Bianca, gadis yatim piatu yang berjuang sendiri. Hatinya terbagi antara Barra, cinta lama yang kandas karena kesalahpahaman yang sengaja diracik oleh Aza demi menghancurkan mereka. Atau Leo, sosok baru yang hadir membuatnya kembali tersenyum dan bangkit dari duka.
Bianca mengira pilihannya hanya soal cinta. Namun ia lupa, tak semua senyum itu tulus. Di balik kedekatan dan kebaikan, tersembunyi dendam, kebohongan, dan bahaya yang siap mengancam nyawanya.
Siapa yang akan ia pilih? Akankah membawa bahagia, atau justru awal mula kehancurannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Rencana Kerja Sama Barra dan Leo
Leo berdiri terpaku di depan kaca besar ruang rawat inap, menatap lekat-lekat sosok Bianca yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Di dalam hatinya, rasa penyesalan yang sangat mendalam terus menggerogoti perasaannya. Ia merasa sangat gagal sebagai teman, sebagai orang yang pernah berjanji. Dulu, ia pernah berjanji tegas kepada Bianca bahwa ia akan selalu ada di samping gadis itu dan melindunginya apa pun yang terjadi. Namun nyatanya, ia justru sempat mengabaikan Bianca saat gadis itu sangat membutuhkannya, hanya karena hatinya yang sedang bingung dan tidak tahu arah kala itu.
Leo menghela napas panjang. Setidaknya, ada sedikit rasa lega di hatinya. Ia teringat pesan mamanya yang selalu mengingatkan dan menegurnya saat ia mulai salah langkah. Andai saja saat itu ia tidak diingatkan oleh mamanya, mungkin ia akan semakin jauh dan semakin menyakiti Bianca. Leo berjanji dalam hati, ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi pada Bianca.
Di tempat lain, Barra pergi ke sebuah tempat sepi yang dipenuhi pepohonan untuk meluapkan segala amarah dan kekecewaan yang menumpuk di dadanya. Ia memukuli batang pohon besar di sampingnya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya terluka dan berdarah. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, merasa gagal total karena tidak mampu menjaga dan melindungi orang yang sangat dicintainya dari bahaya yang mengancam. Setelah emosinya perlahan mereda dan ia mulai tenang kembali, Barra segera bergegas kembali ke rumah sakit untuk menjaga Bianca.
Tak lama kemudian, Barra tiba di rumah sakit dengan kondisi tangan yang terluka dan berdarah. Leo yang masih duduk menunggu di kursi ruang tunggu terkejut melihat kedatangan Barra dan luka di tangannya.
"Habis dari mana Lo tadi ? Dan kenapa tangan Lo terluka begitu parah?" tanya Leo dengan nada penasaran dan sedikit khawatir, lalu ia bergeser duduk agak menjauh untuk memberi ruang bagi Barra.
Namun, Barra hanya menjawab dengan santai dan singkat, "Biasa saja, urusan anak laki-laki."
Leo tidak bertanya lagi. Ia segera berdiri dan pergi sebentar untuk meminjam kotak obat P3K dari petugas rumah sakit. Setelah mendapatkannya, ia langsung kembali dan menyerahkan kotak itu kepada Barra agar pemuda itu mengobati lukanya sendiri. Tapi Barra menolaknya dengan santai.
"Udah, gue ngak papa kok . Ini cuma luka kecil dan engak berbahaya kok," tolak Barra.
Leo menggelengkan kepalanya pelan. Dalam hati ia berpikir: "Dasar anak keras kepala." Tanpa banyak bicara lagi, Leo duduk kembali di samping Barra, lalu dengan sigap ia mengambil tangan Barra untuk membersihkan dan membalut lukanya.
Barra sedikit terkejut dan kaku melihat sikap Leo yang tiba-tiba begitu perhatian. "Sudah gue bilang engak usah, ? Gue baik-baik aja dan tidak apa-apa," kata Barra sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Leo.
"Oke, kalau Lo memang engak mau diobati dan keras kepala seperti ini. Nanti kalau Bianca sudah sadar dan sembuh, gue akan mengadukan alo padanya. Gue akan bilang kalau Lo berkelahi di jalanan dengan sembarangan sampai terluka begini. Gue juga akan menjelek-jelekkan Lo di depannya, supaya dia marah dan tidak mau melihat wajah Lo lagi," ancam Leo dengan nada setengah bercanda tapi tegas, berusaha menakut-nakuti Barra agar mau diobati.
"Waduh, kok ancamannya sampai ke situ... Wah Parah Lo ya ... Ya sudah, jangan lakukan hal jahat gitu dong," jawab Barra sambil tersenyum tipis. Akhirnya ia pun menyerah dan kembali menyodorkan tangannya kepada Leo agar diobati.
Leo tersenyum lebar melihat keberhasilan ancamannya. Ternyata, cara itu sangat ampuh untuk meluluhkan hati Barra yang keras kepala itu. Sementara tangan Leo dengan cekatan memakaikan perban di luka Barra, tiba-tiba Barra bersuara pelan namun serius.
"Tempat itu... Tempat di mana Bianca ditemukan... Sekarang sudah kosong," ucap Barra.
Seketika itu juga, gerakan tangan Leo berhenti dan membeku di udara. Ia menatap tajam ke arah Barra dengan wajah penuh kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar.
"Apa maksud ucapan Lo itu?" tanya Leo cepat.
"Selesaikan dulu membalutnya, nanti Gue ceritakan semuanya secara rinci," jawab Barra tenang.
"Ah, iya... Maaf, Gue sampai lupa," sahut Leo tersenyum malu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya membalut luka itu sampai selesai.
Setelah perawatan luka selesai, suasana di antara mereka berdua berubah menjadi sangat serius dan tegang. Barra pun mulai menceritakan segalanya kepada Leo. Ia menjelaskan bahwa tempat kotor di mana Bianca hampir mengalami nasib buruk itu sudah ditutup, dikosongkan, dan dibersihkan dengan sangat rapi. Bahkan tidak ada sedikitpun tanda atau jejak yang menunjukkan bahwa tempat itu baru saja digunakan dan ramai dikunjungi orang.
Mendengar penjelasan itu, mata Leo terbelalak kaget. "Kok bisa begitu? Ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal, kan menuru Lo?" ucap Leo mengeluarkan pendapatnya.
"Gue juga berpikir begitu. Makanya tadi gue sengaja pergi ke sana lagi untuk memastikan, dan ternyata dugaan Gue benar-benar nyata. Tempat itu sudah bersih tanpa jejak sama sekali," jawab Barra tegas.
Leo menatap Barra dengan tatapan tulus dan serius. Ia berkata dengan sungguh-sungguh bahwa ia bersedia membantu Barra dalam hal apa pun. "Kalau Lo butuh bantuan atau membutuhkan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, hubungi saja gue.Gue pasti akan datang dan membantu Lo sekuat tenaga," janji Leo.
Barra mengangguk perlahan, menerima tawaran bantuan itu dengan rasa terima kasih yang mendalam. Setelah berbicara panjang lebar dan membagi pikiran mereka, rasa kantuk mulai menyerang tubuh mereka berdua. Akhirnya, mereka pun tertidur pulas di kursi tunggu rumah sakit itu, lelah namun merasa sedikit lebih tenang karena saling mendukung satu sama lain.
Apa rencana besar yang akan disusun oleh Barra dan Leo ke depannya? Bagaimana cara mereka mengungkap kebenaran dan menangkap pelakunya?