Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
...Perpisahan adalah pandangan mata kerinduan yang tak di inginkan semua orang, lalu bagaimana jika yang menciptakan perpisahan itu adalah dirimu sendiri? Dan saat kau sudah mengetahui segalanya, penyesalan itu tidak lagi berguna, semua sudah terjadi dan itu kau ciptakan sendiri....
...Air mata tidak akan pernah bisa mengubah apapun, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan apa yang tidak dapat terucap oleh kata....
...Tangan Anneliese bergetar saat menangkup wajah seseorang yang terbaring di atas pangkuannya, tenggorokannya sakit, pandangan matanya mengabur di penuhi sesak cairan yang tidak dapat lagi ia tahan. Kini pria yang tak lain adalah suaminya itu tersenyum dan menggerakkan tangannya yang berlumuran darah untuk menyentuh wajah Anneliese. Senyuman yang terukir di wajah Leopold terasa hangat, begitu hangat sampai bisa membuat Anneliese terbakar kapan saja. Tapi, Anneliese sama sekali tidak menginginkan senyuman hangat itu, ia tidak menginginkan sebuah senyuman hangat yang justru akan hilang selamanya. Yang Anneliese inginkan hanyalah harapan kecil di mana ia bisa terus mencintai suaminya tanpa terhalang takdir yang menuntutnya menjadi penyelamat dunia....
...Perlahan Anneliese mulai bisa berkata setelah ia bersusah payah dan berhasil menahan isakan tangisnya. " Kenapa kau baru mengungkapkan cintamu sekarang? Kenapa kau terus membuatku berpikir kau tidak pernah mencintaiku? Kenapa...... kau membiarkan aku membunuhmu? " Tangisan itu kembali tumpah setelah ia mengucapkan isi hatinya yang begitu berantakan. Banyak kata 'kenapa' terus berputar di kepalanya, seolah ingin menyiksanya dengan ribuan pertanyaan yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan....
..." Karena aku terlalu mencintaimu, sampai aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan semuanya padamu. " Sebuah tawa getir keluar dari mulut pria itu bersamaan dengan tetesan air mata yang mulai mengalir membasahi wajahnya." Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sebodoh itu, aku terlalu takut untuk mengucapakan perasaanku....aku takut kau semakin membenciku... aku takut kau semakin menjauh dariku, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan untuk tidak mengatakan perasaanku, aku juga takut menyesal jika sampai aku mati tidak mengungkapkan semuanya padamu...jadi, pada kesempatan ini biarkan aku mengatakannya.......aku mencintaimu Anneliese, aku sangat mencintaimu." lanjutnya dengan suara yang terdengar semakin melemah....
...Semua kenyataan ini terasa begitu menyakitkan, bahkan sampai membuat Anneliese tidak sanggup lagi berbicara....
..." 𝘈𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺a, " bisikan itu terucap jauh di dalam hati Anneliese. Memaparkan penyesalan dalam hidupnya....
...Kini tangan Leopold sudah tidak lagi sanggup untuk menyentuh wajah wanita yang begitu ia cintai, namun sebelum tangan itu benar-benar jatuh, Anne telah meraihnya agar tangan itu tetap bisa menyentuh wajahnya, agar ia bisa terus mencium telapak tangan suaminya dengan tangisan yang tidak pernah berhenti....
..." Ku mohon jangan tinggalkan aku. " Bisikan itu terus terucap dan lolos begitu saja dari mulutnya di sela-sela ia mencium telapak tangan suaminya....
...Malam yang seharusnya terasa tenang telah berubah menjadi waktu perpisahan yang tidak pernah di inginkan. Tirai yang menggantung di jendela terus melambai terkena sapuan angin malam yang lembut seolah ikut merasakan perpisahan menyakitkan ini....
...Hembusan napas pelan keluar dari hidung Leopold seperti tengah menahan sakit yang ia rasakan. "Anneliese....tersenyumlah padaku, aku belum pernah melihatnya." ungkapan itu hampir berbisik....
...Hati Anne jelas terasa semakin sakit mendengar permintaan suaminya yang membuatnya seketika sadar jika selama ini ia tidak pernah sekalipun menunjukkan senyuman untuk Leopold. Permintaan yang terdengar sederhana namun sangat menyakitkan bagi Anne....
..." Ku mohon....boleh ya? "...
...Cukup, itu sudah sangat menyakitkan....
...Kemudian, tanpa melepas tangan suaminya yang terus ia raihkan pada sisi kanan wajahnya, perlahan Anne menahan isakan tangis yang bahkan tidak bisa ia hentikan, lalu dengan sedikit tarikan ia membentuk sebuah senyuman seperti yang di inginkan suaminya. Sebuah senyuman di iringi tetesan air mata yang cukup untuk menyiksa Anne selama sisa hidupnya....
..." Cium aku "...
...Anne mengerti jika waktu yang ia miliki bersama suaminya sudah tidak banyak lagi. Tanpa harus berpikir, Anne langsung mengabulkan permintaan dari sang suami dengan mencium lembut kening suaminya, ciuman yang akan menjadi ciuman pertama dan terakhir baginya dengan sang suami. Ciuman yang bahkan tidak ingin ia lepas untuk selamanya. Ciuman yang menjadi trauma terbesar dalam hidupnya, karena saat ciuman itulah ia benar-benar kehilangan sosok yang tidak ia sadari selalu mencintainya tanpa syarat....