NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pintu kamar mandi berderit terbuka lebar. Zuhair melangkah keluar dengan wajah yang masih basah oleh sisa air wudhu, memberikan kesan tenang yang kontras dengan suasana panas yang sengaja diciptakan oleh Celina.

Zuhair menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan ranjang. Matanya menangkap pemandangan Celina yang duduk bersandar dengan gaun maroon yang melorot di satu bahu, memperlihatkan kulit putihnya yang sengaja dipamerkan. Celina menyunggingkan senyum paling menawan yang ia punya, menunggu reaksi panik, gugup, atau bahkan nafsu dari laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu.

Namun, ruangan itu mendadak hening. Zuhair tidak membuang muka, tapi ia juga tidak mendekat. Ia menatap Celina dengan pandangan yang heran— namun bukan pandangan menghakimi, melainkan pandangan yang penuh ketenangan, seolah ia sudah tahu rencana ini akan terjadi.

"Kenapa lo diem? Takut?" tantang Celina, suaranya dibuat serak yang menggoda. "Katanya amanah orang tua, katanya istri itu ladang pahala. Masa nggak mau nyentuh istrinya sendiri?"

Zuhair menarik napas panjang, lalu menyampirkan handuknya di gantungan kayu dengan perlahan. Ia berbalik, menatap mata Celina dengan lekat, namun suaranya tetap datar tanpa getaran sedikit pun.

"Saya bisa saja melakukan apa yang menjadi hak saya malam ini, Celina," ucap Zuhair rendah. "Tapi saya tidak akan menyentuh wanita yang sama sekali belum mencintai saya."

Wajah Celina seketika berubah masam. Ia merasa seperti baru di hina oleh laki-laki di depannya ini.

"Maksud lo? Gue ini istri lo, bego. Lo mau nolak?" semprot Celina, mulai merasa egonya terluka.

"Bagi saya, sentuhan tanpa perasaan itu bukan hal yang baik. Kamu melakukan ini hanya untuk mengetes saya, atau mungkin untuk merendahkan diri kamu sendiri di depan saya agar saya membenci kamu," Zuhair berjalan menuju sisi lain ranjang, mengambil sebuah selimut cadangan di dalam lemari.

"Tidurlah. Saya tidak akan memaksa kamu menjadi apa yang bukan dirimu. Kamu ingin saya meminta cerai? Maka tunjukkan bahwa kamu memang tidak pantas di sini dengan cara yang lebih terhormat, bukan dengan cara tidak baik seperti ini."

Zuhair kemudian menggelar sajadah di sudut ruangan yang cukup jauh dari tempat tidur. Ia membelakangi Celina, mulai mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, tenggelam dalam salat sunnahnya.

Celina terpaku di pinggir ranjang. Bajunya masih setengah terbuka, tapi ia merasa sangat bodoh dan... malu, meski Zuhair tidak menyentuhnya sama sekali. Kalimat itu tentu menusuk egonya lebih dalam daripada makian Bundanya.

"Sialan!" umpat Celina dalam hati sambil menarik kembali resleting gaunnya dengan kasar.

Ia merebahkan tubuhnya ke kasur, membelakangi Zuhair yang sedang sujud dengan khusyuk. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena amarah dan rasa penasaran yang mulai tumbuh.

Suara deru langkah kaki yang samar dan gumaman doa yang rendah samar-samar menembus celah pintu kamar, membangunkan Celina dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia melirik jam di atas nakas. 03.30 WIB.

"Gila... jam segini udah pada tawuran apa gimana sih?" gerutu Celina dengan suara serak. Kepalanya masih sedikit pening, dan rasa haus mencekik tenggorokannya

Tanpa berpikir panjang, masih dengan kesadaran yang belum penuh, Celina bangkit dari kasurnya. Ia tidak mempedulikan di mana Zuhair berada—yang ia tahu pria itu sudah tidak ada di sajadahnya. Ia hanya ingin mencari udara segar dan air minum.

Celina melangkah keluar kamar tanpa mengganti pakaiannya. Ia hanya mengenakan lingerie sutra tipis berwarna maroon dengan potongan dada rendah dan panjang yang hanya sebatas paha atas. Bahunya yang mulus terekspos total, dan rambutnya yang pirang berantakan khas orang bangun tidur.

Begitu ia menginjakkan kaki di koridor luar ndalem yang menyambung dengan area santri, suasana mendadak sunyi senyap seolah waktu berhenti berputar.

Beberapa santriwan yang sedang mengangkut ember air untuk persiapan salat Tahajud mendadak mematung. Detik berikutnya, secara serempak, mereka serempak menundukan pandangan yang. Ada yang sampai hampir menabrak tiang, ada yang menunduk dalam-dalam hingga dagunya menyentuh dada, dan ada yang langsung berbalik arah dengan langkah seribu sambil berkomat-kamit membaca istigfar.

Celina yang melihat itu justru tertawa mengejek. "Kenapa lo semua? Kayak liat setan aja."

Ia terus berjalan santai, melewati selasar dengan gaya layaknya di atas catwalk. Baginya, ini adalah wilayah orang tuanya, dan sekarang wilayah suaminya. Ia merasa bebas melakukan apa saja. Ia tidak tahu bahwa di dunia pesantren, apa yang dilakukannya saat ini setara dengan melempar bom di tengah keramaian.

"Celina."

Suara yang sangat ia kenal itu terdengar dari arah belakang. Celina menoleh dan mendapati Zuhair sedang berdiri di dekat pilar masjid, baru saja selesai mengimami salat sunnah para santri senior.

Zuhair berjalan mendekat. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada urat leher yang menegang. Ia hanya melepas sorban hijau yang melingkar di lehernya. Begitu sampai di depan Celina, tanpa berkata-kata, ia membentangkan sorban itu dan menyampirkannya ke bahu Celina, menutupi bagian atas tubuh istrinya yang terbuka.

"Udara pagi di sini dingin banget Celina. Kamu bisa masuk angin kalau keluar hanya pakai baju tidur," ucap Zuhair tenang, suaranya nyaris seperti bisikan agar tidak terdengar santri lain.

Celina mendengus, mencoba melepaskan sorban itu. "Gue gerah, Zuhair! Lagian ini kan rumah gue juga, terserah gue mau pakai baju apa."

Zuhair menahan ujung sorban itu agar tidak jatuh. Matanya tetap tenang, tidak melirik ke arah kaki Celina yang terekspos. "Benar, ini rumahmu. Tapi di sini ada ribuan mata yang sedang belajar menjaga pandangan. Kamu tidak tahu soal aturan di sini karena ini pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di pesantren, jadi saya maklumi."

Ia kemudian menunjuk ke arah sekumpulan santri yang masih menunduk kaku di kejauhan. "Mereka menunduk seperti itu bukan karena kamu jelek, tapi karena mereka menghormati saya sebagai guru mereka, dan menghormati kamu sebagai istri saya. Jadi, tolong bantu mereka untuk tetap fokus pada ibadahnya."

Celina terdiam sebentar, menatap santri-santri yang tampak ketakutan itu. Ada rasa aneh yang menyelinap di hatinya—bukan rasa bersalah, tapi rasa takjub melihat bagaimana satu kata dari Zuhair bisa membuat suasana kembali terkendali.

"Ayo masuk, saya sudah siapkan air hangat di kamar," ajak Zuhair sambil sedikit mendorong bahu Celina agar berbalik arah.

Celina berjalan kembali ke kamar dengan sorban hijau milik Zuhair yang masih melekat di bahunya.

"Ck, sok bijak lo, lagian lo kenapa sih ga cari cewek yang sama-sama santri aja—eh lo malah nerima perjodohan kita." gumam Celina lirih, meski ia tidak lagi mencoba melepas sorban itu.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!