Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Lembah Dunia Terpisah dan Dua Penjaga Kuno
Aroma kertas tua yang menjadi ciri khas ruangan Wakil Dekan selalu mengandung sesuatu yang berbeda dari aroma kertas tua di perpustakaan—di sini, ia bercampur dengan seduhan teh herbal yang selalu ada di sudut kiri meja, dengan dupa yang sangat tipis dari batu arang khusus yang dibakar untuk keperluan konsentrasi, dan dengan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi namun yang selalu ada setiap kali ada sesuatu penting yang sedang dipikirkan di dalam ruangan ini.
Sinar matahari sore masuk melalui jendela yang celahnya tidak pernah dibuka sepenuhnya—cukup untuk cahaya, tidak cukup untuk angin yang mengganggu kertas-kertas yang berserakan—memotong udara ruangan dalam garis-garis diagonal yang memperlihatkan partikel debu yang bergerak sangat pelan.
Yu Fan membungkuk hormat setelah pintu tertutup di belakangnya. "Murid Yu Fan menghadap Wakil Dekan. Perihal apa yang membuat Senior memanggil?"
Wakil Dekan Ruan Jing mendongak dari gulungan yang sedang ia pegang. Matanya yang selalu mengandung kalkulasi yang tidak pernah berhenti menatap Yu Fan selama beberapa detik dengan cara yang sudah sangat dikenal—cara seseorang yang sudah memutuskan sesuatu namun yang sedang melakukan satu kali verifikasi terakhir sebelum mengucapkannya.
"Duduklah." Ia meletakkan gulungan itu, membuat gestur ke kursi di seberang mejanya. "Ada ekspedisi yang membutuhkan seseorang dengan kualifikasi yang sangat spesifik."
Penjelasan berlangsung singkat dan sangat terukur—cara Wakil Dekan Ruan selalu menyampaikan informasi, tanpa elaborasi yang tidak diperlukan, tanpa detail yang tidak langsung relevan dengan tujuan. Mata-mata akademi menemukan lembah tersembunyi di perbatasan barat yang paling jauh. Energi spiritual yang memancar dari dalam sangat murni dan sangat padat, terdeteksi dari jarak yang seharusnya tidak memungkinkan untuk energi jenis itu. Apa yang ada di dalamnya belum diketahui karena tidak ada yang berhasil menembus lapisan anomali yang melindunginya.
"Han Fei sedang memimpin misi darurat lain," ucap Wakil Dekan. "Itulah sebabnya aku memanggilmu."
"Hanya kami berdua, Senior?" tanya Yu Fan.
Wakil Dekan membuka mulutnya untuk menjawab.
Udara di sudut ruangan—di antara lemari buku kuno yang tingginya hampir mencapai langit-langit—berdesir dengan cara yang tidak seharusnya terjadi di ruangan tertutup tanpa angin. Bukan berdesir karena gerakan besar. Berdesir karena sesuatu bergerak sangat presisi melaluinya, menggeser partikel udara yang ada di jalurnya dengan cara yang diminimalkan hingga hampir tidak ada.
Dari bayangan di antara dua lemari, sesosok pemuda melangkah keluar.
Caranya muncul sangat berbeda dari cara seseorang masuk ke ruangan—tidak ada langkah kaki yang terdengar mendekati, tidak ada perubahan cahaya yang memberikan sinyal, tidak ada cara mendeteksi bahwa ada yang akan muncul dari sana sampai ia sudah ada di sana. Seperti kondensasi—tidak ada, kemudian ada, dengan proses di antaranya yang terlalu cepat untuk diamati.
Yu Fan menatapnya.
Pemuda itu—Xiao Feng, yang sudah pernah ada di arena ujian penerimaan dua tahun lalu dalam formasi bersama namun yang sejak itu hampir tidak pernah terlihat di akademi dalam cara yang bisa disebut sebagai hadir—mengenakan pakaian yang sangat berbeda dari apa pun yang dikenakan murid akademi biasanya. Gelap, ringkas, tanpa ornamen yang tidak fungsional. Setiap jahitan ada di sana karena ada alasannya, setiap lapisan memiliki fungsi yang tidak sepenuhnya dekoratif. Di pinggangnya, sebilah belati pendek dengan bilah hitam legam dalam sarung yang warnanya tidak kontras dengan jubahnya—sarung yang dirancang agar tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
Wajahnya—yang Yu Fan sekarang bisa lihat lebih jelas dari saat di tangga ujian karena kondisi dan jarak yang berbeda—adalah wajah yang termasuk dalam kategori yang menimbulkan respon yang berbeda tergantung konteksnya. Di wajah biasa, tampannya tidak mencolok. Namun cara matanya bergerak, cara otot-otot wajahnya mempertahankan ekspresi tertentu dengan sangat konsisten meski situasi di sekitarnya berubah, dan cara ia berdiri bahkan dalam posisi yang seharusnya santai mengandung sesuatu yang membuat orang menginginkan lebih banyak jarak dari yang ingin diakui.
Matanya tajam dengan cara yang berbeda dari ketajaman Alaric atau Mo Han atau Senior Han—ini adalah ketajaman yang lebih pasif, yang tidak mencari konfrontasi melainkan yang merekam semua yang masuk ke dalam jangkauan indranya dan yang menyimpannya untuk digunakan pada waktu yang relevan.
Ia memberikan hormat kepada Wakil Dekan dengan cara yang sangat minimalis—anggukan yang tepat cukup untuk termasuk dalam kategori penghormatan namun yang tidak satu milimeter lebih dari itu.
Kemudian matanya beralih ke Yu Fan.
Tidak ada sapaan. Tidak ada anggukan. Hanya tatapan yang berlangsung selama dua atau tiga detik dari sudut matanya, mengandung banyak hal yang tidak satu pun dari hal itu diucapkan.
Yu Fan merespons dengan cara yang sama—menatap balik, tidak memaksakan percakapan yang jelas tidak dinginkan.
Namun di dalam pikirannya, ada sesuatu yang sangat tidak biasa yang sudah ia identifikasi sejak detik pertama Xiao Feng keluar dari bayangan itu.
Tingkat 4 Tahap Akhir.
Sama persis dengannya.
Bukan hal yang mengejutkan secara abstrak—dua tahun di akademi yang sama, mulai dari titik yang sama, bukan tidak mungkin menghasilkan tingkatan yang sama. Namun yang mengejutkan adalah cara Xiao Feng menyembunyikannya. Dari semua orang di akademi—termasuk Wakil Dekan yang secara profesional sangat terlatih dalam membaca aura—tidak satu pun yang pernah menyebut Xiao Feng dalam konteks tingkat kultivasi. Ia selalu ada di akademi sebagai entitas yang tidak perlu dikategorikan, yang kehadirannya tercatat namun yang kontribusi spesifiknya tidak terdefinisi.
Selama dua tahun, ia menyembunyikan ini dari semua orang.
"Yu Fan," ucap Wakil Dekan, "Xiao Feng akan menjadi partnermu dalam ekspedisi ini. Keahliannya dalam deteksi perangkap dan navigasi di medan yang tidak familiar akan sangat berguna."
Xiao Feng tidak bereaksi terhadap deskripsi itu—tidak mengkonfirmasi, tidak membantah. Hanya berdiri dengan cara yang sudah sangat terbiasa dengan keberadaannya didefinisikan oleh orang lain dan yang sudah sangat lama memutuskan bahwa mendefinisikan diri sendiri secara publik bukan sesuatu yang perlu dilakukan.
Perjalanan ke barat berlangsung dalam formasi yang terbentuk secara natural tanpa ada yang menyuarakannya: Wakil Dekan di depan, Yu Fan satu langkah di belakang kanannya, dan Xiao Feng—secara mengejutkan—bukan di belakang mereka melainkan di posisi yang tidak bisa sepenuhnya ditentukan karena setiap kali Yu Fan mencoba melihat ke arahnya, Xiao Feng ada di tempat yang sedikit berbeda dari yang terakhir kali terlihat. Bukan karena ia bergerak banyak—melainkan karena cara ia bergerak dalam konteks lingkungan sekitarnya selalu menempatkan dirinya di titik yang paling sulit untuk diperhatikan secara langsung.
Yu Fan menghentikan usahanya untuk selalu tahu di mana Xiao Feng berada. Ia menerima fakta bahwa Xiao Feng ada di suatu tempat yang cukup dekat untuk mendengar dan merespons jika ada yang membutuhkan, dan membiarkan itu cukup.
Pegunungan terlarang yang mereka lintasi berbeda dari pegunungan yang ia kenal dari perjalanan-perjalanan sebelumnya—lebih tinggi, lebih terjal, dengan kabut yang ada di ketinggian tertentu yang tidak bergerak meski ada angin, seperti kabut yang sudah memutuskan bahwa ia akan tinggal di posisi itu apapun yang terjadi. Di beberapa titik, formasi batuan yang mereka lewati mengandung energi yang beresonansi dengan Pedang Yin di punggung Yu Fan—sangat tipis, seperti getaran yang terdengar di frekuensi yang tidak ditangkap oleh telinga biasa namun yang sangat nyata bagi yang sudah terlatih untuk merasakannya.
Ia tidak menyebutkan ini kepada Wakil Dekan.
Setelah waktu yang tidak bisa diukur karena tidak ada referensi waktu yang baik di pegunungan tanpa matahari yang terlihat jelas, mereka tiba di tepian.
Lubang menganga yang terbuka di hadapan mereka tidak terlihat seperti pintu masuk ke mana pun. Ukurannya sangat besar—cukup untuk dua orang berdiri berdampingan dengan ruang yang tersisa di kanan dan kiri, namun yang membuatnya tidak terasa seperti pintu masuk adalah kondisi di sekitarnya. Tanah di tepiannya tidak menunjukkan tanda-tanda erosi yang seharusnya ada di lubang yang sudah lama terbuka—bersih, dengan cara yang menunjukkan bahwa sesuatu menjaganya tetap seperti ini.
Dan dari dalamnya—kabut. Bukan kabut tipis yang bisa dilewati dengan sedikit dorongan energi. Kabut yang tebal dan berputar dalam pola yang sangat terstruktur, seperti air dalam pusaran yang sangat lambat, dengan warna kelabu yang mengandung variasi sangat tipis yang menunjukkan bahwa ini bukan satu jenis material melainkan beberapa lapisan yang berbeda yang tumpang tindih.
Wakil Dekan berdiri di tepian, menutup matanya. Bernapas satu kali yang sangat panjang dan sangat pelan. Di sekitar jubahnya, energi tipis mengalir keluar—bukan untuk serangan atau pertahanan, melainkan untuk membaca.
Kemudian ekspresinya berubah. Bukan ke keterkejutan—ke sesuatu yang lebih seperti konfirmasi atas sesuatu yang sudah diantisipasi namun yang mengonfirmasinya masih menghasilkan respons.
"Energi spiritual di dalam sana," ucapnya dengan nada yang sangat terukur, "jauh melampaui apa yang dilaporkan mata-mata kami." Matanya terbuka. "Mari turun."
Ia melompat.
Yu Fan mengikuti—lompatan ke dalam pusaran kabut yang tebal, dengan cara merasakan tekanan yang sangat berbeda dari tekanan udara biasa saat tubuhnya melewati lapisan demi lapisan kabut yang setiap lapisnya mengandung kualitas energi yang sedikit berbeda.
Tirai pembatas, pikirannya bekerja saat ia turun. Bukan fenomena alam—ini buatan. Dibuat oleh seseorang yang sangat memahami cara menyembunyikan sesuatu dari dunia di atasnya.
Di belakangnya—tidak ada suara. Tidak ada desir jubah, tidak ada gerakan udara yang menandai seseorang yang melompat. Namun Yu Fan sangat yakin bahwa Xiao Feng sudah ada di dalam jauh sebelum ia masuk.
Di bawah kabut—dunia yang tidak seharusnya ada di bawah sana.
Dari sudut pandang geografis, lembah ini tidak sesuai dengan apa pun yang ada di atasnya. Luasnya terlalu besar untuk volume yang seharusnya ada di bawah lubang yang mereka masuki—cara dunia di dalamnya mengambil ruang menunjukkan bahwa ini bukan sekadar lembah alami melainkan ruang yang sudah dimodifikasi oleh seseorang yang memahami cara ruang bekerja pada tingkat yang sangat fundamental.
Reruntuhan yang membentang di hadapan mereka adalah reruntuhan yang sudah sangat tua namun yang masih menunjukkan apa yang pernah ada—pilar-pilar batu raksasa yang bahkan dalam kondisi retak dan rubuh masih mengandung ukiran yang sangat halus, bangunan-bangunan yang lantainya masih terlalu rata untuk batu yang sudah ribuan tahun tidak dirawat, dan di antara semuanya—pohon-pohon.
Pohon-pohon yang tidak ada di mana pun di dunia luar yang pernah Yu Fan lewati. Bukan karena ukurannya yang sangat besar—meski besar—melainkan karena kualitas cahaya yang mereka pancarkan. Dari setiap daun yang sangat hijau tua itu, cahaya yang bukan cahaya matahari memancar ke luar dalam gelombang yang sangat pelan, seperti napas dari sesuatu yang sangat besar dan sangat tenang. Akarnya menembus tanah dalam pola yang terlihat seperti pembuluh darah, dan di persimpangan antara akar dan tanah, energi yang bisa dirasakan bahkan tanpa sengaja merasakan mengalir dengan cara yang membuat setiap tarikan napas mengandung lebih dari sekadar udara.
Pori-pori tubuh Yu Fan terbuka secara otomatis—cara tubuh yang sudah sangat terlatih merespons konsentrasi energi yang sangat tinggi secara pasif. Ia merasakan sesuatu mengalir masuk ke dalam meridian-meridiannya dengan cara yang sangat bersih dan sangat tidak memaksa, seperti air yang menemukan salurannya sendiri.
"Tempat ini seperti makam bagi peradaban yang agung," ucap suara dari posisi yang tidak sepenuhnya bisa ditentukan—Xiao Feng, yang sudah ada di suatu tempat di sekitar reruntuhan meski tidak terlihat berdiri di mana pun yang jelas. Suaranya sangat rendah, sangat terkontrol, mengandung evaluasi yang sudah selesai dilakukan sebelum kata-kata itu keluar.
Mereka mulai bergerak masuk.
Jalan setapak berbatu kuno yang membelah reruntuhan itu dibuat oleh seseorang yang memahami bagaimana orang bergerak—lebar yang tepat, kemiringan yang mempertimbangkan drainase air meski tidak ada hujan di dalam sini, dengan batu-batu yang dipasang dalam pola yang mencegah tersandung bahkan dalam kondisi gelap. Jalan yang dibuat bukan untuk digunakan sesekali melainkan untuk digunakan setiap hari oleh banyak orang selama waktu yang sangat lama.
Mereka baru beberapa ratus langkah masuk saat sesuatu berubah.
Perubahan itu tidak datang secara bertahap. Tekanan udara naik seketika—bukan sedikit, bukan dalam cara yang bisa direspon dengan penyesuaian bertahap. Dari nol ke sangat berat dalam kurang dari sepersekian detik, dengan cara yang seharusnya tidak mungkin secara fisika untuk perubahan atmosfer yang alami.
Karena ini bukan perubahan atmosfer yang alami.
Energi menekan dari atas—dari langit lembah yang jauh di atas sana, turun dalam gelombang yang tidak terlihat namun yang sangat terasa pada setiap sel di dalam tubuh Yu Fan. Gelombang yang mengandung kualitas seseorang yang sudah sangat lama ada dan yang tidak pernah perlu memperkenalkan diri karena kehadirannya sendiri sudah cukup sebagai perkenalan.
Ini bukan energi biasa.
Yu Fan menegakkan tubuhnya dengan cara yang membutuhkan pengerahan Qi aktif untuk melawannya—bukan karena serangan yang diarahkan kepadanya, melainkan karena kepadatan aura yang memancar pasif dari sumber yang belum terlihat sudah cukup untuk memaksa kultivator di bawah Tingkat 5 menyesuaikan atau tumbang.
Di sampingnya, ia merasakan Xiao Feng juga mengerahkan Qi-nya—cara yang sangat efisien, hampir tidak ada yang terbuang, seperti seseorang yang sudah sangat terlatih untuk bertahan dengan pengeluaran energi yang paling minimum.
Wakil Dekan berdiri santai.
Langit di atas mereka.
Dari puncak sebuah pilar batu kuno yang menjulang setinggi lima lantai bangunan—yang entah bagaimana masih berdiri utuh sementara pilar-pilar di sekitarnya sudah runtuh—sesosok pria berdiri.
Dari bawah, yang pertama kali terlihat adalah siluet—lebar bahunya yang sangat signifikan, cara ia berdiri yang tidak menggunakan pilar untuk bersandar melainkan berdiri tepat di tepian tersulit dengan cara seseorang yang tidak membutuhkan dukungan dari apa pun di sekitarnya. Kemudian saat Yu Fan memfokuskan pandangannya ke atas dengan lebih teliti, detail-detail yang lain mulai jelas.
Bertelanjang dada. Bukan pilihan yang ceroboh—pilihan seseorang yang sudah sangat lama tidak memiliki alasan untuk merasa perlu melindungi diri dari cuaca atau dari pandangan. Kulitnya berwarna cokelat tua yang dalam yang tidak datang dari matahari di sini karena tidak ada matahari di dalam lembah ini, melainkan dari seribu tahun sebelumnya yang sudah sangat jauh. Di seluruh permukaan dadanya, lengan, dan bahunya—bekas luka. Bukan sedikit. Puluhan, mungkin ratusan, dalam berbagai ukuran dan kedalaman, sebagian yang meninggalkan jaringan parut yang tebal dan sebagian yang hampir tidak terlihat, semuanya sudah lama sembuh namun tidak pernah sepenuhnya menghilang. Bekas luka yang membentuk peta dari pertarungan-pertarungan yang terlalu banyak untuk dihitung.
Hanya celana panjang hitam yang sudah usang dari waktu, namun yang masih berfungsi. Rambutnya hitam panjang yang dibiarkan tidak terikat, ditiup oleh angin yang entah dari mana di dalam lembah tertutup ini.
Dan matanya—dari jarak ini Yu Fan belum bisa melihat warnanya, namun ia bisa merasakan kualitas pandangannya yang turun dari atas pilar itu sebagai sesuatu yang sangat konkret. Pandangan yang sudah sangat terbiasa melihat dari ketinggian dalam arti yang lebih dari sekadar posisi fisik.
Dari tubuhnya—aura keemasan yang membakar, memancarkan fluktuasi yang membuat ruang di sekitar pilar itu bergetar sangat tipis seperti udara di atas api yang sangat panas.
Master Tingkat 6 Tahap Akhir.
Yu Fan membutuhkan satu detik untuk mengkonfirmasi ini dan satu detik lagi untuk memproses konsekuensinya. Seseorang yang berada di puncak absolut kefanaan—satu langkah di bawah batas yang, jika dilampaui, akan mengundang respons dari hukum alam semesta itu sendiri.
Di lembah ini. Sendirian. Sudah sangat lama.
"Siapa kalian." Bukan pertanyaan—pernyataan yang diucapkan oleh seseorang yang sudah sangat lama tidak perlu mengajukan pertanyaan karena sudah cukup kuat untuk mendapatkan jawaban dengan cara lain. "Yang berani mengotori wilayahku dengan kaki fana kalian."
Tekanan kedua turun bersamaan dengan kalimat terakhir itu—gelombang yang menekan ke bawah dengan cara yang tidak meninggalkan arah untuk dihindari karena datang dari semua arah sekaligus. Lantai berbatu di bawah kaki mereka bertiga retak serentak dalam pola yang memancar keluar dari tiga titik pijakan.
Wakil Dekan Ruan Jing melangkah maju satu langkah.
Cara ia melangkah itu sudah mengkomunikasikan sesuatu yang sangat spesifik—bukan mundur, bukan menyerang, melainkan melangkah ke posisi yang menempatkan dirinya di garis depan antara pria di atas pilar itu dan dua orang yang ada di belakangnya. Ketenangan yang absolut di cara ia berdiri di sana, dengan tekanan Tingkat 6 yang sudah sangat jelas dari atas, menunjukkan seseorang yang tidak bertemu tekanan seperti ini untuk pertama kalinya.
"Saudara tua," ucapnya—dengan cara yang sangat santai, nada percakapan biasa yang kontras sangat dalam dengan intensitas tekanan di sekitar mereka. "Kedatangan kami ke sini bukan untuk mengotori atau menjarah. Kami dari Akademi Langit Biru. Mata-mata kami merasakan energi yang sangat luar biasa dari lembah ini dan kami datang untuk menginvestigasi dengan niat yang sangat murni."
"Bicaralah dengan tinjumu!"
Pria di atas pilar melompat.
Dari ketinggian lima lantai, dengan berat badannya dan dengan tambahan energi keemasan yang mengumpul di tinjunya saat turun—ia melesat ke bawah bukan dengan kecepatan manusia melainkan dengan kecepatan dari sesuatu yang memiliki masa yang sangat besar dan yang sudah melepaskan hambatan pada dirinya sendiri sepenuhnya.
Wakil Dekan menggerakkan lengan jubahnya.
Dari gerakan itu—sebuah tebasan energi yang keluar bukan sebagai cahaya atau gelombang yang terlihat melainkan sebagai distorsi di udara, seperti cermin yang tiba-tiba sangat tidak rata untuk sepersekian detik, mengandung densitas yang memantulkan tinju yang datang dengan cara yang tidak melawan melainkan mengalihkan.
BOOM.
Benturan antara tinju pria itu dan tebasan Wakil Dekan menghasilkan gelombang kejut yang Yu Fan merasakan di seluruh permukaan tubuhnya bahkan dari jarak yang ia sudah mundur—gelombang yang terasa seperti seseorang memukul udara di seluruh ruangan sekaligus. Pilar-pilar di sekitar titik benturan itu—yang sudah bertahan ribuan tahun—hancur dalam pola yang memancar keluar dari pusat benturan.
Pertarungan yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang Yu Fan tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkannya dari sudut pandang seseorang yang menyaksikannya.
Bukan karena tidak bisa melihatnya—ia bisa melihat setiap pertukaran, setiap tebasan dan blokade dan defleksi. Masalahnya adalah apa yang bisa dilihat tidak cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi karena yang paling penting adalah yang tidak terlihat—cara dua entitas yang berada di puncak absolut kefanaan menggerakkan energi pada tingkat yang tidak meninggalkan indikator visual yang cukup untuk menggambarkan skalanya.
Setiap kali tinju pria itu bertemu dengan telapak tangan Wakil Dekan, sebuah ledakan tekanan menyapu radius yang semakin meluas. Pohon-pohon spiritual yang berusia ratusan tahun—yang bertahan dari waktu yang sangat panjang dan yang tampak sangat kokoh—membungkuk dari gelombang kejut pertarungan yang bukan diarahkan ke mereka namun yang ada dalam radius yang tidak bisa dihindari.
Yu Fan mencengkeram pilar reruntuhan yang ia sembunyikan di baliknya—merasakan getaran di dalam batu itu dari setiap benturan yang terjadi puluhan meter dari sana.
Di sampingnya—Xiao Feng ada di sana, juga di balik pilar, namun dengan cara yang berbeda. Bukan memegang pilar untuk stabilitas. Berdiri sangat tenang, mengamati pertarungan di depan dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sedang merekam sesuatu yang sangat spesifik tentang pertarungan itu—bukan keseluruhan pertarungan, sesuatu yang lebih spesifik yang belum bisa Yu Fan identifikasi dari cara matanya bergerak.
Kemudian—
Insting yang sudah sangat terlatih dari dua tahun terakhir menyampaikan sesuatu yang bukan dari depan.
Yu Fan berputar.
Satu sentimeter dari sisinya—seorang wanita sudah berdiri di sana.
Tidak ada langkah kaki yang terdengar mendekati. Tidak ada perubahan di udara yang mendahului kedatangannya. Hanya tidak ada lalu ada, dengan cara yang jauh lebih total dari cara Xiao Feng muncul di ruangan Wakil Dekan tadi—Xiao Feng masih meninggalkan jejak yang sangat tipis di udara, cara wanita ini tidak meninggalkan apa pun.
Rambutnya putih. Bukan putih usia—putih yang sangat bersih dan sangat murni, seperti salju yang belum pernah diinjak, mengalir panjang hingga pinggangnya dalam cara yang tidak terpengaruh oleh gerakan sekecil apa pun dari dirinya. Kulitnya pucat dengan cara yang berbeda dari kepucatan Chen Yang—lebih seperti warna yang ada di sana karena itulah warna alaminya, bukan karena kekurangan paparan.
Wajahnya cantik dengan cara yang mengandung sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya didefinisikan. Bukan cantik yang bisa membuat orang ingin mendekati—cantik yang membuat orang ingin berhati-hati, seperti tanaman yang sangat indah yang bentuknya sudah cukup untuk memberitahu bahwa ada sesuatu tentangnya yang membutuhkan kehati-hatian.
Matanya—saat Yu Fan berhasil melihatnya dari jarak sangat dekat satu sentimeter itu—berwarna abu-abu pucat dengan cara yang mengingatkan pada warna langit saat badai belum tiba namun sudah sangat jelas akan tiba.
Dan dari tubuhnya—
Tingkat 6.
Namun dengan kualitas yang berbeda dari pria di atas pilar tadi. Pria itu memancarkan auranya seperti api yang tidak ditahan. Wanita ini mengandungnya seperti es yang sangat dalam—ada di sana, sangat nyata, namun tidak buru-buru untuk menunjukkan dirinya. Lebih berbahaya dalam cara yang berbeda.
Ia memakai gaun kain sederhana berwarna kelabu yang, di konteks lembah yang penuh reruntuhan ini, terlihat seperti warna yang memang seharusnya ada di tempat ini.
Satu jarinya—telunjuk yang sangat lentik—terangkat ke atas dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat santai. Kemudian dihentakkan ke bawah.
BUMMM.
Tubuh Yu Fan dan Xiao Feng secara bersamaan mendapat tekanan yang, secara fisika, seharusnya hanya bisa dihasilkan oleh objek yang sangat masif namun yang datang dari gerakan satu jari. Tekanan itu tidak menyerang—menutup. Sendi-sendi terkunci, meridian-meridian tidak bisa mengalirkan Qi keluar karena ada tekanan yang sangat terstruktur pada setiap titik yang menjadi jalur keluarnya, dan kakinya menyatu dengan tanah di bawahnya dalam cara yang terasa seperti akar pohon yang tiba-tiba tumbuh dari telapak kaki ke bawah.
"Kenapa kalian berada di sini." Suaranya terdengar jernih dengan cara yang berbeda dari kejernihan suara biasa—seperti nada yang sudah sangat pasti tentang dirinya sendiri dan yang karena itu tidak perlu bersaing dengan suara lain untuk didengar. "Dan ada perlu apa dengan tempat terpencil ini."
Kemudian, sebelum pertanyaan itu sepenuhnya diproses: "Orang tua yang sedang bertarung dengan ayahku di sana adalah guru kalian. Kalian adalah murid-muridnya." Bukan pertanyaan—konfirmasi atas sesuatu yang sudah ia evaluasi dan simpulkan. "Jika jawaban kalian tidak jujur atau kalian bertele-tele, aku akan menghancurkan meridian kalian. Mulailah."
Yu Fan mengerahkan Qi dengan cara yang sangat hati-hati—bukan untuk melawan tekanannya yang sedang terkunci, melainkan untuk mempertahankan fungsi paru-paru dan tenggorokan yang cukup untuk berbicara. "Kami dari Akademi Langit Biru, Senior. Kami datang ke sini hanya untuk menginvestigasi lembah ini karena mata-mata kami merasakan aliran energi yang sangat tidak biasa dari sini. Kami tidak punya niat jahat sama sekali."
Wanita itu menatap matanya.
Bukan dengan cara yang menilai wajah atau ekspresi—dengan cara yang menilai sesuatu yang lebih dalam dari itu, seperti seseorang yang sudah sangat lama terlatih untuk membaca sesuatu di balik apa yang tampak di permukaan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
"Jawabanmu cukup jujur," ucapnya akhirnya. "Setelah guru kalian selesai, kemasi diri, pulang, dan jangan kembali."
Kemudian—dari sisi kirinya, sesuatu bergerak.
Xiao Feng melepaskan tekanan yang membelenggu dirinya.
Bukan dengan cara yang dramatis—dengan cara yang sangat teknis, sangat Sekte Pencuri. Dari dalam tubuhnya, ia mengaktifkan teknik yang tidak ada dalam katalog resmi sekte mana pun yang dikenal di akademi—teknik yang menekan aliran Qi ke dalam jaringan meridian dengan cara yang menciptakan tekanan balik dari dalam terhadap tekanan yang datang dari luar, sangat presisi pada setiap titik yang dikunci, membutuhkan pemetaan sempurna tentang cara tekanan eksternal itu bekerja yang hanya bisa diperoleh dari analisis yang sangat cepat selama beberapa detik yang mereka sudah dalam kondisi terkunci.
Ia sudah menganalisis cara kerjanya sejak detik pertama terkunci.
Belatinya sudah di tangannya.
Ia melesat.
Belasan bayangan Xiao Feng muncul di udara—bukan ilusi sederhana melainkan proyeksi energi yang masing-masing mengandung sebagian dari kehadiran fisiknya, membuat dua belas titik yang bergerak secara bersamaan ke dua belas arah berbeda namun semua mengarah ke satu target yang sama dari sudut-sudut yang berbeda.
Teknik Sekte Pencuri : Gerakan Bayangan Dua Belas Titik.
Kecepatan setiap bayangan itu—untuk Tingkat 4 Tahap Akhir—adalah kecepatan yang, di arena normal, tidak akan bisa diikuti oleh seseorang yang beberapa tingkat di bawahnya.
Wanita berambut putih itu tidak bergerak.
Bukan karena tidak siap. Karena dari dua belas bayangan itu, ia sudah mengidentifikasi mana yang asli dan mana yang proyeksi dalam waktu yang jauh lebih pendek dari yang Xiao Feng butuhkan untuk menyelesaikan gerakannya, dan karena ia sudah menentukan respons yang paling efisien terhadap ancaman ini sebelum ancaman itu sepenuhnya tiba.
"Gerakan yang sia-sia," ucapnya.
Tangan kirinya menepis—punggung jari, bukan telapak. Gerakan yang, secara visual, terlihat seperti seseorang mengusir serangga yang mengganggu. Namun energi di balik gerakan itu mengandung kalkulasi yang sangat presisi tentang sudut dan kekuatan dan timing yang diperlukan untuk membelokkan belati Xiao Feng tepat di satu titik pada bilahnya yang, jika dibelokkan di sana, mengalihkan seluruh momentum serangan dengan pengeluaran energi yang paling minimum.
Belati Xiao Feng meleset.
Tangan kanannya—dalam gerakan yang mengikuti defleksi tangan kiri dengan interval yang tidak ada—mengeluarkan tendangan yang sangat pendek, sangat ekonomis, sangat tepat di titik solar plexus Xiao Feng yang menjadi terbuka selama kurang dari satu detik karena momentum belatinya yang sudah dialihkan.
DUAK.
Xiao Feng terlontar. Tidak dengan cara dramatis—dengan cara yang sangat fisika, dengan gaya yang dihasilkan dari tendangan yang sangat kecil secara visual namun yang mengandung transfer energi yang sangat efisien, mengirimnya mundur dalam jalur yang melewati beberapa pohon spiritual kuno yang, saat tubuhnya membenturnya, bukan tubuhnya yang rusak melainkan batang-batang pohon itu yang bengkok dan patah sebelum ia berhenti di tumpukan batu reruntuhan.
"Xiao Feng!" Yu Fan sudah bergerak—tekanan yang membelenggu dirinya sudah tidak sekuat tadi karena perhatian wanita itu teralihkan, dan ia memanfaatkan perbedaan itu untuk memecah belenggu dari dalam dengan cara yang berbeda dari Xiao Feng namun dengan prinsip yang sama.
Wanita berambut putih itu berbalik ke arahnya.
"Sekarang," ucapnya—dan untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, ada sesuatu di nada suaranya yang berbeda. Bukan amarah atas Xiao Feng yang menyerangnya. Sesuatu yang lebih mirip dengan ketertarikan yang tidak ia harapkan ada di sini. "Giliranmu. Mari kita lihat apa yang ada di dalam dirimu."
Pedang Yin keluar dari punggung Yu Fan.
Saat bilahnya meninggalkan sarungnya, formasi yang sudah aktif sejak ia membawa pedang ini berpendar tipis—merah tua yang sangat redup, menambahkan lapisan pada energi yang sudah ia alirkan dari tubuhnya ke dalam pedang itu. Cara pedang ini beresonansi dengan energinya sudah sangat berbeda dari saat pertama ia menerimanya—sudah menjadi lebih natural, lebih seperti perpanjangan dari tubuhnya yang sudah terbiasa ada.
Wanita itu melesat maju.
Pukulan pertamanya datang dari atas—fist yang mengincar titik di antara bahu dan lehernya yang, jika kena, akan memutus sementara koneksi antara meridian kepala dan meridian tubuh bagian bawah, melumpuhkan koordinasi gerakan.
TANG.
Yu Fan menangkis dengan Pedang Yin—bukan langsung ke kepalan tangannya melainkan ke jalur yang dilalui kepalan itu, menciptakan defleksi diagonal yang mengalihkan sebagian energi pukulan itu ke samping. Lengan kirinya mati rasa setengah detik dari sisa energi yang masih menembus defleksi.
Pukulan kedua datang jauh lebih cepat dari yang ia antisipasi—kecepatan yang meningkat dari yang pertama dengan cara yang menunjukkan wanita itu sudah membaca cara Yu Fan menangkis yang pertama dan menyesuaikan.
TANG. TANG.
Dua tangkisan dalam interval yang sangat sempit, keduanya menggerus energi di tangannya yang memegang pedang. Setiap benturan meninggalkan getaran yang tidak sepenuhnya diserap oleh Pedang Yin dan yang Yu Fan merasakan di seluruh tulang lengannya.
Ia melakukan kontra-serangan—Teknik Pedang Yin : Tiga Titik Meridian—tiga sentuhan cepat ke tiga titik berbeda di tubuh wanita itu yang, jika mengenai, akan mengganggu distribusi Qi-nya untuk beberapa detik.
Wanita itu melangkah ke samping dengan cara yang memindahkan dirinya dari jalur ketiga sentuhan itu sekaligus—satu gerakan, tiga titik dihindari. Kemudian tangannya menangkap pergelangan tangan kiri Yu Fan dari bawah, memutar sendi siku ke sudut yang memaksa tubuh Yu Fan mengikuti putaran itu atau menanggung kerusakan pada sendinya.
Yu Fan mengikuti putaran itu—dan menggunakannya, memaksa momentum putaran menjadi langkah ke belakang yang menciptakan jarak, kemudian mengayunkan Pedang Yin dalam busur vertikal dari posisi jarak itu.
Wanita itu mundur satu langkah. Tepat satu langkah. Ujung Pedang Yin melewati ruang di depannya dengan jarak sangat tipis.
Pertukaran keempat, kelima, keenam—setiap pertukaran mengkonfirmasi apa yang sudah jelas sejak pertukaran pertama: perbedaan dua tingkat adalah perbedaan yang tidak bisa ditutup oleh teknik atau kecepatan atau pemahaman tentang titik meridian. Yu Fan bisa membaca setiap gerakannya, bisa mengantisipasi pola-polanya, bisa menemukan celah di pertahanannya—namun setiap kali ia mendekati celah itu, wanita itu sudah tidak ada di sana lagi dan sudah ada di posisi yang mengandung serangan balik yang jauh lebih kuat dari serangan yang baru saja ia defleksi.
Pukulan ke bahunya menembus pertahanannya di pertukaran ketujuh—tidak keras, sangat presisi, tepat di titik yang akan menguras Qi di satu jalur meridian kiri secara signifikan. Rusuk kanannya mendapat hantaman di pertukaran kesepuluh—tidak fatal, namun menghasilkan nyeri yang cukup untuk mengganggu ritme napasnya.
Di sudut penglihatan peripheralnya, Xiao Feng sudah merangkak bangun dari tumpukan batu di mana ia berhenti tadi—perlahan, dengan cara seseorang yang menilai kondisi tubuhnya secara aktif bahkan dalam proses bangkit.
Xiao Feng mengumpulkan apa yang tersisa dari energinya.
Dari kondisi yang ada—dengan luka dalam yang cukup signifikan dari hantaman tadi—ia menghitung dengan cara yang sangat dingin dan sangat cepat tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan dari sini. Kemudian ia memutuskan.
Teknik Sekte Pencuri : Tebasan Bayangan Pemutus Jalur.
Bukan serangan frontal—sebuah tebasan yang meluncur bukan ke tubuh target melainkan ke jalur meridian yang terletak sangat dekat dengan permukaan kulit di lengan kiri wanita itu, menarget jalur yang menopang sebagian dari aura yang ia gunakan untuk mempertahankan tekanan di area sekitarnya. Teknik yang membutuhkan pemetaan meridian target yang sangat akurat dan yang sangat tidak bisa dilakukan tanpa informasi spesifik tentang target—informasi yang Xiao Feng sudah kumpulkan selama ia terlontar dan mendarat dan bangkit sambil terus memperhatikan cara wanita itu bergerak.
Belatinya keluar dari sarungnya dalam gerakan yang kali ini tidak menciptakan bayangan sama sekali—satu serangan tunggal yang sangat spesifik, bukan untuk mengalahkan melainkan untuk menembus satu titik yang sangat presisi.
Bilahnya menyentuh lengan kiri wanita itu—bukan masuk dalam, hanya menyentuh permukaannya, tepat di titik yang ia targetkan.
Darah. Beberapa tetes.
Wanita berambut putih itu menghentikan gerakannya.
Matanya turun ke luka di lengan kirinya. Kemudian ke Xiao Feng.
Dan di matanya yang selama ini hanya mengandung ketenangan yang mematikan—untuk pertama kali, api.
"Semut yang tidak tahu tempatnya."
Tubuhnya berputar. Telapak tangan kirinya dilepaskan dengan cara yang sangat berbeda dari semua serangan sebelumnya—bukan dengan kalkulasi tentang titik meridian atau efisiensi atau meminimalkan pengeluaran energi. Hanya kekuatan. Penuh. Semua yang ada di sisi kirinya, dihantamkan ke arah Xiao Feng.
BUMMM.
Xiao Feng terbang jauh lebih jauh dari sebelumnya—melewati batas yang bisa dicapai oleh gelombang kejut dari pertarungan dua orang yang tidak diarahkan kepadanya, melampaui pohon-pohon spiritual, melampaui tumpukan reruntuhan, dan menghantam dinding tebing lembah dengan bunyi yang terdengar sangat berbeda dari bunyi seseorang yang menghantam sesuatu yang keras—lebih dalam, lebih final.
Kemudian diam.
Xiao Feng tidak bergerak.
Yu Fan berdiri sendirian di hadapan wanita berambut putih itu.
Sendirian dalam arti bahwa tidak ada lagi yang bisa berdiri bersamanya—Xiao Feng sudah tidak bergerak, Wakil Dekan masih terikat dalam pertempuran dengan pria kekar itu di ujung lembah.
Di dalam dirinya, sesuatu sudah bergerak sejak pertukaran ketujuh.
Sejak ia melihat pertukaran keempat, kelima, keenam—sejak ia mengidentifikasi bahwa dari sudut pandang teknis ia tidak bisa memenangkan ini dalam kondisi normal. Dan kemudian Xiao Feng jatuh, dan sesuatu yang sudah dua tahun ia kenali sebagai kondisi yang mendahuluinya bergejolak.
Bukan dengan cara yang biasanya—tidak dipicu oleh kemarahan yang meledak atau oleh kondisi darurat yang tiba-tiba. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada bagian dari dirinya yang secara sadar mendekati batas itu, yang mempertimbangkan pilihan ini dengan cara yang jauh lebih terstruktur dari sebelumnya.
Satu menit, ia berkata kepada sesuatu di dalam dirinya. Hanya satu menit. Dan tidak ada yang terbunuh.
Dari kedalaman yang sudah semakin familiar dari setiap kali ia mendekatinya, sesuatu merespons—dengan cara yang kali ini terasa lebih seperti perjanjian antara dua pihak daripada satu pihak yang mengambil alih yang lain.
Setuju.
Udara di lembah berubah.
Bukan dari arah atas seperti tadi—dari titik di mana Yu Fan berdiri, menyebar ke luar dalam gelombang yang tidak terlihat namun yang terasa seperti perubahan tekanan di dalam telinga, seperti seseorang membuka pintu dari ruangan yang sangat dingin ke ruangan yang sangat panas namun dengan polaritas yang terbalik—dingin yang keluar ke dunia hangat.
Di dalam pertarungan di ujung lembah, pria kekar yang sedang melancarkan tebasan ke Wakil Dekan tiba-tiba menghentikan tangannya. Kepalanya menoleh. Di matanya, ekspresi yang tidak mudah muncul di wajah seseorang yang sudah sangat lama ada di puncak kekuatan fana—ketidakpastian.
Wakil Dekan yang menerima perubahan itu di udara dengan semua kepekaan yang dimilikinya menoleh ke arah yang sama.
Rambut hitam Yu Fan memutih—tidak dalam cara yang menyebarkan cahaya seperti saat ia meledak sebelumnya. Pelan, helai demi helai, dari akar ke ujung, seperti seseorang yang sangat perlahan mengubah sesuatu dengan sangat sadar. Cara yang berbeda yang menunjukkan kontrol yang berbeda.
Matanya berubah—iris abu-abu gelap digantikan oleh merah tua yang dalam. Sklera hitam yang tidak kosong.
Aura merah pekat yang keluar dari tubuhnya mengalir ke segala arah dalam gelombang yang rendah dan yang sangat padat, tidak meledak ke atas melainkan menyebar ke tanah dan menyapu seluruh lembah dari bawah dalam cara yang membuat reruntuhan-reruntuhan yang berdiri di sepanjang lembah bergetar sangat pelan, seperti sesuatu yang sudah sangat lama tidak bergetar dan yang merasakan sesuatu yang familiar.
Di depan Gu Ling—wanita berambut putih yang sudah seribu tahun—terjadi sesuatu yang tidak terjadi dalam seribu tahun itu.
Bulu kuduknya berdiri.
Bukan karena ancaman fisik—karena sesuatu di dalam aura yang memancar dari Yu Fan mengaktifkan lapisan yang paling dalam dari ingatannya yang sudah sangat panjang, lapisan yang ada di sana namun yang sudah sangat lama tidak disentuh karena tidak ada yang pernah memberikan stimulus yang tepat untuk memicunya.
Aura ini... keganasan yang absolut namun sesuatu yang lebih dalam dari itu... sesuatu dari sebelum aku ada...
"Hari ini," ucap suara Yu Fan—dan nada yang ada di dalamnya mengandung resonansi yang dua tahun terakhir sudah mulai terasa lebih familiar namun yang tidak pernah sepenuhnya bisa ia deskripsikan secara tepat, "kau yang akan merangkak di bawah kakiku, Wanita Sombong."
Gu Ling menggertakkan giginya—menepis rasa yang ada di dalam dadanya dengan cara seseorang yang sudah sangat lama terlatih untuk tidak membiarkan perasaan menentukan tindakan. Ia melancarkan serangannya yang paling kuat—kepalan tangannya yang mengandung Qi terbanyak yang pernah ia keluarkan dalam seribu tahun, diarahkan langsung ke wajah Yu Fan.
Yu Fan mengangkat tangan kirinya.
TAK.
Kepalan Gu Ling berhenti.
Bukan karena dihentikan oleh sesuatu yang terlihat—berhenti karena telapak tangan yang menghadangnya mengandung densitas yang tidak ada dalam pengertian fisika normal yang berlaku di sini. Densitas yang bukan dari Qi melainkan dari sesuatu yang Qi itu sendiri tidak bisa sepenuhnya menggambarkan.
Gu Ling mencoba menarik tangannya. Tidak bisa—bukan karena dipegang, melainkan karena cengkeraman pada sisi energi dari kepalannya itu tidak mengizinkan momentum yang diperlukan untuk menarik kembali.
Tendangan dari sisi kanan—sangat presisi, menarget pinggang tempat meridian utamanya paling dekat ke permukaan.
BUM.
Gu Ling terbang.
Dari ujung lembah, suara pria kekar yang sudah memperhatikan ini—suara yang meninggalkan seluruh pertarungannya dengan Wakil Dekan dan yang melesat ke arah putrinya. Dari punggungnya, kapak energi yang dibentuk dari Qi-nya dilepaskan ke arah Yu Fan dari belakang—serangan yang dirancang untuk membelah, untuk memastikan.
Yu Fan tidak menoleh.
Tangan kanannya bergerak ke belakang dalam gerakan yang sama santainya—energi merah yang sangat terkonsentrasi keluar dari telapak tangannya dan bertemu dengan kapak energi itu.
KRAK.
Kapak energi Gu Zhan hancur dalam partikel-partikel kecil.
Yu Fan berputar—sudah di depan Gu Zhan yang melesat—dan tangan kirinya menutup di sekitar wajah pria itu dengan cara yang memegang tanpa mencederai, namun yang mengandung kekuatan yang membuat pria yang sudah seribu tahun mengandalkan kekuatan fisiknya merasakan untuk pertama kali bahwa kekuatan fisiknya tidak relevan.
Satu tendangan ke perutnya—bukan dengan kekuatan maksimal, dengan kekuatan yang cukup untuk mengirim pesan yang sangat jelas tentang perbedaan antara apa yang ada di sini dengan apa yang ada di sana.
Gu Zhan mundur belasan meter, terbatuk darah, namun tidak tumbang.
Gu Ling dan Gu Zhan—ayah dan putri yang sudah seribu tahun tidak pernah menghadapi sesuatu yang memaksa mereka untuk menggunakan lebih dari fraksi dari kemampuan mereka—berdiri berdampingan. Di antara mereka, tidak ada pertukaran kata. Hanya cara mereka memposisikan diri satu sama lain yang sudah sangat terlatih dari seribu tahun kehidupan berdua di lembah yang sama.
Sinkronisasi yang tidak perlu diucapkan karena sudah menjadi refleks.
Mereka bergerak bersamaan—Gu Zhan dari kiri, Gu Ling dari kanan, dalam serangan yang didesain tidak untuk menghancurkan melainkan untuk menemukan—mencari titik di mana entitas di depan mereka memiliki celah, karena tidak ada yang tidak memiliki celah.
Dua tinju—dari kiri dan kanan sekaligus, menarget dua sisi kepala Yu Fan dalam gerakan yang saling melengkapi secara geometris.
Yu Fan memiringkan kepalanya mundur setengah inci.
Dua tinju itu melewati sisi kepalanya dan bertemu satu sama lain.
DUAK.
Gu Ling dan Gu Zhan terhuyung—masing-masing dari sisi yang berlawanan, mendapat tekanan dari tinju milik sendiri yang dialihkan ke arah tinju pasangannya.
Sebelum keduanya menyeimbangkan diri kembali, Yu Fan sudah bergerak—mencengkeram pergelangan tangan keduanya dalam dua genggaman simultan, melompat ke atas, dan dalam gerakan yang menggunakan gravitasi dan momentum dari dua entitas yang berada di bawahnya—membanting keduanya ke tanah.
Kemudian ia mengikutinya ke bawah—melesat lebih cepat dari tubuh Gu Zhan yang ia banting, mendarat lebih dahulu, dan saat Gu Zhan menghantam tanah, Yu Fan sudah ada di atas dadanya.
Yang kemudian terjadi adalah Yu Fan melancarkan pukulan beruntun—bukan dalam hitungan puluhan melainkan dalam kecepatan yang membuat individu pukulan tidak bisa dibedakan satu dari yang lain, hanya rangkaian tekanan berkesinambungan yang setiap titiknya menarget titik yang berbeda dengan cara yang memaksimalkan gangguan pada sistem pertahanan internal Gu Zhan.
Gu Zhan meraung.
"AYAH!" Gu Ling melesat ke depan—dengan mata yang sudah tidak mengandung ketenangan mematikan dari tadi, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih mendasar. Sesuatu yang bahkan seribu tahun tidak bisa sepenuhnya menghapus dari seseorang.
Ia melepaskan serangan bunuh diri—seluruh cadangan Qi-nya dalam satu pukulan, tidak terstruktur, tidak kalkulatif, hanya semua yang ada diarahkan ke satu titik.
Yu Fan menepisnya dengan satu lambaian tangan—Gu Ling terlempar kembali.
"CUKUP!!!"
Suara Wakil Dekan mengisi seluruh lembah dengan cara yang berbeda dari pertarungan-pertarungan yang baru saja berlangsung—bukan dengan kekuatan yang merusak melainkan dengan otoritas yang diakui oleh sesuatu dalam cara atmosfer merespons kata itu. Tebasan energi pelindung yang ia lepaskan memisahkan dua sisi yang berhadapan dalam garis yang sangat jelas.
Di dalam diri Yu Fan—perasaan bahwa satu menit sudah mendekati batasnya, dan sesuatu yang memenuhi sisi perjanjian tadi bergerak mundur ke tempatnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bukan dipaksa. Memilih.
Karena kondisi perjanjian sudah dipenuhi.
Rambut putih kembali ke hitam dalam urutan yang terbalik dari cara ia berubah—ujung ke akar, perlahan dan sangat terkontrol. Mata yang kembali ke abu-abu gelap yang biasa. Aura yang ditarik kembali ke dalam dengan cara yang meninggalkan lembah terasa lebih ringan dari sebelumnya namun juga lebih sepi dari kehadiran yang baru saja ada di sana.
Yu Fan jatuh berlutut—lutut menyentuh tanah dengan cara yang tidak dipilihnya melainkan karena tubuh Tingkat 4 Tahap Akhir sudah mencapai batas dari apa yang bisa ditampungnya tanpa koneksi energi yang sudah ditarik kembali.
Napasnya berat. Bukan dari luka—dari pengosongan yang mengikuti.
Keheningan di lembah.
Bukan keheningan yang nyaman—keheningan dari semua pihak yang baru saja melalui sesuatu yang membutuhkan waktu untuk diproses sebelum kata-kata bisa berfungsi kembali.
Gu Zhan berdiri dari tanah dengan cara yang sangat berbeda dari cara ia turun dari pilar tadi—perlahan, dengan satu tangan di tanah untuk membantu keseimbangan, dengan cara seseorang yang baru saja mengalami sesuatu yang mengubah cara pandangnya tentang di mana ia berada dalam keseluruhan hierarki yang ada di dunia ini.
Gu Ling berdiri di sampingnya—wajahnya yang tadi memerah dari emosi sudah kembali ke ketenangan yang biasanya, namun ketenangan yang kali ini mengandung lapisan yang tidak ada sebelumnya.
Wakil Dekan melangkah ke tengah.
Ia memberikan pil pemulihan kepada Xiao Feng yang sudah mulai merangkak sadar dari dinding tebing—pil yang bekerja sangat cepat untuk menutup luka dalam yang paling kritis. Kemudian ia menoleh ke arah Gu Zhan dan Gu Ling dengan cara yang tidak mengandung kemenangan atau penghinaan, melainkan dengan cara seseorang yang ingin melanjutkan percakapan yang seharusnya sudah berlangsung dari awal.
"Bisakah kita memulai lagi?" ucapnya. "Dari tempat yang lebih tenang."
Pondok kayu kecil di balik pohon spiritual raksasa tidak terlihat dari jalur utama lembah—tersembunyi di antara akar-akar yang melilit ke atas membentuk dinding alami, di bawah kanopi daun yang begitu lebat hingga cahaya di dalamnya berwarna hijau tua yang sangat berbeda dari cahaya di luarnya.
Di dalamnya, perabot yang sangat sederhana—potongan batang pohon yang berfungsi sebagai kursi, batu datar yang berfungsi sebagai meja, dan di sudut-sudutnya, tanaman-tanaman yang sudah sangat tua namun masih sangat hidup.
Gu Zhan duduk—cara duduk seseorang yang tidak pernah terbiasa duduk untuk waktu lama karena seribu tahun kebiasaannya tidak banyak membutuhkan duduk. Gu Ling berdiri di sisi kirinya dengan cara yang sudah menjadi posisi default mereka berdua dalam situasi apa pun.
Teh herbal yang Gu Ling seduhkan dari tanaman-tanaman di sudut pondok itu memiliki aroma yang berbeda dari teh mana pun yang Yu Fan pernah minum—lebih dalam, mengandung sesuatu yang terasa seperti energi yang sangat tipis bahkan dalam aromanya.
"Seribu tahun," ucap Yu Fan akhirnya—saat percakapan yang perlahan-lahan membangun dirinya dari kepingan-kepingan kecil sudah mencapai titik di mana pertanyaan bisa diajukan. "Hanya berdua. Bagaimana kalian bisa—"
"Kami terbangun dari batu giok," ucap Gu Ling. Suaranya sudah kembali ke kualitas tenang yang biasanya namun yang kini mengandung sesuatu yang tidak ada sebelumnya—kesediaan untuk berbagi tentang sesuatu yang sudah sangat lama disimpan karena tidak ada yang bisa diajak berbagi.
Yu Fan berdiri sangat diam.
Terbangun dari batu giok.
"Sama seperti aku," ucapnya pelan—bukan kepada mereka, lebih kepada dirinya sendiri. Namun cukup keras untuk terdengar.
Gu Ling menatapnya. Di matanya, untuk pertama kalinya sejak ia muncul dari bayangan tadi, ada sesuatu yang jauh lebih hangat dari ketenangan mematikan yang biasanya ada di sana—rasa ingin tahu yang sangat tulus, dari seseorang yang baru saja menemukan bahwa ia mungkin tidak sesendirian dalam pengalamannya seperti yang ia pikir selama seribu tahun ini.
"Kau juga?" suaranya berbeda dari sebelumnya.
"Di gunung mati. Giok emas." Yu Fan mengangkat matanya dari cangkir teh yang ia pegang. "Tidak ada ingatan."
Gu Zhan, yang selama ini mendengarkan dalam diam yang lebih bicara dari kata-kata—menatapnya dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia menatap dari atas pilar tadi. Dari matanya yang berwarna keemasan, ada pengenalan atas sesuatu yang sangat spesifik.
"Anak muda," ucapnya akhirnya—suaranya berat dan dalam namun sudah tidak mengandung ancaman. Mengandung sesuatu yang lebih seperti kewarasan seseorang yang baru saja diingatkan akan sesuatu yang sangat penting yang sudah sangat lama ia simpan tanpa tahu mengapa ia menyimpannya. "Saat kau berubah tadi... aura yang keluar dari tubuhmu... itu bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh kultivasi fana. Dan itu bukan sesuatu yang pernah aku rasakan dalam seribu tahun terakhir." Ia berhenti sejenak. "Tapi itu bukan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."
Dua detik sunyi.
"Sebelum seribu tahun lalu."
Di sudut pondok itu, Wakil Dekan yang sudah mengobati dan menstabilkan Xiao Feng mendengarkan semua percakapan ini dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara biasanya mendengarkan—lebih pasif, lebih menyerap, lebih seperti seseorang yang sudah merasakan bahwa apa yang sedang terjadi di pondok kayu ini mungkin lebih penting dari semua yang sudah ia pelajari dalam seluruh hidupnya dan yang memutuskan bahwa prioritasnya sekarang adalah merekam setiap kata dengan setepat mungkin.
Mereka menghabiskan beberapa jam dalam pertukaran yang sifatnya sangat berbeda dari apa pun yang terjadi sebelumnya di lembah itu.
Gu Ling menyerahkan kotak kayu dengan batu giok spiritual yang jauh lebih murni dari yang ada di reruntuhan sebelumnya. Gu Zhan menceritakan tentang pohon spiritual di jantung lembah—bagaimana akarnya menghasilkan energi yang jauh melampaui apa yang bisa dihasilkan oleh pohon biasa, dan bagaimana mereka sudah sangat lama hidup dengan energi itu dan dengan ramuan yang mereka buat dari tanaman-tanaman di sekitarnya.
Wakil Dekan mengelus janggutnya berkali-kali dengan cara yang sudah menunjukkan bahwa ia sedang sangat aktif memproses informasi yang, dari sudut pandang penelitian akademinya, mengandung nilai yang tidak bisa diukur dengan cara biasa.
Saat perpisahan—saat Yu Fan dan Wakil Dekan dan Xiao Feng yang sudah bisa berjalan mandiri meski masih sangat hati-hati berdiri di tepian pondok untuk berangkat—Gu Ling bergerak satu langkah ke depan.
"Yu Fan," ucapnya. Pertama kalinya ia menyebut namanya dengan cara yang tidak mengandung jarak yang biasanya ada di antara dua orang yang baru bertemu.
Yu Fan menoleh.
Matanya abu-abu pucat—yang tadi mengandung ketenangan mematikan dan kemudian api dan kemudian rasa ingin tahu yang sangat tulus—kini mengandung sesuatu yang lebih sederhana dan lebih langsung dari semua itu. Kebingungan yang sangat murni. Kebingungan dari seseorang yang sudah sangat lama menunggu untuk memahami sesuatu dan yang baru saja menemukan bahwa mungkin seseorang di depannya sudah lebih dekat ke jawaban itu dari siapa pun yang pernah ada di lembah ini selama seribu tahun.
"Kau pernah..." ia memilih kata dengan cara yang menunjukkan seseorang yang tidak terbiasa mengatakan sesuatu yang mengandung ketidakpastian tentang dirinya sendiri. "Kau pernah melihat taman persik di dalam mimpi?"
Yu Fan berdiri sangat diam selama dua atau tiga detik.
Kemudian mengangguk.
Gu Ling menutup matanya sebentar—gerakan yang sangat kecil dan yang, jika tidak diperhatikan, mudah sekali tidak terlihat. Kemudian membuka kembali. "Kami juga."
Keheningan di antara mereka—keheningan yang berbeda dari semua keheningan yang terjadi di lembah ini hari ini. Keheningan yang mengandung pertanyaan yang tidak punya kata untuk diucapkan namun yang sudah sangat jelas bentuknya.
Di perjalanan pulang—terbang menembus kabut kembali ke dunia atas, melalui pegunungan, kembali ke arah yang langitnya berubah warna dari sore ke malam—Yu Fan menatap tangannya sendiri.
Tangan yang tadi menghentikan kepalan Gu Ling. Tangan yang sama yang, dua tahun lalu, tidak bisa melakukan apa pun yang berarti terhadap seseorang yang jauh lebih kuat.
Pedang Yin di punggungnya berdenyut sangat tipis—cara yang sudah ia kenali sebagai cara pedang itu beresonansi dengan kondisi tertentu di dalam dirinya, meski kondisi tertentu itu belum sepenuhnya bisa ia definisikan.
Di sebelahnya, Xiao Feng terbang dalam cara yang sudah jauh lebih terkontrol dari kondisi yang ia miliki saat baru sadar di pondok tadi—cara seseorang yang sudah sangat terlatih dalam memaksimalkan apa yang tersedia bahkan dalam kondisi yang tidak sempurna. Selama seluruh perjalanan kembali ini, tidak satu pun kata keluar dari Xiao Feng.
Namun satu kali—hanya satu kali, dalam rentang waktu seluruh perjalanan ini—saat mereka melewati pegunungan tertinggi dan angin paling kencang memukul mereka dari depan, Yu Fan merasakan gerakan di sisi kanannya. Sangat kecil. Posisi Xiao Feng yang menyesuaikan dirinya sendiri untuk menciptakan sedikit perlindungan dari angin ke sisi kiri Yu Fan yang masih menyimpan luka dari pertarungan tadi.
Tidak ada kata. Tidak ada isyarat.
Hanya fakta kecil yang, jika tidak diperhatikan, mudah sekali tidak terlihat.
Yu Fan tidak menoleh ke arahnya. Tidak mengatakan apa-apa.
Namun ia mencatatnya.
Wakil Dekan, yang terbang di depan mereka berdua, menatap ke depan ke arah Akademi Langit Biru yang sudah mulai terlihat di cakrawala—cahayanya yang biru muda sangat berbeda dari warna langit malam yang mengelilinginya. Di dalam kepalanya, gulungan pertanyaan yang sudah sangat panjang dan yang baru saja bertambah sangat panjang lagi.
Gu Zhan dan Gu Ling—terbangun dari batu giok seribu tahun lalu tanpa ingatan.
Chen Yang—ditemukan dalam batu giok di reruntuhan kuno.
Yu Fan—terbangun dari batu giok di gunung mati.
Tiga entitas yang berasal dari batu giok, dengan berbagai tingkatan dan berbagai waktu.
Dan taman persik yang sama yang ada di dalam mimpi mereka semua.
Ini bukan kebetulan. Kebetulan tidak bekerja dengan cara ini—tidak dengan konsistensi yang sangat spesifik tentang detail yang tidak ada alasan untuk konsisten jika ini hanya kebetulan.
Ada sesuatu yang menghubungkan semuanya.
Sesuatu yang sudah sangat lama ada sebelum semua orang di perjalanan ini ada.
Dan yang belum sepenuhnya selesai dengan apa pun yang sudah dimulainya.