Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAMBANG KEHILANGAN
Lampu neon di lorong klinik markas berkedip-kedip gelisah, menciptakan irama monoton yang seolah memacu detak jantung Keyra. Bau karbol yang tajam biasanya menenangkan baginya, namun malam ini, aroma itu terasa mencekik. Pakaian Keyra masih kotor oleh lumpur kering, bercak darah Ghazali mengering di lengan jas, menciptakan peta luka yang enggan ia hapus.
Keyra duduk di kursi tunggu kayu yang keras, jemarinya bertautan erat hingga memutih. Ziva datang membawakan segelas teh hangat, namun Keyra hanya menatap uapnya dengan pandangan kosong.
---
"Dia menyelamatkanku, Ziv. Dia menahan tiang itu dengan punggungnya sendiri hanya supaya aku bisa mengobati pasien," bisik Keyra, suaranya parau, nyaris hilang karena terlalu banyak berteriak di lokasi bencana tadi.
"Kapten itu kuat, Key. Dia sudah melewati banyak hal. Dia tidak akan menyerah hanya karena luka bahu," Ziva mencoba menenangkan, meski tangannya sendiri sedikit gemetar saat mengusap bahu sahabatnya.
Pintu ruang tindakan akhirnya terbuka dengan suara derit yang memilukan. Bastian keluar dengan wajah yang sangat sulit dibaca. Ia melepas sarung tangan medisnya yang bernoda merah dan menatap Keyra dalam-dalam. Ada kelelahan yang luar biasa di matanya.
"Luka di bahunya cukup dalam, ada serpihan kayu yang mengenai saraf dekat tulang belikat. Dia kehilangan banyak darah karena menahan beban itu terlalu lama dalam kondisi terluka," Bastian menjeda, menarik napas panjang. "Tapi kondisinya sudah stabil sekarang. Dia sedang istirahat di bawah pengaruh obat bius. Kamu boleh masuk, tapi tolong... jangan buat dia banyak bergerak."
Tanpa menunggu instruksi kedua, Keyra langsung berdiri dan melangkah masuk. Di dalam ruangan yang remang itu, Ghazali terbaring di atas bed pasien. Perban tebal melilit bahu kiri dan sebagian dadanya, kontras dengan kulitnya yang biasanya kecokelatan kini tampak pucat pasi. Wajah tegas yang selalu memasang ekspresi "Kulkas" itu kini tampak begitu damai, seolah beban ribuan ton yang ia tahan tadi telah luruh sepenuhnya.
Keyra menarik kursi ke samping tempat tidur. Ia meraih tangan besar Ghazali tangan yang tadi menggenggamnya erat di kegelapan bawah tanah. Genggamannya kini terasa dingin.
"Jangan berani-berani pergi dulu," bisik Keyra, air matanya jatuh tanpa permisi mengenai punggung tangan Ghazali. "Saya belum sempat membalas semua hukuman lari yang kamu berikan. Kamu masih berutang banyak penjelasan padaku."
Beberapa jam berlalu hingga semburat cahaya fajar mulai mengintip dari balik gorden klinik yang tipis. Keyra yang tertidur dalam posisi duduk tersentak saat merasakan pergerakan kecil dari jari-jari yang ia genggam.
Ghazali perlahan membuka matanya. Rasa nyeri yang menusuk langsung menjalar dari bahunya, namun hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan tangan Keyra. Ia menoleh perlahan, mendapati Keyra dengan wajah kuyu dan mata sembab sedang menatapnya dengan binar harapan.
"Kenapa... kamu masih di sini?" suara Ghazali terdengar serak, hampir tidak terdengar. "Bukankah tugasmu sudah selesai di lokasi tadi?"
Keyra menghapus air matanya dengan kasar, mencoba tertawa meski terdengar pedih. "Tugas medis saya memang sudah selesai, tapi tugas saya sebagai manusia... sebagai seseorang yang peduli padamu, belum selesai. Kamu pikir kamu bisa mengusirku setelah menjadikanku sandaran hidupmu di bawah reruntuhan itu?"
Ghazali terdiam, menatap langit-langit klinik sejenak sebelum kembali menatap Keyra. Matanya yang sayu kini tampak lebih lembut. "Saat tanah itu mulai runtuh, aku hanya memikirkan satu hal. Aku tidak boleh membiarkan satu orang lagi pergi karena kesalahanku. Aku tidak boleh kehilangan kamu, Keyra."
Keyra mencondongkan tubuhnya, mendekat ke wajah Ghazali hingga ia bisa merasakan napas pria itu. "Aku juga tidak takut pada longsor itu, Ghazali. Aku jauh lebih takut jika aku harus keluar dari celah itu tanpamu. Jadi, berhenti bersikap seolah hidupmu tidak berharga. Karena bagiku... kamu adalah pusat dari markas ini."
Ghazali menarik tangan Keyra dengan sisa tenaganya, membawa jemari gadis itu ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Saya sudah menutup hati selama lima tahun, Keyra. Saya pikir saya sudah mati rasa. Tapi kamu masuk ke hidup saya seperti badai yang meruntuhkan semua barikade yang saya bangun."
"Kalau begitu, jangan dibangun lagi," sahut Keyra pelan, jemarinya mengelus rahang Ghazali yang kasar. "Biarkan saja hancur. Kita bangun sesuatu yang baru di sini."
Namun, momen haru itu seketika terinterupsi. Bastian masuk ke ruangan dengan terburu-buru, wajahnya tidak lagi tenang. Ia memegang sebuah map berlogo pangkalan pusat dengan ekspresi tegang.
"Ghaz, maaf aku harus menyampaikan ini sekarang," Bastian menatap Keyra sejenak, lalu beralih ke Ghazali. "Telepon dari markas pusat baru saja masuk. Ayahmu... dia benar-benar melakukan ancamannya. Surat pemindahan tugasmu ke perbatasan utara sudah turun pagi ini. Kamu diperintahkan berangkat lusa, bahkan sebelum lukamu sembuh total. Ini adalah perintah langsung dari atasan yang ditekan oleh pihak Atharrazka Group."
Keyra membeku. Perbatasan utara? Itu adalah zona konflik yang sangat jauh dan berbahaya.
"Ayahku benar-benar gila," desis Ghazali, giginya bergeletuk menahan amarah yang membuat luka di bahunya kembali berdenyut nyeri.
Keyra menatap Ghazali dengan tatapan tak percaya. "Lusa? Kamu bahkan belum bisa berdiri tegak, Ghazali! Mereka tidak bisa melakukan ini!"
"Di militer, perintah adalah segalanya, Keyra," sahut Ghazali dengan tatapan yang kembali dingin namun sarat akan kesedihan. Ia menatap Keyra, menyadari bahwa waktu yang mereka miliki mungkin akan segera berakhir sebelum benar-benar dimulai.
***
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....