Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahasiswi dan Sang Predator
Gedung Fakultas Kedokteran Etheria-Metropolis berdiri angkuh dengan arsitektur kaca dan baja yang berkilauan di bawah matahari pagi yang pucat. Bagi Briella, kembali ke tempat ini setelah peristiwa berdarah di gudang keluarga Adijaya terasa seperti berjalan masuk ke dalam sarang serigala dengan luka yang belum sepenuhnya kering. Meski luka luar di tubuhnya telah ditangani secara ajaib oleh teknologi medis di klinik pribadi Geovani, setiap langkah yang ia ambil masih menyisakan rasa nyeri yang berdenyut di balik rusuknya.
Briella berjalan menyusuri koridor panjang yang steril, mengenakan seragam mahasiswi kedokteran berupa rok pendek abu-abu yang dipadukan dengan kemeja putih ketat. Ia menarik napas dalam, mencium aroma buku lama dan bahan kimia yang sangat akrab di indranya. Ia adalah mahasiswi beasiswa, predikat yang selalu membuat Prilly meradang karena merasa prestise keluarga mereka dikotori oleh kecerdasan seorang anak haram.
"Kau sudah kembali?" sebuah suara melengking yang sangat ia kenali tiba-tiba memecah keheningan koridor.
Briella menghentikan langkahnya. Di depan pintu auditorium besar, Prilly berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh antek-anteknya. Prilly mengenakan pakaian bermerek yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Briella selama setahun. Mata Prilly membelalak lebar, wajahnya memucat sesaat melihat Briella berdiri tegak di hadapannya.
"Kau... bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?" tanya Prilly dengan suara yang gemetar karena amarah dan keterkejutan.
Briella tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Mengapa kau terlihat seperti baru saja melihat mayat yang bangkit dari kubur, Kakak?"
Prilly melangkah maju, mencengkeram lengan Briella dengan kuku-kuku panjangnya yang dicat merah darah. "Seharusnya kau sudah membusuk di The Gutter! Bagaimana kau bisa selamat?"
"Mungkin Tuhan masih ingin melihatku menghancurkan kesenanganmu, Prilly," jawab Briella dengan nada rendah yang mengancam. Ia menyentak lengannya hingga cengkeraman Prilly terlepas. "Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Kita sedang di kampus, bukan di gudang bawah tanahmu yang menjijikkan."
Prilly hendak menampar wajah Briella, namun suara pintu auditorium yang terbuka menghentikan niatnya. Seorang asisten dosen keluar dan mengumumkan bahwa praktikum bedah anatomi akan segera dimulai.
"Masuklah, Nona-nona. Dosen tamu kita sudah menunggu," ucap asisten itu dengan hormat.
Prilly mendengus kasar, ia merapikan rambutnya dan menatap Briella dengan kebencian murni. "Jangan merasa menang dulu. Siapa pun yang menolongmu semalam tidak akan bisa melindungimu selamanya. Dan hari ini, kau akan melihat pria yang akan menjadi suamiku. Pria yang kastanya terlalu tinggi untuk sekadar menginjak bayanganmu."
Briella hanya diam, membiarkan Prilly berjalan mendahuluinya masuk ke dalam ruangan besar yang dingin itu. Di dalam auditorium, ratusan mahasiswa sudah duduk rapi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bedah dengan manekin anatomi canggih. Namun, perhatian Briella bukan pada meja itu, melainkan pada pria yang berdiri di belakangnya.
Pria itu mengenakan jas putih dokter yang sangat bersih, membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Kacamata frameless bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan intelektual sekaligus dingin. Itu adalah Geovani.
Jantung Briella berdegup kencang hingga terasa sesak. Ia tidak menyangka bahwa dosen tamu yang dibicarakan semua orang adalah pria yang telah menjamah tubuhnya dengan brutal dan menyelamatkan nyawanya.
"Selamat pagi, semuanya," suara bariton Geovani menggema di seluruh ruangan, menciptakan keheningan instan. "Saya Geovani, ahli bedah saraf dari Upper-Chrome. Hari ini, saya akan mengawasi praktikum kalian. Saya tidak suka kecerobohan. Jika tangan kalian gemetar saat memegang pisau bedah, silakan keluar sekarang juga."
Geovani mulai menjelaskan prosedur pembedahan dengan sangat teknis. Namun, di tengah penjelasannya, matanya yang tajam mulai menyapu ruangan, hingga akhirnya terpaku pada satu titik. Pada Briella yang duduk di baris ketiga.
Tatapan Geovani tidak berubah, tetap datar dan profesional, namun Briella bisa merasakan intensitas yang berbeda. Pria itu menatapnya seolah-olah ia sedang menelanjangi Briella di depan umum, seolah-olah ia sedang membedah setiap inci kulit di balik rok pendek dan kemeja ketat yang dikenakan mahasiswi itu.
"Mahasiswi di baris ketiga, yang mengenakan pita hitam. Maju ke depan," perintah Geovani tiba-tiba.
Seluruh ruangan menoleh ke arah Briella. Prilly, yang duduk tidak jauh dari sana, tampak terkejut sekaligus puas, mengira Geovani akan mempermalukan saudari tirinya itu. Briella berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, namun ia menguatkan tekadnya. Ia berjalan menuju meja praktikum, berdiri tepat di hadapan Geovani.
Aroma antiseptik dan parfum maskulin yang sama dengan malam itu kembali menyerang indra penciuman Briella. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Geovani.
"Siapa namamu?" tanya Geovani, matanya menatap bibir Briella sejenak sebelum kembali ke matanya.
"Briella, Dokter," jawabnya singkat.
"Briella. Nama yang bagus untuk seseorang yang terlihat sangat... rapuh," ucap Geovani dengan nada yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. "Pegang pisau bedah ini. Tunjukkan pada saya bagaimana cara melakukan sayatan vertikal pada area abdomen tanpa merusak jaringan otot di bawahnya."
Geovani berdiri tepat di belakang Briella, membimbing tangannya. Sentuhan tangan Geovani yang besar dan hangat di atas punggung tangannya membuat Briella merinding. Posisi mereka sangat dekat, hingga Briella bisa merasakan napas Geovani di tengkuknya.
"Fokus, Briella," bisik Geovani, suaranya sangat rendah hingga hanya bisa didengar oleh Briella. "Jangan biarkan emosimu merusak presisimu. Sama seperti semalam, kau harus bertahan meski rasanya menyakitkan."
Briella menelan ludah. Ia tahu Geovani sedang mempermainkannya. Geovani sengaja menekankan tubuhnya sedikit lebih dekat, membuat ujung jas putihnya bersentuhan dengan pinggul Briella. Tatapan Geovani jatuh pada paha Briella yang terekspos karena rok pendeknya sedikit terangkat saat ia membungkuk ke arah meja bedah.
"Sayatanmu terlalu dangkal," kritik Geovani dengan suara keras agar didengar mahasiswa lain. "Kau harus lebih berani menekan, Briella. Jangan takut pada darah. Bukankah kau sudah terbiasa dengannya?"
Prilly yang melihat kejadian itu dari kursinya tampak mengepalkan tangan. Ia merasa ada yang aneh dengan cara Geovani menatap Briella, namun ia segera menepis pikiran itu. Baginya, Geovani hanya sedang mendisiplinkan seorang mahasiswi beasiswa yang tidak kompeten.
"Maaf, Dokter. Saya akan memperbaikinya," ucap Briella sambil mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.
"Bagus. Karena di dunia medis, satu kesalahan kecil berarti kematian," sahut Geovani. Ia melepaskan tangan Briella, namun sebelum ia menjauh, jemarinya sempat mengusap pinggang Briella dengan gerakan yang sangat cepat namun penuh makna.
Praktikum berlanjut selama dua jam yang terasa seperti siksaan bagi Briella. Sepanjang waktu itu, ia bisa merasakan mata Geovani terus mengikutinya ke mana pun ia bergerak. Setiap kali Briella mendongak, ia akan menemukan sang predator sedang memperhatikannya dengan tatapan haus, seolah-olah Geovani sedang merencanakan apa yang akan ia lakukan pada tubuh Briella saat mereka hanya berdua nanti.
Setelah kelas berakhir, mahasiswa mulai meninggalkan ruangan. Briella bergegas membereskan peralatannya, ingin segera keluar dari atmosfer yang menyesakkan itu. Namun, suara Geovani kembali menghentikannya.
"Mahasiswi Briella, tetap di sini. Ada beberapa poin dalam laporan praktikummu yang perlu kita diskusikan secara pribadi," ujar Geovani tanpa melihat ke arahnya, sibuk merapikan berkas di meja.
Prilly yang hendak mendekati Geovani terhenti langkahnya. "Sayang, bukankah kita ada janji makan siang untuk membahas katering pertunangan?"
Geovani mendongak, menatap Prilly dengan senyum tipis yang formal. "Pergilah duluan, Prilly. Tugas akademis adalah prioritas utama bagi seorang dokter. Aku akan menyusulmu dalam tiga puluh menit."
Prilly mendengus, menatap Briella dengan tatapan mematikan sebelum akhirnya keluar dari auditorium dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Kini, hanya tersisa Briella dan Geovani di dalam ruangan yang luas dan sunyi itu.
Geovani berjalan menuju pintu dan menguncinya. Suara klik kunci itu bergema, menciptakan ketegangan yang seketika memuncak. Ia berbalik, melepaskan kacamata frameless-nya dan meletakkannya di atas meja.
"Jadi, bagaimana rasanya kembali ke dunia nyata, Little One?" tanya Geovani sambil berjalan perlahan mendekati Briella.
Briella mundur hingga punggungnya membentur meja bedah yang dingin. "Kau sengaja melakukan ini, Dokter. Kau ingin mempermainkanku di depan Prilly."
Geovani tertawa rendah, ia menumpukan kedua tangannya di meja bedah, mengurung tubuh Briella di tengah-tengahnya. "Aku hanya ingin melihat apakah kau cukup kuat untuk menjalankan rencana balas dendammu. Jika kau gemetar hanya karena aku menatap pahamu di depan kelas, maka kau tidak akan pernah bisa menghancurkan Prilly."
Geovani mengulurkan tangannya, membelai pipi Briella dengan punggung jarinya, lalu turun ke lehernya, merasakan detak jantung Briella yang berpacu liar.
"Kau sangat cantik saat merasa terpojok, Briella," bisik Geovani. Matanya menatap tajam ke arah rok pendek Briella yang kini bergesekan dengan celana panjang mewahnya. "Ingat peraturanku. Kau adalah rahasia gelapku. Dan rahasia ini baru saja dimulai."
Briella menatap mata sang predator, menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam permainan yang jauh lebih berbahaya daripada maut yang ia hadapi semalam. Di bawah tatapan lapar Geovani, Briella tahu bahwa tubuh dan jiwanya kini sepenuhnya berada dalam genggaman sang Dokter Iblis.