NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Podcast

Angin sore bertiup sepoi-sepoi di area gazebo belakang kampus yang asri. Suasana yang seharusnya tenang dan kondusif untuk mahasiswi tingkat akhir itu terusik oleh suara dari ponsel Nina. Shakira, yang baru saja menutup laptopnya dengan perasaan lega setelah menyelesaikan Bab 3, kini harus mengerutkan kening dalam-dalam.

Nina, dengan posisi setengah berbaring dan menyandarkan punggungnya di tiang gazebo, tampak sangat khusyuk menatap layar ponselnya. Masalahnya bukan pada kegiatannya, melainkan pada suara podcast yang diputar dengan volume maksimal.

"...peran komunikasi di atas ranjang itu krusial, ya. Kadang suami butuh apresiasi, dan istri jangan ragu untuk mengeksplorasi titik-titik sensitif..." Suara pembawa acara wanita di podcast itu terdengar sangat jernih, bergema di bawah atap gazebo.

Wajah Shakira memanas seketika. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada mahasiswa lain atau—lebih parah lagi—dosen yang lewat di dekat mereka.

"Nin! Pelanin itu suara lo. Berisik!" bisik Shakira tajam sambil menyenggol kaki Nina dengan bukunya.

Nina hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Apa sih? Lagi enak nih dengernya. Seru tahu, narasumbernya dokter spesialis. Itung-itung buat gue belajar nanti kalau udah nikah biar nggak kagok."

"Belajar ya belajar, tapi jangan pakai speaker luar juga dong! Malu tahu kalau ada yang denger," protes Shakira, tangannya sibuk membereskan alat tulis dengan gerakan kasar karena salting.

"...sentuhan lembut di area tengkuk atau bisikan mesra bisa meningkatkan hormon oksitosin secara drastis..." Suara di podcast itu kembali berlanjut, kali ini lebih detail membahas teknik-teknik tertentu.

"Nina! Bisa nggak sih nonton yang lain aja? Atau minimal pake earphone kek!" Shakira hampir saja merebut ponsel sahabatnya itu. "Otak gue baru aja beres mikirin metodologi, jangan lo jejali sama urusan... urusan ranjang begini!"

Nina akhirnya mematikan suaranya, tapi ia malah menatap Shakira dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan. "Loh, kenapa lo yang sewot? Harusnya lo malah dengerin bareng gue, Ra. Kan lo udah punya 'objek praktiknya' di rumah. Si Mas Karatan itu pasti seneng kalau istrinya tiba-tiba jadi pro gara-gara dengerin ginian."

"Mulut lo ya, Nin! Gue nggak butuh podcast begituan," sahut Shakira, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. Bayangan kejadian semalam, saat Zidan menggendongnya dan bisikan-bisikan nakalnya tadi pagi, mendadak berputar kembali di kepalanya seperti film dokumenter.

"Masa sih? Yakin nggak butuh?" Nina mendekatkan wajahnya, tersenyum penuh arti. "Gimana semalam? Guling pembatasnya udah beneran pensiun dini kan? Atau jangan-jangan lo udah mempraktikkan salah satu poin yang dibahas di podcast ini tadi?"

"NINA! Stop!" Shakira menutup telinganya dengan kedua tangan. "Gue nggak mau denger. Titik!"

"Hahaha! Lucu banget sih lo kalau lagi begini. Padahal udah sah, tapi masih aja malu-malu kucing," Nina memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil terkekeh. "Tapi serius deh, Ra. Zidan itu tipe cowok yang ekspresif. Lo jangan terlalu kaku. Sekali-kali kasih 'kejutan' gitu biar dia makin nempel kayak perangko."

Shakira terdiam, ia pura-pura sibuk memasukkan laptop ke dalam tasnya. Kata-kata Nina tentang "kejutan" entah kenapa menyangkut di pikirannya. Ia teringat betapa Zidan selalu menjadi pihak yang memulai, pihak yang menggoda, dan pihak yang memberikan afeksi lebih dulu. Sementara dirinya selalu berlindung di balik topeng judes dan gengsi.

"Udahlah, ayo balik. Mas Zidan bentar lagi jemput," ujar Shakira, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ciee... sekarang panggilnya udah 'Mas Zidan' ya? Nggak pake 'Dan' lagi?" Nina terus menggoda saat mereka berjalan menuju parkiran.

"Emang kenapa? Salah kalau panggil suami sendiri pake sebutan yang bener?" balas Shakira, berusaha tetap tenang meski hatinya sedang bergejolak.

Saat sampai di gerbang kampus, motor besar Zidan sudah terlihat terparkir rapi. Zidan tampak sedang bersandar di motornya sambil memainkan ponsel, namun begitu melihat Shakira, ia langsung berdiri tegak dan tersenyum lebar. Senyum yang selalu berhasil membuat pertahanan Shakira goyah.

"Hai, Sayang. Gimana Bab 3-nya? Lancar?" tanya Zidan saat Shakira sudah berada di depannya. Ia mengambil tas Shakira dan menggantungnya di motor dengan sigap.

"Lancar. Udah beres semua," jawab Shakira singkat.

Nina yang berdiri di samping Shakira tiba-tiba berdehem keras. "Dan! Jagain ya istrinya. Tadi dia abis 'belajar' banyak di gazebo bareng gue. Moga-moga malem ini ada peningkatan performa!"

"Nina! Diem nggak!" bentak Shakira sambil melotot ke arah sahabatnya itu.

Zidan mengernyitkan dahi, matanya beralih menatap Shakira dengan penuh rasa penasaran yang nakal. "Belajar apaan? Kursus memasak baru? Atau tips skripsi?"

"Enggak! Jangan dengerin Nina, dia emang nggak waras!" Shakira segera naik ke boncengan motor dan memakai helmnya dengan cepat. "Ayo Mas, jalan! Sekarang!"

Zidan tertawa kecil melihat kegugupan istrinya. Ia melirik Nina dan memberikan jempol rahasia, seolah mengerti ada sesuatu yang menarik sedang terjadi. "Oke, Bos. Kita jalan sekarang. Bye, Nin! Makasih ya infonya!"

"Sama-sama, Mas Zidan! Semangat ya 'lemburnya' nanti malem!" teriak Nina sambil melambai-lambai saat motor Zidan mulai menjauh.

Di sepanjang jalan, Shakira hanya terdiam sambil memeluk pinggang Zidan erat-erat. Suara podcast Nina tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tentang sentuhan di tengkuk... tentang bisikan mesra... tentang komunikasi di atas ranjang.

Zidan yang menyadari keheningan istrinya tiba-tiba melambatkan kecepatan motornya. "Ra? Kamu kenapa sih? Kok pelukannya kenceng banget? Takut jatuh atau lagi ada yang dipikirin?"

"Nggak apa-apa. Fokus aja nyetirnya," jawab Shakira pendek, ia menyembunyikan wajahnya di punggung Zidan.

"Tadi Nina bilang kamu 'belajar' sesuatu. Emang belajar apaan sih? Kok kayaknya rahasia banget?" goda Zidan lagi.

Shakira menggigit bibirnya. Dengan sisa keberaniannya, ia sedikit mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan di dekat bahu Zidan, mencoba mempraktikkan salah satu "poin" kecil yang sempat ia dengar tadi.

"Nanti aja di rumah... aku kasih tahu," bisik Shakira lirih.

Zidan hampir saja kehilangan keseimbangan motornya saat mendengar suara lembut Shakira yang terasa sangat dekat di telinganya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia segera menambah kecepatan motornya menuju rumah, tidak sabar ingin mengetahui "pelajaran" apa yang dimaksud oleh istrinya itu.

"Oke. Aku tantang kamu nanti malam ya, Nyonya Zidan," gumam Zidan dengan senyum kemenangan yang tak luntur dari wajahnya.

***

Malam semakin larut, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh suara jangkrik di kejauhan dan detak jantung Shakira yang terasa seperti dentum genderang perang. Di depan pintu kayu kamar mereka yang tertutup rapat, Shakira tampak seperti setrikaan—mondar-mandir tak keruan. Langkahnya ragu, ujung jemarinya sudah menyentuh gagang pintu yang dingin, namun ia menariknya kembali seolah benda itu baru saja dialiri listrik ribuan volt.

Ia masih mengenakan piyama satin berwarna maroon yang baru saja ia beli beberapa waktu lalu—potongan yang sedikit lebih berani dari biasanya, namun tetap elegan. Rambutnya terurai bebas, menyebarkan aroma sampo vanila yang manis.

"Duh, masa sekarang sih..." gumamnya lirih. Ia meremas jemarinya sendiri yang terasa dingin. "Gara-gara Nina nih, otak gue jadi traveling ke mana-mana."

Di saku piyamanya, ponselnya terus-terusan bergetar. Getaran yang konsisten, menandakan sang pemilik pesan di dalam sana sudah tidak sabar.

Mas Zidan 🛠️:

Ra? Kamu lagi bertapa di kamar mandi atau lagi bikin candi di dalem situ?

Lama banget. Aku udah ngantuk nih (bohong).

Cepat masuk, atau aku jemput keluar?

Shakira menggigit bibir bawahnya. "Jemput keluar? Ih, makin malu kalau dia buka pintu pas gue lagi mondar-mandir begini!"

Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan saraf-sarafnya. Dengan satu gerakan mantap—seolah sedang menghadapi sidang skripsi paling krusial—ia memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan.

Cklek.

Suasana kamar sudah remang-remang. Hanya lampu nakas di samping ranjang yang menyala, memberikan semburat cahaya kuning keemasan yang hangat. Zidan sedang bersandar di headboard, tanpa kaos, hanya mengenakan celana tidur panjang. Ia sedang memutar-mutar ponsel di tangannya, namun begitu pintu terbuka, perhatiannya langsung tersedot sepenuhnya pada sosok yang baru saja masuk.

Zidan terpaku. Matanya menyapu penampilan Shakira dari ujung rambut hingga kaki. Ada kilat yang berbeda di mata pria itu—kilat yang lebih dalam, lebih gelap, dan penuh dengan kekaguman yang tak tertutup.

"Akhirnya... keluar juga 'Kuntilanak Cantik' aku," bisik Zidan, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan serak dari biasanya.

Shakira berjalan perlahan menuju tepi ranjang, tangannya masih sibuk merapikan ujung piyamanya yang sebenarnya sudah rapi. "Berisik. Tadi... tadi aku lagi beresin skincare dulu."

Zidan terkekeh pelan, ia meletakkan ponselnya di nakas tanpa memutuskan kontak mata. "Skincare apa yang butuh waktu setengah jam di depan pintu? Aku denger loh langkah kaki kamu mondar-mandir di luar tadi."

Wajah Shakira memanas. "Kamu... denger?"

"Tembok kamar kita nggak se-kedap itu, Sayang," Zidan mengulurkan tangannya, meraih jemari Shakira dan menariknya lembut agar duduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya. "Sini. Kok gemeteran gini? Dingin?"

"Nggak... cuma agak... aneh aja," sahut Shakira jujur. Ia menunduk, tidak berani menatap Zidan yang kini jaraknya sangat dekat. Aroma maskulin Zidan yang bercampur dengan sabun mandi menyeruak, membuat pertahanan Shakira semakin menipis.

Zidan menyisipkan jemarinya ke sela-sela rambut Shakira, lalu menyingkirkannya ke belakang bahu agar ia bisa melihat leher istrinya yang putih bersih. "Aneh kenapa? Kita kan udah sering tidur bareng. Udah pelukan juga."

"Ya tapi kan... malam ini beda," gumam Shakira. Ia teringat bisikannya di motor tadi sore. Bisikan yang ia sesali sekaligus ia banggakan.

Zidan tersenyum miring, sebuah senyum yang sanggup meruntuhkan logika Shakira dalam sekejap. Ia memutar tubuhnya agar sepenuhnya berhadapan dengan Shakira. "Beda karena kamu tadi bilang mau kasih tau 'pelajaran' dari Nina? Jadi... pelajaran apa yang kamu dapet di gazebo tadi?"

Shakira memberanikan diri mendongak. Ia melihat binar nakal namun penuh kasih di mata suaminya. Mengingat semua perhatian Zidan selama ini—bagaimana pria itu memijat bahunya, mengantar jemputnya, membelikannya brownies, hingga merawatnya saat sakit—Shakira merasa inilah saatnya ia berhenti bersembunyi.

"Nina bilang... aku nggak boleh terlalu kaku sama suami sendiri," bisik Shakira. Ia memberanikan diri menyentuh dada bidang Zidan dengan ujung jarinya, menelusuri otot-otot yang keras karena kerja keras di bengkel. "Katanya... aku harus kasih kejutan."

Napas Zidan tercekat. Sentuhan ringan Shakira di dadanya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya. "Terus? Kejutannya mana?"

Shakira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memajukan tubuhnya, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka. Ia melingkarkan lengannya di leher Zidan, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga suaminya, persis seperti poin podcast yang ia dengar tadi.

"I love you, Mas Zidan. Makasih udah sabar nunggu aku..."

Hanya itu. Namun bagi Zidan, itu adalah pemicu yang meruntuhkan segala kendali dirinya. Zidan langsung membalas pelukan itu dengan protektif, menarik pinggang Shakira hingga tubuh mereka benar-benar merapat tanpa celah.

"Kamu bener-bener ya, Ra... pinter banget bikin aku gila," gumam Zidan di sela ceruk leher Shakira. Ia mulai memberikan kecupan-kecupan hangat di sana, membuat Shakira reflek memejamkan mata dan mengeratkan pegangannya di pundak Zidan.

Zidan melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk menatap wajah Shakira yang tampak sangat cantik dan pasrah di bawah cahaya lampu remang. "Nggak ada guling malam ini. Nggak ada batas. Cuma aku sama kamu. Siap?"

Shakira mengangguk perlahan, sebuah senyum tulus yang sangat manis terukir di bibirnya. "Siap, Mas."

Zidan kemudian menarik selimut untuk menutupi mereka berdua, sementara tangannya yang bebas mematikan lampu nakas terakhir. Kegelapan segera menyelimuti kamar, namun kehangatan di antara mereka justru semakin membara. Malam itu, bukan hanya tentang pemenuhan kewajiban, melainkan tentang dua hati yang akhirnya benar-benar menyatu dalam harmoni yang sempurna, tanpa ada lagi keraguan di ambang pintu.

Di balik pintu yang tertutup itu, cinta mereka bersemi lebih indah dari skenario manapun, membuktikan bahwa seorang mekanik karatan dan gadis judes bisa menciptakan romansa yang paling manis di dunia.

***

Finally, Goal ya Dan 🤣🤣🤣

Shakira

Ada yang mau disampaikan untuk Mas Zidan dan Shakira?? 🤣

1
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
Rita Rita
🤣🤣🤣 si mas Zidan udah terinfeksi rabies bucin, makanya senyum sendiri luar kendali 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!