Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10:Perasaan Yang Tak Seharusnya Terjalin
Malam di Kota Qīngchú seperti luka yang membusuk di bawah cahaya rembulan yang pucat. Angin dari Selatan tidak lagi membawa aroma bunga persik yang manis, melainkan bau karat darah dan niat membunuh yang menyengat, merambat di sela-sela paviliun kayu Klan Wei yang megah.
Di dalam sebuah kamar yang tersembunyi oleh formasi pengalih indra, Chen Lin duduk bersila di atas dipan batu hitam.
Di dalam tubuhnya, sesuatu yang jauh lebih purba daripada sekadar energi spiritual sedang menggeliat.
Itu adalah Esensi Tulang Rembulan. Sebuah substansi yang tidak lagi merah atau putih, melainkan sepucat perak namun sekeras baja langit.
Cairan mistis itu kini mengisi rongga-rongga tulangnya, berdenyut selaras dengan napas alam semesta yang dingin dan tak berbelas kasih.
Setiap kali Chen Lin menghela napas, tulang-tulangnya mengeluarkan dengungan rendah, sebuah resonansi yang hanya bisa didengar oleh jiwa-jiwa yang sudah mendekati ajal.
Di hadapannya, Wei Lan duduk bersimpuh. Matanya, yang biasanya tajam laksana elang, kini melembut saat menatap sosok pria di depannya.
Ia baru saja menyaksikan bagaimana Chen Lin menelan racun mematikan dari Nyonya Han seolah-olah itu hanyalah air tawar yang hambar.
Rasa kagum itu kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif, dan lebih dalam, sebuah pengabdian yang berbatasan dengan kegilaan.
Aula Utama Klan Wei masih bergetar oleh sisa-sisa amarah yang ditinggalkan Wei Lan beberapa saat lalu. Di paviliun terpencil yang kini dijaga ketat oleh prajurit setia Patriark, Nyonya Han berdiri di balik jeruji kayu cendana.
Wajahnya kini tampak seperti topeng retak yang menyingkap kebusukan di dalamnya.
"Kau pikir kau menang, Wei Lan?" desis Nyonya Han ke arah bayang-bayang di dinding.
"Kau hanya memelihara monster es yang suatu hari akan membekukan seluruh klan ini. Aku meracuninya bukan karena aku benci padamu, tapi karena aku takut pada apa yang sedang kau bawa masuk ke rumah kita."
Nyonya Han tahu bahwa racun Penghancur Tulang miliknya bukanlah barang sembarangan. Itu adalah racun yang disuling dari empedu ular kobra bawah tanah yang dicampur dengan kristal korosif.
Seharusnya, saat ini tulang-tulang Chen Lin sudah mencair dan sumsumnya berubah menjadi nanah hitam. Namun, pria itu justru tampak lebih perkasa, seolah-olah racun itu hanyalah pupuk bagi kekuatan di dalam dirinya.
Di luar paviliun, Patriark Wei berjalan mondar-mandir. Pikirannya kacau. Di satu sisi, ia melihat putrinya kembali dengan kekuatan yang meledak-ledak, di sisi lain, ia melihat seorang pria asing yang mampu menelan racun tanpa berkedip.
"Dia bukan manusia biasa, Patriark," bisik seorang tetua tua yang berdiri di sampingnya. "Energi yang ia pancarkan... itu bukan energi spiritual biasa. Itu adalah kekuatan yang menindas struktur kehidupan itu sendiri. Jika kita tidak bisa mengikatnya dengan darah, kita harus menghancurkannya sebelum ia menelan Kota Qīngchú."
Kembali di kamar rahasia, Chen Lin membuka matanya. Pupilnya bukan lagi hitam, melainkan pusaran perak yang berpendar redup.
Lin XingYu muncul di sisinya, bentuk jiwanya kali ini tampak lebih padat, mencerminkan peningkatan kekuatan Chen Lin.
"Lihatlah mereka, Chen Lin," Lin XingYu tertawa, suaranya seperti gesekan pedang di atas sutra. "Mereka gemetar. Mereka menyebutmu penyelamat saat kau menyembuhkan gadis itu, tapi mereka menyebutmu monster saat kau menunjukkan bahwa kau tak bisa mati. Itulah manusia; mereka memuja kekuatan yang bisa mereka kendalikan, dan membenci kekuatan yang melampaui imajinasi mereka."
Chen Lin bangkit berdiri. Setiap gerakannya diikuti oleh suara yang tajam dari persendiannya, seolah-olah tulang-tulangnya sedang menyesuaikan diri dengan tekanan baru.
Esensi Tulang Rembulan di dalam dirinya sedang melakukan pembersihan terakhir terhadap sisa-sisa racun Nyonya Han.
Baginya, racun itu adalah sampah yang kasar, sementara tulangnya adalah tempat suci yang hanya boleh diisi oleh kemurnian es abadi.
"Wei Lan," panggil Chen Lin. Suaranya serak, membawa aura dingin yang membuat api lilin di ruangan itu mengecil.
Wei Lan segera mendekat, tangannya gemetar saat ia menyentuh lengan jubah Chen Lin.
"Tuanku... apakah kau merasa sakit?"
"Sakit adalah perasaan bagi mereka yang memiliki daging yang lemah," jawab Chen Lin kasar.
Ia memegang dagu Wei Lan, memaksanya menatap langsung ke dalam pusaran di matanya.
"Ketahuilah, Lan-er. Racun ibu angkatmu justru membuka pintu terakhir yang menghalangi penyatuan sumsumku. Dia ingin menghancurkanku, tapi dia justru menempaku menjadi pedang yang lebih tajam."
Wei Lan merasa jantungnya seakan berhenti. Cengkeraman Chen Lin kuat, hampir menyakitkan, namun di mata sang Nona Wei, itu adalah bentuk kepemilikan yang ia dambakan.
"Gunakan aku, Tuanku. Jadikan aku sarung bagi pedangmu. Jika klan ini berani berkhianat lagi, aku sendiri yang akan membakar aula mereka."
Kekalahan Qin Feng dan tertangkapnya Nyonya Han menjadi pemicu ledakan yang sudah lama dinanti. Di wilayah Selatan, genderang perang mulai dipukul.
Klan Qin, yang selama ini merasa menjadi pemuncak kekuatan di Kota Qīngchú, tidak bisa menerima penghinaan ini. Bagi mereka, Wei Lan adalah aset yang dicuri, dan Chen Lin adalah noda yang harus dihapus dari peta.
Qin Tian, Patriark Klan Qin dan ayah dari Qin Feng, berdiri di atas benteng kotanya. Di tangannya, ia memegang laporan tentang pria yang mengalahkan putranya dengan satu tangan.
"Kirimkan Tujuh Algojo Api," perintah Qin Tian. Suaranya berat, penuh dengan kebencian yang mendalam.
"Aku tidak ingin ada negosiasi. Aku ingin kepala pemuda itu dipajang di gerbang Kota Qīngchú, dan aku ingin Wei Lan diseret kembali ke sini dalam rantai besi. Jika Klan Wei menghalangi, ratakan seluruh distrik Timur dengan tanah!"
Di tengah kegelapan malam, tujuh bayangan melesat keluar dari wilayah Selatan. Mereka bukan praktisi biasa, mereka adalah pembunuh yang telah memurnikan sumsum mereka dengan api neraka, sebuah kontras yang sempurna bagi energi es Chen Lin.
Pagi harinya, suasana di kediaman Klan Wei semakin mencekam. Utusan dari Klan Qin telah tiba dengan membawa ultimatum, serahkan Chen Lin dalam waktu dua belas jam, atau perang Antar klan kita dimulai.
Patriark Wei duduk di kursinya, tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia menatap Wei Lan yang berdiri di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Lan-er... kau lihat apa yang kau perbuat? Kota ini akan terbakar karena satu pria pengelana."
"Bukan karena dia, Ayah," jawab Wei Lan dengan suara yang jernih namun penuh kewibawaan.
"Tapi karena keserakahan klan kita yang mencoba menjual kehormatan demi keamanan palsu. Klan Qin akan menyerang kita cepat atau lambat, Chen Lin hanyalah cermin yang menunjukkan betapa pengecutnya kita selama ini."
"CUKUP!" teriak salah satu tetua. "Kau sudah dicuci otaknya! Pria itu harus diserahkan!"
Tepat saat itu, pintu aula utama meledak hancur. Chen Lin berjalan masuk, jubahnya berkibar ditiup angin kencang yang tiba-tiba muncul.
Di bahunya, Lian Yue mengepakkan sayap, memercikkan serpihan es yang tajam ke arah para tetua.
"Kalian ingin menyerahkanku?" Chen Lin tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar seperti es yang retak di tengah malam. Ia berjalan perlahan menuju tengah aula.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak perak yang membeku di lantai batu.
Ia berhenti tepat di depan Patriark Wei, menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"Klan Qin sedang mengirimkan tujuh algojo mereka. Jika kalian menyerahkanku sekarang, mereka hanya akan membunuhku lalu kembali untuk menghabisi kalian semua karena kalian telah menunjukkan kelemahan. Hanya orang bodoh yang berpikir bahwa macan akan berhenti mengejar setelah diberi satu ekor kelinci."
Suasana aula membeku, bukan hanya karena kata-kata Chen Lin, tapi karena energi yang memancar dari Esensi Tulang Rembulan miliknya.
Para tetua yang tadinya berteriak kini terdiam, lidah mereka seolah kaku tertempel di langit-langit mulut.
Chen Lin menoleh ke arah Wei Lan. "Lan-er, apakah kau siap melihat klanmu terbakar, atau kau ingin melihat mereka sujud di bawah kakimu?"
Wei Lan melangkah maju, berdiri di samping Chen Lin tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku hanya peduli pada satu hal, Tuanku. Bahwa saat debu peperangan ini mengendap, aku masih berdiri di sisimu."
Chen Lin meraih tangan Wei Lan, lalu dengan gerakan kasar, ia menggigit ujung jarinya sendiri hingga darah menetes. Ia menempelkan darah itu ke kening Wei Lan, membentuk simbol kuno yang berpendar redup.
"Ini adalah segel perlindungan," ucap Chen Lin kasar, menatap langsung ke mata Wei Lan.
"Darahku mengalir di sumsummu sekarang. Siapa pun yang mencoba menyentuhmu, mereka akan berurusan dengan dinginnya neraka yang kupikul."
Wei Lan merasakan gelombang energi yang dahsyat merambat dari keningnya ke seluruh tulang belakangnya.
Itu bukan lagi sekadar energi spiritual; itu adalah tanda kepemilikan. Ia merasa seolah-olah ia telah menjadi bagian dari Chen Lin, sebuah ekstensi dari kekuatannya yang dingin dan absolut.
Air mata mengalir di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena rasa bahagia yang menyakitkan.
Malam itu, di pinggiran distrik Timur, tujuh sosok muncul dari kegelapan. Mereka membawa obor yang apinya tidak bisa padam oleh angin Api Merah Klan Qin.
Mereka adalah penghancur, mesin pembunuh yang tidak mengenal ampun.
Namun, di jalanan yang menuju Vila Teratai Putih, mereka mendapati jalan itu telah berubah menjadi hamparan es yang sangat licin dan tajam.
Di tengah jalan, seorang pria duduk di atas tumpukan batu, memegang sebilah pedang kayu yang telah dilapisi kristal perak. Di belakangnya, seorang wanita cantik berdiri dengan pedang giok yang haus darah.
"Jadi, kalian adalah anjing-anjing Qin Tian?" Chen Lin bersuara, suaranya terbawa angin dingin, menusuk hingga ke tulang para algojo itu.
"Mati kau, bocah sombong!" Pemimpin algojo melompat, apinya membakar udara di sekitarnya.
Chen Lin tidak bergerak hingga saat-saat terakhir. Saat api itu nyaris menyentuh helai rambutnya, ia melepaskan resonansi dari Esensi Tulang Rembulannya.
BUM!
Bukan ledakan api, melainkan ledakan dingin yang mutlak. Udara di sekitar Chen Lin membeku dalam radius lima puluh meter dalam sekejap.
Para algojo yang sedang melayang di udara mendapati gerakan mereka terhenti, sendi-sendi mereka membeku secara instan oleh hawa dingin yang merambat melalui pori-pori kulit mereka.
Chen Lin bangkit perlahan, pedang kayunya menebas udara dengan gerakan yang puitis namun mematikan.
Setiap tebasan tidak menghasilkan luka berdarah, melainkan memecahkan bagian tubuh lawan yang telah menjadi es.
"Keabadian tidak butuh api yang berisik," bisik Chen Lin sambil berjalan di antara patung-patung es algojo yang perlahan hancur menjadi debu. "Keabadian hanya butuh keheningan yang membeku."
Wei Lan mengikuti dari belakang, menebas sisa-sisa musuh yang masih mencoba merangkak. Di matanya, Chen Lin adalah segalanya.
Ia tidak lagi peduli pada Klan Wei, pada ayahnya, atau pada masa depannya. Baginya, dunia ini bisa berakhir malam ini, asalkan ia mati dalam dekapan aura dingin pria ini.
Setelah pertempuran singkat namun mengerikan itu berakhir, Chen Lin berdiri di tengah jalanan yang kini dipenuhi serpihan es dan mayat yang membeku.
Ia merasakan sumsumnya berdenyut, mengonsumsi sisa-sisa energi api lawan untuk memperkuat fondasi rembulannya.
Wei Lan mendekatinya, wajahnya bersimbah sedikit darah musuh yang membeku di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap punggung Chen Lin yang tampak begitu kesepian namun perkasa.
"Tuanku..." Wei Lan berbisik, jemarinya menyentuh jubah Chen Lin yang dingin.
"Setelah semua ini berakhir... siapa kau sebenarnya? Kau bukan sekadar Chen Lin yang kutemui di pasar, bukan?"
Chen Lin berbalik perlahan.
Di bawah sinar rembulan yang mencapai puncaknya, wajahnya tampak seperti pahatan dewa yang tidak memiliki perasaan. Ia menatap Wei Lan dengan tatapan yang sanggup meruntuhkan jiwa wanita mana pun.
"Nama adalah beban bagi mereka yang masih terikat pada bumi," jawab Chen Lin dengan nada puitis yang getir.
"Aku adalah es yang menolak untuk mencair, dan aku adalah rembulan yang menolak untuk tenggelam. Kau mencintai seorang monster, Wei Lan. Apakah kau masih ingin tahu siapa nama monster itu?"
Wei Lan tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan cinta yang fanatik. Ia merangkul pinggang Chen Lin, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mengabaikan fakta bahwa suhu tubuh Chen Lin hampir bisa membunuhnya.
"Jika kau monster, maka aku akan menjadi bayanganmu. Aku tidak peduli siapa kau di masa lalu, atau siapa kau di masa depan. Aku mencintaimu... Chen Lin, atau siapapun kau."
Chen Lin tidak membalas pelukan itu dengan kehangatan, tapi ia membiarkan Wei Lan bersandar padanya. Di dalam jiwanya, Lin XingYu menghela napas panjang.
"Dia telah menyerahkan segalanya padamu, Chen Lin. Perasaan manusia adalah hal yang merepotkan, tapi juga sumber kekuatan yang unik. Gunakan cintanya sebagai pemandu agar kau tidak tersesat dalam kebekuan sumsummu sendiri."
Di kejauhan, Kota Qīngchú mulai terjaga oleh suara ledakan dan hawa dingin yang tak lazim. Klan Qin telah kehilangan algojo terbaiknya, dan Nyonya Han telah terungkap.
Perang besar baru saja dimulai, dan di pusat badai itu, seorang pemuda dengan tulang perak rembulan dan seorang wanita yang gila karena cinta sedang bersiap untuk menuliskan babak paling berdarah dalam sejarah lima klan.
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, namun bagi Chen Lin, kegelapan baru saja dimulai. Perjalanannya menuju Marrow Purification tingkat selanjutnya masih jauh, namun malam ini, ia telah membuktikan bahwa tidak ada api yang cukup panas untuk melelehkan tekadnya.
"Mari kita kembali, Lan-er," ucap Chen Lin kasar sambil menarik Wei Lan menjauh dari tumpukan mayat. "Masih banyak anjing yang harus kita sembelih sebelum matahari mencapai puncaknya."
Langkah mereka meninggalkan jejak es di atas tanah yang hangat, sebuah tanda bahwa penguasa baru Kota Qīngchú tidak lagi duduk di atas takhta emas, melainkan berjalan di tengah badai salju yang ia ciptakan sendiri.