𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23|My Baby Boy
Makanan dan minuman telah terhidang di atas meja, Karina yang datang lebih dahulu tampak menggerutu tanpa suara memperhatikan keduanya. Bukan hanya Karina saja yang tampak menyoroti Aluna dan Jayden, ada banyak pasang mata yang ikut memantau. Aluna seakan mengabaikan bisik-bisik lirih disertai sorot mata rumit orang-orang terutama dari kaum hawa, yang seakan-akan memercikkan gosip panas yang sekarang menjadi simpang-siur.
"Lo nggak ngerasa keganggu, Lun?" tanya Karina pada akhirnya angkat suara.
Aluna bersiap menyentuh sendok dan garpu di mangkok mendadak mengurungkan niatnya, ia melirik ke depan dengan alis mata berkerut.
"Soal?" tanya balik Aluna yang tak paham.
Mata Karina melirik ke depan, menatap Jayden yang masih tampak stay cool tanpa terusik sama sekali. Manik mata Karina kembali bergerak ke arah Aluna, disertai desahan berat.
"Lo mendadak jadi buah bibir Oneng. Lo dikatain playgirl, karena baru minggu lalu lo ke pesta gandeng Sebastian. Lalu pagi ini dianterin ke sekolah bareng Kai, dan saat ini malah Jayden. Itu loh maksudnya," tutur Karina menjelaskan secara blak-blakan tidak peduli bagaimana reaksi Jayden.
Dari ekor matanya Aluna melirik Jayden, pria yang duduk di sampingnya tampak acuh tak acuh. Aluna mengangkat kedua sisi bahunya ke atas dan kembali turun, ia menipiskan bibirnya.
"Sebastian sekedar teman, yang sama-sama butuh pasangan buat ke pesta Gavino. Perihal si Kai, emang dia yang paksa gue berangkat bareng. Kalo Jayden, tentu aja beda. Dia calon suami gue, ya 'kan Jay?" Aluna menyenggol bahu Jayden dengan gerakan ringan, intonasi nada suaranya sedikit dikeraskan.
Orang-orang yang berada di kantin sekolah memasang indera pendengaran mereka dengan saksama, ingin sekali mendengar konfirmasi langsung dari orang yang bersangkutan. Riuh seketika, ruangan kantin terdengar ribut untuk beberapa menit sebelum kembali tenang. Ekspresi wajah Jayden berubah tanpa disadari perubahan yang cukup cepat, ada binar-binar kebahagiaan di kedua matanya.
Jayden berdehem, daun telinganya memerah. Aluna dapat menangkap perubahan sepersekian detik, ia menyeringai.
"A—apa?" Jayden menoleh ke samping mendapati seringai di bibir ranum Aluna.
"Yang barusan gue omongin salahkah?"
Kepala Jayden menggeleng cepat, "Nggak."
"Lo nggak cemburu 'kan sama Kai dan Sebastian, gue cuman nganggep mereka teman. Karena mereka berdua sahabat lo, gue harus punya hubungan baik juga sama mereka. Lo paham 'kan apa yang gue maksud," kata Aluna dengan nada manja.
"Ya," jawab Jayden lagi, kali ini ia membuang muka.
Kedua sisi bibirnya berkedut, Jayden berusaha menahan senyumannya. Ia tersenyum juga pada akhirnya, setelah berusaha keras. Suara yang tadinya tenang kembali riuh mengudara, apalagi kaum hawa yang tampak terpekik tertahan di saat mereka tanpa sengaja menangkap senyum lepas Jayden.
"Eh, si Jayden barusan senyum loh."
"Gila, si wajah poker bisa senyum. Gue nggak lagi salah liat 'kan?"
"Gue rasa dia emang keknya jatuh cinta sama Aluna."
"Cinta emang merubah segalanya."
Aluna memiringkan kepalanya menyipitkan matanya, ia dan Karina mendengarkan suara bisik-bisik lirih. Jayden terbatuk, hanya untuk mengontrol bibirnya untuk kembali tampak normal. Jayden menoleh ke samping, kedua bulu matanya berkibar kala ia berkedip dua kali.
"Senyum," titah Aluna, "lo liatin senyum di sebelah sana. Tapi ke gue malah nggak mau senyum. Ayo, senyum lagi biar gue liat."
"Ka—kapan juga gue senyum, mereka salah liat," bantah Jayden tergagap.
Tangannya bergerak cepat mengaduk-aduk mie ayam di mangkok, ia menunduk tak ingin menatap Aluna. Kedua sisi pipi Aluna menggembung sebal, pria satu ini tampaknya masih terlalu tinggi gengsinya. Aluna menempelkan bahunya dengan lengan Jayden, pergerakan tangan Jayden terhenti. Ia tertegun, menoleh ke samping mendapati wajah Aluna yang menengadah dengan kedua mata memicing.
"Senyum atau gue cium," ancam Aluna terdengar tak tahu malu.
Pupil mata Jayden melebar, gadis ini gila tampaknya atau mungkin terserang virus mesum dari Kai—sahabat Jayden. Bagaimana ia mengancam seorang pria dengan ancaman yang seperti itu, jakun Jayden naik-turun. Tubuhnya tegang, atensinya turun ke bibir merah Aluna jantung Jayden berdegup jauh lebih cepat. Karina mencabik, ia menyesal ia akui. Bagaimana bisa ia menjadi penonton tak kasat mata di mata kedua sejoli ini, Karina menggigit-gigit sedotan minumannya dengan mata berapi-api.
"Gue cium ni—"
Jayden mengulas senyum paksa, wajahnya merah padam menjalar dari daun telinga sampai ke leher putihnya. Meskipun senyuman yang diulas tampak kaku, setidaknya ia patuh. Aluna mengulum senyum gelinya, telapak tangannya terangkat mengusap kepala Jayden.
"Ouch! My baby boy, love banget gue sama lo. Nah, ayo lanjutkan makannya." Aluna terkekeh bahagia saat menarik tangannya yang mengusap kepala Jayden.
Karina hampir menyemburkan jus jeruk dingin yang baru saja ia sedot, matanya melotot. 'Eh, si bangsat nih nggak liat gue-kah?'
Keduanya seakan tidak peduli dengan siapa saja yang kini menonton interaksi manis di antara mereka, seolah-olah seisi kantin bukan manusia melainkan orang-orangan sawah.
...***...
Suara bell pulang bergema nyaring keseluruhan penjuru gedung sekolah bersama dengan lenguh serta sorak kebahagiaan dari para siswa-siswi, dari pintu kelas-kelas yang terbuka guru dan siswa berhamburan keluar. Aluna merapikan buku-buku paket di atas meja, memasukkan sebagian ke dalam tas sementara sebagian lagi di masukan ke dalam kolong meja. Karina menggeliat, erangan lega mengalun.
"Mau main ke mall?" tawar Karina pada Aluna.
Aluna menarik resleting tasnya hingga tertutup, ia mengerutkan dahinya pertanda berpikir. Bibir Aluna terbuka, satu pesan masuk mengalihkan fokus Aluna. Ia merogoh saku seragam sekolahnya mengeluarkan smartphone di saku. Ibu jari tangannya mengetuk layar ponsel, ia mengulum senyum.
"Kali ini nggak dulu deh, noh. Liat! My baby boy ngajakin gue pulang bareng dong," kata Aluna semringah.
Bola mata Karina berotasi malas, "Lo nggak asik sekarang, malah nemplok ke Jayden. Biasanya 'kan lo always bareng gue kemana-mana. Emang bener ya, kata orang kalo sahabat udah ada yang punya. Maka gue yang besti lo ini mendadak nggak lagi penting."
Karina mengeluh, Aluna terkekeh renyah. "Cari cowok sana gih, jangan terpaku ngejar si Gavino doang. Lo itu cantik Karina, lo harusnya cari cowok yang juga suka lo." Nasihat Aluna tulus, ia ingin Karina melupakan Gavino.
Agar cerita akhir yang menyedihkan si tokoh antagonis satu ini memiliki alur yang berbeda, Karina cemberut mendengarnya.
"Sayangnya di mata gue dan hati gue. Nggak bakalan bisa lepas dari Gavino, gue cinta dia forever. Nggak peduli dunia mau kek gimana, bahkan kalo pun gue harus mati karena cinta ini. Gue tetap bakalan berjuang demi dia," sahut Karina tegas tak tergoyahkan.
Dahi Karina berlipat, saat matanya mendapati tatapan rumit dari mata indah Aluna. Gadis di sampingnya itu bahkan tak membantahnya, hanya menatapnya dengan intens.
"Apakah itu sepadan?" tanya Aluna lirih.
Kepala Karina mengangguk tegas, dan menjawab, "Sepadan. Jika cowok yang gue kejar adalah Gavino."
Mengangguk paham, dan mengulas senyum getirnya. Tokoh antagonis satu ini tak bisa diselamatkan, ia terus bergerak ke alur yang mematikan, memang disetting di ceritanya untuk keras kepala dengan cinta buta. Derap langkah kaki di depan kelas mereka menyita perhatian keduanya, Jayden menggaruk leher belakangnya saat mendapati tatapan Aluna dan Karina.
"Baby boy lo udah nyampek tuh, sana balik!" seru Karina setengah meledek Aluna.
Ledekan Karina disambut tawa geli Aluna, ia bangkit dari kursinya melangkah bersama Karina menuju pintu keluar.
...***...
"Hoam..., mata gue ngantuk banget." Aluna menutup mulutnya untuk kesepuluh kalinya ia menguap lebar, kedua kelopak matanya terasa berat dan berair.
Atensi Aluna sayu melirik ke depan, Aluna mengumpat dalam diamnya. Ia pikir tempat seperti apa yang akan dikunjungi oleh Jayden, mengajaknya untuk pergi menyambangi tempat ternyaman bagi Jayden. Kini Aluna paham, pria yang dijuluki 'poker face' ini menjadikan perpustakaan sebagai tempat ternyaman. Lihatlah bagaimana fokusnya ia membaca buku paket tebal di atas meja, Aluna lagi-lagi menguap.
"Bomatlah gue ngantuk banget," gumam Aluna lirih.
Kedua tangannya dilipat di atas meja, wajahnya langsung dijatuhkan menyamping di atas lipatan tangan. Matanya terpejam tak butuh waktu lama, ia tak ingin menganggu Jayden yang masih membaca. Merasa tak ada suara, Jayden menoleh ke depan. Kedua sisi bibirnya langsung naik tinggi ke atas, terkekeh geli.
Jayden bangkit perlahan dari kursi, mengitari meja panjang perpustakaan. Ia duduk di samping Aluna, sebelah tangannya memangku sebelah sisi wajahnya. Menatap lambat wajah Aluna yang tampak polos saat terlelap, jari telunjuknya bergerak menyentuh bulu mata lentik Aluna.
"Cantik," puji Jayden nyaris berbisik.
Entah berapa lama ia terpaku dengan bibir yang masih tersenyum, memperhatikan Aluna yang tampak tertidur sangat lelap. Bibir ranumnya terbuka, dari celah samping salivanya meleleh. Jayden hampir saja menyemburkan tawa, jika saja ia tak menutup mulutnya dan ingat tempat. Ia sudah pasti akan tertawa terbahak-bahak melihat gadis cantik itu mengeluarkan air liur saat terlelap.
Kepalanya menggeleng tak percaya, tangannya merogoh saku celana seragam sekolahnya. Membuka lensa kamera, memotret Aluna diam-diam terkikik geli.
"Mari kita liat. Apa lo masih berani ngegodain gue, Aluna. Foto aib lo yang lagi ileran ada di gue," monolog Jayden tersenyum nakal.
Bang Kai be like, "Kalah sama cowok masa lalu doi sih masih biasa. Lah gue? Gue kalah sama cowok yang modalnya cuman kesundul doang, Woy."