Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Ibu Yang Tidak Bertanya.
Lampu teras rumah kami yang wattnya kecil itu sudah menyala dari tadi.
Aku tahu itu artinya Ibu belum tidur. Ibu tidak pernah tidur sebelum aku pulang. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah, dari dulu waktu aku masih SMP sampai sekarang aku sudah dua puluh satu tahun dan tingginya sudah lewat kepala beliau. Lampu teras menyala berarti ada yang menunggu di balik pintu.
Aku berdiri sebentar di depan pagar.
Bajuku masih basah kuyup dan berat. Lumpur sudah kering sebagian di lutut celanaku, tapi masih lengket. Tangan kiriku sudah tidak berdarah tapi garisnya masih merah dan perih kalau ditekuk. Rambutku menetes. Aku kelihatan seperti orang yang habis jatuh ke selokan.
Aku tarik napas.
Buka pagar. Masuk.
Belum sampai aku ketuk pintu, pintu sudah terbuka dari dalam.
Ibu berdiri di sana.
Daster batik yang tadi pagi sama. Rambut yang tadi pagi sama, disisir ke belakang tapi sekarang sudah agak berantakan karena beliau pasti sudah duduk tegang berjam-jam. Matanya langsung menatapku dari atas ke bawah, satu kali, cepat, cara pandang seorang ibu yang dalam satu detik sudah tahu ada yang tidak beres.
Beliau tidak bertanya.
Tidak, "dari mana kamu?" Tidak, "kenapa basah?" Tidak, "kenapa tangan kamu?" Tidak ada pertanyaan apapun.
Beliau hanya masuk ke dalam, dan dua detik kemudian keluar lagi dengan handuk lusuh warna cokelat muda yang sudah agak tipis karena sering dicuci. Ditekan pelan ke kepalaku. Diusap. Pelan sekali. Seperti waktu aku kecil dulu dan pulang kehujanan dari main di lapangan.
Tenggorokanku langsung terasa berat.
"Masuk," kata beliau pelan.
Aku masuk. Duduk di kursi kayu di ruang tengah. Ibu masuk ke dapur, dan aku dengar suara air diisi ke panci, kompor dinyalakan, sendok beradu dengan gelas. Semua suara itu terdengar sangat normal. Sangat biasa. Dan justru karena itu dadaku semakin sesak, karena Ibu tidak membuat ribut, tidak panik, tidak bertanya macam-macam, beliau cuma langsung ke dapur dan rebus air seperti itulah satu-satunya yang bisa beliau lakukan untuk anaknya yang pulang malam dalam keadaan hancur.
Dan memang itu yang paling beliau bisa berikan.
Ruang tengah rumah kami kecil. Satu sofa yang sudah kempes bantalannya, satu meja kayu dengan toples kue yang sudah lama kosong, satu foto di dinding, foto kami berlima waktu lebaran dua belas tahun lalu, Bapak masih ada di sana, senyumnya lebar, bahunya lebar, tangannya di pundakku dan aku kelihatan sangat kecil di sebelahnya.
Aku tidak bisa menatap foto itu terlalu lama.
Ibu keluar dari dapur membawa gelas teh yang mengepul. Diletakkan di depanku tanpa bicara. Duduk di sebelahku. Tangannya di atas pahanya, jemari yang sudah keriput dan kapalan itu digenggam sendiri.
Masih diam.
Aku pegang gelas tehnya. Hangatnya terasa sampai ke telapak tangan yang tadi luka itu. Aku tunduk. Menatap permukaan teh yang bergoyang kecil karena tanganku masih gemetar sedikit.
"Ma..."
Suaraku keluar salah. Serak dan berat dan terlalu rendah.
"Aku gagal."
Ibu tidak bereaksi. Tidak bersuara. Hanya diam.
Dan karena diamnya itu, karena beliau tidak langsung bilang "ah nggak apa-apa" atau "ya sudah, coba lagi" atau hal-hal yang biasanya diucapkan orang supaya suasana tidak canggung, justru karena beliau diam, aku mulai bicara.
Semuanya.
Dari parcel yang aku beli pakai tabungan empat bulan. Dari wajah Pak Hendra waktu buka pintu. Dari tatapan atas bawah itu. Dari suara plastik robek waktu parcel dibanting. Dari anggur merah yang pecah. Dari ludah yang mendarat di kakiku. Dari kata-kata itu, "lo gak punya bapak, siapa yang biayain pernikahan lo." Dari ibu-ibu di warung yang bilang mimpi terlalu tinggi. Dari jembatan. Dari makam Bapak. Dari tangan yang memukul tanah sampai berdarah.
Semuanya.
Termasuk yang paling memalukan. Tentang belati. Tentang seberapa jauh aku pergi ke tempat yang gelap itu sebelum wajah Ibu muncul dan menarikku balik.
Aku tidak menatap Ibu waktu cerita itu. Tidak berani.
Tapi aku dengar beliau menarik napas panjang waktu bagian itu. Napas yang ditahan dulu, baru dikeluarkan pelan-pelan. Dan ketika aku akhirnya angkat kepala, mata Ibu sudah basah.
Bukan nangis yang dramatis. Bukan isak atau sedu. Hanya air mata yang mengalir sendiri di pipi yang sudah penuh dengan garis-garis kelelahan itu, diam-diam, seperti beliau tidak mau ketahuan sedang menangis.
"Maafin Ibu, Nak..."
Suaranya pecah di tengah kalimat itu.
"Maafin Ibu... Ibu tidak bisa kasih kamu kehidupan yang lebih layak. Tidak bisa kasih kamu bapak yang masih ada. Tidak bisa kasih kamu sekolah yang tinggi. Tidak bisa kasih kamu bekal yang cukup waktu kamu pergi ke sana tadi. Ibu cuma bisa..."
Beliau tidak melanjutkan.
Tangannya terangkat, menutup mulut, menahan sesuatu yang kalau dibiarkan keluar pasti akan lebih besar dari yang beliau mau tunjukkan ke aku.
Dan itu, itu yang akhirnya membuatku benar-benar tidak bisa tahan.
Karena bukan aku yang harusnya minta maaf ke Ibu. Bukan Ibu yang salah. Bukan Ibu yang pilih hidup ini. Bukan Ibu yang minta Bapak pergi. Bukan Ibu yang minta jadi miskin atau tua sebelum waktunya atau capek setiap hari atau duduk di kursi rotan menunggu anaknya yang tidak pulang-pulang sampai malam.
Tapi beliau yang minta maaf.
"Bersabarlah, Nak," beliau akhirnya bicara lagi, suaranya lebih pelan dari bisikan hampir, "ini ujian dari Allah. Kamu harus kuat. Ibu tahu kamu kuat."
Aku tidak menjawab.
Aku hanya berdiri, dua langkah, dan memeluk Ibu.
Bukan pelukan yang pelan atau hati-hati. Pelukan orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu yang terlalu berat dan akhirnya ada tempat untuk meletakkannya. Aku rebahkan kepalaku di bahu Ibu yang kurus itu, bahu yang dulu waktu aku kecil terasa sangat lebar dan kuat, sekarang terasa lebih kecil dari yang aku ingat, lebih rapuh dari yang aku mau akui.
Ibu membalas pelukan itu. Tangannya di punggungku. Menepuk pelan. Satu kali, dua kali.
Sama persis seperti waktu aku kecil.
Aku menangis. Tidak lagi ditahan. Tidak lagi disembunyikan.
Kami berdua menangis di ruang tengah yang kecil itu, di bawah lampu yang redup, dengan gelas teh yang sudah tidak mengepul lagi, dan foto Bapak yang tersenyum di dinding yang tidak ada yang berani menatapnya malam ini.
Aku tidak tahu berapa lama.
Yang aku tahu, di suatu titik aku mendengar suara pintu belakang. Suara sandal karet yang dilepas buru-buru. Suara langkah kaki yang mencoba pelan tapi gagal karena orangnya masih terlalu kecil untuk bisa benar-benar diam.
Agung.
Adikku yang tiga belas tahun itu berdiri di celah pintu dapur, masih pakai baju seragam bengkel yang kebesaran, ada oli tipis di lengan kanannya yang belum sempat dibersihkan, matanya langsung ke kami berdua.
Dia tidak masuk. Hanya berdiri di sana.
Bibirnya ditekan keras ke dalam. Cara orang yang sedang menahan sesuatu dengan seluruh kemampuannya. Matanya yang masih bulat dan polos itu berkedip cepat, sekali, dua kali.
Tidak berhasil.
Satu tetes mengalir di pipinya yang masih kurus itu.
Dia cepat-cepat hapus pakai lengan bajunya yang ada olinya. Seolah kalau cepat dihapus berarti tidak pernah ada. Seolah aku dan Ibu tidak lihat.
Kami lihat.
Aku lepas pelukan Ibu. Berdiri. Mau ke dapur, mau bilang sesuatu ke Agung, entah apa, mungkin "gapapa" atau "jangan nangis" atau hal-hal yang biasa diucapkan kakak ke adiknya, tapi baru satu langkah ke arah dapur, tangan kecil itu sudah menangkap lenganku.
"Mas..."
Satu kata.
Cuma satu kata yang bahkan tidak selesai jadi kalimat.
Tapi di dalam satu kata itu ada semuanya. Ada tiga belas tahun jadi anak bungsu yang terlalu cepat besar karena tidak ada pilihan lain. Ada sepulang sekolah langsung ke bengkel karena mau bantu. Ada oli di lengan baju yang kebesaran itu. Ada mata yang barusan menangis tapi buru-buru dihapus supaya kelihatan tidak apa-apa.
Aku tidak bisa bicara.
Ibu berdiri di belakangku.
Kami bertiga berdiri di gang kecil antara ruang tengah dan dapur itu, gang yang lebarnya cuma cukup untuk satu orang dewasa, tapi malam ini kami bertiga ada di sana, dan tidak ada yang bicara apa-apa, dan tidak ada yang bergerak kemana-mana.
Agung memelukku duluan.
Pelukannya kuat untuk anak tiga belas tahun. Terlalu kuat, sebenarnya. Seperti dia takut kalau tidak dipegang erat-erat, kakaknya akan pergi lagi dan tidak kembali.
Ibu melingkarkan tangannya di kami berdua dari belakang.
Di luar, hujan masih turun.
Di dalam, di gang sempit yang gelap dan becek di ujungnya, tiga orang berdiri saling pegang, tidak bilang apa-apa, karena memang tidak ada kata-kata yang cukup untuk malam seperti ini. Tidak ada kalimat yang pas. Tidak ada hiburan yang benar-benar menghibur.
Yang ada hanya ini: kami masih ada. Kami masih di sini. Bersama.
Dan untuk malam ini, itu cukup.
Untuk malam ini, itu lebih dari cukup.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain