NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

POV: RIANI

Rabu pagi, Riani bangun jam lima.

Bukan karena alarm—alarm dia set jam enam—tapi karena otaknya tiba-tiba aktif sendiri, langsung memutar simulasi presentasi seperti film yang diputar ulang berkali-kali di bioskop kepala.

Dia menatap langit-langit kamar dalam kegelapan.

Hari ini presentasi Kewirausahaan Sosial.

Setelah empat minggu riset, diskusi, revisi, dan satu sesi latihan Sabtu lalu, proposal bisnis sosial kelompok mereka akhirnya siap dipresentasikan. Secara objektif, Riani tahu proposal mereka kuat—argumennya solid, data mendukung, model bisnisnya feasible. Pak Hendra, dosen pengampu, dikenal kritis tapi adil.

Tapi tetap saja, perut Riani terasa seperti sedang diisi batu.

Dia bangkit, duduk di tepi kasur, meraih ponselnya.

Pukul lima lewat dua belas.

Ada satu notifikasi WhatsApp dari Wahyu. Masuk jam empat pagi.

Riani mengerutkan kening. Jam empat pagi?

Dia membuka pesan itu.

Wahyu: "Slide bagian analisis hukum sudah aku update. Ada tambahan data terbaru dari laporan Komisi Yudisial 2024 yang lebih relevan. Cek attachment."

Riani membuka attachment. File PowerPoint yang sudah direvisi—dan benar, ada penambahan dua slide berisi data statistik terbaru tentang backlog perkara di pengadilan Indonesia dan dampaknya terhadap masyarakat ekonomi rendah.

Datanya kuat. Visualnya bersih. Argumentasinya tajam.

Riani menatap layar ponselnya.

Wahyu memperbarui slide jam empat pagi.

Dia mengetik balasan.

Riani: "Wahyu, ini bagus banget. Tapi kamu update jam empat pagi?? Kamu tidur nggak semalam?"

Balasan datang dua menit kemudian—berarti Wahyu masih bangun.

Wahyu: "Tidur sebentar. Baru bangun tadi. Cek dulu slide-nya, kalau ada yang perlu diubah bilang sekarang."

Riani: "Sudah aku cek. Sempurna. Tapi Wahyu, kamu harus istirahat sebelum presentasi jam sepuluh."

Wahyu: "Masih ada waktu empat jam."

Riani: "Itu bukan waktu istirahat yang cukup!"

Wahyu: "Cukup untukku."

Riani meletakkan ponsel dengan desahan. Laki-laki ini dan definisi "cukup"-nya.

Tapi dia mengirim satu pesan terakhir sebelum mulai bersiap.

Riani: "Wahyu, kita sudah siap. Kamu sudah siap. Istirahat ya. Aku serius."

Centang dua. Tapi tidak ada balasan.

Riani tersenyum kecil. Semoga itu berarti Wahyu tidur lagi.

Pukul sembilan kurang seperempat, mereka berkumpul di depan ruang seminar Fakultas Ekonomi—tempat presentasi akan berlangsung.

Arman datang pertama, sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana bahan. Dinda menyusul dengan blazer hitam dan sepatu hak rendah—penampilannya paling formal dari semua orang.

Dan Wahyu datang tepat pukul sembilan kurang sepuluh—kaos putih bersih, celana bahan hitam, sepatu kulit hitam yang terlihat baru disemir. Rambutnya lebih rapi dari biasanya, disisir ke samping dengan sedikit gel.

Riani membutuhkan satu detik untuk menyesuaikan diri.

Karena Wahyu tanpa hoodie dan dengan rambut rapi itu... berbeda. Dalam artian yang membuat Riani harus mengingatkan dirinya untuk bernapas normal.

"Wah, Wahyu rapi banget hari ini," Dinda berkomentar dengan nada yang terlalu innocent untuk benar-benar innocent.

"Ini presentasi formal," jawab Wahyu datar.

"Iya sih. Tapi tetap keren." Dinda tersenyum manis.

Riani melirik Dinda dengan tatapan: jangan.

Dinda membalas dengan tatapan: aku nggak ngapa-ngapain.

Arman yang tidak menyadari subtext itu langsung membuka laptop. "Oke, kita cek slide terakhir sebelum masuk. Siapa yang pegang clicker?"

"Aku," jawab Riani. "Wahyu, kamu sudah siap dengan bagian analisis hukum?"

Wahyu mengangguk. "Siap."

"Bagian edukasi?"

"Siap."

"Kalau dosen tanya tentang sustainability jangka panjang?"

"Jawaban sudah aku siapkan. Model pendanaan tiga sumber yang Dinda rancang cukup kuat untuk menjawab pertanyaan itu, ditambah data tentang LSM serupa yang sudah berhasil sustain selama lima tahun ke atas."

Riani menghela napas lega. "Oke. Kita siap."

Pak Hendra tiba tepat waktu—seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan kacamata bulat dan tas kulit yang terlihat sudah sangat sering dipakai. Dia mengangguk ke arah kelompok mereka.

"Kelompok tujuh? Masuk."

Ruang seminar itu tidak besar—cukup untuk satu meja panjang tempat presentan berdiri dan beberapa kursi untuk pendengar. Selain Pak Hendra, ada dua dosen lain yang ikut menilai sebagai penguji tambahan.

Tiga penguji.

Riani merasakan perutnya kembali diisi batu.

Tapi dia mengambil napas panjang, menatap tiga teman kelompoknya, dan mulai.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu Dosen. Kami dari Kelompok Tujuh akan mempresentasikan proposal bisnis sosial kami yang berjudul: 'JurisPro: Platform Bantuan Hukum Terjangkau untuk Masyarakat Ekonomi Rendah.'"

Presentasi mengalir dengan baik.

Riani membuka dengan gambaran umum masalah—data tentang ketimpangan akses hukum di Indonesia, dikaitkan dengan kondisi nyata yang relevan bagi masyarakat. Suaranya stabil, kalimatnya jelas.

Wahyu mengambil alih untuk bagian analisis hukum. Dan Riani, yang sudah melihat Wahyu berbicara informal, sekarang melihat sisi lain dari laki-laki itu.

Di depan penguji, Wahyu berbicara dengan cara yang berbeda dari kesehariannya—bukan karena dia berubah kepribadian, tapi karena di depan materi yang benar-benar dia kuasai dan pedulikan, ada energi yang berbeda. Suaranya tetap pelan dan terukur, tapi setiap kalimatnya tepat sasaran. Ketika dia memaparkan data statistik tentang backlog perkara dan dampaknya, ada keyakinan di sana yang bukan dibuat-buat.

Pak Hendra mengangguk-angguk pelan. Itu pertanda baik—Riani sudah cukup kenal beliau untuk tahu bahwa anggukan itu artinya dosen sedang benar-benar menyimak.

Dinda memaparkan proyeksi keuangan dengan percaya diri—angka-angkanya dikuasai dengan baik, pertanyaan simulasi dari latihan Sabtu terbukti berguna.

Arman menutup dengan strategi pelaksanaan yang sistematis.

Lalu sesi tanya jawab dimulai.

Penguji pertama—Bu Ratna, dosen Ekonomi Pembangunan—langsung masuk ke inti. "Model pendanaan tiga sumber ini menarik. Tapi dari pengalaman saya, CSR perusahaan itu sangat tidak stabil—bisa dicabut kapan saja tergantung kebijakan perusahaan. Bagaimana kelompok Anda menjamin keberlanjutan tanpa sumber yang pasti?"

Dinda menjawab tentang diversifikasi pendanaan. Tapi Bu Ratna mengejar dengan pertanyaan lebih spesifik tentang cash flow minimum untuk sustain.

Riani melihat Dinda sedikit ragu, dan langsung mengambil alih. "Bu Ratna, kami juga merancang revenue stream keempat yang tidak kami tampilkan secara eksplisit di slide—yaitu layanan konsultasi berbayar untuk kasus komersial skala menengah. Hasilnya digunakan untuk mensubsidi layanan gratis. Ini memastikan ada baseline income yang tidak bergantung pada donasi."

Bu Ratna mengangguk. "Lebih baik. Tapi ini harus masuk ke proposal final."

"Siap, Bu."

Penguji kedua—Pak Iman, dosen Hukum Bisnis—langsung menatap Wahyu. "Bagian analisis hukum ini cukup kuat. Saya ingin tanya lebih dalam: dalam konteks Indonesia, apa hambatan regulasi terbesar untuk model bisnis seperti ini?"

Wahyu tidak ragu satu detik pun.

"Ada tiga hambatan utama, Pak. Pertama, regulasi tentang izin praktik hukum yang ketat—hanya advokat bersertifikat yang boleh mewakili klien di pengadilan, sehingga model volunteer student lawyer kami harus dibatasi pada konsultasi dan pendampingan non-litigasi. Kedua, belum ada regulasi yang jelas tentang platform digital bantuan hukum, sehingga kami beroperasi di area abu-abu yang perlu dikomunikasikan dengan Kemenkumham. Ketiga, potensi konflik kepentingan jika kami menerima dana dari perusahaan yang terlibat dalam sengketa hukum dengan masyarakat—ini perlu kode etik yang ketat dan mekanisme disclosure yang transparan."

Pak Iman menatap Wahyu beberapa detik. "Kamu mahasiswa semester berapa?"

"Semester satu, Pak. Hukum."

"Semester satu." Pak Iman mengangguk, tampak terkesan. "Jawaban yang matang."

Riani menahan senyumnya.

Pak Hendra mengambil giliran terakhir untuk bertanya. Dia menatap seluruh kelompok sebelum bicara.

"Saya ingin tanya sesuatu yang sifatnya lebih... filosofis." Pak Hendra mengatupkan jari-jarinya di atas meja. "Bisnis sosial pada dasarnya selalu berhadapan dengan dilema: apakah tujuan utamanya adalah bisnis yang sustain, atau dampak sosial yang maksimal? Karena keduanya sering bertabrakan. Kelompok Anda bagaimana menyikapi ini?"

Hening sebentar.

Riani membuka mulut untuk menjawab, tapi Wahyu berbicara lebih dulu.

"Menurut kami, dilema itu muncul ketika kita melihat keduanya sebagai tujuan yang terpisah." Wahyu berbicara dengan tenang. "Tapi dalam model kami, keberlanjutan bisnis adalah syarat agar dampak sosial bisa terus terjadi. Bisnis yang tidak sustain tidak akan menghasilkan dampak jangka panjang. Jadi bukan dilema—melainkan hubungan yang saling bergantung. Keberlanjutan melayani dampak, dan dampak melegitimasi keberlanjutan."

Pak Hendra menatap Wahyu cukup lama.

Lalu dia tersenyum—senyum yang jarang muncul di wajahnya yang biasanya serius.

"Jawaban yang sangat baik."

Keluar dari ruang seminar dua puluh menit kemudian, Arman langsung berteriak kecil begitu pintu tertutup. "ANJAY KITA KEREN BANGET!"

Dinda tertawa, memeluk Riani. "RII! KITA BERHASIL!"

Riani tertawa sambil membalas pelukan Dinda. "Kita bagus banget! Semua orang bagus!"

Arman menepuk bahu Wahyu keras-keras—assalnya Arman, dan Wahyu sedikit bergerak ke samping. "Wahyu, lo gila! 'Keberlanjutan melayani dampak, dan dampak melegitimasi keberlanjutan.' Lo ngomong itu spontan atau sudah dipersiapkan?"

"Spontan," jawab Wahyu datar.

"SPONTAN." Arman menggeleng tidak percaya. "Bro, lo semester satu dengan otak semester atas."

Wahyu tidak berkomentar, tapi Riani melihat—dengan sangat jelas—bahwa ekspresinya tidak sepenuhnya datar. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang kecil tapi nyata.

Kepuasan.

Riani berjalan mendekat ke Wahyu sementara Arman dan Dinda masih berdebat siapa yang paling keren tadi.

"Wahyu," Riani berkata pelan.

Wahyu menoleh.

"Kamu luar biasa tadi."

Wahyu mengalihkan pandangan sebentar. "Kita semua melakukan bagian masing-masing."

"Iya. Tapi kamu... istimewa." Riani berkata dengan serius. "Dan aku tidak bilang itu karena basa-basi."

Wahyu menatapnya lagi. Sesuatu bergerak di matanya—sesuatu yang Riani tidak bisa sepenuhnya identifikasi, tapi yang membuatnya merasa bahwa kata-katanya sampai ke tempat yang tepat.

"Terima kasih," ujar Wahyu pelan.

Tulus. Tanpa diplomasi. Tanpa jarak.

Hanya... terima kasih yang sungguh-sungguh.

Siang harinya mereka makan bersama di kantin—untuk pertama kalinya berlima dengan Karin yang kebetulan lewat dan diajak bergabung. Suasana meja itu ramai: Arman dan Dinda saling bertukar cerita tentang momen-momen terbaik presentasi tadi, Karin tertawa mendengarkan, Riani sesekali berkontribusi.

Dan Wahyu—duduk di ujung meja, makan dengan tenang—sesekali berkomentar singkat yang selalu tepat dan selalu membuat satu atau dua orang di meja tertawa.

Karin melirik Riani dari seberang meja, matanya berkata sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Riani membalasnya dengan senyum kecil.

Iya. Dia melihat.

Wahyu yang mau duduk di meja yang ramai. Wahyu yang berkomentar. Wahyu yang tertawa—kecil, hampir tidak terdengar, tapi ada.

Batu yang mencair, setetes demi setetes.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!