NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Tahta di Balik Debu

Setelah badai di gudang Cakung mereda, nama Guntur tidak lagi dibicarakan dengan nada remeh. Di warung-warung kopi pangkalan ojek, di grup WhatsApp driver se-Jakarta, hingga ke telinga para petinggi perusahaan logistik, nama "Naga Sidoarjo" menjadi buah bibir yang legendaris.

​Guntur duduk di balkon hotel, kali ini bukan lagi pakai kaos singlet kuning, tapi memakai jubah mandi hotel yang putih bersih. Di tangannya, ia memegang kontrak resmi dari V-Group yang sudah ditandatangani Vanesha.

​"Walah... nasib ojek pangkalan kok bisa sampai sini ya?" gumam Guntur sambil nyengir. Ia mengambil rokok kreteknya, menyulutnya, dan membiarkan asapnya menari di udara Jakarta yang mulai bersahabat.

​Tiba-tiba, Vanesha masuk tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Guntur yang sedang asyik bergaya ala bos besar dengan jubah mandi.

​"Guntur! Baru dapet kontrak satu sudah gaya begitu! Cepat ganti baju, kita ada undangan wawancara eksklusif dari media nasional!" seru Vanesha.

​Guntur menoleh dengan gaya slow motion. "Walah Mbak V, sabar toh. Naga juga butuh skincare-an pake jubah hotel. Biar kalau masuk TV nanti, wajah saya nggak kalah glowing sama artis Korea itu."

​Vanesha mencoba menahan tawa. "Nggak ada artis Korea yang hobinya nyedot kretek di balkon! Cepat, mereka ingin tahu siapa sosok di balik keberhasilan pengiriman logistik yang mengalahkan sabotase Rian kemarin."

​Guntur berdiri, melepaskan jubah mandinya (untung di dalamnya sudah pakai celana pendek), lalu mengambil jaket ojeknya yang sudah dicuci bersih dan wangi.

​"Mbak V, bilang sama wartawannya... kalau mereka mau wawancara, tempatnya bukan di studio mewah, tapi di warung bubur ayam kemarin. Saya mau tunjukkan kalau tahta Naga itu bukan di gedung tinggi, tapi di balik debu jalanan Jakarta," ucap Guntur dengan nada sok puitis.

​Vanesha terdiam, menatap Guntur dengan binar mata yang penuh rasa kagum—meski mulutnya tetap ingin mengomel. "Terserah kamu saja! Dasar jagoan sengklek!"

​Hari itu, sebuah mobil mewah meluncur menuju pangkalan ojek. Di dalamnya duduk seorang CEO cantik dan seorang pria bersahaja yang baru saja mengguncang tatanan bisnis Ibu Kota. Sang Naga telah mendapatkan tahtanya, dan ini baru awal dari petualangan sesungguhnya

Warung bubur ayam pinggir jalan itu mendadak jadi pusat perhatian. Kamera wartawan dari berbagai stasiun TV sudah terpasang, siap menyorot sosok fenomenal yang baru saja melibas dominasi Rian. Vanesha tampak anggun dengan blazer kantornya, sementara Guntur? Dia malah asyik jongkok di kursi plastik sambil ngudak buburnya.

​"Selamat siang, Mas Guntur. Banyak yang bilang Mas ini mirip jagoan dari 'novel sebelah'. Bagaimana tanggapan Mas mengenai kesuksesan besar ini?" tanya seorang wartawati cantik dengan mikrofon di depan wajah Guntur.

​Guntur menelan kerupuknya pelan-pelan, lalu menoleh ke kamera dengan tatapan cool tapi tetep sengklek.

​"Walah Mbak, kalau soal mirip-mirip itu biasa. Di aspal itu yang penting bukan siapa yang paling mirip siapa, tapi siapa yang paling tahan banting kena debu. Saya ini bukan pahlawan, saya cuma orang yang kebetulan tahu caranya narik gas saat yang lain sibuk narik rem," jawab Guntur santai.

​Wartawan lain menyela, "Tapi Mas, Anda sekarang sudah jadi mitra V-Group dengan nilai kontrak triliunan. Kenapa masih makan di pinggir jalan begini?"

​Guntur tersenyum tipis, matanya melirik Vanesha yang sedang duduk manis di sampingnya. "Uang triliunan itu cuma angka di kertas, Mas. Tapi rasa bubur ayam ini? Ini nyata. Saya nggak mau lupa bau aspal cuma karena sudah bisa beli parfum mahal. Naga kalau lupa asalnya, nanti jadi cicak, Mbak."

​Vanesha yang mendengar itu hanya bisa tersenyum bangga. Dia lalu berdiri dan bicara di depan kamera. "Guntur adalah bukti bahwa di balik debu Jakarta, ada permata yang tidak terlihat. Kami di V-Group bangga memiliki mitra seperti dia."

​Setelah wawancara selesai, para wartawan bubar. Guntur menarik napas lega dan menyulut rokok kreteknya. Dia melihat notifikasi di HP-nya—ada pesan masuk dari platform NovelToon: "Selamat, karya Anda masuk kategori Pilihan!"

​"Mbak V, lihat ini... perjuangan narik ojek sama berantem kemarin ternyata ada hasilnya juga," ucap Guntur sambil menunjukkan layar HP-nya ke Vanesha.

​.

​Vanesha mendekat, membaca pesan itu, lalu menatap Guntur lekat-lekat. "Itu artinya tanggung jawab kamu lebih besar sekarang. Jangan cuma bisa berantem, kamu harus jadi inspirasi buat teman-teman ojek lainnya."

​Guntur bangkit dari duduknya, merapikan jaket ojeknya, lalu menatap langit Jakarta yang sore itu tampak sangat indah. "Tenang saja, Mbak V. Selama masih ada debu di jalanan, Sang Naga akan tetap ada buat menjaga mereka yang lemah. Tapi sekarang... bayarin buburnya ya? Dompet saya ketinggalan di hotel."

​"GUNTURRRRR!" teriak Vanesha gemas sambil mengejar Guntur yang sudah lari duluan menuju motor matic-nya.

​.

​Di tengah hiruk pikuk kota, Sang Naga Sidoarjo kembali membelah kemacetan. Dia mungkin sudah punya tahta, tapi hatinya akan selalu milik jalanan. Petualangan baru sudah menanti, dan kali ini, seluruh Jakarta sudah siap menyambut sang Jagoan Sengklek.

Setelah puas tertawa dan mengerjai Vanesha soal tagihan bubur, Guntur memarkirkan motor matic-nya tepat di depan lobi hotel bintang lima itu. Satpam hotel yang biasanya cuma mengangguk formal, kini memberikan hormat gerak jalan saat melihat Guntur datang. Jaket hijau yang sudah kusam itu kini menjadi simbol keberanian baru di Jakarta.

​Vanesha turun dari mobil mewahnya dengan napas sedikit terengah-engah. "Guntur! Kamu beneran ya, sudah jadi mitra triliunan tapi hobi kabur dari tagihan bubur nggak hilang-hilang!"

​Guntur hanya nyengir sambil memutar-mutar kunci motornya. "Loh, itu namanya strategi manajemen aset, Mbak V. Biar perputaran uang sampeyan lancar, orang kaya harus sering-sering bayarin yang... eh, yang agak kaya seperti saya."

​Namun, langkah Guntur terhenti saat memasuki lobi. Di ruang tunggu hotel, sudah berkumpul sekitar tiga puluh driver ojek online dengan jaket yang sudah kusam dan wajah penuh harapan. Begitu melihat Guntur, mereka semua berdiri serentak.

​"Mas Guntur! Sang Naga!" seru salah satu driver senior yang rambutnya sudah memutih semua.

​Guntur tertegun. Dia menoleh ke arah Vanesha yang mendadak diam. Guntur mendekati kerumunan itu. "Loh, ada apa ini Lur? Kok ramai-ramai ke sini? Mau demo minta tarif naik atau bagaimana?"

​Driver senior itu maju, memegang tangan Guntur dengan gemetar. "Bukan, Mas. Kami dengar berita wawancara tadi. Kami ke sini cuma mau bilang terima kasih. Selama ini kami dianggap sampah di jalanan, dianggap pengganggu macet. Tapi hari ini, Mas Guntur bikin kami semua merasa punya harga diri."

​Guntur terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak, lebih sesak daripada saat dihajar anak buah Rian. Dia melihat wajah-wajah lelah itu—wajah yang setiap hari bertarung dengan asap dan debu demi sesuap nasi.

​.

​"Dengerin saya, Lur," ucap Guntur dengan suara yang mendadak berat. "Saya ini tetap ojek seperti sampeyan semua. Tahta yang saya dapat ini bukan buat saya duduk enak di kursi empuk. Kontrak ini bakal saya gunakan buat bangun pangkalan yang layak, buat jaminan kesehatan kalian semua, dan buat mastiin nggak ada lagi preman yang berani malakin kita di jalanan!"

​Sorak-sorai pecah di dalam lobi hotel mewah itu. Para tamu hotel yang memakai jas mahal hanya bisa melongo melihat pemandangan langka tersebut. Vanesha yang berdiri di belakang Guntur, matanya mulai berkaca-kaca. Dia sadar, Guntur bukan lagi sekadar partner bisnis, dia adalah pemimpin "pasukan" yang selama ini tidak terlihat.

​Guntur kemudian menoleh ke Vanesha dengan seringai tipis. "Mbak V, tolong pesankan kopi dan cemilan buat semua saudara saya ini. Pakai kartu kredit sampeyan dulu ya, nanti saya ganti kalau saldo NovelToon saya sudah cair."

​Vanesha tersenyum tulus, kali ini tidak marah lagi. "Iya, Guntur. Pesan saja apa yang mereka mau. Hari ini, hotel ini milik para pejuang aspal."

​Malam itu, di tengah kemewahan Jakarta, Guntur duduk lesehan di lobi hotel bersama teman-temannya, berbagi cerita dan tawa. Sang Naga telah membuktikan bahwa tahta tertinggi itu bukan berada di puncak gedung pencakar langit, melainkan di dalam hati orang-orang yang merasa dilindungi.

​Guntur menatap ponselnya sekali lagi, melihat logo kontrak barunya. "Perjalanan baru dimulai, Pak... Guntur janji, nggak bakal ada debu yang bisa menutupi kebenaran," bisiknya dalam hati. Sang Naga telah benar-benar bangkit, siap membakar segala ketidakadilan di ibu kota.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!