NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Mencari perlindungan di tengah kekacauan

Setelah melewati malam yang sangat melelahkan, pagi yang mendung dan kelabu menyambut Aris dan Liora yang terbangun di sudut toko. Tubuh mereka masih terasa pegal, namun udara permukaan memberikan sedikit energi baru. Sementara itu, Detektif Rasyid dan rekannya sudah lebih dulu bangun sejak fajar menyingsing.

Rekan Rasyid berdiri di dekat jendela depan, menyibak sedikit tirai debu untuk melihat ke arah jalanan. Sejauh pengamatannya, nampak tidak ada sesuatu yang mencurigakan di luar. Suasana kota mati ini terasa sunyi secara tidak alami. Di sudut lain, Rasyid sedang sibuk mempersiapkan pistol dan menghitung sisa peluru di magasinnya untuk persiapan menuju pusat komando darurat.

"Rasyid, di luar sepertinya sudah aman," kata rekan Rasyid, memecah keheningan. "Saya mau cek bagian belakang dulu untuk memastikan jalur kita nanti," lanjutnya sambil berjalan menuju pintu belakang toko. Rasyid hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari senjatanya.

Rekan Rasyid berjalan ke area dapur kecil di belakang, kembali mengintip melalui celah jendela kecil di sana. Ia ingin memastikan semuanya benar-benar aman ketika mereka berempat keluar dari toko ini.

Bruk!

Terdengar suara seperti benda berat atau seseorang yang terjatuh dari arah luar. Detektif itu langsung waspada. Jantungnya berdegup lebih kencang, tangannya dengan cepat menarik pistol yang terselip di pinggang. Ia mendekati pintu belakang, memutar kunci perlahan, lalu membukanya sedikit.

Ia melangkah keluar ke area gang belakang sambil mengedarkan pandangan, mencari sumber suara tadi. Awalnya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Namun, saat pandangannya menyusuri jarak yang agak jauh, sekitar 10 meter di depannya, ia melihat seorang pria paruh baya sedang merayap bersembunyi di balik tempat sampah besar.

Rekan Rasyid memanggil pria itu dengan suara pelan namun sedikit berteriak agar terdengar. "Hei! Sini!"

Pria itu menoleh dengan wajah pucat pasi. Alih-alih mendekat, pria tersebut justru menunjuk dengan jari gemetar ke arah sisi kanannya. Rekan Rasyid mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk. Di sana, empat makhluk dengan kondisi tubuh yang sudah tidak lengkap sedang berjalan limbung. Mereka bergerak aneh, sesekali mendongakkan kepala seperti sedang mencari dan mencium aroma manusia di udara, diiringi suara erangan khas yang serak dan mengerikan.

Rekan Rasyid segera memberi isyarat tangan agar pria itu tetap diam di tempat dan menunggu sebentar. Ia lalu berbalik dan berlari cepat ke dalam toko untuk memberi tahu Rasyid.

Di dalam toko, Rasyid, Liora, dan Aris yang sedang duduk sambil menyantap sisa cemilan cokelat langsung menengok serempak ke arah rekan Rasyid yang datang dengan napas terburu-buru. Mereka semua langsung berdiri.

"Ada orang terjebak di belakang, dikepung makhluk-makhluk itu," bisik rekan Rasyid cepat.

Tanpa banyak bicara, mereka berempat menuju pintu belakang. Dari celah pintu, mereka melihat pria tadi masih meringkuk ketakutan. Pria itu menyadari keberadaan Rasyid dan yang lainnya di ambang pintu toko. Merasa ini adalah kesempatan terakhirnya, ia perlahan berdiri dan langsung berlari secepat mungkin ke arah mereka.

Gerakan tiba-tiba itu memicu naluri berburu makhluk-makhluk tersebut. Mereka merasakan pergerakan, menoleh serempak, dan begitu melihat ada mangsa yang berlari, seketika mereka berbalik dan mengejar pria itu dengan kecepatan yang tidak terduga.

Rasyid dan yang lainnya menunggu dengan waswas di ambang pintu. "Cepat lari! Lebih cepat!" teriak Aris tidak tahan untuk tidak bersuara.

Pria itu mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil melompat masuk ke dalam Tepat sesaat sebelum makhluk-makhluk itu berhasil menggapai pakaian si pria, Rasyid dengan sigap membanting pintu besi belakang dan menguncinya rapat-rapat.

Brak! Brak! Brak!

Suara hantaman keras dan gebrakan dari luar langsung memecah keheningan pagi. Pintu itu bergetar hebat. Aris melihat ke arah engsel pintu yang mulai melonggar. "Pintu ini tidak akan bisa menahan mereka lama-lama. Kita harus cepat keluar!" seru Aris panik.

Tanpa berlama-lama lagi, mereka berbalik dan berlari menuju pintu depan toko. Rasyid membukanya perlahan, lalu memerintahkan rekannya untuk mengamankan jalan lebih dulu. Rekannya mengintip ke kiri dan ke kanan jalan, lalu menoleh ke dalam. "Aman. Keluar sekarang."

Mereka semua perlahan mengendap keluar dari toko, melangkah seringan mungkin agar suara mereka tidak terdengar oleh makhluk-makhluk yang masih mengamuk di gang belakang. Setelah berhasil menjauh dari toko, Rasyid memimpin mereka masuk ke dalam sebuah gang sempit yang saling terhubung.

Sambil terus berjalan cepat, Rasyid mengeluarkan radio panggilnya dan menghubungi pusat komando untuk menanyakan arah evakuasi yang paling aman. Dari seberang gelombang radio, operator memberi tahu agar mereka segera bergerak menuju ke arah utara kota karena sektor lain sudah tidak kondusif.

Mereka bergerak terus dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Di tengah perjalanan, saat melewati sebuah tikungan gang, mereka bertemu dengan seorang pria yang berlari terseok-seok. Pria itu melihat seragam Rasyid dan langsung berteriak meminta tolong dengan suara parau.

Begitu pria itu mendekat di bawah temaram lampu gantung, Aris dan Liora langsung tersentak. Mereka sangat mengenali wajah itu. Pria berpakaian jas yang kini sudah kotor dan robek itu adalah Walikota Yunus.

Aris dan Liora memilih diam, sementara Walikota Yunus sama sekali tidak mengenali mereka berdua. Pikirannya sudah terlalu kacau dan panik akibat kejadian semalam di bunker Stela, ditambah pelariannya dari bawah tanah, hingga ia tidak sempat memperhatikan detail wajah orang-orang di sekitarnya.

"Pak Walikota?" tanya Rasyid terkejut mengenali orang nomor satu di kota itu.

"Tolong... tolong saya! Banyak makhluk aneh di jalanan sana. Bawa saya pergi dari sini. Pengawal-pengawal saya... mereka semua sudah mati dicabik-cabik!" rintih Yunus dengan tubuh gemetar hebat, kehilangan seluruh wibawanya.

"Ikuti kami saja, Pak. Tetap di belakang," ujar Rasyid tegas. Mereka kembali bergerak maju menuju arah utara seperti yang diperintahkan oleh pusat komando.

Beberapa jam berlalu dengan ketegangan yang menguras fisik. Langkah kaki mereka mulai melambat karena kelelahan, namun garis pertahanan pusat komando akhirnya mulai terlihat di ujung jalan. Namun, keadaan di sana sedikit kacau. Dari jarak aman, Rasyid bisa melihat bahwa di sekitar pintu masuk selatan pusat komando, banyak makhluk aneh sedang berkerumun dan mencoba mendobrak barikade. Begitu pula di sisi-sisi perimeter lainnya.

Rasyid kembali menghubungi pusat komando melalui radionya. "Pusat, ini Rasyid. Kami berada beberapa blok dari lokasi Anda. Akses masuk selatan tertutup total oleh kerumunan makhluk aneh."

Radio berderit sebentar sebelum suara operator terdengar kembali. "Rasyid, dengarkan. Akses masuk yang aman saat ini hanya tersisa satu. Bergeraklah memutar ke arah sisi barat, di sana ada blokade kawat berduri yang dijaga ketat. Kalian akan melihat penjaga kami berada di atas barikade beton. Begitu sampai, beri isyarat dengan apa pun yang bisa kalian gunakan agar mereka tahu kalian manusia. Penjaga atas akan segera diberitahu dari sini."

"Baik." jawab Rasyid.

Mereka bergerak perlahan dan sangat hati-hati, memutar melewati sela-sela bangunan agar tidak memancing perhatian kerumunan makhluk di gerbang selatan. Sambil mengendap-endap, Rasyid menoleh ke arah rombongannya. "Ada yang punya kain berwarna terang atau semacamnya? Kita butuh sesuatu untuk dijadikan tanda saat mendekati barikade. Penjaga di sana dalam kondisi siaga satu, saya takut kita langsung ditembak kalau dianggap sebagai ancaman."

Aris melihat ke bawah, menyadari kemejanya berwarna gelap. Tanpa pikir panjang, ia membuka kancing kemeja luarnya, lalu melepas kaos dalam putih yang ia kenakan. "Pakai ini saja, Pak," ujar Aris sambil menyodorkan kaos putihnya, lalu kembali memakai kemejanya dengan cepat.

"Bagus," kata Rasyid. Dengan gerakan cepat, Rasyid mengikatkan kaos putih milik Aris ke sebatang besi panjang yang ia temukan tergeletak tak jauh dari lokasinya.

Mereka bergerak lagi, melangkah keluar dari gang terakhir dan langsung berhadapan dengan barikade kawat berduri. Di atas sana, beberapa moncong senapan laras panjang milik penjaga sudah mengarah tepat ke arah mereka. Rasyid dengan segera mengibarkan kaos putih itu tinggi-tinggi di udara tepat di depan para penjaga yang sedang siaga.

Bersamaan dengan itu, rekan Rasyid langsung menghubungi radio pusat dengan nada mendesak. "Pusat! Kami sudah di depan barikade barat! Jangan menembak! Di depan mereka adalah Detektif Rasyid dan para korban selamat!"

Mendengar laporan darurat tersebut, pusat komando langsung menghubungi radio panggil milik para penjaga barikade di atas beton. Mengetahui bahwa yang datang adalah kawan, salah satu penjaga dengan sigap menurunkan senjatanya dan memberikan isyarat tangan melambaikan menyuruh mereka maju.

"Ayo, lari sekarang!" teriak Rasyid.

Dengan sisa tenaga yang mereka miliki, Rasyid, rekannya, Aris, Liora, pria paruh baya dan Walikota Yunus berlari sekencang-kencangnya menuju arah pintu masuk barikade yang dibuka sedikit oleh petugas. Begitu mereka semua melompat masuk ke dalam area steril, pintu barikade langsung ditutup dan dikunci rapat kembali. Mereka semua akhirnya selamat dan berhasil mencapai zona aman, setidaknya untuk saat ini.

Kegilaan macam apa yang bisa mengubah setengah kota ini menjadi kekacauan?

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!