Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Tak Kasat Mata
“Ares belum pulang?”
Lyra melepas sepatu hak tingginya lalu berganti dengan sandal kelinci putih yang Bi Mia siapkan.
“Tuan Ares masih dinas, Nyonya.”
Kening Lyra berkerut. “Kok rasanya deva ju, ya?” Wanita itu terdiam sejenak sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian di rumah sakit, sejak Ares meminta dihargai sebagai suami. Setelah itu keduanya tak lagi bertemu meski tinggal di bawah atap yang sama.
Kata Bi Mia, Ares sedang dinas tapi entah mengapa Lyra merasa pria itu seperti sengaja menghindarinya.
Selama satu minggu ini juga hidup Lyra berjalan lurus tapi hambar. Ia bangun pagi, sarapan, lalu bekerja hingga jam tujuh malam, kemudian ia pulang, bertanya di mana Ares pada Bi Mia dan jawabannya selalu sama, kemudian Lyra makan malam dan tidur. Siklus yang sama Lyra Jalani setiap hari seperti yang terjadi di awal pernikahannya dengan Ares.
“Makan malam sudah siapkan, Nyonya. Mau dipanaskan?”
“Aku seperti terjebak dalam time loop,” gumam Lyra yang membuat Bi Mia mengernyit bingung.
“Nyonya?”
“Aku sudah makan sama Sena, Bi. Makananya Bibi saja yang makan, kalau nggak habis masukan ke dalam kulkas, besok pagi panaskan buat aku?”
“Eh?” Bi Mia tercengang tak mengerti tapi Lyra langsung bergegas ke kamar.
“Aku bosan makan malam tepat waktu.” Lyra mendengkus kesal lalu menutup pintu dengan kasar.
Sambil membersihkan make up-nya, ia menjawab telepon dari Nyonya Yuna yang mengingatkan tentang ulang tahun Ryan minggu depan, membuat mood Lyra semakin buruk.
Awalnya ia memang masih mencoba menipu diri sendiri untuk percaya pada Ryan, untuk menunggu pria itu pulih dan mengingatnya kembali. Tapi pada akhirnya Lyra merasa lelah sendiri apalagi sekarang ia sudah sangat yakin sang kekasih telah selingkuh dengan adiknya.
Lyra tak mau lagi berurusan dengan Ryan, tak mau lagi peduli apakah pria itu akan mengingatnya lagi atau tidak.
“Kamu datang ya, Sayang,” pinta mertuanya dari Seberang telepon dengan lembut. “Meskipun Ryan nggak ingat kamu tapi ‘kan kamu masih bagian dari keluarga kami, kamu istrinya Ares.”
Lyra tersenyum pahit, apa yang dikatakan mertuanya benar-benar membuatnya membuka mata bahwa posisinya memang seperti makhluk tak kasat mata di mata semua orang
Kisah cintanya milik Ryan, tetapi pemiliknya justru melupakannya.
Statusnya sekarang adalah istri Ares, tetapi hanya istri rahasia.
Lalu, ia harus datang ke keluarga Jatmika sebagai siapa?
“Kita lihat nanti, Tante. Minggu depan aku ada meeting dengan klien.”
“Sayang, kamu masih marah karena Ryan lupa sama kamu?”
“Aku nggak marah,” elak Lyra meski ia sendiri tahu kebohongan itu terdengar sangat konyol. “Selain itu, Ryan nggak lupa sama aku, Tante. Dia masih ingat ada wanita bernama Lyra dalam hidupnya hanya saja … hanya saja dia lupa siapa Lyra.” Lyra berkata dengan nada rendah di akhir kalimat.
“Beberapa hari ini kamu nggak pernah menemui Ryan lagi, jadi dia nanyain kamu.”
“Oh.”
Hanya itu yang bisa Lyra katakan. Meski ia sedikit penasaran apa yang Ryan tanyakan, tetapi hatinya yang patah tak mengizinkannya bertanya. Biarlah ia menghapus jejak pria itu sedikit demi sedikit.
“Dia nanya_”
“Tante, aku masih ada sedikit urusan. Maaf, ya. Lain kali aku telepon kalau ada waktu.” Lyra segera mengakhiri panggilan secara sepihak lalu melempar ponselnya ke ranjang dengan kesal.
Dulu ia dan Ryan membuat janji akan saling menemani di setiap ulang tahun satu sama lain, bahkan mereka berjanji akan tetap merayakan ulang tahun meski sudah menjadi kakek nenek. Tapi sekarang, Janji itu seperti debu yang beterbangan di udara.
Ada tapi tak lagi berarti.
***
“Seperti biasa, Nyonya bertanya apa Tuan sudah pulang atau belum.”
Dengan sangat muak, Vano melaporkan hal yang sama pada tuannya. “Sudah satu minggu, Tuan Ares. Saya rasa Anda sudah bisa pulang.”
“Sudah bosan bekerja denganku?” ancam Ares yang langsung membuat Vano menutup mulut rapat-rapat.
Ares melirik arlojinya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.05.
“Oh ya, bagaimana dengan daftar tamu undangan ulang tahun Ryan?” Ia bertanya seraya menutup laptopnya.
“Beres, Tuan. Ini daftarnya.”
Ares tersenyum miring sambil memeriksa beberapa daftar tamu di tablet yang Vano berikan. “Pastikan semua berjalan sesuai rencana.”
“Siap, Tuan.”
“Sekarang kamu boleh pulang.”
“Lalu Tuan Ares?”
“Aku pulang sendiri.”
Vano memekik girang dalam hati.
Selama satu minggu ini ia sudah bekerja rodi, mengikuti Ares melakukan ini dan itu. Vano tahu Ares memang pekerja keras tapi bukan bekerja tanpa istirahat, apa yang dilakukan pria itu sekarang hanya sebagai sebuah pelampiasan dari perasaannya.
Alih-alih pulang, Ares justru melajukan mobilnya menuju rumah Lian di mana Lian dan Leo sudah menunggu di sana.
“Semua sudah di dalam,” kata Lian.
Ares mengangguk mengerti. Ia menyalakan rokoknya dengan tenang sebelum mengajak kedua sahabatnya itu masuk. Di dalam, ada enam orang pria yang menunggunya.
“Aku sudah mendengar apa yang kamu inginkan dari kami, Tuan Ares. Tapi aku belum yakin apakah kamu bisa dipercaya.”
“Tidak mudah percaya itu modal yang wajib dimiliki orang-orang seperti kita.” Ares duduk di sofa dengan punggung tegak tapi tidak kaku, bahunya rilekas menunjukkan ia tidak terancam dengan keberadaan keenam orang di hadapannya.
Sedangkan Leo dan Lian berdiri di sisinya dengan tegak, seakan siap menjadi sayap atau senjatanya kapan pun diperlukan.
“Tapi terlalu ragu-ragu justru bisa menjadi senjata yang akan memotong tangan dan kaki kita secara perlahan.” Ia melanjutkan dengan suara baritonnya yang tenang tapi mengancam. Ekspresi wajahnya datar tapi sorot matanya sedingin es.
“Bisa berikan kami sedikit waktu lagi?” Pria yang lain bertanya dengan hati-hati.
Ares menyesap rokoknya dengan tenang lalu berkata, “Waktu kalian milik kalian.”
Alih-alih senang dengan jawaban itu, keenam orang tersebut justru semakin merasa terintimidasi.
“Satu minggu, berikan kami waktu satu minggu,” pinta pria yang lain penuh harap.
“Benar, kebetulan minggu depan adalah ulang tahun Tuan Ryan, bukan?”
“Kebetulan?” Satu sudut bibir Ares terangkat, membentu seringai tipis yang mengejek. “Dalam kamus hidupku tidak ada yang namanya kebetulan. Aku mengikat semuanya dengan benang tak kasat mata, termasuk kalian.”
Semua orang kembali terdiam dan saling pandang, untuk beberapa saat suasana menjadi sunyi dan terasa mencekik.
“48 jam!” tegas Ares sambil mematikan rokoknya. “Lebih dari itu, bagiku kalian hanya sampah tak terurai dan biasanya aku membakar sampah sampai tidak meninggalkan jejak.”
Keenam pria hadapannya segera mengangguk mengerti sebelum akhirnya pamit pergi dengan wajah tegang.
“Kamu yakin ini akan berhasil, Res?” tanya Leo seraya mendaratkan bokongnya di sofa panjang depan Ares.
“Ares nggak mungkin melakukan sesuatu yang dia nggak Yakini akan berhasil,” tukas Lian dengan senyum lebar. “Eh, tumben Vano nggak ikut. Ke mana dia?”
“Mungkin pingsan di rumahnya,” celetuk Ares yang membuat Leo dan Lian menganga.
“Seminggu ini kamu bekerja seperti meskn, Ares, sementara Vano selalu mengikuti kamu seperti bayangan. Sudah pasti dia pingsan karena kelelahan.”
Ares enggan menjawab, pria itu hanya memasang wajah dingin meski hatinya memang sedikit merasa kasihan pada Vano, oleh karena itu ia meminta asisten pribadinya itu pulang.
Sementara di sisi lain, Ryan masih memandangi ikat rambut hitam di tangannya tanpa berkedip. Awalnya ia mengira ikat rambut yang selalu berada di tangannya itu milik Cahaya, tetapi ketika Ryan menguji wanita itu di rumah sakit, Cahaya justru tampak asing dengan benda tersebut.
“Tuan Ryan, Anda memanggil saya?”
Ryan yang sejak tadi berdiri di dekat jendela kini kembali ke kursi kebesarannya, pria itu menghela napas berat sambil menunjukkan foto yang diambil dari rekaman cctv saat ia dibawa ke rumah sakit setelah kecelakaan.
“Selidiki kembali kecelakaan yang terjadi padaku, Haris. Selidik rumah sakit itu, dokter dan susternya.”
“Dokter dan suster yang merawat Anda?” tanya Haris bingung. “Tuan Ares sudah menyelidikinya, Tuan.”
“Semua yang terhubung dengan rumah sakit itu harus diselidiki,” tegas Ryan pada asiten pribadinya itu. “Aku juga nggak bisa duduk diam dan menunggu kakakku menyelesaikan semuanya. Yang mengalami kecelakaan aku, orang yang harus tahu apa yang sebenarnya terjadi adalah aku. Mengerti?”
“Mengerti, Tuan,” jawab Haris. “Anda tenang saja, secepa tnya saya akan memberikan jawaban pada Anda.”
“Oh ya, satu lagi. Awasi Lyra dan laporkan padaku setiap hal yang dilakukannya, tanpa ada yang terlewat sedikit pun.”
“Lyra? Kakaknya Non Cahaya?”
Ryan terdiam sejenak, teringat kembali saat ia sadar dari koma orang pertama yang dilihatnya adalah Lyra, wanita itu tidak terlihat asing meski tidak ada sosok Lyra dalam ingatannya, tetapi meski demikian ia merasa dekat dengan Lyra, seperti ada benang tak kasat mata yang mengikat mereka.
“Iya,” lirih Ryan. “Sepertinya saat kecelakaan itu … aku melihatnya di sana.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira