Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inspeksi Paviliun Megah
Cahaya keemasan terakhir dari matahari kembar akhirnya tertelan sepenuhnya oleh cakrawala Benua Awan Surgawi yang berbukit-bukit. Langit malam yang memancarkan warna ungu gelap perlahan mengambil alih kekuasaan, ditaburi oleh jutaan bintang merah darah yang berkedip sinis.
Angin malam berhembus menuruni lereng gunung, membawa hawa dingin yang jauh lebih menusuk tulang dibandingkan malam-malam sebelumnya. Pohon-pohon pinus raksasa meliuk-liuk tertiup angin, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di atas tanah merah yang mengeras.
Di atas bekas reruntuhan gubuk reyot yang menyedihkan, kini berdiri kokoh sebuah paviliun mewah yang memancarkan cahaya kebiruan mistis. Bangunan megah itu terbuat dari susunan balok Kayu Besi Seribu Tahun yang memancarkan aroma cendana penenang jiwa.
Pilar-pilarnya dibalut oleh lelehan Emas Spiritual yang diukir dengan sangat detail, memantulkan cahaya bulan ganda hingga terlihat menyilaukan mata. Lantai beranda paviliun tersebut dilapisi oleh potongan Giok Putih Kutub Utara yang mengeluarkan uap dingin tipis di atas permukaannya.
Di halaman depan bangunan raksasa itu, puluhan kultivator elit Sekte Teratai Angin tergeletak tak berdaya di atas tanah berlumpur. Mereka bernapas tersengal-sengal dengan dada naik turun memburu, udara di sekitar mereka dipenuhi oleh bau keringat asam yang menyengat.
Kepala Sekte Zhao Wuji berbaring telentang menatap langit, matanya yang biasa memancarkan wibawa kaisar kini terlihat sangat kosong dan hampa. Jubah emasnya yang agung telah hancur lebur dipenuhi oleh noda tanah, serpihan kayu, dan bercak darah akibat muntahannya sendiri.
Pria perkasa itu meremas perutnya dengan tangan gemetar, merasakan korset bajanya yang semakin menyiksa organ dalamnya tanpa ampun. Dia tidak berani melepaskan benda memalukan itu karena takut Li Zhen akan kembali menggunakan rahasia perut buncitnya sebagai senjata pemusnah massal.
Di sebelah Kepala Sekte, Penatua Mo Jian sedang meringkuk memeluk lututnya sendiri layaknya seorang anak kecil yang kehilangan arah. Baju zirah peraknya penyok di beberapa bagian akibat terlalu sering terjatuh saat mengangkut material bangunan yang sangat berat.
Pria tua yang ditakuti seluruh sekte itu sesekali terisak pelan, pikirannya terus melayang pada boneka kelinci merah muda kesayangannya yang sangat dia rindukan. Dia ingin segera pulang dan menangis di pelukan boneka-bonekanya, namun kakinya terlalu lemas untuk sekadar berdiri tegak.
Sementara itu, Li Zhen bangkit dari kasur bulu angsanya dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh dengan keangkuhan yang menyebalkan. Dia meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi, lalu merapikan jubah compang-campingnya yang sangat tidak cocok dengan kemewahan di sekitarnya.
Pemuda kurus itu melangkah santai mendekati paviliun barunya, kakinya yang beralaskan sepatu bolong menginjak anak tangga dari batu giok murni. Suara langkah sepatunya bergema memecah keheningan malam, terdengar bagaikan lonceng kematian di telinga para tetua yang sedang kelelahan.
Mendengar langkah kaki tersebut, Kepala Sekte Zhao Wuji langsung memaksakan dirinya untuk merangkak dengan lututnya yang gemetar parah. Pria paruh baya itu mendekati kaki Li Zhen, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh tanah merah yang dingin.
"S-Senior Agung, paviliun peristirahatan Anda telah selesai kami bangun tepat waktu," lapor Zhao Wuji dengan suara parau yang menyedihkan. Dia tidak berani menatap langsung ke arah wajah pemuda fana yang telah merenggut paksa seluruh harga dirinya sejak pagi tadi.
Li Zhen mendengus pelan, tangannya disilangkan di depan dada sambil menatap bangunan megah itu dengan pandangan menilai yang sangat tajam. Alisnya berkerut rapat, seolah-olah dia sedang berusaha keras mencari kecacatan sekecil apa pun dari mahakarya arsitektur tingkat dewa tersebut.
"Kalian bekerja lumayan cepat untuk ukuran sekumpulan orang tua yang tulangnya sudah rapuh dimakan usia," komentar Li Zhen dengan nada merendahkan. Dia melangkah maju menaiki beranda paviliun, membiarkan Kepala Sekte tetap bersujud di tanah tanpa menyuruhnya untuk berdiri.
Uap dingin dari lantai Giok Putih Kutub Utara menyentuh kulit kaki Li Zhen, memberikan sensasi sejuk yang sangat nyaman dan menenangkan. Namun, bukannya merasa puas, pemuda bermulut sampah itu justru mendecakkan lidahnya keras-keras dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Tetua Lin yang sedang bersandar kelelahan di tiang paviliun langsung menelan ludah dengan susah payah saat mendengar decakan tersebut. Jantung pria tua itu berdetak dua kali lebih cepat, firasat buruk langsung menyelimuti pikirannya yang sudah sangat kacau balau.
"Tetua Lin, kemarilah sebentar dan jelaskan padaku tentang lantai giok bodoh yang kau buat ini," panggil Li Zhen dengan suara dingin. Panggilan itu terdengar seperti vonis hukuman pancung bagi Tetua Lin yang langsung merangkak panik mendekati posisi Li Zhen berdiri.
"A-apakah ada yang salah dengan Giok Putih Kutub Utara ini, Senior Agung?" tanya Tetua Lin dengan bibir yang bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca menatap serpihan harta warisan gurunya yang kini diinjak-injak begitu saja oleh sepatu kotor milik pemuda tersebut.
Li Zhen menggesekkan sol sepatunya yang bolong ke atas permukaan giok putih itu, sengaja meninggalkan noda lumpur hitam yang sangat kontras. Dia menatap Tetua Lin dengan pandangan meremehkan, seolah-olah pria tua berjubah putih itu adalah arsitek paling bodoh di seluruh dunia.
"Lantai ini terlalu licin dan uap dinginnya membuat udara di sekitarnya menjadi lembap," kritik Li Zhen tanpa kenal belas kasihan. "Apakah kau sengaja ingin membuatku terpeleset dan mati kedinginan di dalam rumahku sendiri, dasar kakek tua tidak berguna?"
Tetua Lin langsung membelalakkan matanya ngeri, kedua tangannya mengibas-ngibas ke udara dengan gerakan super panik untuk membantah tuduhan keji tersebut. "T-tidak, Senior! Giok ini memiliki khasiat menenangkan pikiran dan mencegah setan api masuk ke dalam meridian, hamba sama sekali tidak berniat mencelakai Senior!"
Li Zhen menguap lebar-lebar, sama sekali tidak peduli dengan penjelasan ilmiah dari dunia kultivasi mengenai khasiat material legendaris tersebut. Dia menunjuk tepat ke arah hidung Tetua Lin, matanya menyipit memancarkan ancaman mental yang langsung membuat pria itu menciut ketakutan.
"Aku tidak peduli dengan khasiat spiritualnya, lantai ini jelek dan membahayakan keselamatan langkah kakiku," bentak Li Zhen dengan suara meninggi. "Gunakan jubah sutra putihmu yang mahal itu untuk mengelap seluruh lantai ini sampai uap airnya hilang tanpa sisa, kerjakan sekarang!"
Mendengar perintah yang merendahkan martabat itu, air mata Tetua Lin akhirnya tumpah membasahi pipinya yang keriput. Dia tidak punya pilihan lain selain melepaskan jubah luar kebesarannya, lalu mulai merangkak mengepel lantai giok itu sambil terisak pelan.
[Ding! Target Tetua Lin mengalami penyiksaan harga diri tingkat lanjut. Mendapatkan +5.000 Poin Sampah.]
Suara notifikasi dari sistem mengiringi langkah Li Zhen yang terus berjalan masuk ke dalam ruang utama paviliun mewah tersebut. Ruangan itu sangat luas dan diterangi oleh puluhan Mutiara Malam raksasa yang menempel di langit-langit berukir kayu besi.