NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 : Kekhawatiran Nayra

Langkah Raya mengikuti Ibu Yuli terasa pelan namun pasti. Koridor sekolah itu panjang, bersih, dan dipenuhi papan informasi serta deretan loker modern.

Beberapa siswa yang berpapasan kembali melirik.

“Itu anak baru, ya?”

“Cantik juga…”

“Bareng siapa tadi? Yang cowok itu… serius, keren banget…”

Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Raya. Tangannya sedikit mengepal, menahan rasa canggung yang mulai muncul.

Ibu Yuli menyadari itu. Ia tersenyum dan berkata pelan, “Tidak perlu dipikirkan. Mereka hanya penasaran.”

Raya mengangguk kecil. “Iya, Bu…”

Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah kelas. Di pintunya tertulis:

VI-A

“Ini kelas kamu,” ucap Ibu Yuli lembut.

Ia membuka pintu dan langsung masuk lebih dulu.

“Selamat pagi, anak-anak,” sapanya.

“Pagiii, Bu!” jawab seluruh siswa serempak.

Suasana kelas yang tadinya ramai langsung berubah lebih tenang. Namun begitu mata mereka tertuju pada Raya yang berdiri di belakang, suasana kembali berbisik.

“Anak baru lagi…”

“Dari mana, ya?”

Ibu Yuli tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Raya.

“Ayo, masuk.”

Raya menarik napas pelan, lalu melangkah masuk. Semua mata langsung tertuju padanya. Ada yang penasaran, ada yang menilai, bahkan ada yang langsung berbisik satu sama lain.

“Perkenalkan diri kamu,” ujar Ibu Yuli.

Raya berdiri di depan kelas. Untuk sesaat, ia terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Namun ia mengingat ucapan Nayra dan juga tatapan tenang Arsen tadi.

Ia menarik napas. “Nama saya Raya Airin Putri,” ucapnya jelas. Raya melanjutkan, “Saya murid pindahan dari SD Darma Bangsa. Mohon bantuannya…”

Suaranya tegas, tanpa dibuat-buat. Tapi justru itu membuat beberapa siswa memperhatikannya lebih serius.

Dari deretan bangku belakang, seorang pria bersandar santai sambil menatap Raya. Tatapannya tajam.

Sementara di sisi lain, seorang siswi berambut panjang melipat tangannya di meja, menatap Raya dengan senyum tipis, namun penuh arti.

“Baik,” potong Ibu Yuli. “Raya, kamu bisa duduk di sana.”

Ia menunjuk bangku kosong di tengah, tepat di antara dua kelompok siswa yang tampak cukup dominan di kelas.

Raya berjalan pelan menuju bangku itu. Baru saja ia duduk, suara kecil terdengar dari samping.

“Kamu pindahan dari mana?”

Raya menoleh. Seorang gadis dengan wajah ramah tersenyum ke arahnya.

“Dari SD Darma Bangsa,” jawab Raya jujur.

Gadis itu tertawa kecil. “Oh. Namaku aku Dina.”

Raya sedikit lega. “Raya…”

Namun belum sempat percakapan berlanjut, suara lain menyela.

“Darma Bangsa, itu kan sekolah biasa banget?” nada itu terdengar sinis.

Raya menoleh ke arah suara itu. Siswi yang tadi melipat tangan kini menatapnya dengan senyum tipis.

“Berani juga ya dia masuk sini,” lanjutnya. “Dia nggak sadar, sekolah dia yang dulu sama sekolah ini beda... level.”

Beberapa siswa langsung terdiam. Suasana kelas mendadak berubah tegang.

Dina langsung berbisik, “Abaikan saja…”

Namun Raya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gadis itu dengan tenang.

Detik demi detik berlalu. Lalu dengan suara pelan, tapi jelas, Raya berkata. “Kalau aku tidak pantas di sini…”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya tetap lurus. “Kenapa aku bisa diterima di sekolah ini?”

Beberapa siswa langsung saling pandang. Jawaban itu… sederhana, tapi tepat sasaran. Siswi itu sedikit terdiam. Senyumnya menghilang sesaat, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan.

Sementara di belakang kelas, pria yang sejak tadi memperhatikan itu tersenyum tipis.

“Berani juga dia melawan Grace…” gumamnya pelan.

Di sisi lain, Dina menatap Raya dengan mata berbinar. “Kamu keren juga, ya. Selama ini, nggak ada yang berani melawan Grace,” bisiknya.

Raya hanya tersenyum kecil. Lalu dia bertanya. "Kenapa harus takut?" tanyanya.

Dina langsung menegang. Ia melirik cepat ke arah depan, memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu ia sedikit mendekat, menutup sebagian mulutnya dengan tangan.

“Karena… Grace itu bukan orang biasa,” bisiknya pelan.

Raya mengernyit. “Maksudnya?”

Dina menelan ludah. “Ayahnya… ketua yayasan di sekolah ini.”

Raya terdiam.

Dina melanjutkan dengan suara lebih pelan lagi, hampir tak terdengar. “Siapa pun yang berani melawan Grace, biasanya nggak akan lama di sini.”

Raya menatapnya lurus. Namun bukannya takut, ia justru tertawa kecil. “Selama kita nggak salah, ngapain harus takut?” ucapnya santai. “Kalau dikeluarin ya udah… keluar aja. Masih banyak sekolah lain.”

Dina langsung menatapnya kaget. “Nggak sesederhana itu, Raya…”

Raya mengernyit. “Kenapa?”

Dina menunduk sebentar. Jemarinya saling menggenggam, terlihat gelisah. “Contohnya aku,” ucapnya pelan.

Raya diam, mendengarkan.

“Aku masuk ke sini karena beasiswa,” lanjut Dina. “Kalau aku macam-macam sama Grace… beasiswaku bisa dicabut.”

Raya terdiam.

“Dan kalau itu terjadi…” suara Dina sedikit bergetar, “aku bukan cuma keluar dari sini. Aku nggak bisa lanjut sekolah di mana pun.”

Deg!

Mata Raya langsung membesar.

“Kenapa bisa begitu?” tanyanya tidak percaya.

Dina tersenyum pahit. “Karena sekolah ini punya jaringan luas… rekomendasi mereka berpengaruh. Kalau aku dicap bermasalah di sini…” ia menggeleng pelan. “Habis sudah.”

Raya terdiam cukup lama.

“Astaga…” gumamnya lirih. “Keterlaluan…”

Dina hanya tersenyum lemah. “Makanya… banyak yang pilih diam. Bukan karena takut tanpa alasan, tapi karena mereka punya sesuatu yang harus dipertahankan.”

Raya menatap Dina. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan gadis di sampingnya itu. Wajahnya tenang, lembut dan artinya Dina memiliki wawasan yang tinggi.

“Kamu hebat…” ucap Raya pelan.

Dina sedikit kaget. “Hah?”

“Bisa dapat beasiswa di sekolah kayak gini…” lanjut Raya. “Berarti kamu pintar banget.”

Dina tersenyum kecil, sedikit malu. “Aku cuma berusaha…”

Raya kembali terdiam.

Pikirannya mulai berjalan. Di satu sisi, ia tidak suka ketidakadilan. Namun di sisi lain… ia kini mengerti. Tidak semua orang punya pilihan bebas seperti dirinya.

Matanya perlahan beralih ke arah depan kelas. Di sana, Grace duduk dengan santai. Dikelilingi beberapa teman yang jelas berada di lingkarannya.

Tatapannya dingin. Seolah semua di kelas itu berada di bawah kendalinya. Raya menyandarkan punggungnya ke kursi.

Dalam hati, ia bergumam. “Jadi ini dunia baruku…”

Namun bukannya mundur, sudut bibirnya justru terangkat tipis. “Aku nggak akan diam aja, kalau mereka di tindas sama gadis itu," gumamnya pelan.

Sementara itu. Mobil hitam milik Arsen melaju tenang meninggalkan area sekolah. Jalanan pagi cukup padat, namun tetap lancar.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya. Nayra duduk di samping, tangannya saling menggenggam. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya jelas tidak di sana.

Sesekali, ia menghela napas pelan. “Raya gimana ya, Mas, di sekolah barunya…” gumamnya akhirnya, suaranya pelan namun penuh kekhawatiran.

Di kursi belakang, Alea sedang memeluk bonekanya. Ia ikut mendongak, seolah ikut penasaran.

“Ka Raya pasti lagi belajar ya, Ma?” tanyanya polos.

Nayra tersenyum tipis, tapi tidak sepenuhnya tenang. “Iya, harusnya begitu…”

Arsen tetap fokus menyetir. Tangannya mantap di kemudi, tatapannya tenang seperti biasa.

“Sudahlah,” ucapnya akhirnya.

Nayra menoleh.

“Raya itu anak yang berani dan cerdas,” lanjut Arsen datar. “Dia pasti tahu bagaimana menghadapi teman-temannya.”

Nayra terdiam.

“Iya sih…” balasnya pelan. “Tapi tetap saja… dia kan baru di lingkungan itu.”

Arsen melirik sekilas ke kaca spion. “Lingkungan seperti itu justru bagus untuknya.”

“Maksud Mas?”

“Dia akan belajar banyak,” jawab Arsen singkat. “Bukan cuma pelajaran, tapi juga cara bertahan.”

Nayra mengernyit sedikit. “Mas…”

Namun Arsen melanjutkan, “kita tidak akan selalu ada di sampingnya.”

Kalimat itu membuat Nayra terdiam.

“Apa pun yang terjadi nanti…” lanjut Arsen pelan, “dia harus bisa berdiri sendiri.”

Suasana mobil kembali hening. Di belakang, Alea yang dari tadi mendengarkan tiba-tiba menyela.

“Tapi… Ka Raya kuat kok!” ucapnya yakin. “Dia nggak pernah nangis.”

Nayra tersenyum kecil mendengar itu. Ia menoleh ke belakang. “Iya… Kakak kamu memang kuat.”

Alea mengangguk puas, lalu kembali memeluk bonekanya.

Namun di dalam hati, Nayra masih menyimpan rasa khawatir. Ia menoleh ke luar jendela. Bayangan Raya di sekolah baru terus terlintas di pikirannya.

Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia diterima oleh teman-temannya? Apakah ada yang mengganggunya?

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!