Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Suasana ruang makan pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Aroma roti panggang, omelet, dan kopi hangat memenuhi ruangan besar di kediaman keluarga Kiandra. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar, menciptakan suasana hangat yang nyaman.
Namun kenyamanan itu perlahan berubah menjadi suasana yang penuh rasa penasaran.
Zelia dan Zevanya yang sejak tadi duduk berdampingan terus memperhatikan Alin yang baru saja turun dari lantai atas bersama Zayyan. Tatapan keduanya tak lepas dari cara berjalan Alin yang tampak pelan dan sedikit kaku.
Zelia menyenggol pelan lengan Zevanya.
"Itu kenapa jalannya begitu?" bisiknya pelan.
Zevanya ikut memicingkan mata, memperhatikan Alin dari ujung kepala sampai kaki.
"Tidak tahu. Tapi kayaknya sakit deh," balasnya ikut berbisik.
"Memangnya sesakit itu ya malam pertama?" tanya Zelia polos tanpa menurunkan volume suaranya terlalu banyak.
"Aku tidak tahu, aku belum pernah merasakannya," jawab Zevanya santai.
"Iya juga sih," gumam Zelia sambil mengangguk serius seolah sedang membahas pelajaran sekolah.
Sementara itu Alin yang mendengar samar-samar ucapan kedua adik iparnya langsung menundukkan wajah. Pipinya memerah malu. Dia menggenggam ujung cardigan yang dipakainya sambil berjalan semakin dekat ke meja makan.
Zayyan yang berada di samping istrinya tampak jauh lebih santai. Bahkan sesekali sudut bibirnya terlihat terangkat menahan senyum karena mendengar bisikan adik-adiknya.
Saat sampai di kursi makan, Zayyan langsung menarikkan kursi untuk Alin.
"Duduk pelan-pelan," ucapnya rendah.
Alin mengangguk kecil lalu duduk dengan hati-hati. Gerakannya yang sangat pelan justru membuat rasa penasaran Zelia semakin besar.
Mata gadis itu terus menatap Alin tanpa berkedip.
"Kenapa kamu Jeli?" tegur Zayyan akhirnya.
Zelia menatap kakaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun."Memangnya sesakit itu ya?" tanyanya polos.
Deg.
Wajah Alin langsung berubah merah sempurna.
"Jeli!" tegur Zevanya spontan sambil menahan tawa.
"Apa sih? Aku cuma nanya," balas Zelia bingung.
Zayyan menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kamu ini kalau ngomong suka sembarangan."
"Tapi aku penasaran," sahut Zelia lagi. "Kak Alin kelihatannya sampai susah duduk begitu."
Alin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu. Bahkan dia tidak berani mengangkat kepala sama sekali.
Melihat istrinya yang hampir tenggelam karena rasa malu, Zayyan akhirnya merangkul bahu Alin pelan."Sudah, jangan didengar."
"Mana bisa tidak didengar..." gumam Alin lirih.
Zevanya yang sejak tadi berusaha menahan tawa akhirnya ikut berbicara."Jeli, nanti kalau kamu sudah menikah juga tahu sendiri."
Zelia malah semakin penasaran.
"Berarti memang sakit?"
"Ya ampun..." Zevanya memijat pelipisnya frustasi.
Di saat suasana mulai kacau, langkah kaki Kiandra terdengar mendekat menuju ruang makan. Wanita itu baru selesai dari dapur sambil membawa segelas jus.
Namun langkahnya langsung berhenti ketika melihat wajah Alin yang merah padam dan Zelia yang terlihat sangat antusias bertanya.
"Kalian ngobrol apa pagi-pagi begini?" tanya Kiandra curiga.
Seketika Zelia menjawab cepat. "Mommy, memang malam pertama sesakit itu ya sampai kak Alin jalannya susah?"
"BATUKK!"
Zayyan langsung tersedak minumannya sendiri.
Sementara Alin berharap dirinya bisa menghilang saat itu juga.
Kiandra membelalakkan mata lalu menatap putrinya tidak percaya.
"Zelia!"
"Apa lagi? Aku cuma tanya."
Kiandra langsung menghela napas panjang sambil menahan malu dan gemas sekaligus.
"Kamu ini kalau bicara tidak ada filternya."
"Tapi aku serius penasaran."
Zayyan akhirnya menatap adiknya tajam.
"Kamu tuh pagi-pagi bikin keributan aja."
Zelia mengerucutkan bibirnya."Habis kakak sama kak Alin kelihatannya aneh."
"Sudah, makan sana," ucap Zayyan cepat.
Namun bukannya berhenti, Zelia justru semakin mendekatkan wajahnya ke arah Alin.
"Kak Alin, sakit banget ya?"
Alin yang sudah sangat malu hanya bisa menunduk sambil memegang gelas minumnya erat."Jangan ditanya terus..." jawabnya lirih hampir tak terdengar.
Melihat wajah kakak iparnya yang benar-benar malu, akhirnya Zelia tertawa kecil.
"Oalah...kak Alin malu."
Zevanya ikut tertawa pelan.
"Sudah jangan ganggu mereka terus."
Tak lama suasana meja makan kembali ramai dengan obrolan lain. Meski begitu, Zelia sesekali masih melirik jahil ke arah Zayyan dan Alin yang membuat pasangan pengantin baru itu sama-sama salah tingkah sepanjang sarapan pagi.
*
*
Suasana meja makan perlahan kembali tenang setelah Zelia berhenti melontarkan pertanyaan-pertanyaan polos yang membuat Alin hampir tak berani mengangkat wajahnya. Meski rasa malu masih terlihat jelas di wajah perempuan itu, setidaknya kini ia sudah bisa bernapas lega.
Zayyan yang duduk di samping istrinya tampak sibuk mengambilkan makanan untuk Alin. Sesekali pria itu menaruh potongan omelet atau roti ke piring istrinya tanpa diminta.
"Ini dimakan," ucapnya singkat.
Alin menatap suaminya sekilas lalu mengangguk kecil. Sikap perhatian Zayyan itu diam-diam membuat Kiandra tersenyum tipis. Sebagai seorang ibu, ada rasa lega melihat putranya mulai belajar menjadi suami yang baik meskipun pernikahan mereka terjadi begitu mendadak.
Adam yang duduk di ujung meja juga memperhatikan putranya sambil sesekali menyeruput kopi.
Sementara Zelia dan Zevanya masih saling berbisik kecil sambil tertawa-tawa sendiri entah membahas apa.
Kiandra kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap bibirnya menggunakan tisu."Kapan kalian mau pergi bulan madu?" tanyanya santai.
Pertanyaan itu membuat Alin refleks menunduk lagi, sedangkan Zayyan terlihat jauh lebih tenang.
"Minggu depan, mom," jawab Zayyan.
Kiandra mengernyit pelan.
"Kenapa harus minggu depan? Besok kan bisa."
Zayyan menghela napas kecil sebelum menjawab."Pernikahan kita sangat mendadak, mom. Aku belum sempat mengurus semuanya."
Adam langsung mengangguk paham. Pernikahan Zayyan dan Alin memang berlangsung sangat cepat sampai banyak hal belum dipersiapkan secara matang, termasuk rencana bulan madu mereka.
"Nanti biar daddy bantu urus semuanya," sahut Adam santai.
Zayyan menoleh ke arah ayahnya. "Tidak usah repot, dad. Aku bisa urus sendiri."
Adam terkekeh pelan."Kamu yakin? Tiket, hotel, jadwal kerja, semuanya tidak gampang diurus mendadak begitu."
"Aku tinggal cari waktu kosong."
"Justru itu, kalau terlalu lama ditunda nanti malah tidak jadi." timpal Kiandra.
Zelia yang sedari tadi diam langsung ikut menyela."Iya bang, pergi aja cepat-cepat. Biar kak Alin refreshing."
Kalimat itu terdengar biasa saja, sampai Zevanya menambahkan dengan nada jahil."Kasihan juga kalau terus dikurung di kamar."
"Vanya!" seru Alin spontan dengan wajah merah.
Seketika meja makan dipenuhi suara tawa.
Zayyan sampai menggeleng pelan melihat tingkah adik-adiknya."Kalian ini mulutnya benar-benar."
Zelia malah tertawa semakin keras."Aku serius loh. Pengantin baru kan biasanya maunya berduaan terus."
Alin semakin tidak berani mengangkat wajahnya. Rasanya sejak pagi dirinya terus dijadikan bahan godaan.
Kiandra yang melihat menantunya hampir mati malu akhirnya menegur kedua putrinya.
"Sudah jangan godain terus."
"Mommy juga dulu begitu tidak?" tanya Zelia polos.
Adam yang sedang minum kopi langsung batuk kecil mendengar pertanyaan putrinya.
"Zelia..." gumam Kiandra malu.
"Apa sih? Aku cuma penasaran."
"Rasa penasaran kamu itu kadang terlalu berlebihan," ujar Zevanya sambil tertawa.
Sementara itu Adam justru terlihat menikmati suasana pagi yang ramai itu. Rumah mereka memang jarang terasa setenang ini sejak anak-anak tumbuh besar.
Adam kemudian kembali menatap Zayyan. "Kalau memang belum sempat mengurus, daddy bisa bantu. Mau pergi ke luar negeri atau dalam negeri?"
Zayyan terlihat berpikir sejenak. "Aku sebenarnya belum diskusi sama Alin."
Semua mata langsung tertuju pada Alin yang terlihat sedikit gugup.
Kiandra tersenyum lembut."Kalau kamu sendiri maunya kemana, Alin?"
Alin tampak bingung. Jujur saja, sejak pernikahan mendadak itu terjadi, ia bahkan belum benar-benar memikirkan soal bulan madu. Semua terasa berjalan terlalu cepat.
"Aku ikut Zayyan aja, mom," jawabnya pelan.
Zelia langsung menggeleng dramatis.
"Ih jangan gitu dong kak. Masa bulan madu cuma ikut-ikut aja."
"Iya, harus romantis," tambah Zevanya.
Zayyan melirik Alin sekilas lalu sudut bibirnya terangkat tipis."Kalau begitu pilih saja tempat yang kamu mau."
Alin menatap suaminya cukup lama. Ada rasa hangat aneh ketika mendengar pria itu mulai melibatkan dirinya dalam keputusan-keputusan kecil seperti itu.
Padahal sebelumnya Alin berpikir Zayyan akan menjadi tipe suami yang cuek dan dingin.
"Apapun tempatnya aku suka," jawab Alin pelan sambil tersenyum kecil.
Zelia langsung menahan napas dramatis."Ya ampun...baru nikah sehari aja sudah manis begitu."
"Bisa diam tidak sih?" gerutu Zayyan.
Namun kali ini semua orang justru tertawa melihat wajah Zayyan yang sedikit salah tingkah.
Kiandra memperhatikan putra sulungnya itu diam-diam. Cara Zayyan memandang Alin, cara dia menarikkan kursi, mengambilkan makanan, sampai memastikan istrinya nyaman—semuanya terlihat jelas.
Putranya mulai jatuh hati pada perempuan yang kini menjadi istrinya. Dan itu membuat hati Kiandra terasa hangat.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥