NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Cahaya matahari pagi yang hangat menyambut kepulangan pasangan itu di depan lobi rumah sakit.

Setelah melewati masa-masa kritis yang menegangkan, akhirnya dokter memberikan lampu hijau bagi mereka untuk kembali ke rumah.

Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Dokter Edward menahan langkah Baskara sejenak.

Ia memberikan catatan medis terakhir dan menepuk bahu keponakannya itu dengan raut wajah yang serius namun penuh harapan.

"Ingat, Baskara. Kamu memang sudah pulih dari luka operasi, tapi saraf kakimu masih butuh stimulasi," ucap Dokter Edward tegas.

"Aku memintamu untuk tetap disiplin melakukan terapi fisik. Jangan karena merasa sudah kuat, kamu jadi malas berlatih."

Baskara mengangguk patuh. "Aku tahu, Om. Aku tidak akan mengecewakan Ambar lagi."

"Bagus. Terapi akan dilakukan di rumahmu mulai besok pagi. Aku sudah menunjuk terapis terbaik untuk datang ke sana. Pastikan kamu tidak mencari alasan untuk mangkir," tambah Dokter

Edward sambil melirik Ambar dengan senyuman.

Ambar tersenyum tenang dan menggenggam erat pegangan kursi roda suaminya.

"Jangan khawatir, Dokter. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke ruang terapi jika dia berani membantah."

Baskara tertawa kecil mendengar ancaman manis istrinya.

"Dengar itu? Aku punya sersan pribadi sekarang."

Ambar mulai mendorong kursi roda Baskara menuju mobil yang sudah menunggu.

Langkahnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari yang lalu.

Meskipun ia sendiri masih dalam masa pemulihan, kekuatannya seolah berlipat ganda karena ia tahu mereka akan pulang ke tempat di mana mereka bisa memulai hidup baru tanpa gangguan dari masa lalu.

"Siap untuk pulang, Tuan Naga?" bisik Ambar tepat di telinga Baskara saat mereka sampai di samping pintu mobil.

Baskara mendongak, menatap wajah istrinya yang kini kembali bersinar.

"Sangat siap, Nyonya Mahendra. Mari kita bangun istana kita kembali."

Di belakang mereka, Thomas dan tim keamanan sudah bersiaga penuh, memastikan perjalanan pulang sang penguasa bisnis itu berjalan tanpa hambatan sedikit pun.

Kali ini, mereka pulang bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk bangkit lebih kuat dari sebelumnya.

Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang padat, namun suasana di dalam kabin belakang yang kedap suara itu terasa sangat berbeda.

Hanya ada mereka berdua, dipisahkan oleh sekat privasi yang sudah ditutup rapat oleh Thomas dari kursi depan.

Baskara menyandarkan kepalanya di bahu Ambar, tangannya tak henti bermain dengan jemari istrinya.

Tiba-tiba, ia berbisik dengan nada yang sangat rendah namun penuh maksud.

"Ambar... soal 'point ketiga' itu, bagaimana kalau kita mulai persiapannya malam ini?"

Ambar hampir saja tersedak air mineral yang sedang diminumnya.

Ia menoleh dengan mata membulat, menatap Baskara yang kini memasang wajah tanpa dosa.

"Bas, ini masih di dalam mobil! Dan kita baru saja keluar dari rumah sakit, astaga," bisik Ambar dengan wajah yang kembali memanas.

"Bisa tidak, otak pintarmu itu memikirkan hal lain dulu?"

Baskara bukannya menjauh, ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Ambar.

Ia mendongak, menatap Ambar dengan binar mata yang redup dan bibir yang sedikit mengerucut—sebuah ekspresi yang sangat langka bagi seorang CEO kejam seperti dirinya.

"Aku rindu..." ucap Baskara lirih, suaranya terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk meminta permen kepada ibunya.

Ambar tertegun sejenak.

Ia tidak menyangka pria yang biasanya mengeluarkan aura mengintimidasi ini bisa bersikap se-manja ini.

Rasa kesal Ambar seketika luluh melihat sisi rapuh Baskara yang hanya diperlihatkan kepadanya.

"Bas, kamu masih harus terapi besok pagi," ucap Ambar lebih lembut, tangannya terangkat untuk mengusap rambut hitam suaminya.

"Justru itu, point ketiga adalah motivasi terbaik agar aku cepat sembuh dan bisa berjalan lagi," sahut Baskara cepat, mulai kembali ke mode negosiasi bisnisnya namun tetap dengan nada manja.

Ambar tertawa kecil, tidak tahan dengan tingkah konyol suaminya.

Ia mengecup dahi Baskara dengan cepat. "Dasar keras kepala. Kita lihat saja nanti malam setelah kamu menghabiskan makan malammu."

Baskara tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang menurutnya jauh lebih berharga daripada memenangkan tender triliunan rupiah.

Ia kembali menyandarkan kepalanya, menikmati aroma parfum Ambar yang menenangkan, sementara mobil terus melaju menuju rumah yang kini terasa seperti surga yang sebenarnya bagi mereka.

Begitu pintu besar kediaman Mahendra terbuka, aroma kehangatan rumah langsung menyambut mereka.

Ambar menarik napas panjang, merasa lega akhirnya bisa menghirup udara yang bukan berbau obat-obatan.

Setelah membantu Baskara berpindah ke sofa ruang tengah, Ambar segera memanggil kepala pelayan mereka.

"Gabby!" panggil Ambar dengan nada ceria.

Gabby, yang sudah menyiapkan penyambutan bersama staf lainnya, segera menghampiri.

"Iya, Nyonya? Selamat datang kembali. Kami semua sangat khawatir."

Ambar tersenyum hangat. "Terima kasih, Gabby. Oh ya, untuk merayakan kepulangan kami, tolong siapkan makan malam yang spesial ya. Aku ingin Steak Wagyu dengan tingkat kematangan medium rare, lengkap dengan saus jamur dan kentang tumbuk yang lembut."

Baskara yang mendengar itu dari sofa mengangkat alisnya, melirik Ambar dengan senyum penuh arti.

"Steak? Tumben sekali kamu minta makanan berat, Sayang?"

Ambar menoleh dan mengerlingkan matanya nakal.

"Tadi kan ada yang bilang butuh 'motivasi' dan tenaga ekstra untuk program pemulihan. Jadi, aku harus memastikan suamiku kenyang dan bertenaga dulu, kan?"

Gabby tersenyum simpul, memahami kode di antara majikannya itu.

"Baik, Nyonya. Saya akan siapkan bahan-bahan terbaik dan segera memasaknya untuk Anda dan Tuan."

"Pastikan bumbunya meresap ya, Gabby. Jangan sampai hambar seperti bubur rumah sakit itu," celetuk Baskara yang langsung disambut tawa oleh para pelayan di sana.

Sambil menunggu makan malam siap, Ambar duduk di samping Baskara, membiarkan pria itu menggenggam tangannya erat.

Suasana rumah yang tenang, rencana makan malam yang lezat, dan kehadiran satu sama lain membuat segala trauma yang terjadi beberapa hari lalu terasa semakin jauh tertinggal di belakang.

Ruang makan utama telah disulap menjadi sudut yang sangat intim.

Cahaya dari lilin-lilin kecil di atas meja memantul indah pada peralatan makan kristal, menciptakan suasana hangat yang jauh dari kesan kaku.

Ambar muncul dari balik pintu dengan penampilan yang membuat napas Baskara seolah terhenti.

Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra lembut berwarna merah marun yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya.

Rambutnya dibiarkan tergerai indah, dan sebuah kalung berlian simpel menghiasi leher jenjangnya.

Baskara, yang sudah menunggu di meja makan dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tak bisa melepaskan pandangannya sedikit pun.

Matanya menyisir setiap inci kecantikan istrinya yang malam ini tampak begitu bersinar.

"Sayang, kamu sedang mencoba menggodaku, ya?" ucap Baskara dengan suara rendah yang serak, matanya berkilat penuh damba.

"Nakal sekali."

Ambar berjalan mendekat dengan senyum tipis yang misterius, menarik kursi di hadapan suaminya.

"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin 'motivasi'? Aku hanya ingin memastikan suamiku tidak kehilangan selera makannya malam ini."

Baskara terkekeh, namun tatapannya tetap tajam dan intens.

"Percayalah, melihatmu seperti ini, steak terbaik di dunia pun akan terasa hambar dibandingkan dirimu."

Gabby kemudian masuk dengan sangat sopan, menyajikan piring berisi steak yang mengepulkan aroma gurih mentega dan bumbu rempah yang kuat. Namun, fokus Baskara jelas bukan pada piring di depannya.

"Makanlah, Bas. Katanya mau tenaga ekstra?" goda Ambar lagi sambil memotong daging steaknya dengan anggun.

Baskara meraih gelas wine berisi jus anggur miliknya, menyesapnya perlahan tanpa memutus kontak mata dengan Ambar.

"Oh, aku akan menghabiskan semuanya, Ambar. Termasuk semua waktu yang kita lewatkan di rumah sakit kemarin. Bersiaplah, karena setelah makan malam ini selesai, tidak ada lagi perawat atau dokter yang bisa menggangguku."

Ambar hanya bisa tertawa kecil dengan wajah yang merona merah, menikmati permainan kata-kata suaminya yang selalu tahu cara membuatnya merasa menjadi wanita paling diinginkan di dunia.

Setelah makan malam yang intim itu berakhir, Baskara memberikan isyarat kepada Thomas dan para pelayan bahwa malam mereka tidak boleh diganggu oleh siapa pun.

Dengan tekad yang luar biasa, Baskara mencoba berdiri dari kursi rodanya.

Meski kakinya masih terasa sedikit kaku, ia berhasil melangkah perlahan, bertumpu pada lengan Ambar yang dengan setia menuntunnya menuju kamar utama.

Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, suasana berubah menjadi sangat panas.

Baskara tidak lagi membutuhkan tongkat atau pegangan. Keinginannya yang besar untuk memiliki istrinya kembali memberikan kekuatan tambahan pada tubuhnya.

Ia menarik Ambar ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.

Tanpa menunggu lama, ia memiringkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan penuh kerinduan.

"Aku tidak tahan lagi, Sayang. Merindukanmu di rumah sakit adalah siksaan terbesar bagiku," bisik Baskara parau di sela-sela ciuman mereka.

Dalam keremangan lampu kamar yang hangat, Baskara perlahan menanggalkan kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang masih memiliki beberapa bekas luka namun tetap terlihat perkasa.

Jemarinya yang gemetar karena gairah kemudian turun ke ritsleting gaun merah marun Ambar, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai marmer dengan halus.

Baskara membawa Ambar ke atas ranjang king size mereka.

Di bawah kungkungan tubuh suaminya, Ambar merasakan detak jantung Baskara yang berpacu cepat, sama seperti miliknya.

Suara desahan napas yang memburu mulai memenuhi kamar yang kedap suara itu.

Setiap sentuhan Baskara terasa seperti api yang membakar sisa-sisa trauma Ambar, menggantinya dengan gelora cinta yang sudah lama mereka pendam.

"Bas, pelan-pelan..." ucap Ambar dengan suara yang nyaris hilang, matanya yang sayu menatap dalam ke mata elang suaminya yang berada tepat di atas tubuhnya.

Baskara berhenti sejenak, menatap wajah cantik istrinya dengan penuh pemujaan.

Ia mengecup kening Ambar dengan lembut sebelum melanjutkan penyatuannya dengan penuh perasaan.

"Aku akan sangat berhati-hati, Ambar. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu adalah milikku sepenuhnya, malam ini dan selamanya."

Malam itu, di balik dinding kamar yang mewah, mereka seolah melupakan seluruh dunia.

Tidak ada lagi ancaman Jayden, tidak ada lagi bayang-bayang Clara.

Hanya ada dua jiwa yang saling terikat, merayakan kehidupan baru mereka dalam balutan asmara yang membara hingga fajar menyapa.

1
tiara
abaikan saja Gea,tapi tetap waspada Ambar jaga kesehatan dirimu dan keluargamu
tiara
Gea belum sadar juga apa harus dikasih faham dulu biar sadar ya
tiara
wah Gea nyari perkara, bisa habis kamu sama thomas dasar ga tau malu
my name is pho: iya kak bener
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
selamat berjuang mas Baskara,demi si buah hati yang akan hadir,semangat ya berteman dengan kayu putih seperti bapak komplek
my name is pho: 🤭🤭 iya kak
total 1 replies
tiara
semangat calon papa memenuhi semua keinginan ngidam bumil💪💪
tiara
Baskara Junior segera hadir rupanya,👍
my name is pho: iya kak 😍🥰
total 1 replies
tiara
semoga Baskara tetap setia pada Ambar seorang,biarkan terapis sekelas Siska cuma sebagai piguran😄😄
tiara
lanjuut thor semangat upnya sehat selalu
tiara
akhirnya Ambar pulih kembali ingatnya dan Baskara mulai kembali membahas point ke 3🤭🤭🤭
tiara
semoga Baskara diberi kesabaran sehingga Ambar lekas pulih ingatannya
tiara
memunggu keajaiban Ambar kembali dari siuman dari kritisnya
tiara
waduh Jayden belum jera juga menantang mau rupanya
tiara
menunggu penangkapanJayden nih,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!