusik hidupmu?" Tawaran yang tidak terduga tercetus begitu saja dari mulut Austyn.
Wanita itu membuang napas tidak percaya. "Kau sadar? Jika ucapan mu itu tidak sopan sama sekali."
"Karena hanya itu, yang bisa merubah hidupku." Balas Austyn tanpa ragu.
"Kau sepertinya lelah Austyn, jadi kau pulanglah dan istirahat lah." Akhir sang wanita yang tidak ingin berdebat dengan Austyn, karena baginya itu sangatlah membuang waktu. Apalagi ia harus menemui seseorang yang telah menunggunya sejak tadi. Siapa lagi jika bukan kekasihnya.
Dan Austyn hanya bisa tersenyum masam, sebelum melontarkan perkataanya kembali yang langsung membuat kaki wanita itu berhenti dari langkahnya. "Aku tahu, apa yang kau lakukan di ruangan kepala sekolah."
Austyn melangkah mendekat, melihat sang wanita yang perlahan membalikkan tubuhnya.
"Aku memilikinya, jika kau menanyakan bukti itu." Sambung Austyn dengan senyum kemenangannya.
"Kau__" tajam sang wanita.
"Seharusnya kalian tahu waktu dan tempat, di mana kalian harus melakuan hal menjijikkan seperti itu. Walau, itu hanya sebentar."
"Berhentilah memberi ancaman, itu akan merugikan dirimu sendiri. Karena tidak ada yang peduli dengan apa yang aku lakukan saat bersama kepala sekolah. Jadi manfaatkan waktu mu untuk belajar, itu jauh lebih menguntungkan ke hidupan mu." Geram sang wanita yang berusaha untuk tidak terpengaruh ataupun menunjukkan ekpresinya yang mulai merasa gelisah.
"Mungkin mereka tidak akan peduli dengan mu. Tapi, bagaimana dengan kepala sekolah?" Sekilas Austyn menaikan kedua alisnya. Begitu berani menantang wanita yang sangat jauh lebih dewasa dari Austyn.
"Bagaimana dengan karirnya? Apa kau yakin, jika dia akan memilih mu ketimbang profesinya? Setelah aku melihatkan bukti ini." Sambung Austyn.
"Jika dia lebih memilih mu, akan aku akui, mental dia jauh lebih besar dari apa yang aku pikirkan. Tapi, sepertinya itu sangat mustahil sekali. Karena, kepala sekolah begitu gila akan uang. Dengan uang, dia begitu mudah mempermainkan mu. Menjadikan mu sebagai pemuas napsunya. Dan bodohnya, kau juga menikmatinya tanpa bertanya. Apa benar yang aku lakukan saat bersamanya? Seharusnya kau berpikir lebih dulu sebelum menerima tawarannya." Menambahkan perkataannya dengan sorot mata yang menyimpan sejuta kepercayaan. Jika sikapnya saat ini memang baik untuk dirinya.
"Mungkin, dan itu sangat jelas. Kau hanya butuh uangnya." Tersenyum simpul. Austyn menang berargumen melawan wanita penjaga perpustakaan.
"Tutup mulut mu Austyn." Seru sang wanita yang tertahan. Semakin membuat lengkungan bibir Austyn terlihat sempurna.
"Bagaimana? Kau mau menerima tawaran ku?"